
Roy masih berkutat dengan pekerjaannya meski waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Ben menginterupsi kegiatan Roy yang sepertinya mencari pelarian sejak perpisahannya dengan Lian. Bahkan Ben tidak tahu jika perpisahan Roy dan Lian hanyalah sandiwara. Mereka berdua menyimpan rahasia ini hanya untuk mereka saja dan orang-orang terdekat mereka.
"Tuan!"
"Hmm."
"Apa Tuan tidak pulang? Ini sudah pukul tujuh malam. Biasanya Tuan pulang pukul enam."
"Sebentar lagi, Ben. Aku sedang mengecek berkas-berkas keuangan rumah sakit."
"Tuan, besok jangan lupa datang ke acara tujuh bulanan istriku. Amira akan sangat senang jika teman-teman lamanya datang ke acara ini."
"Iya, iya. Aku pasti akan datang. Sekarang kau boleh pulang. Aku akan disini sebentar lagi."
"Baiklah, Tuan. Saya permisi." Ben memberi hormat kemudian meninggalkan Roy di ruangannya.
*
*
Lian masuk ke apartemen. Ia sengaja pulang lebih awal dari kantor karena ingin melakukan panggilan video dengan Kenzo.
Lian ingin semua masalah ini jelas dan cepat terselesaikan.
"Ken, tolong jelaskan padaku yang sebenarnya terjadi!"
"Dengar, wanita yang kini menjadi Esther, bukanlah Esther yang sebenarnya. Dia adalah orang lain." jelas Kenzo.
"Kau yakin dengan semua itu?"
"Tentu saja aku yakin. Aku sudah menyelidikinya."
"Tapi dia direkomendasikan oleh ISS untuk menggantikan posisi Mas Roy di kepolisian. Apa mungkin organisasi sekelas ISS bisa salah merekrut orang?"
"Itulah yang sekarang sedang aku selidiki. Aku dan Conrad juga bingung. Harusnya mereka bisa menyeleksi dengan benar."
"Apa kau yakin jika Esther yang asli sudah meninggal?"
"Iya. Dia meninggal sekitar 10 tahun yang lalu. Dia tidak tinggal di Indonesia seperti kakaknya. Makanya tidak banyak yang tahu soal Esther."
Lian menghela nafas.
"Baiklah. Aku akan menunggu kabar darimu. Dan disini aku juga akan mencari tahu siapa wanita itu."
Saat sedang berbincang dengan Kenzo, Lian mendengar bunyi pintu terbuka. Roy datang ke apartemen. Lian segera mengakhiri panggilan dan menuju ke pintu depan.
Lian melihat sosok Roy memasuki ruang tamu. Ia tersenyum menyambut kedatangan Roy.
"Kau ada disini?" tanya Roy.
"Iya, Mas." Lian menghambur memeluk Roy.
"Kenapa Mas datang kesini?"
"Aku hanya tidak suka sendirian di rumah."
"Tapi bukankah disini juga sama?"
"Iya. Tapi aku bisa mengenang kebersamaan kita saat disini."
Lian tersenyum. Suaminya ini ternyata sangat mencintainya.
"Mas terlihat lelah. Apa Mas ingin mandi dulu? Aku akan siapkan makan malam."
Roy mengangguk kemudian masuk ke dalam kamar. Lian mengelus dadanya.
"Nyaris saja!" gumamnya.
Lian menuju dapur dan memasak sesuatu yang sederhana untuk mereka santap bersama.
Roy keluar kamar dan menonton televisi.
"Mas, makan malam dulu!"
"Bawakan saja kesini. Aku ingin makan disini."
"Baiklah."
Mereka berdua makan sambil menonton acara di televisi. Mereka membicarakan banyak hal untuk menghabiskan waktu.
"Astaga! Sudah pukul 10 malam. Aku harus pulang, Mas." Seru Lian.
"Tidak bisakah kau menginap disini?" pinta Roy dengan wajah dibuat semelas mungkin.
"Ayah dan Ibu akan curiga jika aku tidak pulang ke rumah. Maaf ya!" Lian amat menyesal.
Roy menghembuskan nafas kasar.
"Iya, baiklah. Sampai kapan kita akan begini?" Roy mengusap wajahnya.
"Bersabarlah, Mas. Kita pasti bisa melalui ini." batin Lian sambil mengelus lengan Roy.
"Oh ya, besok malam ada acara tujuh bulanan Amira. Apa kau akan datang?" tanya Roy.
"Umm, aku tidak tahu. Bagaimana caranya aku bicara pada ayah dan ibu?"
"Bilang saja kau datang ke acara tujuh bulanan temanmu. Bukankah Amira adalah temanmu?"
Lian berpikir sejenak.
"Apa Mas akan datang?"
"Tentu saja. Ben adalah karyawanku."
"Kita lihat besok saja. Aku tidak janji datang."
