
Lian datang ke sekolah Boy untuk menjemputnya karena sudah waktunya jam pulang sekolah. Setelah bertemu dengan Maliq, Lian merasa jika mood nya masih kurang bagus dan ia rasa hanya Boy lah yang bisa membuatnya kembali bersemangat.
"Mama!!" seru Boy saat melihat Lian menghampirinya.
Lian menyapa guru kelas Boy terlebih dahulu.
"Mama kenapa ada disini? Apa Mama tidak ada pekerjaan?" tanya Boy heran.
"Umm, hari ini Paman Jimmy memberikan Mama kelonggaran karena selama ini Mama sudah bekerja keras."
"Oh begitu. Tapi ... hari ini aku sudah punya janji."
"Janji? Dengan siapa?" Lian mengerutkan dahinya.
"Aku dan Paman Patrick ... kami akan pergi ke suatu tempat," jawab Boy ragu.
"Boy!!!" Sebuah suara yang tidak asing memanggil nama Boy.
Lian ikut menoleh mendengar suara itu.
"Berlian? Kau ada disini?"
"Iya, Pat. Aku datang untuk menjemput Boy karena aku sedang tak ada kerjaan."
"Ma, aku dan Paman Patrick akan pergi ke taman hiburan. Bagaimana kalau Mama ikut saja?"
"Eh?"
"Iya, Bels. Kau ikut saja."
Lian nampak berpikir sejenak. "Taman hiburan? Tidak ada salahnya jika aku ikut. Karena aku juga sedang suntuk," batinnya.
"Baiklah, Mama ikut."
Mereka pun berjalan bertiga menuju mobil Julian yang terparkir di halaman sekolah Boy.
Selama perjalanan, Lian hanya diam dan memperhatikan jalanan. Rasa canggung kembali menyelimuti dirinya kala mengingat apa yang Roy katakan tentang Julian.
Selama ini Lian menganggap Julian sebagai sahabat juga keluarga, jadi tidak mungkin jika dirinya dan Julian tiba-tiba mengubah status itu.
Tiba di taman hiburan, Boy langsung berlarian berhambur masuk. Lian dan Julian hanya menggeleng pelan melihat tingkah lucu Boy.
"Paman, aku ingin naik semua wahana yang ada disini," ucap Boy sambil menunjuk semua wahana permainan yang ada disana.
"Kamu harus menyesuaikan dengan usiamu, Nak." lerai Lian.
"Apa aku belum boleh menaiki yang sedikit berbahaya, Ma?"
"Tentu saja. Kau akan mencoba semuanya jika usiamu mulai bertambah," sahut Julian.
"Ma, lain kali ajak Papa kemari ya. Papa selalu sibuk mengurus kasus. Aku mulai tak suka dengan sikap Papa. Bagaimanapun aku ini masih anak-anak. Tentu saja aku juga ingin bermain seperti anak-anak sebayaku." jelas Boy.
Lian hanya menanggapi dengan sebuah senyuman. Julian menangkap ada yang aneh dengan sikap Lian.
"Apa terjadi sesuatu antara Berlian dan Roy?" batin Julian.
Sementara itu di tempat berbeda, Roy sedang menyendiri di apartemen milik Maliq. Sejak pulang dari rumah sakit, Roy memutuskan untuk datang ke apartemen Maliq.
Ben yang juga ada disana juga merasa bingung dengan sikap bosnya itu.
"Ben, apa bosmu tidak akan pulang? Bukankah istri dan anaknya sedang menunggu?" ucap Maliq.
Maliq menghampiri Roy yang sedang meringkuk di tempat tidur.
"Roy! Sampai kapan kau akan disini? Keluargamu pasti mencarimu."
"Sudahlah! Aku ingin disini dulu. Kau ini pelit sekali!" sungut Roy.
"Apa kau bertengkar dengan Berlian? Astaga, Roy! Berapa usiamu? Hadapilah masalahmu, Roy. Jangan menghindarinya." Lerai Maliq.
"Berisik!!!" seru Roy yang masuk kedalam selimut.
Ben ikut mendatangi mereka berdua yang suka sekali berdebat sejak dulu. Mereka bertiga sudah menjadi teman sejak lama.
Ponsel Ben berbunyi. Beberapa pesan masuk yang dikirim dari anak buah Ben yang diminta Roy untuk mengawasi Lian. Sejak penculikan yang terjadi pada Lian, Roy lebih mengetatkan penjagaan untuk Lian.
