Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 131. Kembali


Boy dan kawan-kawannya berpamitan dengan para penduduk desa dan juga Kosih. Setelah pertemuan pagi tadi antara Boy dan Aleya, kini malah Aleya tidak terlihat untuk melepas kepergian keenam pria yang sudah dua bulan tinggal di desanya.


Ada sedikit kekhawatiran di hati Boy karena harus pergi tanpa melihat wajah Aleya.


"Kau kemana, Aleya? Kenapa kau tidak datang untuk mengucap salam perpisahan denganku?" gumam Boy dalam hatinya.


"Maaf karena aku sudah melukaimu. Aku tidak bisa memberikan apapun padamu. Dan aku tidak bisa menjanjikan apapun. Tapi, aku akan selalu mengenangmu di lubuk hatiku yang terdalam. Terima kasih karena sudah memberikan cinta untukku..."


......***......


Hati yang kokoh bagai dinding yang tinggi, bisa luruh dengan hanya sebuah kehangatan dan perhatian.


Hati yang dingin bisa menghangat karena kita setiap hari mengikisnya dengan rasa yang membuatnya lebur.


Semua cinta yang telah terpupuk, akankah sirna berganti hati yang menghangatkan di kala sunyi melanda?


Senyum merekah terlihat di wajah orang-orang yang telah menanti mereka kembali. Tiba di landasan Dirgantara Corp, Fajri dan kawan-kawan turun dari pesawat.


Teriakan suka cita menggema di ruang terbuka itu.


"Abang!" seru Ivanna menyambut kedatangan kakak tercintanya itu.


Nathan yang melihat pemandangan yang ia pikir absurd itu hanya bisa memutar bola matanya malas.


"Dasar gadis manja!" gumam Nathan yang mendapat tatapan tajam dari Ivanna.


Fajri menghampiri adiknya dan memeluknya erat.


Sementara yang lain menemui keluarga masing-masing yang selama dua bulan ini mereka tinggalkan.


"Kakak!" seru Nathan yang melihat Boy mendekat.


"Hai, buddy! Bagaimana kabarmu?" Boy memberikan sebuah pelukan hangat untuk adiknya itu. Meski mereka sering berdebat, tapi ikatan darah antara kakak dan adik tetap tak bisa terkalahkan.


"Aku baik. Kakak bagaimana?"


"Aku juga baik. Bagaimana kabar semua orang?"


"Semua orang sudah menunggu kakak di rumah. Bahkan Mama menyiapkan makan malam spesial untuk kakak. Ayo, Kak!"


Boy dan Nathan berjalan menuju mobil yang akan membawa mereka kembali. Namun secara tiba-tiba sebuah mobil datang dan seorang wanita turun lalu langsung memeluk Boy.


Siapa lagi kalau bukan Natasha. "Boy!" seru Natasha dengan memeluk erat kekasihnya itu.


"Sayang... Kau datang?" tanya Boy yang mendapat anggukan dari Natasha.


"Maaf aku terlambat. Aku langsung datang kemari setelah pengambilan gambar berakhir. Aku sangat merindukanmu, Boy!"


"Aku juga sangat merindukanmu, sayang..."


"Ehem!" Nathan yang merasa menjadi nyamuk mengeluarkan suara dehamannya.


"Ah, maaf. Aku terlalu gembira karena bisa bertemu dengan Boy," ucap Natasha canggung.


"Ayo, Kak! Semua orang sudah menunggu." Nathan kembali meminta Boy bergegas.


"Umm, sayang. Bisakah kau ikut denganku dulu? Mom dan Daddy juga menunggumu," pinta Natasha.


Boy menatap Nathan dan mendapat sorotan tajam dari adiknya itu.


"Umm, Nat, aku akan ke rumahmu setelah aku menyapa orang-orang di rumah. Atau kau ikut denganku saja. Ya?"


"Tidak, Boy. Kau ke rumahku dulu! Setelah dari rumahku kau bisa sepuasnya menemui keluargamu. Bukankah kau tinggal disana?" Natasha merajuk yang membuat hati Boy bimbang.


"Umm, bagaimana ya?" Boy menggaruk tengkuknya.


"Ayolah! Nathan, tidak apa kan aku bawa kakakmu dulu? Lagi pula Boy hanya menyapa Mom dan Daddy sebentar saja!" Kini Natasha bicara pada Nathan.


"Eh? Itu ... terserah kakak saja!" Nathan menyerahkan semuanya pada Boy.


"Baiklah. Aku akan ikut denganmu dulu," putus Boy.


Natasha tersenyum penuh kemenangan.


"Nathan, tolong sampaikan permintaan maaf kakak pada orang rumah ya!" sesal Boy.


"Iya, Kak. Baiklah!"


"Ayo!" Natasha menarik tangan Boy dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.


Nathan mematung melihat kepergian kakaknya bersama kekasihnya.


"Ya ampun! Apa yang harus kukatakan pada Mama dan Papa? Ah, sial! Kenapa aku harus mengalami situasi ini?" Nathan memukul udara lalu masuk ke dalam mobil.


