
Zara mengepalkan tangannya dengan seringai amarah yang membuncah saat melihat dua orang yang ada di depannya sedang berpelukan seolah mengungkap rasa cinta satu sama lain. Sejak kedatangan Roy pagi tadi di rumahnya, kini Zara mulai mengawasi pergerakan Roy dari orang-orang yang disewanya.
Ketika mendapat kabar jika Roy menuju ke sebuah butik milik desainer terkenal Jimmy Choo, Zara langsung tancap gas menuju kesana. Dan betapa kagetnya ia saat melihat Roy memeluk wanita yang tak dikenalnya itu.
"Kurang ajar! Siapa wanita itu? Apa dia adalah ibu kandung Boy? Apa yang dia lakukan di butik Jimmy? Tidak akan kubiarkan! Aku akan menyelidiki siapa wanita ja'lang itu dan apa hubungannya dengan Boy."
Zara segera meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo, aku punya tugas baru untukmu. Selidiki seorang wanita yang bekerja di butik milik Jimmy Choo. Akan ku kirimkan fotonya padamu. Kerjakan dengan sangat hati-hati. Kau tahu bukan, kau sedang berhadapan dengan siapa?"
Zara mengakhiri panggilannya.
"Kita lihat saja, Roy! Akan kupastikan mau meninggalkan ja'lang itu dan kembali padaku!" Monolog Zara.
Setelah puas mengumpati Roy dan wanitanya, Zara melajukan kembali mobilnya meninggalkan Roy yang masih setia memeluk wanita yang ia cintai.
......***......
Roy mengajak Belinda untuk makan malam di resto favoritnya di Royale Hotel. Belinda merasa terharu karena ternyata Roy memesan private room untuk mereka berdua.
"Kenapa memilih tempat ini?" tanya Belinda.
"Karena di sini adalah tempat pertemuan pertama kita, bukan?"
"Eh? Kau masih ingat?"
"Iya, tentu saja. Aku bersikap dingin padamu. Dan aku mengatakan hal yang buruk padamu."
"Aku ... sudah melupakannya." ucap Belinda dengan tertunduk.
"Aku tahu kau langsung terpesona padaku saat kita bertabrakan di lobi hotel."
"Eh?" wajah Belinda bersemu merah. Apakah sejelas itu saat ia mengagumi sosok Roy yang baru pertama di temuinya?
"Kau tidak perlu malu. Aku juga ... merasa ada sesuatu yang aneh saat itu. Tapi aku menepisnya."
Belinda menatap Roy.
"Aku merasa jika kita pernah saling mengenal. Entahlah..."
"Semua orang mengenalmu, Dokter Roy. Kau adalah pewaris Avicenna Group dan juga pemilik universitas tempatku belajar. Siapa yang tidak mengenalmu? Tapi aku sendiri juga tidak menyangka jika..."
Belinda menjeda kalimatnya.
"Jika apa?" tanya Roy penasaran.
"Jika aku akan memiliki anak darimu." lanjut Belinda sambil meneguk air putih yang ada didepannya.
Roy tersenyum.
"Bukankah itu sebuah takdir? Aku bersama Zara selama puluhan tahun tapi rasa itu hilang dalam sekejap."
"Jadi, kau juga akan begitu padaku?"
"Tidak! Meski aku sendiri tidak yakin sampai kapan aku bisa hidup, tapi ... di sisa usiaku, aku akan selalu mencintaimu, Belinda."
Belinda terharu dengan kata-kata Roy. Namun ada yang mengganjal dalam hatinya.
"Apa maksudnya berkata begitu? Apa dia akan meninggal? Kenapa bicara hal menyeramkan begitu?"
Belinda kembali meneguk air putih dalam gelas dengan mengulas senyum manis di depan Roy.
......***......
Zara menggertakkan giginya sambil memandangi layar ponselnya yg masih menghitam. Ia masih menunggu informasi dari orang suruhannya yang ia minta untuk menyelidiki wanita yang bersama Roy petang tadi.
Zara menggoyangkan kakinya merasa tak sabar dengan informasi yang akan segera ia dapat.
Getaran di ponselnya berhasil membuat Zara langsung meraih ponsel dan membuka isi pesan yang dikirim oleh anak buahnya.
Ada sebuah berkas dan sebuah foto disana. Zara membaca dengan seksama isi berkas yang sudah ia unduh itu.
