
Boy terkejut sekaligus senang melihat ayahnya membuka mata. Roy mulai sadar dari tidur panjangnya. Ia mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk.
"Papa!" seru Boy melihat Roy membuka matanya sempurna.
"Boy... Anakku!" lirih Roy.
Boy segera berlari keluar kamar dan memanggil Lian.
"Ma, Papa bangun! Papa sudah bangun, Ma!" seru Boy yang membuat ketiga orang yang sedang dilanda kesedihan mendadak menghentikan tangisnya dan mulai mencerna setiap kata yang diucapkan Boy.
"Apa?! Papamu sudah sadar?" Lian segera berlari masuk kedalam kamar.
"Mas Roy?!" Lian begitu bahagia melihat suaminya telah kembali.
"Lian? Kamu disini?"
"Iya, Mas. Aku dan Boy selalu menunggu Mas bangun." ucap Lian sambil menangis bahagia.
Kemudian Helena dan Donald juga ikut masuk diikuti Maliq yang harus memeriksa kondisi Roy.
"Permisi! Biar kuperiksa pasien dulu!" ucap Maliq.
Lian mundur ke belakang agar Maliq bisa memeriksa Roy. Maliq tersenyum usai memeriksa kondisi Roy.
"Bagaimana, dokter?" tanya Lian tak sabar.
"Dia baik-baik saja. Kondisinya stabil. Kini ia harus menjalani tahap pemulihan pasca operasi." terang Maliq.
Semua orang dikamar itu turut bahagia. Helena kembali menangis di samping brankar Roy.
"Mom, jangan menangis. Aku tidak apa. Aku baik-baik saja." tegas Roy dengan suara yang masih lemah.
Diluar ruangan, Maliq segera menghubungi seseorang. Siapa lagi kalau bukan Julian.
"Benarkah? Roy sudah sadar? Jantungnya tidak akan bermasalah lagi?" Julian begitu gembira mendapat panggilan dari Maliq.
"Terima kasih, Maliq. Terima kasih."
Julian mengakhiri panggilan.
"Apa ini, Julian? Kau masih peduli pada adikmu?" tanya Zara yang kini sedang bersama Julian.
"Kenapa? Roy adalah adikku."
"Tapi aku ingin membalas adikmu atas apa yang sudah ia lakukan padaku!"
Julian terdiam.
"Baiklah. Jika kau tidak bersedia membantuku, tidak apa. Aku akan melakukannya sendiri. Tapi jangan pernah ikut campur urusanku! Ingat itu! Semua kartumu ada padaku!" ancam Zara kemudian melangkah pergi meninggalkan Julian di ruang kantornya.
Julian berdecih. "Dasar wanita ular! Kau pikir aku akan membiarkanmu menyakiti Roy? Tidak akan! Leon!" panggil Julian.
"Iya, Tuan. Anda memanggil saya?"
"Awasi pergerakan wanita itu. Aku tidak mau dia membuat ulah pada Roy. Terutama Lian dan Boy." titah Julian.
"Baik, Tuan." Leon segera pamit dan melaksanakan perintah dari Julian.
......***......
Isak tangis mewarnai pemakaman Dandy Avicenna. Helena bersimpuh di gundukan tanah makam yang masih basah itu. Disana Helena mulai menyadari jika dirinya amat mencintai Dandy.
Di samping Helena ada Donald dan juga Roy yang memakai kursi roda. Roy tidak menyangka jika ayahnya akan berbuat seperti ini untuknya.
Roy ingin bersedih seperti Helena, namun tak ada gunanya menangisi orang yang telah tiada. Roy juga berpikir jika dirinya harus menguatkan Helena agar tidak terus bersedih.
"Mom! Kita pulang ya! Daddy pasti sedih jika kita terus meratapi kepergiannya. Sekarang kita tahu jika Daddy memang sangat mencintai kita. Kini kita akan mengenangnya selalu dalam hati dan ingatan kita," ujar Roy untuk menguatkan ibunya.
Helena mengangguk. Lian membantu Helena berdiri.
"Ayo, Mom!" ucapnya.
Sepeninggal Roy dan keluarganya, seorang pria muda datang ke makam Dandy. Pria itu menatap nanar nisan bertuliskan nama ayahnya.
Tak ada ekspresi yang muncul di wajah tampannya. Bahkan kesedihan pun tak terlihat disana.
Dia adalah Julian Patrick Avicenna. Pria muda dengan segala kesakitan yang ia bawa dalam hidupnya.
Julian hanya berdiri disana. Bergeming tanpa ada suara yang keluar dari bibirnya.
