
Setelah membujuk kedua orang tuanya, akhirnya Lian di perbolehkan untuk pergi ke acara tujuh bulanan Amira. Lian pergi menggunakan taksi online.
Setibanya di rumah Benjamin, Lian disambut langsung oleh si tuan rumah yang tak lain adalah Ben.
"Nona Lian? Terima kasih sudah bersedia datang. Amira pasti senang sekali bertemu dengan Nona," ucap Ben.
"Iya, Ben. Sama-sama. Aku juga sudah lama tidak bertemu dengan Amira."
"Apa Nona datang sendiri?"
"Iya, memangnya aku akan datang dengan siapa?" canda Lian sambil tertawa.
Lian masuk dan mengedarkan pandangan.
"Lumayan banyak juga yang datang. Mas Roy dimana ya?" Lian mengedarkan pandangan.
Tak lama setelah Lian datang, acara inti pun dimulai. Lian ikut menyaksikan acara yang di sebut dengan 'Mitoni' itu.
Lian tersenyum mengingat dirinya tak melakukan ritual seperti ini saat hamil dulu.
"Apa mungkin seharusnya aku melakukan hal seperti ini saat hamil dulu? Meski terkesan hanya tradisi dan ada mitos di belakangnya. Tapi meminta doa pada Tuhan dan semesta juga penting." Batin Lian.
Netra Lian tiba-tiba tertuju pada sosok pria bersama seorang wanita yang terlihat antusias menyaksikan prosesi Mitoni ini.
"Mas Roy? Bukankah dia yang bernama ... Esther! Jadi, mereka bersama? Mas Roy bilang akan datang sendiri, tapi kenapa ... dia bersama Esther?" Batin Lian.
Lian menatap tak suka pada cara wanita itu memperlakukan suaminya. Hingga akhirnya netra milik Lian bertemu dengan netra Roy. Mereka beradu tatap selama beberapa waktu.
Lian memutus tatapan itu. Ia kini fokus menyapa Amira yang perutnya sudah terlihat buncit.
"Roy!!" Sekali lagi Esther memanggil Roy.
"Eh? Kenapa?"
"Kau melihat apa?"
"Eh? Tidak ada."
Roy segera pergi dari acara itu. Esther masih terus mengekori langkah Roy. Hingga akhirnya Roy mulai tak tahan dengan sikap Esther. Tapi bagaimanapun dia adalah tamu. Ia tak mungkin mengusir Esther.
"Bagaimana kalau kita makan dulu?" ajak Roy.
"Boleh. Ayo!"
Lian merasa geram dengan sikap Roy yang sama sekali tak menyapa dirinya.
"Tenanglah, Lian! Kau sendiri tahu jika hubunganmu dan Mas Roy sudah berakhir. Kau harus bisa menahan diri. Sandiwara ini harus terlihat meyakinkan dan natural." Lian mengatur nafasnya.
Lian mulai bersikap seperti biasa. Ia ikut mengambil makanan seperti apa yang dilakukan Roy dan Esther.
Ketika acara telah usai, para tamu mulai berpamitan pada Ben dan Amira. Lian masih mengutak atik ponselnya untuk memesan taksi online.
Lian begitu terkejut karena ternyata Roy mempersilakan Esther untuk masuk kedalam mobilnya. Lian hanya terpaku melihat kepergian suaminya dan wanita lain.
"Ya Tuhan! Kenapa rasanya begitu berat? Sudah lima tahun ini kami menjalani ini. Tapi kenapa baru sekarang terasa berat?" Lian mengerjapkan mata agar tak menangis.
Di sisi lain, Roy mencengkeram erat kemudi. Hatinya sakit harus menyakiti wanita yang ia cintai.
Roy pun menepikan mobilnya.
"Maaf, Esther. Aku lupa jika aku masih ada urusan. Aku tidak bisa mengantarmu pulang."
"Eh?" Esther terkejut tapi ia tak bisa menolak. Ia pun turun dari mobil Roy.
Roy ikut turun dan memanggil taksi untuk Esther.
"Sekali lagi aku minta maaf."
"Iya, tidak apa." Esther masih menunjukkan senyumnya meski dalam hati ia amat marah.
Dengan berat hati, Esther masuk ke dalam taksi.
"Aku yakin Roy pasti ingin menemui wanita itu!" Esther mengepalkan tangannya.
"Apa memang sudah tidak ada lagi cinta untukku, Roy? Bukankah kita sudah bersama sejak kecil? Kenapa kau melupakanku dengan begitu mudahnya?"
Buliran bening kini membasahi wajah cantik Esther.