"Namanya adalah Bella Belinda. Dia adalah model baru di butik milik Jimmy Choo." Zara menyeringai.
"Belinda? Kenapa dia bernama Belinda?"
Zara mengurut rentetan peristiwa yang terjadi semenjak ia menyembunyikan kakeknya dari dunia luar. Ia sudah lebih dulu mengobrak abrik berkas milik kakeknya tentang proyek rahasia 7 tahun lalu.
Kemudian dia mengurut peristiwa setelah kedatangan Boy menjadi pasiennya. Matanya memicing melihat berkas milik Boy dilayar notebooknya.
"Boy adalah anak dari wali Kenzo dan Riana. Lalu Belinda, adalah ibu kandung Boy? Apa yang sebenarnya terjadi disini? Nama wanita yang mengandung benih Roy adalah Putri Berlian dan bukan Belinda."
Zara mengusap dagunya sambil terus berpikir keras.
"Apa kalian pikir kalian bisa menyembunyikan semua ini selamanya dariku?"
Terlintas sesuatu di benak Zara. Ia segera meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo, tolong kirimkan berkas milik mahasiswi bernama Riana Dea. Dia kini menjadi dokter umum di rumah sakit Avicenna."
"........"
"Jangan banyak bertanya! Cepat kirimkan secepatnya ke ponselku!"
Zara menutup panggilan secara sepihak. Seringainya makin menyeramkan kala mulai memahami kemana arah rahasia ini berlabuh.
......***......
Roy mengantar Belinda hingga tiba di depan kamar apartemennya. Senyum mengembang selalu mereka perlihatkan setelah saling mengungkap rasa.
"Aku tahu kau masih belum siap bertemu dengan dunia luar, tapi ... percayalah, aku akan melindungimu dan juga Boy. Jangan takut!" ucap Roy.
"Iya, aku tahu. Terima kasih atas makan malamnya. Sebaiknya kau kembali ke kamarmu. Kau terlihat lelah."
"Hu'um, baiklah. Selamat malam, Belinda."
"Selamat malam, Dokter Roy..."
Belinda masuk kedalam apartemennya dengan perasaan lega bercampur bahagia. Ia segera menuju kamar Boy dan melihat putranya sudah terlelap.
"Maaf ya. Mama banyak meninggalkanmu akhir-akhir ini." Belinda mengusap rambut Boy kemudian mendaratkan kecupan di kening Boy.
......***......
Zara kembali uring-uringan saat menunggu kabar dari orang suruhannya. Ia mencari data Riana saat masih menjadi mahasiswi di Universitas Avicenna. Ia yakin jika Riana mengenal ibu kandung Boy yang bernama Putri Berlian.
Tak lama ponsel Zara kembali bergetar. Ia segera membuka pesan dengan hati yang bergemuruh.
"Aku sangat yakin jika Belinda adalah Putri Berlian. Roy tidak mungkin mendekati wanita lain jika dia bukan ibu kandung Boy."
Zara membaca berkas milik Riana. Namun yang ganjil adalah tidak di sebutkan siapa teman kamar Riana saat masih menjadi mahasiswi. Informasi tentang Putri Berlian seakan hilang ditelan bumi begitu juga dengan orangnya.
"Hmm?" Zara memijat pelipisnya pelan.
"Belinda... Putri Berlian... Apa kalian adalah orang yang sama? Lalu kenapa...?"
Zara memelototkan matanya ketika mengingat tentang sesuatu. Senyum seringainya kembali muncul.
"Wanita itu! Dia tinggal satu apartemen dengan Roy dan juga Julian. Jangan-jangan... Selama ini Julianlah yang sudah melindungi wanita itu!"
Zara bertepuk tangan. "Luar biasa sekali kalian! Kalian melindungi ja'lang itu hingga segitu rapatnya. Tapi asal kalian tahu, tidak ada rahasia di dunia ini. Apapun pasti akan terbongkar, cepat atau lambat." monolog Zara.
"Kalian semua! Tunggu kejutan dariku!" Zara tertawa keras dengan begitu bahagianya. Ia seakan mendapat jackpot yang begitu indah.
......***......
#bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😘😘
👍LIKE
💋COMMENTS
🌹GIFTS
💯VOTE
...THANK YOU...