Ben membelalakkan mata melihat foto yang dikirim orang kepercayaannya. Ia melihat foto Lian bersama Maliq sedang bersama di sebuah kafe.
Ben melirik tajam kearah Maliq. Maliq yang tak tahu dengan apa yang terjadi hanya mengedikkan bahu seraya bertanya ada apa.
Ben menunjukkan foto yang didapat anak buahnya pada Maliq. Maliq mendesah kasar karena ternyata Roy mengawasi istrinya.
Maliq membawa Ben pergi dari kamarnya dan menuju balkon.
"Kalau begitu jelaskan! Apa ini yang membuat Tuan Roy marah?"
"Tidak! Tentu saja tidak! Lian yang memintaku untuk menemuinya. Dia sudah tahu soal penyakit Roy. Roy sendiri yang memberitahu Lian."
"Lalu, kenapa Tuan Roy sampai seperti ini?"
"Mana aku tahu, Ben. Tiba-tiba saja dia datang kemari dan hanya diam."
Ponsel Ben kembali berdering. Sebuah pesan kembali masuk. Lagi-lagi Ben dibuat kaget dengan kiriman anak buahnya.
"Tuan Maliq!" Ben menunjukkan ponselnya pada Maliq.
"Heh?!" Maliq tertegun. "Julian? Apa yang ia lakukan bersama Lian?" batinnya.
"Kalian sedang apa disini?" Roy datang menghampiri kedua sahabatnya.
Wajah Maliq dan Ben berubah pucat. "Ada apa? Apa kalian menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Roy menatap kedua temannya bergantian.
"Umm, tidak ada Roy. Kami tidak menyembunyikan apapun," jawab Maliq diiringi tawa garing.
Roy sangat tahu jika sahabatnya ini menyimpan sesuatu. Tiba-tiba netra Roy tertuju pada benda pipih yang sedang di genggam Ben.
Roy merasa ada yang aneh dengan tingkah Ben.
"Ada apa, Ben?" tanya Roy dengan merebut cepat ponsel ditangan Ben.
Roy menscroll layarnya yang memang tidak dikunci. Ben tipe orang yang sulit bergaul.
Roy menatap gambar Lian dan Boy sedang bersama Julian, kakaknya. Roy terdiam memandangi senyum Lian yang merekah indah saat sedang bersama Julian.
"Bila Tuan ingin menyusul mereka, maka saya bisa antarkan Tuan kesana." tawar Ben.
"Tidak perlu, Ben. Mereka memang cocok berbahagia tanpa adanya aku disana." lirih Roy dengan mengembalikan ponsel Ben lalu menuju kembali ke kamar.
"Roy!" Maliq mengejar Roy.
"Selesaikanlah secara baik-baik dan kepala dingin, Roy. Aku yakin Lian punya alasan kenapa dia bisa bersama dengan Julian."
Roy hanya tersenyum tipis.
"Julian adalah kakakmu. Aku yakin dia hanya mengajak Boy karena Boy adalah keponakannya." bela Maliq.
"Jangan menyerah, Roy! Aku akan selalu ada bersamamu." imbuh Maliq.
"Cih, kau ini! Urus saja urusanmu sendiri. Jangan pedulikan aku!" ucap Roy santai.
Maliq hanya menggeleng pelan.
*
*
Julian menggendong tubuh Boy di punggungnya. Seharian bermain ternyata anak itu merasa lelah teramat sangat hingga bisa terlelap disana.
"Apakah berat?" tanya Lian.
"Tidak, Bels. Boy masih anak-anak. Kecuali jika aku menggendongmu mungkin akan terasa berat."
"Apa sih?!" Lian memukul lengan Julian pelan diiringi senyuman.
"Nah, begitu lebih bagus, Bels." Julian membetulkan posisi Boy yang masih terpejam.
Mereka berdua kembali berjalan menuju tempat parkir.
"Mas Roy sudah cerita semuanya, Pat." buka Lian.
"Maksudmu?" Julian mencoba mengkonfirmasi.
"Kau sendiri tahu bagaimana kondisi adikmu."
"Roy memang sakit. Tapi itu bukan alasan untuk meninggalkannya."
"Aku tidak meninggalkannya, Pat. Dia sendiri yang ingin aku meninggalkannya." Seru Lian.
"Maka jangan lakukan! Roy pasti hanya terbawa suasana. Aku mengenalnya dengan baik."
Lian terdiam tak menjawab, sejurus dengan langkah mereka yang telah tiba di depan mobil Julian.
......***......
#bersambung