Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 80. Hanya Kita yang Tahu


Pekerjaan Lian hari ini tidak terlalu berat. Setelah mendapat respon yang bagus dari klien, tentunya tugasnya bertambah ringan dengan hanya tinggal mengawasi pembuatan massal krim yang sudah lolos uji coba.


Pukul lima sore Lian sudah bisa meninggalkan kantor dan pekerjaannya. Ia memanggil taksi online dan melaju ke sebuah apartemen dan bukan pulang ke rumah.


Setibanya di depan kamar apartemennya, Lian menekan kode kunci dan masuk kedalam. Suasana disana terasa sunyi.


"Dia belum datang," gumam Lian.


Lian memandangi ruang apartemen yang jarang sekali ia singgahi ini. Hanya sekitar sekali dalam satu bulan ia berkunjung kemari. Kesibukannya membuat Lian harus mengesampingkan banyak hal.


Lian membuka pintu balkon dan menatap senja dengan senyuman indahnya. Ia meraih ponsel dan menghubungi seseorang melalui panggilan video.


Tersambung. Nampaklah putranya yang kini sudah berusia 11 tahun.


"Mama!"


"Sayang... Bagaimana kabarmu?"


"Aku baik. Mama sendiri? Kenapa lama tidak menghubungiku?"


"Maaf ya, Mama cukup sibuk akhir-akhir ini. Kau jadi anak penurut 'kan? Jangan menyusahkan kakek buyutmu. Mengerti?"


"Iya, Ma. Tenang saja."


"Bagaimana sekolahmu? Apa kau senang tinggal disana?"


"Hmm, lumayan lah. Lagipula aku berteman dengan Natasha. Dia juga punya kemampuan yang sama denganku. Mama jaga kesehatan disana. Aku sangat merindukan Mama dan Papa."


"Bersabarlah, Nak. Mama yakin kita akan segera bertemu."


"Kuharap Mama dan Papa cepat menyelesaikan masalah ini. Jadi, kita bisa berkumpul lagi seperti dulu."


"Iya, Nak. Mama sangat merindukanmu..."


Panggilan berakhir.


Lian menatap datar kedepan. Langit senja seakan menjadi saksi kerinduan seorang ibu pada putranya.


"Jika aku tidak mengambil jalan ini ... apakah semua akan tetap baik-baik saja?" Lian memejamkan matanya. Ia memutar rekaman memori yang sudah terjadi selama lima tahun ini.


Satu bulan setelah kematian putra keduaku, tiba-tiba Patrick menghubungiku dan meminta untuk bertemu. Sebenarnya aku enggan menemuinya. Tapi bagaimanapun juga dia adalah kakak iparku. Aku harus tetap bersikap baik padanya.


Aku menemuinya di sebuah kafe.


"Ada yang ingin kutunjukkan padamu," ucap Patrick.


"Apa itu?" tanyaku.


"Ikut denganku! Aku yakin kau senang bertemu dengan mereka."


Mereka? Aku tidak mengerti apa maksudnya.


Dia membawaku ke rumahnya. Aku melihat dua sosok yang tidak pernah aku lihat selama hampir delapan tahun ini.


"Ayah! Ibu!" Aku menghambur memeluk mereka.


Mereka baik-baik saja. Aku bersyukur. Ibu bercerita jika selama ini Patrick lah yang sudah membantu mereka.


Ibu sangat percaya dengan Patrick dan juga kebaikannya. Namun entah kenapa ... aku merasa jika bukan ini fakta yang sebenarnya.


Ayah dan Ibu menuduh keluarga Mas Roy yang sudah membuat mereka harus pergi dari desa. Aku masih tidak percaya. Karena aku percaya pada suamiku. Aku yakin baik itu Mommy ataupun kakek Donald, tidak akan melakukan hal serendah ini.


Aku pasrah. Ibu mendesakku agar berpisah dengan Mas Roy. Aku mencintainya. Sangat mencintainya. Dan aku tidak mungkin berpisah dengannya. Tapi aku juga tak punya bukti apapun untuk membuktikan jika keluarga Mas Roy tidak bersalah. Aku yakin pasti ada dalang dari semua ini. Aku mengira Patrick ikut terlibat disini. Tapi tetap aku tak punya bukti.


Hingga akhirnya, aku memutuskan sebuah ide yang tidak masuk akal.


"Kita harus berpisah, Mas. Aku tidak bisa melihat kemarahan ibu setiap hari." ucapku pada Mas Roy.


Awalnya Mas Roy menentang. Dia yakin pasti ada cara lain. Tapi apa? Bahkan kami kalah dalam hal apapun dengan Patrick.


