
...Aku memilih jalan ini, karena kukira kaulah hal terakhir yang akan kumiliki dalam sisa hidupku, sisa usiaku...
...Namun kini semua terasa semu, kau semakin menjauh,...
...Atau akulah yang memilih menjauh?...
Boy memandangi foto Aurel yang ada di dalam ponselnya. Sungguh gadis kecil itu adalah anugerah terindah untuk Boy.
"Kupikir dengan hadirnya Aurel dalam pernikahan kita, aku akan bisa membuatmu mendekat. Tapi nyatanya, kau terasa makin jauh, Nat. Dimana sahabatku yang dulu itu? Kenapa kau berubah, Nat?"
Boy memijat pelipisnya pelan. Sudah pukul sepuluh malam namun Natasha belum juga kembali ke rumah.
Sebuah ketukan di pintu kamarnya membuat Boy terkesiap dan menuju pintu.
"Mama?" Boy terkejut karena Lian tiba-tiba datang ke kamarnya.
"Mama sudah menidurkan Aurel. Kau masih terjaga? Apa kau menunggu Natasha pulang?"
"Iya, Ma. Dia pasti sangat sibuk makanya dia pulang terlambat."
"Jangan terus membelanya! Dia sudah lama mengabaikan Aurel. Seharusnya kau menegur istrimu itu! Mau sampai kalian hidup seperti ini?"
"Ma, please. Jangan membahas ini sekarang! Aku takut jika Mommy Riana mendengarnya!"
"Biarkan saja dia mendengarnya! Dia harus tahu seperti apa kelakuan putrinya itu. Seharusnya kita tidak perlu membawanya ikut tinggal disini."
"Ma, Mommy Riana tinggal sendiri setelah Daddy Kenzo meninggal. Tentu saja aku tidak tega membiarkan dia hidup sendiri."
"Kau selalu saja membelanya! Sudahlah, Mama malas berdebat denganmu!" Lian berlalu pergi meninggalkan kamar Boy.
Boy menghembuskan napas kasar. "Kenapa semuanya jadi seperti ini? Apa lagi yang harus kulakukan?"
Boy menuju tempat tidur dan merebahkan tubuh lelahnya.
Hingga pagi akhirnya menyapa, Boy terbangun dan melihat Natasha ada di sampingnya.
Boy menyunggingkan senyum. "Kau pasti lelah sekali ya! Kau tidur dengan lelap." Boy mengecup kening Natasha kemudian bangkit dan menuju ke kamar mandi.
Usai membersihkan diri, Boy melihat Natasha sudah terbangun.
"Hai, sayang, kau sudah bangun?"
"Hai, maaf ya aku terlambat bangun," ucap Natasha sambil memeluk Boy yang baru keluar dari kamar mandi.
"Aku tahu kau sibuk. Sebaiknya kau segera membersihkan diri."
Natasha mengangguk dan segera masuk kedalam kamar mandi.
Boy mengganti baju dan mematut diri di depan cermin.
"Apa yang salah dari semua ini?" batin Boy sambil memakai dasi.
Boy keluar dari walk in closet miliknya dan mendapati Natasha masih berada di kamar mandi.
Entah kenapa mata Boy tertuju pada benda pipih besar yang selalu dibawa oleh Natasha. Tablet pintar yang berisi jadwal kegiatan Natasha. Boy ingin mengetahui apakah memang Natasha sesibuk itu atau ia harus percaya firasat Lian yang mengira jika Natasha menyembunyikan sesuatu.
Tangan Boy terulur mengambil benda diatas nakas itu. Namun ketika ia baru menyentuh benda tersebut, Natasha keluar dari kamar mandi dan memanggil Boy.
"Sayang!" Boy segera meletakkan kembali benda pipih itu.
"Kau sudah selesai?" tanya Boy berbasa basi.
"Hmm, apa yang akan kau lakukan dengan tabletku?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin tahu apa saja yang kau lakukan selama satu hari penuh."
"Kau sendiri tahu apa saja yang aku lakukan selama satu hari penuh."
"Iya, baiklah. Aku percaya padamu. Atau kau ... sebenarnya memiliki rahasia?"
Natasha tertawa. "Rahasia apa maksudmu?"
"Rahasia yang kau simpan di dalam benda pipih itu." Boy menunjuk tablet pintar di tangan Natasha dengan dagunya.
Sekali lagi Natasha tersenyum. "Boy, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang membagi rahasianya dengan orang lain. Jika ada yang mengatakan itu, maka orang itu pastilah berbohong!" Natasha berlalu dan menuju kamar ganti miliknya, sebuah walk in closet besar dan mewah yang menyimpan barang-barang koleksi Natasha.
