Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 183. Pilihanku


Kenji menemui Keyra usai menjenguk Zetta di rumah sakit. Hatinya sudah tak ingin lagi berbohong. Ia ingin mengungkapkan semua rasa meski baru sebentar rasa itu hadir.


Kenji menyapa Minah terlebih dahulu sebelum bertemu dengan Keyra.


"Selamat siang, Bu," sapa Kenji sopan.


"Eh, Profesor Kenji. Mau pesan makan apa?"


"Umm, saya mencari Keyra. Apa Keyranya ada, Bu?"


"Oh, Keyra sedang ibu suruh beli bahan makanan yang kurang, Prof. Oh ya, bagaimana kabar kedua adik den Andra?"


"Mereka baik, Bu. Andra sudah memberinya nama. Zion dan Zelia."


"Wah, nama yang bagus."


"Omong-omong, Keyra belanja dimana ya, Bu?"


"Di pasar dekat sini, Prof. Paling sebentar lagi juga pulang."


"Ah begitu ya, Bu." Kenji masih tidak tenang meski sudah mendapat jawaban dari Minah.


Pria itu merasa ada yang tidak beres dengan Keyra, kemudian Ia memutuskan untuk menyusul Keira ke pasar. Kenji mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Keira. Ia memarkirkan mobilnya kemudian turun menelusuri pasar.


Setelah lama berkeliling mata Kenji tertuju pada keributan yang terjadi di sebuah gang. Kenji membulatkan mata ketika melihat Keyra sedang dikepung oleh beberapa pria. Dengan penuh amarah Kenji mendatangi orang-orang yang ingin mencelakai Keyra.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Kenji dengan suara menggelegar.


Preman-preman itu menoleh ke arah Kenji.


"Jangan ikut campur kalau kau tidak mau terluka!" ancam seorang preman.


Kenji tidak menghiraukan ancaman dari preman itu. Dia malah maju dan melawan preman itu satu persatu. Terjadilah baku hantam antara Kenji dan para preman. 


Keira hanya menatap perkelahian yang terjadi di depan matanya dengan takut.


"Cepat pergi! Panggil polisi!" teriak Kenji  pada Keyra.


Dengan kaki yang gemetar, Keyra mencari pertolongan. Ia juga menghubungi pihak berwajib agar meringkus para preman yang meresahkan itu.


Tak lama petugas polisi datang dan berjalan menuju tempat kejadian perkara dimana Kenji sedang berkelahi. Preman-preman itu sudah tumbang dikalahkan oleh Kenji.


Takut terjadi sesuatu dengan Kenji, Keyra tiba-tiba menghambur memeluk Kenji. Gadis itu menangis di dada Kenji.


Kenji tersenyum karena gadis itu mengkhawatirkannya.


"Sudah, jangan menangis. Mereka sudah ditangkap," ucap Kenji membalas pelukan Keyra.


Keyra mengangguk dalam pelukan Kenji.


"Ayo kita pulang! Ibumu pasti cemas menunggumu!"


Keyra kembali mengangguk.


...💟💟💟...


Boy membawa Aleya untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Setelah mendapat restu dari Kosih, kini mereka berdua meminta restu pada keluarga Boy.


Kedatangan Aleya disambut baik oleh keluarga Avicenna, terutama Aurel yang memang sudah mengenal Aleya. Gadis kecil itu memeluk Aleya erat seakan sudah mengerti dengan apa maksud ayahnya membawa Aleya.


Roy dan Lian pun memberi restu pada kedua insan yang sedang memadu kasih itu. Lusi dan Riana juga ikut bahagia melihat Boy bisa mengecap kembali sebuah kebahagiaan.


"Halo, kakak ipar!" sapa Nathan.


Aleya menggeleng pelan dengan sikap Nathan yang memang tak berubah.


"Kuucapkan selamat untukmu dan kakakku!" lanjut Nathan.


"Terima kasih, Adikku. Kau sendiri kapan akan mengenalkan kekasihmu pada kami?" Boy tiba-tiba datang dan merangkul bahu Aleya.


"Aku tidak memiliki kekasih, Kak. Lagi pula mengurus perusahaan cukuplah berat. Kakak tidak tahu saja karena kakak terus kabur-kaburan," ledek Nathan.


"Ish, kau!" Boy mengangkat tangannya bersiap memukul Nathan namun dilerai oleh Aleya.


"Nak, ayo kemari! Makan malam sudah siap!" Lusi datang menghampiri mereka bertiga.


Suasana makan malam terasa hangat dan penuh candaan dari Nathan dan Boy. Kedua kakak beradik ini sudah lama tidak bercengkerama karena kesibukan masing-masing.