......***......


Tiba di rumah Natasha, Boy disambut hangat oleh Kenzo dan Riana. Riana menyiapkan makan malam spesial untuk Boy.


"Sambil menunggu semuanya siap, kau istriahat dulu saja di kamar Tasha," ucap Riana dengan mengusap bahu Boy.


Boy memang sudah dianggap seperti putra untuk Riana karena saat kecil Boy tinggal dengan mereka saat di luar negeri.


"Baiklah, Bibi," jawab Boy.


"Ayo!" Natasha dengan gembira membawa Boy ke kamarnya.


Boy duduk di sofa kamar Natasha. Ia meregangkan otot-ototnya setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan.


Boy hanya membalas dengan sebuah anggukan. Ia melihat Natasha masuk ke dalam kamar mandi.


Tak lama, Natasha keluar dari kamar mandi dan melihat Boy malah tertidur di sofa. Natasha tersenyum melihat pose kekasihnya yang ia anggap lucu saat tertidur.


Natasha menghampiri Boy dan duduk disampingnya.


"Aku sangat merindukanmu..." Natasha membelai rambut Boy. Matanya tertuju pada benda kenyal yang selama dua bulan ini tak menyentuhnya.


Natasha mengusap bibir Boy dengan jarinya. "Tidak apa kan aku mencuri start darimu?"


Natasha mendaratkan bibirnya diatas bibir Boy, menyesapnya pelan dan melumaatnya dalam.


Boy melenguh mendapat sebuah serangan dari alam bawah sadarnya.


"Aleya..." gumam Boy.


Natasha segera terhenti. "Apa yang dia gumamkan tadi?"


"Boy! Bangunlah!" Natasha menggoyang tubuh Boy.


"Eh?" Boy segera membuka mata dan melihat Natasha yang mengernyit heran.


"Natasha? Kau sudah selesai mandi? Kenapa belum mengganti bajumu?"


Boy mengucek matanya.


"Siapa kau sebut dalam tidurmu tadi?"


"Eh? Siapa? Siapa maksudmu?"


"Kau menyebut nama orang lain saat tidur tadi. Siapa dia?"


Boy menelan ludah. "Apa maksud Natasha? Apa jangan-jangan aku menyebut nama Aleya dalam tidurku? Astaga! Aku harus bilang apa pada Natasha?"


.


.


.


Sementara itu, Nathan kembali ke rumah keluarga Avicenna dengan tangan hampa. Berlian yang mendengar suara deru mobil segera berlari keluar rumah.


"Boy!" seru Lian dengan bersemangat.


Namun yang ia lihat hanya Nathan yang keluar dari dalam mobil.


"Nathan, dimana kakakmu?" tanya Lian.


Nathan menggeleng pelan. "Kita bicara di dalam saja, Ma." Nathan memeluk ibunya dan membawanya masuk kedalam rumah.


"Ada apa ini? Dimana Boy?" tanya Lusi yang juga bersiap menyambut cucu tertuanya itu.


"Maafkan aku, semuanya. Kak Boy ikut dengan Kak Tasha ke rumahnya. Dia akan menyapa Paman Kenzo dan Bibi Riana dulu, lalu setelahnya baru kembali ke rumah," jelas Nathan.


Seketika tubuh Lian melayang. Hatinya sungguh sakit ketika putranya lebih memilih orang lain untuk berlabuh. Roy segera memeluk Lian.


"Tidak apa. Boy kan dulu tinggal bersama Riana dan Kenzo. Tentu saja mereka sangat dekat. Sudah, jangan bersedih! Yang penting putra kita pulang dalam keadaan selamat." Roy berusaha menghibur Lian.


Namun yang dihibur malah melenggang pergi dan masuk ke dalam kamar.


Lian duduk di tepi tempat tidur. Sungguh ia merutuki keputusannya dulu untuk menitipkan Boy pada Kenzo dan Riana.


Lian menghela napas panjang. Ia menatap layar ponselnya. Melihat foto-foto Boy saat masih kecil.


"Aku sudah kehilangan banyak momen denganmu, Nak. Maafkan Mama."


Ada sebuah notifikasi di media sosial Lian.


"Riana?"


Lian membuka unggahan Riana. Ada sebuah foto disana.


Caption yang ditulis Riana membuat hati Lian bergemuruh.


"Apa ini? Berani sekali dia!" Lian mengepalkan tangan.


Sebuah unggahan foto Riana bersama Boy dengan caption singkat itu membuat Lian membanting ponselnya.


"Akhirnya, putraku kembali..." tulis Riana.


...B E R S A M B U N G...


"Ayoyoooooyy! Boy keceplosan! Dilema kan si babang Boy ๐Ÿ˜ต๐Ÿ˜ต


makanya jangan maen hati..."


...HAPPY SATURDAY...


...Happy Weekend...


SABTU, aku padamuuuuuuuuu ๐Ÿ’Ÿ๐Ÿ’Ÿ


Genks, mamak punya anak baru nih, kepoin yuks, judulnya Judaiyaan, Till death do us apart