"Bahkan kau sama sekali tidak tertarik dengan wajah cantik ini. Lalu untuk apa aku melakukan semua ini?"
Supir taksi yang melihat Esther menangis menjadi bingung.
"Maaf, Nona. Kita mau kemana ya?"
"Apartemen Royale." jawab Esther singkat.
Supir taksi langsung mengangguk dan kembali menatap jalanan di depannya.
*
*
*
Roy memutar balik kemudinya dan kembali ke rumah Benjamin. Namun baru saja Roy tiba, Lian baru saja masuk kedalam taksi online yang dipesannya.
Tak mau menunggu lagi, Roy segera mengejar laju mobil yang di naiki Lian.
Lian yang sedang melamun tak peduli dengan bunyi klakson mobil yang terus menggema.
"Nona! Nona!" supir taksi memanggil Lian.
"Nona!"
"Eh? Iya, Pak, ada apa?"
"Apa Nona mengenal mobil itu? Sedari tadi mobil hitam itu mengikuti kita dan membunyikan klakson."
Lian melihat ke belakang. "Mas Roy? Pak, tolong hentikan mobilnya!" titah Lian.
Lian turun dari mobil, begitu juga dengan Roy.
"Mas Roy? Kenapa mengikutiku?" Lian menatap Roy penuh tanda tanya.
Tanpa menjawab Roy langsung membawa Lian dalam pelukannya.
"Maaf... Maafkan aku..." ucap Roy berulang kali.
Tangis Lian mulai pecah dalam pelukan Roy. Lian makin menelusupkan wajahnya pada dada bidang Roy. Rasa sesak di hatinya tak bisa lagi ia tahan.
.
.
Esther kembali ke apartemen dengan langkah gontai. Ia tidak menyapa Noel ataupun menanggapinya.
"Kau sudah pulang? Bagaimana acaranya?" tanya Noel.
Esther berjalan melewati Noel dan menuju kamarnya.
"Ada apa dengannya?" Noel mengerutkan dahi.
Esther merebahkan tubuhnya di tempat tidur kemudian menangis. Noel yang mendengar suara isak tangis segera menghampiri Esther.
Noel melihat tubuh Esther bergetar karena tangisnya. Ia duduk di tepi ranjang dan mengusap punggung Esther. Ia membelai rambut Esther lembut.
Noel tahu Esther pasti sedang kecewa. Tekad Esther untuk merebut hati Roy kembali terasa sulit. Hati Roy sudah tertambat pada satu nama.
Noel terus menemani Esther hingga tangisnya reda. Ia hanya diam dan tak mengatakan apapun.
"Kau masih disini?" tanya Esther dengan mata sembab.
"Bukankah aku adalah kakakmu?" Terdengar miris saat Noel mengatakannya.
"Kau bukan kakakku!" Ucap Esther.
"Tapi wajahmu adalah wajah adikku."
"Julian sudah mengetahui segalanya. Hanya tinggal menunggu waktu saja hingga semua orang mengetahuinya." ujar Esther datar.
Noel mengernyitkan dahi.
"Apa maksudmu?"
Esther menatap Noel. "Julian sudah tahu jika aku bukanlah Esther yang asli."
"Apa? Bagaimana bisa? Kapan dia mengetahuinya?" Noel mulai panik.
"Kau sendiri tahu seperti apa berkuasanya Julian saat ini. Dia bisa melakukan apa saja pada apa yang tak diinginkannya."
"Apa dia mengancammu?"
"Tidak!"
Noel bernafas lega. Ia masih harap-harap cemas menghadapi Julian esok pagi.
"Untuk apa semua ini?" Gumam Esther.
"Eh?"
"Untuk apa aku melakukan segalanya jika aku tetap bisa mendapatkan hati Roy!"
Noel tahu jika kesedihan Esther pasti berasal dari Roy. Merasa tak tega dengan kesedihan Esther, Noel pun meraih tubuh Esther dan memeluknya.
"Kau bisa bersandar padaku, Zara. Bukankah sudah kubilang, aku akan selalu ada untukmu."
"Tolong aku, Noel..."
"Apa yang bisa kulakukan untukmu?"
"Aku ingin meraih kembali cinta Roy. Dia adalah cinta pertamaku, temanku, sahabatku. Dia adalah segalanya bagiku. Tolong aku, Noel..."
Noel memejamkan matanya. "Baiklah, Zara. Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Aku ... akan mendukungmu."
...B E R S A M B U N G...
"Huft! Siapa disini yang kepengin bejek bejek si Noel?π π π
Selamat malam minggu,
sampai jumpa besok πππ