Aleya tersenyum melihat tingkah kedua orang itu. Aleya tidak memiliki saudara kandung, jadi ia tak tahu seperti apa memiliki orang terdekat. Ia hanya mengulas senyum sambil membayangkan kekonyolan yang biasa ia lakukan bersama Zetta.


Usai makan malam, Aurel merengek minta ditemani Aleya untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Aleya pun setuju. Pada dasarnya Aleya sangat menyukai anak-anak. Setelah tugas sekolah selesai, Aleya menemani Aurel yang akan pergi ke alam mimpi.


Aleya membacakan sebuah dongeng dari koleksi buku milik Aurel. Tak lama bocah itu pun tertidur pulas. Aleya tersenyum melihat wajah damai Aurel saat tidur.


"Maaf ya jadi merepotkanmu," ucap Lian yang masuk ke kamar Aurel.


"Ah, tidak Bibi. Aurel anak yang sangat manis dan penurut."


"Jangan memanggilku 'bibi'. Sebentar lagi kau akan jadi bagian keluarga ini juga. Panggil 'mama' saja."


"Iya, Ma."


Lian menggenggam tangan Aleya. "Terima kasih kau sudah mengembalikan putraku. Entah apa yang sebenarnya diinginkannya. Tapi yang jelas, dia hanya menginginkanmu. Tolong jangan sakiti dia lagi. Dia sudah cukup menderita selama ini."


"Iya, Ma. Aku tidak meninggalkan kak Boy lagi."


Lian memeluk Aleya. "Terima kasih. Terima kasih, sayang…"


...💟💟💟...


Makan malam telah usai. Saatnya bagi Aleya untuk kembali ke rumah Zetta. Sebenarnya Boy memaksa agar Aleya tetap di apartemen miliknya. Tapi Aleya merasa tak enak hati karena ia hanya sendirian disana. Kosih sudah kembali ke desa Selimut karena pekerjaannya sudah menanti.


Boy mengantar Aleya dengan selamat hingga tiba di depan rumah Zetta. Mobil telah terhenti namun mereka masih bergeming didalamnya.


Aleya tidak menyangka jika akan mendapat sambutan yang hangat dari keluarga Boy yang berkuasa itu.


"Sayang, apa yang kau pikirkan?" tanya Boy yang melihat Aleya murung.


"Tidak ada, Kak. Aku hanya berterima kasih pada keluarga kakak karena menerimaku dengan baik."


"Tentu saja mereka menerimamu dengan baik. Kau adalah pilihanku. Dan pilihanku tidak akan salah."


"Ish, kakak!" Aleya memukul pelan lengan Boy.


"Kau tahu, saat kau bersama Rion, aku … sangat terluka. Aku cemburu, Aleya."


Entah kenapa Boy membahas tentang masa lalu.


"Eh?" Aleya terkejut karena tiba-tiba Boy bicara soal Rion.


"Kupikir kau tidak akan pernah bisa membuka hatimu untuk Rion, tapi ternyata aku salah. Kau menerima perasaan Rion."


"Kakak…"


"Malam itu aku melihatmu bersama Rion didalam mobil. Aku sangat marah karena kau … tidak menolak saat Rion…"


"Hentikan, Kak! Jangan lanjutkan! Kak Rion adalah masa laluku. Dan kau adalah masa depanku. Aku sudah melupakan masa lalu, maka … kau juga harus melupakan masa lalu."


Boy tersenyum. "Iya, sayang. Aku hanya mengutarakan apa yang ada di hatiku saja. Aleya Sugandi, maukah kau menjadi pilihanku? Menjadi seseorang yang selalu ada disaat aku membuka mata? Menjadi yang terakhir dalam hidupku?"


Meski tidak ada persiapan yang berarti, Boy ternyata sudah menyiapkan sebuah cincin untuk melamar Aleya.


"Iya, aku mau!" jawab Aleya dengan malu. Hatinya berbunga mendapat kejutan manis dari sang pujaan hati.


Boy memasangkan cincin itu di jari manis Aleya. Setelahnya Boy mengikis jarak diantara mereka. Mereka mengecap rasa manis dan syahdu secara bersamaan. Meneriakkan segala gejolak cinta yang ada dalam hati.



😍😍😍


Selamat Aleya dan Boy yang sudah mendapat restu 🌹🌹🌹


Tinggal menunggu hari bahagia mereka aja nih 


Selamat menyongsong tahun yg baru ya genks. Tetap semangat dan jaga kesehatan selalu 😊😊