Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 93. Terbongkar (2)


Pagi harinya, Lusi sudah menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Namun sejak tadi Lono, suaminya tak kunjung keluar dari ruang kerjanya. Hanya Lian saja yang menemaninya menyantap sarapan.


"Nak, tolong bujuk ayahmu untuk makan. Sejak semalam ayahmu belum memakan apapun." Pinta Lusi.


"Ibu! Bukankah kita sudah membicarakan ini sebelumnya? Ayah tidak setuju jika kita meminta tolong pada Kak Julian. Bu, Kak Julian tidak sebaik seperti yang ibu pikir!" Ucap Lian.


"Kalau dia bukan orang baik, lantas untuk apa kau setiap hari membawakan bekal makan untuknya? Kau selalu bersedia diantar pulang olehnya. Apa kau hanya berpura-pura? Apa kebaikanmu padanya juga palsu?" Lusi tak mau kalah berargumen.


"Ibu!" Lian menatap ibunya. Dijelaskan pun ibunya tetap tidak akan mengerti.


"Sudahlah aku tidak ingin berdebat. Aku berangkat dulu! Sebaiknya ibu tetap membujuk ayah agar mau makan!"


Setelah kepergian putrinya, Lusi beranjak dari duduknya dan menuju ke ruang kerja suaminya.


"Suamiku! Jangan begini! Ayo makanlah sesuatu! Kau bisa sakit jika terus keras kepala begini!" teriak Lusi dari depan pintu.


Tanpa disengaja Lusi membuka handel pintu dan tak melihat sosok siapapun ada disana.


"Hah?! Kemana dia? Kenapa aku tidak melihatnya saat keluar rumah?" Gumam Lusi kemudian berjalan keluar rumah bermaksud mencari suaminya.


Namun baru beberapa langkah, Lusi dikejutkan dengan kehadiran Lono yang baru masuk kedalam rumah.


"Ayah! Kau dari mana saja? Aku dan putrimu mencemaskanmu!" ucap Lusi.


Terlihat wajah Lono memerah. Ia memendam emosinya.


"Ada apa, Ayah?"


"Apa kau sudah puas?!" Lono bertanya balik dengan nada marah.


"Kau tahu apa yang sudah mereka katakan di pasar? Mereka mengolok-olokku! Mereka pikir aku adalah penipu yang sudah memanfaatkan konsumen. Keluarga kita di cap sebagai keluarga penipu!"


"Apa?! Bagaimana bisa? Mereka tidak tahu masalahnya kenapa mereka menghakimimu?"


"Apa kau pikir mereka akan percaya pada kita? Tentu saja tidak! Mereka hanya percaya pada orang-orang besar. Pada perusahaan besar sekelas Ar-Rayyan Grup. Inilah yang dilakukan oleh calon menantu idamanmu itu!" Sungut Lono kemudian berlalu meninggalkan Lusi.


Lusi mematung dengan tangan mengepal.


"Aku tidak akan membiarkan ini! Akan kuberi pelajaran kau, Julian!!!"


Lusi bergegas masuk kedalam rumah kemudian mengambil tasnya.


"Aku tidak bisa hanya berdiam diri!"


Lusi menyetop taksi kemudian melaju ke gedung Ar-Rayyan Grup.


......***......


Setelah berhasil menemukan orang yang sudah memfitnah keluarga Avicenna, kini Roy sedang mencari fakta tentang Esther. Dan akhirnya ia menemukan fakta mencengangkan tentang sahabatnya yang diduga telah meninggal dunia.


"Apa kau yakin, Ben?" tanya Roy.


"Yakin, Tuan. Memang tidak pernah di temukan jasad Nona Zara. Ditambah lagi ada yang pernah melihat seorang wanita seperti Nona Zara."


"Benarkah? Dimana mereka melihat Zara?"


"Di sebuah desa yang jauh dari kota, Tuan."


"Baiklah. Kau selidiki terus soal ini."


"Baik, Tuan." Ben pamit undur diri dari ruang kerja Roy.


Di tempat berbeda, Julian sedang sibuk menyambut klien yang datang ke perusahaannya. Setelah produk baru perusahaannya diluncurkan dan mendapat respon yang bagus dari masyarakat, para klien pun mulai berdatangan.


Julian yang tidak mengetahui kedatangan Lusi, seketika terkejut karena melihat dua orang penjaga keamanan memegangi lengan Lusi yang memaksa ingin masuk kedalam gedung. Julian yang baru saja mengantar kliennya langsung menghampiri sumber suara keributan.


"Ada apa ini?" tanya Julian.


"Maaf, Tuan. Ibu ini memaksa ingin masuk ke dalam dan menemui Tuan," jawab si penjaga.


Julian melihat kemarahan di mata Lusi. Ia pun mempersilakan Lusi untuk masuk dan menuju ke ruangannya. Karena tak ingin membuat keributan lebih dari ini, Lusi mengikuti langkah Julian.


