Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
EXTRA PART : Many Things Happen


Peringatan: Terdapat adegan kekerasan dan mengandung kata-kata kasar. Harap pembaca bijak menyikapi.


......***......


Satu tahun setelah menghadapi persidangannya, Zara di tetapkan bersalah atas banyaknya kasus kejahatan yang telah ia lakukan. Namun dirinya tidak ditempatkan di sel tahanan seperti para tahanan wanita yang lainnya.


Zara sangat licik dan pintar dalam berpura-pura menjadi orang yang sakit jiwa. Ia bahkan menyerang beberapa teman satu selnya ketika berada di tahanan. Hingga akhirnya ia ditempatkan di sel yang berbeda dengan tahanan lainnya.


Dan setelah satu tahun menjalani kesendirian dalam sel tahanan yang dingin, hari ini Zara akan dipindahkan dalam sel tahanan biasa bersama dengan para tahanan wanita lainnya. Dokter yang menangani Zara memberikan obat yang ternyata sangat ampuh membuat Zara tidak bisa lagi berpura-pura sakit jiwa. Zara bahkan berubah menjadi lebih penurut dari yang sebelumnya.


Tepukan sorak sorai mewarnai kehadiran Zara yang dibawa oleh dua petugas rumah tahanan. Kini Zara harus tinggal berdesakan dengan para tahanan lainnya.


Zara masuk ke sebuah ruangan yang berisi empat orang tahanan wanita. Ia tak peduli dengan orang-orang didalam ruangan itu.


"Akhirnya kau datang juga!" suara yang tidak asing di telinga Zara membuatnya menoleh.


"Bibi Helena!" Zara membulatkan matanya.


Helena memberi kode pada ketiga orang yang ada disana untuk memegangi lengan Zara.


"Lepaskan aku!" seru Zara sambil meronta.


Helena mendekat dan mencengkeram erat dagu Zara.


"Jika kau mengubah wajahmu menjadi lebih cantik, maka harusnya kau juga mengubah sifatmu itu menjadi lebih baik!"


"Berani sekali kau ingin membunuh putraku! Kau akan menerima akibatnya karena kau berusaha menyakiti kedua putraku!"


Helena menarik rambut sebahu Zara dan menamparnya.


"Lepaskan!" Zara berusaha berontak dan menghindari kekerasan yang dilakukan Helena dan teman-teman satu selnya.


"Kau harus menerima balasan atas apa yang kau lakukan! Kau bahkan mengelabui para penjaga dengan berpura-pura sakit jiwa. Dasar wanita iblis!"


Helena menyerang Zara dengan membabi buta hingga Zara terkapar.


Setelah puas, Helena dan kawan-kawan pergi meninggalkan Zara.


"Tunggu!"


Langkah Helena terhenti karena mendengar suara Zara yang terdengar lantang. Helena membalikkan badan dan tanpa disangka, Zara bangkit dan balik menyerang Helena.


"Kurang ajar! Kau pikir kau bisa menyerangku, huh! Aku adalah Zara dan aku tidak terkalahkan!" teriak Zara.


Ketiga teman Helena mencoba membantu namun ternyata Zara sudah dikuasai oleh amarah yang mencapai puncak. Ketiga orang itu malah terkapar diserang oleh Zara.


Zara kembali menatap Helena dengan seringai yang mengerikan.


"Kau tahu, Bibi? Ini semua adalah karena ulahmu!" teriak Zara.


Helena beringsut menghindari Zara.


"Hentikan, Zara! Sudah cukup kau melakukan kejahatan selama ini," pinta Helena agar Zara tidak menyakitinya lagi.


