Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 62. Untitled 3


...[ Jantung untuk Putraku ]...


Apa kalian percaya dengan takdir? Aku merasa takdir yang Tuhan bawa untukku sangatlah aneh. Aku tidak pernah mengenalnya. Namun aku terikat takdir dengannya. Kami terikat takdir karena ada buah hati diantara kami.


Kini rasanya takdir itu terasa kian meninggalkanku. Aku disini menantikan dirinya yang entah akan tetap bersamaku atau pergi.


"Lian..."


Suara Maliq membuyarkan semua lamunan Lian.


"Dokter Maliq?"


Lian menghapus air mata yang sedari tadi mengalir di pipinya.


"Masuklah! Roy ingin bertemu denganmu," ucap Maliq.


Lian menatap Helena dan Donald.


"Apa Mas Roy sudah sadar?" tanya Lian antusias.


Maliq hanya mengangguk. Ia tak mau memberi harapan palsu untuk Lian.


Dengan bergegas Lian segera masuk ke ruang intensif. Bunyi alat-alat medis yang bersahutan membuat Lian sedikit gugup berada di ruangan itu.


"Mas Roy..." Lian menghampiri brankar Roy.


Mata Roy sedikit membuka melihat sosok yang dirindunya.


"Mas..."


"Lian... Berlian..." lirih Roy.


"Iya, Mas. Ini aku. Mas bertahanlah!"


"Boy mana?"


"Boy? Aku tidak membawanya kemari. Dia masih terlalu kecil."


"Aku merindukannya."


"Aku akan membawa Boy kemari. Tapi berjanjilah Mas akan kembali pulih..."


Roy tidak menjawab. Ia hanya menggerakkan matanya pertanda setuju.


Maliq membawa Lian kembali ke luar.


"Roy butuh istirahat. Kondisinya masih belum stabil. Kuharap kau mau bersabar," terang Maliq.


"Iya, Dokter. Aku percayakan semua pada dokter." Balas Lian.


Ditempat berbeda, orang-orang berbondong-bondong menghampiri sebuah mobil yang baru saja menabrak trotoar karena berkendara dengan kecepatan diatas rata-rata. Mereka segera membuka pintu mobil dan melihat pengemudi telah bersimbah darah. Mereka segera mengeluarkan tubuh si pengemudi yang tak lain adalah Dandy Avicenna.


"Cepat hubungi ambulans!" teriak seorang warga yang menolong Dandy.


Dengan sisa-sisa tenaganya, Dandy menarik baju orang yang berteriak tadi.


"To..long.. Bawa aku ke..ru..mah sa..kit A..vi..cenna.."


"Hah?! Kau bilang apa, Tuan?"


"Ru..mah sa..kit A..vi..cenna..."


"Rumah sakit Avicenna? Oh ya, baiklah. Akan kami usahakan membawamu kesana."


Tak lama mobil ambulans pun datang. Tubuh Dandy dibawa ke rumah sakit Avicenna sesuai dengan keinginannya.


Sesampainya di rumah sakit, tubuh Dandy di bawa ke ruang IGD. Dandy kembali menarik baju perawat yang akan melakukan tindakan padanya.


"Ma..liq. Dok..ter Ma..liq..." lirih Dandy.


"Hah?!" Si perawat tidak begitu jelas mendengar suara Dandy. Ia mendekatkan telinganya ke bibir Dandy.


Perawat itu mengerti maksud Dandy dan langsung memanggil Maliq. Maliq amat terkejut karena ternyata tubuh Dandy sudah terkulai lemah.


"Paman Dandy!" seru Maliq yang langsung ikut menangani Dandy.


"Maliq... Ingat janjiku pada Roy. Berikan jantung ini untuk Roy."


"Tidak, Paman. Jangan bicara begini." Maliq ikut menenangkan Dandy.


"Tidak, Nak. Sudah saatnya Roy meraih kebahagiaan bersama keluarga kecilnya. Tolonglah...!"


Maliq segera menyiapkan operasi besar yang akan dilakukan Roy. Tak lupa ia juga memberitahu keluarga Roy soal ini.


"Kami sudah mendapatkan donor jantung untuk Roy," ucap Maliq.


"Siapa orangnya, Dokter?" Tanya Lian yang ingin berterimakasih pada orang itu.


"Dia ... korban kecelakaan tunggal. Dan nyawanya tak bisa diselamatkan." jelas Maliq.


Lian menutup mulutnya tak percaya. Ini bagaikan keajaiban yang datang pada keluarganya.