Boy hanya menghela napas lalu setelahnya ia keluar dari kamar dan menemui putri kecilnya. Hanya Aurel saja yang bisa menenangkan hati Boy di kala gundah.
......***......
Maliq menunggu Dion di ruang kerja putranya. Ia melihat-lihat meja kerja pria tampan itu yang nampak bersih tanpa adanya foto seorang gadis disana.
"Ayah! Apa yang ayah lakukan disini?" Dion masuk ke ruang kerjanya.
"Hai, Nak. Kau sudah selesai memeriksa pasienmu?"
"Iya. Ada apa Ayah datang kemari? Jika ada yang penting ayah bisa memintaku pulang ke rumah."
"Ish, kau ini. Jadi kau baru akan pulang jika ayah atau ibumu memintamu pulang, huh?"
"Bukan begitu. Maaf aku jarang mengunjungi kalian."
"Apa kau sesibuk itu? Atau kau ... sedang disibukkan oleh seseorang?"
"Seseorang siapa maksud ayah?" Dion mengernyitkan dahi.
"Sudahlah! Kita bicara sambil duduk!" Maliq meminta Dion duduk bersamanya di sofa.
Dion pun menurut.
"Begini, Nak. Ada yang ingin ayah bicarakan. Ini mengenai adikmu."
"Rion? Ada apa dengannya?"
"Kau sendiri tahu jika sudah setahun ini adikmu tinggal di desa terpencil itu. Ayah ingin memintamu agar membujuk Rion kembali ke rumah sakit ini."
"Ayah tahu jika Rion sedang mengejar cintanya. Biarkan saja dia ada disana."
"Ish, kau ini!" Maliq mengangkat tangan seraya ingin memukul putra sulungnya yang sudah menjadi pria dewasa ini.
"Ayah! Aku bukan lagi anak kecil yang harus dipukul kalau melakukan kesalahan."
Maliq menurunkan tangannya. Ia tak berniat untuk memukul putra tampannya itu. Ia hanya ingin menggertak saja.
"Minta orang suruhanmu menemui Rion. Disini membutuhkan tenaga dokter anak. Dia harus kembali kemari."
Dion menganggukkan kepala. "Tapi, aku tidak janji dia akan bersedia kembali kemari. Yang kulihat dia sudah menyatu dengan desa itu."
"Apa pesona gadis itu begitu memikat? Hingga adikmu begitu tergila-gila padanya."
Dion mengedikkan bahunya. "Dia gadis yang manis. Rion jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya. Sudah hampir lima tahun dan dia masih mencintai gadis itu. Kurasa dia memang serius. Ayah menyetujuinya kan?"
Maliq nampak berpikir. "Bila perlu ajak gadis itu kemari juga. Bukankah dia juga seorang dokter?"
"Iya. Kudengar dia ingin mengambil spesialis juga. Tapi aku juga belum tahu dia ingin memilih apa."
"Baiklah. Ayah hanya ingin bicara itu denganmu. Kalian adalah saudara kembar. Ayah yakin Rion pasti akan mendengarkanmu."
Dion mengangguk paham.
"Lalu kau sendiri? Kapan kau akan membawa seorang gadis ke rumah? Sahabatmu Boy bahkan sudah memiliki seorang putri."
"Oke! Sudah ya! Jangan membahas soal ini denganku!" Dion tak ingin ayahnya mencecarnya lebih lanjut. Ia segera meminta ayahnya untuk keluar.
"Hei, kau sangat tidak sopan! Kau mengusir ayahmu, huh!"
"Maaf, Ayah. Sebentar lagi aku ada kelas mengajar umum di universitas. Aku akan berkunjung ke rumah minggu ini. Oke?"
Dion segera menutup pintu ruangannya. Maliq hanya menggeleng pelan dengan tingkah putranya itu.
Dengan rasa penasaran yang cukup besar, Maliq menghentikan langkah dan menghubungi kawannya yang bekerja di Universitas Avicenna. Ia meminta data-data seorang mahasiswi yang menjadi magnet bagi putranya hingga memutuskan pindah ke desa terpencil.
"Segera kirimkan datanya padaku!" tutup Maliq di sambungan telepon.
Tak lama sebuah pesan masuk di ponsel Maliq. Ia pun membukanya.
"Hmm?" Maliq mengernyitkan dahi.
"Aleya Sugandi. Gadis yang manis. Jadi kaulah yang sudah membuat putraku meninggalkan rumah. Semoga kau tidak menyakiti hati putraku yang rapuh itu..." Maliq tersenyum kemudian kembali melangkah.
...B E R S A M B U N G...
"Dukung mamak selalu agar bisa terus berkarya. Berikan Like, Komen, Gift ataupun Vote agar makthor tetap semangat.
...terima kasih...