Lian melirik kearah jam tangannya lagi.
"Apa perlu aku mengantarmu?" tawar Roy.
Roy tertawa. "Hati-hati ya! Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Mas." Lian melambaikan tangan kemudian berlalu.
*
*
*
Esther sedang menonton televisi. Sebuah drama. Namun yang ada malah televisi yang menonton Esther. Karena semenjak tadi ia hanya diam dan pandangannya kosong.
Noel yang merasa ada hal aneh yang terjadi segera menyadarkan Esther dari lamunannya.
"Esther!" panggil Noel.
"Eh? Ada apa?"
"Kau menonton televisi tapi malah televisi yang menontonmu. Ada apa? Apa ada hal yang sedang kau pikirkan?"
"Eh? Tidak ada. Aku hanya ... mengantuk. Aku akan pergi ke kamar. Selamat malam, kakak." Esther segera berlalu meninggalkan Noel.
"Ada apa dengannya?" gumam Noel.
Tiba di kamarnya, Esther duduk di tepi ranjang.
"Apa yang harus kulakukan? Apa aku beritahu Noel saja jika Julian sudah tahu tentang identitas asliku?"
Esther berdiri kemudian berjalan mondar mandir.
"Tidak! Noel tidak boleh tahu. Semakin sedikit orang yang tahu semakin baik." Putus Esther kemudian merebahkan diri di tempat tidur.
.
.
Keesokan harinya di rumah sakit Avicenna,
Ben mengundang beberapa orang yang ia kenal untuk bisa hadir di acara tujuh bulanan istrinya. Ben sangat antusias menyambut kelahiran anak pertamanya.
Ketika berpapasan dengan Esther, Ben pun menyapanya.
"Nona Esther, kau juga boleh datang." Ben menyerahkan satu undangan untuk Esther.
"Ah, iya. Terima kasih." balas Esther.
Esther tersenyum seringai sambil menatap undangan itu.
"Aku yakin Roy pasti datang. Kalau begitu aku juga harus datang," gumam Esther.
.
.
Malam harinya di kediaman Benjamin,
Tamu-tamu mulai berdatangan dan disambut langsung oleh Ben. Pesta kali ini mengusung tema pesta kebun.
Ben terus tersenyum bahagia saat menyalami satu persatu tamunya.
Esther datang sendiri dan langsung mencari keberadaan Roy. Netranya tertuju pada satu pria yang sedang menyendiri di meja paling pojok.
Esther berpikir jika hidup Roy amat kesepian setelah berpisah dengan Lian. Terlebih kini Lian malah bekerja dengan Julian yang notabene adalah kakak Roy.
Esther memegang pundak Roy yang duduk membelakanginya. Roy berbalik dan menampilkan senyum sumringahnya.
Namun seketika senyumnya surut. Roy sudah mengira jika yang menyentuhnya adalah Lian.
"Oh, Esther..." Sapa Roy datar.
"Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba senyumnya surut saat melihat kehadiranku? Apa dia mengharapkan kehadiran seseorang?" batin Esther.
"Boleh aku bergabung denganmu, Roy?" tanya Esther.
"Ah, silakan. Ini adalah tempat duduk milik umum, bukan milikku." tukas Roy.
Esther tertawa kecil. "Ternyata kau bisa melucu juga."
Tibalah saatnya acara puncak yang ditunggu-tunggu. Ritual tujuh bulanan ibu hamil hanya untuk melestarikan warisan leluhur. Meski banyak yang sudah meninggalkannya, namun Amira tetap ingin melakukannya di tengah modernisasi yang merajalela.
Esther mengajak Roy agar melihat ritual lebih dekat.
"Ayo, Roy! Kita lihat seperti apa ritualnya! Apa ini semacam baby shower?" Esther menggamit lengan Roy.
Dengan malas Roy mengikuti langkah Esther. Sedari tadi ia menunggu kedatangan Lian. Namun yang ditunggu tak juga datang.
"Apa mungkin orang tuanya tidak mengijinkannya untuk keluar?" batin Roy.
"Wah, menarik sekali ya! Aku lama tinggal di luar negeri, jadi aku jarang melihat yang seperti ini. Ini adalah tradisi. Kita harus melestarikannya. Benar 'kan Roy?"
Roy tidak menjawab karena sedari tadi netranya tertuju pada seseorang yang juga sedang menatapnya.
"Roy!" Esther mengguncang lengan Roy.
"Lian?" Lirih Roy.
Esther yang tak juga mendapat respon dari Roy, mengikuti kemana arah mata Roy tertuju.
...B E R S A M B U N G...
"Oh ya, buat yg penasaran apa itu ISS. Itu adalah organisasi rahasia milik pemerintah yang mak thor bikin, hahaha
Kepanjangan dari Indonesian Secret Service. Buat yg penasaran dengan kisah anggota2 ISS, bisa mampir ke RaKhania ya.
...terima kasih...