"Terima kasih, Dokter. Terima kasih..." Lian, Helena dan Donald merasa sangat bersyukur bisa menyelamatkan Roy tepat waktu.


......***......


...[ Kematian Dandy ]...


Satu hari setelah operasi Roy dilakukan,


"Apa kau bisa menghubunginya?" tanya Donald yang melihat Helena terus menghubungi ponsel suaminya.


"Tidak diangkat, Ayah." jawab Helena lesu.


Donald menghela nafas kasar. "Ya sudah. Biarkan saja dia. Kurasa dia sedang merutuki nasibnya. Atau juga dia sedang bersenang-senang dengan gadis muda." kesal Donald.


"Ayah! Kumohon jangan bicara begitu. Aku yakin Dandy hanya sedang sibuk saja."


"Apanya yang sibuk?! Aku sudah bertanya pada Mike dan dia bilang Dandy tidak pergi ke kantor sejak kemarin." seru Donald yang sudah tak bisa menahan amarahnya lagi.


Sementara Lian dan Boy, menunggu di kamar rawat Roy. Operasi besar yang dilakukan Roy dinyatakan berhasil. Kini hanya menunggu Roy terbangun dengan jantung baru yang akan menemani hidupnya.


"Ma, sampai kapan Papa akan terus tertidur?" tanya Boy.


"Ajaklah Papamu bicara. Mama yakin jika Papa pasti bisa mendengarmu. Berikan dia semangat." ujar Lian.


"Iya, Ma."


Lian mengusap puncak kepala Boy kemudian ia pamit keluar dari kamar. Ia ingin menemui Helena dan Donald yang ada di luar ruangan.


Lian tahu jika ibu mertua dan kakek suaminya pasti sedang beradu mulut. Ia tak ingin situasi rumah sakit kembali memanas seperti dulu.


Lian mengusap punggung Helena.


"Mom, operasinya berjalan dengan lancar. Jadi, setelah ini Mommy jangan bersedih lagi. Aku yakin Mas Roy pasti sembuh total dan kembali menjadi anak kebanggaan Mommy lagi."


"Iya, Nak. Terima kasih."


*


*


*


Karena merasa tak bisa menyembunyikan hal ini lebih lama lagi, Maliq akhirnya memberitahu pihak keluarga jika pendonor jantung Roy adalah ayahnya sendiri. Maliq tahu jika Helena dan Donald pasti akan sangat syok mendengar berita ini. Tapi ini sudah tak bisa ditutupi lagi. Mereka harus segera mengadakan pemakanan untuk Dandy.


Helena menangis histeris mendengar kabar itu dari Maliq. Donald pun sama syoknya dengan Helena.


Maliq memberikan ponsel Dandy yang berisi rekaman video yang Dandy buat sebelum kecelakaan itu terjadi.


"Ayah... Helena... Roy... Jika kalian melihat video ini, saat itu mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia ini." Dandy terisak.


"Maafkan aku. Selama ini hanya bisa menyakiti kalian. Terutama untuk ... kedua putraku, Julian dan Roy. Aku menemui Maliq dan bicara padanya. Aku sudah berjanji padanya, jika terjadi sesuatu denganku, maka ... jantungku akan didonorkan untuk Roy. Dia berhak bahagia, bersama istri dan putranya."


"Ayah... Maafkan aku, karena selama hidup aku tidak bisa menjadi anak yang baik untukmu. Aku hanya menanam luka untukmu. Tolong maafkan aku..."


Tangis penyesalan amat terlihat dalam video itu.


"Dan untuk Helena, istriku. Maafkan aku jika selama kita bersama aku hanya membuatmu kecewa dengan semua tingkah lakuku. Sekarang, tolong berjanjilah untuk menjadi ibu yang baik untuk kedua putra kita. Meski Julian bukan putra kandungmu, tapi aku mohon jaga dia seperti kau menjaga Roy..."


"Kurasa sudah cukup aku berkata-kata. Aku mencintai kalian. Dan akan selalu mencintai kalian..."


"Suamiku!!!!" teriak Helena dengan memukuli dadanya. "Tidaaaaaakkkk!!!"


Lian memeluk Donald yang juga sangat terguncang. Lian berusaha menguatkan Donald agar bisa menerima semua kejadian ini.


Dan disaat berita kematian Dandy mulai tersebar, di sebuah brankar rumah sakit, Roy mulai membuka matanya.


......................#bersambung.......................