Zara malah tertawa keras. "Berhenti? Kau sendiri juga tidak pernah berhenti untuk mencapai tujuanmu, bukan? Kau bahkan rela membunuh saudaramu sendiri demi mencapai tujuan. Lalu sekarang kau bilang kau ingin melindungi kedua putramu? Jangan mimpi! Kau adalah wanita iblis yang sebenar-benarnya, Helena! Aku tidak akan berada di titik terendah ini jika bukan karena dirimu. Kau yang sudah membuatku jadi begini. Jika saja sejak awal kau berhasil menikahkan aku dengan Roy, maka aku tidak perlu mengambil langkah seperti ini dalam hidupku! Aku bahkan harus menjadi orang lain untuk bisa mendapatkan Roy. Tapi apa? Aku tetap tidak bisa mendapatkannya. Dan itu semua karena dirimu!"


Zara kembali menyerang Helena. Bahkan luka di tubuh Helena kini lebih banyak dibanding luka Zara yang tadi diberikan Helena.


Hingga akhirnya ada yang memanggil petugas rumah tahanan dan membuat perkelahian antara Zara dan Helena terhenti. Zara masih terus mengumpati Helena meski dirinya kini dipegangi oleh dua orang penjaga.


Dengan terpaksa dokter menyuntik Zara dengan obat penenang yang langsung membuatnya tidak sadarkan diri.


......***......


Roy dan Lian datang ke rumah sakit kepolisian setelah dihubungi pihak rumah tahanan Melati. Roy amat cemas dengan kondisi ibunya.


"Mom!" seru Roy ketika diijinkan masuk oleh petugas yang berjaga di depan kamar Helena.


"Roy? Lian? Kalian datang?" lirih Helena.


"Mom! Jangan bergerak dulu. Mom istirahat saja," ucap Roy.


"Terima kasih karena kalian sudah datang. Bagaimana kabar kalian? Mommy dengar kalian sudah berkumpul dengan kedua putra kalian. Mommy ikut senang mendengarnya."


Roy dan Lian saling pandang.


"Mommy jangan memikirkan kami. Kami baik-baik saja," sahut Lian.


"Kenapa Zara sampai melakukan ini pada Mommy? Bukankah dia seharusnya ada di ruang tahanan isolasi? Kenapa dia bersama Mommy?" tanya Roy beruntun. Ia sungguh tak terima dengan perlakuan Zara pada ibunya.


"Sudahlah, Nak. Ini semua adalah salah Mommy. Zara benar. Semua hal yang terjadi dalam hidupnya adalah karena kesalahan Mommy. Dia menjadi wanita yang berbeda karena Mommy," sesal Helena.


"Jangan bicara begitu. Apapun yang Mommy lakukan di masa lalu, Mommy sudah berusaha memperbaikinya dengan menebus kesalahan Mommy."


Tangan Helena terulur dan mengusap wajah Roy.


Roy mengangguk.


"Mommy senang mendengarnya. Mommy merasa sangat bersalah pada Julian. Andai saja Mommy bisa meminta maaf langsung padanya. Tahun demi tahun yang Mommy jalani di rumah tahanan, tidak akan bisa menghapus semua luka di hati Julian..." Helena menitikkan air matanya.


Helena tidak tahu jika sedari tadi Julian berdiri di balik pintu dan mendengar semua kata-kata yang diucapkan Helena. Julian ingin menemui Helena dan mengatakan jika ia sudah memaafkan semua kesalahannya, namun hatinya masih enggan untuk memberanikan diri bertemu dengan ibu tirinya itu.


Waktu kunjung Roy dan Lian telah habis. Mereka keluar dan menemui Julian. Roy tersenyum getir menatap Julian.


"Maafkan kesalahan Mommy, Kak," ucap Roy.


"Aku sudah memaafkan kesalahan Bibi Helena sejak lama. Bukankah kita sudah berjanji akan memulai kehidupan yang baru?" Julian menepuk bahu Roy pelan.


"Aku harus menemui Zara. Ada yang harus kusampaikan padanya," ijin Roy.


Lian membelalakkan mata. "Mas? Apa kau yakin?"


"Iya, sayang. Ada yang harus kuselesaikan dengannya. Mungkin setelah ini, semua akan benar-benar selesai antara aku dan dia." Roy meyakinkan Lian.