Ketika Avicenna Grup makin terpuruk. Aku memutuskan untuk mengirim Boy bersama Kakek Donald ke luar negeri. Aku menitipkan Boy pada Conrad Webster. Dia yang akan membimbing Boy agar bisa menggunakan kegeniusannya dalam bidang yang Boy sukai.


Beberapa bulan setelahnya, aku memutuskan memainkan sandiwara ini bersama Mas Roy. Hanya kami saja yang tahu soal ini.


Kami berpura-pura bercerai. Aku melanjutkan studiku di bidang farmasi agar bisa mendekati Patrick dengan mudah. Aku harus mencari bukti kejahatan yang Patrick lakukan.


Avicenna Grup telah menjadi milik Patrick sepenuhnya. Aku meminta Mas Roy untuk melepasnya agar suatu saat nanti bisa kita ambil kembali. Mas Roy hanya fokus dengan rumah sakit.


Mas Roy membeli sebuah apartemen untuk kami singgahi saat senggang. Tentu saja kami juga melakukan percintaan kami yang hangat disini.


Bunyi suara pintu terbuka membuat Lian tersenyum sambil tetap memejamkan matanya. Ia merasakan udara hangat di hari yang mulai gelap.


Lian merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Ia tersenyum.


"Kau sudah datang, Mas?"


"Hmm." Lian hanya mendengar sebuah dehaman.


Lian memutar tubuhnya menghadap pria yang amat dicintainya itu.


"Aku merindukanmu, Mas..."


"Aku lebih merindukanmu, jantung hatiku..."


Lian melingkarkan tangannya ke leher Roy. Roy tetaplah suaminya. Surat cerai itu palsu.


Mereka mulai mengikis jarak. Lian tersenyum sebelum bibir hangat Roy menyentuh bibirnya. Mereka saling memagut selama beberapa lama.


"Aku akan membuat makan malam untuk kita," ucap Lian ketika pagutan mereka berakhir.


"Baiklah. Apa kau berbelanja?"


"Iya. Tadi sebelum kemari aku sempatkan ke supermarket."


"Aku sangat merindukan masakan buatanmu."


Lian tersenyum kemudian mengecup singkat bibir Roy sebelum ia menuju ke dapur.


Dua jam kemudian, Lian menghidangkan makan malam untuknya dan Roy.


Roy makan dengan lahap setiap makanan yang dibuat oleh Lian.


"Apa dokter baru itu sudah mulai bekerja?" tanya Lian berbasa-basi.


"Tentu saja belum. Dia baru saja kembali. Ada apa?"


"Hmm, entahlah. Apa Mas tahu jika dia adalah adik dari Noel?"


"Noel? Anak buah kesayangan Julian?"


"Iya. Entah kenapa tadi Kak Julian menunjukkan sesuatu yang aneh."


"Apa yang aneh?" tanya Roy sambil terus mengunyah makanannya.


"Entahlah. Itu hanya perasaanku saja."


"Dia direkomendasikan oleh ISS. Tidak mungkin organisasi sekelas ISS melakukan kesalahan."


Lian mengangguk.


"Mas, coba kita minta Kenzo untuk menyelidiki soal Esther."


"Sayang, kau terlalu berlebihan."


"Mas! Sudah lima tahun dan aku ingin semua ini segera berakhir. Aku ingin orang tuaku segera sadar jika Julian tak sebaik yang mereka kira." Lian mulai marah dengan situasi ini.


Roy menghentikan makannya dan menghampiri Lian. Ia memeluk Lian.


"Dengar, kita sudah melaluinya selama lima tahun. Aku yakin kita bisa menyelesaikan semua ini. Kau sendiri yang memilih jalan ini. Kita tak bisa menyerah sekarang."


Lian menghela nafas. "Rasanya berat, Mas. Kita berpisah dengan Boy dan Kakek Donald."


"Kau tahu, aku mulai menemukan bukti tentang kecurangan Kak Julian yang memanipulasi saham Avicenna Grup."


"Benarkah?" Mata Lian berbinar.


"Iya, sayang. Aku sedang mengumpulkan bukti-bukti lain."


"Kalau begitu aku akan menyelidiki tentang Esther. Aku yakin ada yang aneh dengannya."


"Apa kau cemburu karena aku bekerja dengannya?"


Lian memelototkan matanya. "Tentu saja aku cemburu! Memangnya kenapa? Bukankah aku adalah istrimu? Tentu saja aku berhak untuk cemburu!"


Roy tertawa kecil. Ia tak mau menyia-nyiakan waktu kebersamaan mereka. Ia segera menggendong Lian ala bridal menuju kamar mereka. Malam yang hangat akan mereka lewati bersama. Kerinduan yang sudah memuncak, kini terobati sudah.


"Hokey genks... Semua penasaran sudah terjawab kan? Heheheh"