"Apa kau sudah puas, Pat?" suara pria lain membuat Julian menoleh.
"Apa belum cukup kau melakukan balas dendammu? Siapa lagi yang harus mati setelah ini, Pat?"
"Bukankah sudah pernah kukatakan, Ken. Jika semua kejahatan harus tetap dibayar meski tidak dengan nyawa."
"Jadi, kau akan tetap melanjutkan semua dendammu? Meski itu hanya sebuah serpihan kecil?"
Julian berdecih. "Sudahlah, Ken. Jangan membela mereka. Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan."
Kenzo tak ingin lagi berdebat dengan sahabatnya itu. Ia memilih diam saat Julian mendapat panggilan dari seseorang yang ia duga adalah anak buah Julian.
"Lakukan semuanya sesuai prosedur! Jika semua berkasnya sudah lengkap, kita akan langsung eksekusi." ucap Julian sebelum mengakhiri panggilannya kemudian meninggalkan area pemakaman.
Kenzo hanya menatap punggung sahabatnya yang semakin menjauh. Kenzo baru saja kembali dari Amerika dan langsung mendapat kabar tak menyenangkan ini. Ia tak menyangka jika Julian akan tetap melanjutkan misi balas dendamnya.
......***......
Satu bulan kemudian,
Kondisi Roy sudah mulai membaik namun ia masih belum menerima pekerjaan otopsi dari pihak kepolisian. Justru kini Boy lah yang menggantikan posisi Roy untuk sementara waktu.
Hari ini ada beberapa orang yang datang untuk bertemu dengan Roy.
"Siapa yang datang?" tanya Roy.
"Orang-orang dari kantor kejaksaan, Tuan." jawab si pelayan yang membukakan pintu.
Roy dan Lian pergi menemui orang-orang itu.
"Selamat pagi, Tuan Roy." sapa salah seorang tamu itu.
"Pagi. Ada apa ini?"
"Begini, Tuan. Kami ingin memeriksa Nyonya Helena Avicenna atas tuduhan pelenyapan Nona Belinda Rawles 10 tahun yang lalu." jelas pria bersetelan jas rapi itu.
Roy dan Belinda saling pandang.
"Apa bapak tidak salah?" tanya Lian.
"Tidak. Kami memiliki bukti-bukti lengkap terkait kasus itu. Dan juga ada kemungkinan jika Nyonya Helena terlibat dalam kecelakaan yang terjadi 27 tahun yang lalu."
"Ada apa ini? Kenapa banyak tamu di rumah kita?" Helena tiba-tiba datang menghampiri tamu dan juga Roy.
Roy masih mematung tak percaya dengan semua yang sedang terjadi. Meski ia tak ingin percaya, tapi ia tetap mengambil map yang disodorkan oleh pria itu.
Roy membaca dengan seksama semua berkas yang ada didalam map. Roy cukup paham dengan semua berkas-berkas itu.
Lian pun ikut membaca berkas itu karena dia juga pernah berkuliah di jurusan hukum. Lian membulatkan mata tidak percaya dengan semua yang dia baca.
"Maaf, Tuan. Sebaiknya kami membawa Nyonya Helena terlebih dahulu agar penyelidikan bisa dilanjutkan."
"APA?!" Helena memekik terkejut.
"Mom! Ikutlah dengan mereka! Jelaskan pada mereka jika semua ini tidaklah benar. Mommy tidak mungkin membunuh Belinda, bukan?" ucap Roy dengan suara bergetar.
"Hah?! Roy..."
"Jawablah, Mom!" bentak Roy.
Helena berkaca-kaca. "Maafkan Mommy, Nak..."
Roy menatap tajam kearah Helena.
"Lalu tentang kecelakaan 27 tahun lalu? Apa yang Mommy lakukan saat itu?"
Lian memegangi lengan Roy agar tidak terbawa emosi.
"Cepat katakan!!!" suara Roy menggelegar di seluruh ruangan itu.
"Maafkan Mommy, Roy..." Helena menangkupkan kedua tangannya. Ia tak pernah melihat kemarahan di mata Roy.
"Mas, tenanglah!" Lian berusaha menenangkan Roy.
"Mommy melakukan semua ini untukmu, Nak..."
Roy memejamkan mata mendengar penjelasan Helena.
"Aku tidak membutuhkan ini semua, Mom! Jika aku harus hidup dengan cara melenyapkan orang lain, aku tidak butuh itu!" seru Roy dengan memegangi dadanya.
"Mas! Hentikan!" Lian memegangi tubuh Roy yang hampir ambruk.
......***......
#bersambung