"Baiklah. Hati-hati ya, Mas."


Roy mengangguk. Ia melangkah menuju ke ruang rawat Zara. Ia meminta ijin pada petugas jaga kemudian melangkah masuk.


Zara sedang duduk bersandar pada ranjang dengan tangan terborgol. Roy merasa iba melihat kondisi Zara. Wanita yang pernah mengisi hatinya itu kini telah banyak berubah. Dan banyak dari perubahan Zara adalah karena dirinya. Itulah yang ada dipikiran Roy.


"Zara..."


Zara yang tidak menyadari kehadiran Roy langsung menoleh.


"Roy?! Kau datang?" Hampir saja Zara akan meloncat dari ranjang karena terlalu senang melihat sosok yang amat dicintainya.


Namun langkah Zara tercekal karena borgol yang melingkar di tangan dan kakinya.


"Tenanglah! Aku akan bicara denganmu selama beberapa menit," ucap Roy.


Zara diam dan hanya mengulas senyum.


"Zara, maafkan aku. Aku tahu semua kesalahanku tidak bisa dimaafkan hanya dengan satu kata. Tapi, aku ingin kita memulai hidup kita masing-masing."


"Tolong hiduplah dengan baik! Tebus semua kesalahan yang pernah kau lakukan di masa lalu."


Zara masih terdiam.


"Aku mohon maafkan kesalahan Mommy juga." Roy menangkupkan kedua tangannya.


"Hubungan kita sudah berakhir dan aku ingin kau bisa hidup dengan baik."


"Maafkan aku, Zara." Suara pria lain menginterupsi pembicaraan Roy dan Zara.


"Kak Julian?" Roy terkejut.


"Zara, aku memiliki banyak salah padamu," ucap Julian.


Zara memalingkan wajahnya.


"Aku tidak tahu seperti apa penderitaan yang kau alami selama kau mengandung anakku. Maafkan aku!"


"Yang Roy katakan benar. Setelah kau menebus semua kesalahanmu, hiduplah dengan baik. Kau harus bisa melupakan masa lalu dan menatap masa depanmu. Jika kau butuh bantuan kami, maka kami akan siap membantu."


"Waktu kunjungan sudah habis! Silakan keluar!" ucap petugas kepolisian yang berjaga.


Roy dan Julian keluar dari kamar rawat Zara. Sementara Zara, entah kenapa air mata yang tidak pernah ia keluarkan, tiba-tiba saja mengalir deras melewati pipinya. Ia menangis tersedu mengingat semua hal yang telah ia lalui selama ini.


......***......


Beberapa bulan kemudian, eksperimen yang dilakukan Boy mengenai bayi tabung Julian dan Kartika mulai menemui hasil. Gumpalan daging yang ia tempatkan di sebuah tabung berhasil tumbuh dengan baik. Boy juga membuat formula makanan agar nutrisi janin itu tetap terpenuhi.


Julian dan Kartika berbinar senang karena janin mereka di prediksi berjenis kelamin perempuan. Penantian mereka selama hampir satu tahun ini membuahkan hasil.


Seorang bayi perempuan berwajah cantik telah siap untuk lahir ke dunia.


"Aku akan memberinya nama Shelomita Putri Avicenna," ucap Julian.


"Nama yang bagus," balas Kartika memeluk Julian dengan penuh rasa syukur.


Boy tersenyum lega karena eksperimen pertamanya telah berhasil. Sepertinya dia akan menekuni bidang yang berbeda dengan ayahnya. Ia ingin bergelut di dunia Obstetri dan Ginekologi, juga revolusi genetik dari yang awalnya ia bercita-cita menjadi dokter forensik.


...B E R S A M B U N G...


"Ini bukanlah sebuah akhir, namun sebuah awal dari kisah mengejutkan selanjutnya. Selamat menikmati."


...Happy Wednesday...