Saat Julian meminta Lusi untuk masuk, Lusi malah menolak.


"Tidak perlu! Aku tidak butuh untuk kau kasihani!"


Julian mengernyitkan dahi. "Ada apa, Bi?"


"Berhenti berpura-pura baik di depan kami! Aku sudah tahu semua kebusukanmu!" suara Lusi menggelegar hingga menarik perhatian para karyawan Ar-Rayyan.


"Aku tidak mengerti maksud Bibi. Ada apa ini sebenarnya?"


"Kau bilang kau akan membantu kami. Tapi apa ini? Produk yang kau luncurkan itu jelas-jelas milik suamiku. Kenapa kau malah mengakuinya sebagai produkmu dan malah meluncurkannya!!" Geram Lusi.


"Kau memang manusia yang tak punya hati. Harusnya dari awal kami tidak pernah percaya denganmu!"


"Tungggu dulu, Bi! Aku benar-benar tidak paham!" Julian membela dirinya.


Julian membaca sekilas proposal yang di berikan oleh Lusi.


"Ini...?" Julian menautkan alisnya.


"Iya! Orang-orang mengira jika kami sudah menipu dengan memakai produk Ar-Rayyan Grup. Tapi pada kenyataannya kalian lah yang sudah menipu kami!!"


Lian yang tak sengaja mendengar keributan, lalu menghampiri kerumunan itu. Lian terkejut melihat ibunya sedang memarahi Julian.


"Ibu!!!" seru Lian kemudian memegangi lengan ibunya.


"Jangan pernah muncul lagi di hadapan kami!" Seru Lusi di depan Julian kemudian pergi bersama Lian.


Sepeninggal Lian dan ibunya, Julian mematung mengepalkan tangannya. Ia begitu marah saat ini.


"Leon!!!" suara Julian menggelegar seolah terdengar diseluruh penjuru gedung.


"Iya, Tuan!"


"Cepat cari Noel! Dia sudah menipuku! Karena dia keluarga Lian membenciku!"


"Baik, Tuan."


Julian dan Leon berjalan cepat menuju ke ruangan Noel. Tapi ternyata tak menemukan siapapun disana.


"Tuan Noel tidak berangkat kerja hari ini," ucap sekretaris Noel.


"Sialan! Cepat cari dia dimanapun dia berada!" perintah Julian dengan geram.


Julian memukul udara karena saking kesalnya.


Sementara itu, Ben yang diminta oleh Roy untuk mencari informasi soal Zara akhirnya menemukan titik terang. Ben segera mengabarkan hal ini kepada Roy.


"Tuan, saya sudah menemukan jejak Nona Zara!" lapor Ben.


"Apa? Kau serius?"


"Iya, Tuan. Ini dia buktinya!" Ben menunjukkan bukti-bukti yang menunjukkan keberadaan Zara di suatu tempat.


"Apa ini? Jadi ada yang menolong Zara selama ini?" Roy mengepalkan tangan.


"Iya, Tuan. Dan seperti yang kemarin kita temukan, jika Nona Zara bersama dengan..."


"Noel Alexander!" Roy menggeram kesal.


"Ben! Sepertinya kita harus menyusun rencana yang indah untuk menjebak wanita ular itu!" Putus Roy.


"Baik, Tuan!"


.


.


.


Esther memiliki rencana untuk mengingatkan Roy dengan kenangan masa lalunya bersama Zara. Esther ingin tahu apa benar Roy sudah melupakan Zara atau belum.


Esther menyiapkan makanan kesukaan Roy dan membawanya ke kantor. Senyum merekah selalu tersungging di bibirnya.


"Aku yakin Roy pasti mengingatku! Jika aku tak bisa membuatnya jatuh hati pada Esther, maka aku harus membuatnya jatuh hati pada Zara. Ya! Zara adalah cinta pertama Roy. Dan cinta pertama tidak akan pernah terlupakan."


Esther menunggu Roy datang ke rumah sakit.


"Dokter Roy!" sapa Esther ketika melihat Roy berjalan ke ruangannya.


"Esther?" Roy menautkan alisnya.


"Aku membawakan bekal makan untukmu. Aku sendiri yang membuatnya. Cobalah!"


Roy tersenyum dan menerima kotak makan dari Esther.


"Baiklah, aku akan memakan makanan buatanmu ini!"


"Terima kasih, Dokter."


"Kau tahu, Esther! Kau mengingatkanku dengan seseorang."


Esther mengernyit. "Siapa?"


"Seorang teman di masa lalu. Dia adalah sahabatku. Dia adalah cinta pertamaku. Dia adalah cintaku. Tapi dia meninggalkanku demi egonya sendiri," ucap Roy dengan mata memerah.


"Hah?!" Esther membulatkan mata.


...B E R S A M B U N G...