
...[ Pesan Terakhir Dandy ]...
Roy terbangun di pagi hari dengan kepala sedikit pening akibat efek mabuk semalam. Ia bangun kemudian duduk sambil memijat pelipisnya pelan.
Roy mencoba mengingat memori yang terjadi semalam. Ia ingat jika dirinya belum mengganti pakaiannya.
Lian datang dan membawakan teh jahe untuk Roy.
"Mas, kamu sudah bangun?"
"Hmm."
"Minumlah dulu, Mas. Ini teh jahe." Lian meyakinkan Roy untuk meminumnya.
Roy mengambil gelas yang dibawa Lian dan langsung meneguk teh jahenya.
"Terima kasih," ucap Roy.
"Sebaiknya Mas mandi dulu. Aku akan siapkan baju ganti untukmu."
Tanpa menjawab Roy bergegas turun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi.
"Ya Tuhan! Kenapa jadi begini? Apa memang inilah Mas Roy yang sesungguhnya? Kenapa begitu banyak rahasia di keluarga ini? Apa aku sanggup menghadapi semua ini?" batin Lian sambil mendesah pelan.
Roy dan Lian turun dari lantai atas menuju ke meja makan untuk sarapan bersama. Setelah insiden semalam, nampaknya semua akan berbeda terhadap Lian.
Lian berusaha menyiapkan hatinya. Ia tersenyum pada Donald yang juga tersenyum menyapanya.
"Kau sudah baikan, Nak?" sapa Donald pada Roy.
Lian melirik kearah Helena yang tak ingin menyapa ataupun menatapnya.
"Selamat pagi Kakek, Dad, Mom..." sapa Roy.
"Papa! Apa aku tidak terlihat?" Boy mengerucutkan bibirnya karena tak ikut disapa oleh Roy.
"Sayang, Papa benar-benar tidak bisa melihatmu. Karena Papa sudah menyimpanmu disini." Roy memegangi dadanya.
Lian tersenyum bahagia melihat Roy yang masih bersikap biasa pada Boy. Ketakutannya sama sekali tak berarti
......***......
Seperti biasa, Roy bersama Lian dan Boy pergi mengantar Boy lebih dulu ke sekolahnya. Setelah mengantar Boy, Roy mengantar Lian ke butik Jimmy.
Tak ada percakapan yang berarti selama perjalanan menuju butik. Hingga akhirnya mereka tiba di depan butik Jimmy namun tak ada satupun yang turun dari mobil, baik itu Lian maupun Roy.
Lian saling menautkan jarinya bingunf merangkai kata. Profesinya sebagai model dan juga pernah tinggal di luar negeri tak mengubahnya menjadi gadis kota yang supel namun tetap menjadi Lian si gadis kampung yang lugu.
"Apa ada yang ingin kau bicarakan?" Suara Roy membuat Lian sedikit tersentak.
"Heh?! Bicarakan? Umm, itu..."
"Katakan saja!"
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu sampai mabuk?" tanya Lian ragu.
Roy memejamkan matanya.
"Maaf... Maafkan aku."
Lian hanya diam mendengar permintaan maaf Roy. "Apa hanya itu yang bisa kamu katakan, Mas?" batin Lian.
"Kemarin kau pergi kemana saja dengan Boy?"
"Umm, itu..."
"Apa bersama Julian?"
"Eh?"
"Aku ingin memberi kebahagiaan untukmu, Lian. Tapi aku merasa tidak mampu."
Lian tersenyum dan meraih tangan Roy. "Kita adalah pasangan menikah. Jadi, apapun yang kamu alami, kumohon berbagilah! Jangan memendamnya sendiri."
Roy merasakan cinta yang tulus dalam sorot mata Lian.
......***......
Tanpa diketahui siapapun, Dandy menemui Maliq, sahabat Roy. Ia ingin bicara empat mata dengan Maliq. Hatinya mulai terketuk setelah Donald mengatakan semuanya pada Dandy beberapa waktu lalu.
"Terima kasih karena sudah bersedia menemuiku," ucap Dandy yang diangguki oleh Maliq.
"Ada apa, Paman? Apa yang ingin Paman bicarakan?"
"Aku sudah tahu tentang penyakit Roy. Aku minta padamu tolong jelaskan tentang kondisi Roy." pinta Dandy dengan mata berkaca-kaca.
Maliq menghela nafasnya. Ia pun mulai menjelaskan detil tentang kondisi Roy.
Dandy menitikkan air mata mendengar semua penjelasan Maliq. Ia sudah bersalah pada Roy. Ia tak pernah menjadi ayah yang baik untuk Roy.
"Nak Maliq, aku mohon padamu, jika terjadi sesuatu denganku, maka..."
Dandy mengusap wajahnya. "Maka ... berikan jantungku untuk Roy."
"Tolonglah! Hanya ini yang bisa kulakukan sebagai seorang ayah."
Meski berat, Maliq menganggukkan kepala. "Iya, Paman."
"Terima kasih, Nak Maliq." Usai bicara berdua, Dandy pamit pergi dengan punggung yang terlihat bergetar.
Maliq menghelas nafasnya kasar. "Semoga semua orang akan berubah menjadi lebih baik." gumamnya.
......***......
...[ Kemunculan Belinda ]...
Julian tiba di sebuah tempat yang jauh dari kota dan jauh dari permukiman warga. Langkah tegapnya memasuki ruangan serba putih yang didalamnya sudah berkumpul beberapa orang berseragam putih.
"Bagaimana? Apa sudah selesai?" tanya Julian tak sabar.
"Bersabarlah, Jul. Semua ini butuh waktu."
"Tapi aku tidak punya waktu lagi, Zara."
Ya, orang yang sedang bersama Julian adalah Zara. Mereka sedang melakukan proyek rahasia bersama-sama.
Kerjasama? Apa tidak salah? Zara dan Julian bekerjasama? Tentu tidak. Orang yang selalu di hubungi Julian akhir-akhir ini adalah Zara.
"Noel, butuh berapa lama lagi?" tanya Julian pada pria muda sebayanya.
"Kemungkinan masih butuh seminggu lagi." jawab Noel.
"Seminggu? Yang benar saja!" Julian terus menggerutu.
"Kau pikir membuat kloning manusia seperti membuat adonan roti? Daripada kau sibuk menggerutu, sebaiknya cepat kau pastikan apakah dia sudah seperti Belinda yang asli atau belum?" sungut Zara tak mau kalah.
Julian memperhatikan tubuh yang terbaring kaku didalam sebuah pipa besar yang mirip akuarium.
"Bagaimana bisa, Zara? Dia ... sangat mirip dengan Belinda yang asli."
"Hmm, tentu saja. Aku sudah melakukan penelitian bersama Noel selama bertahun-tahun."
"Jadi, kau memang menyiapkan Belinda untuk melakukan balas dendam?" Tanya Julian tak percaya. Ternyata Zara lebih gila dari kakeknya.
"Hmm, entahlah. Aku hanya ... ingin membuat syok orang-orang yang sudah menyakitiku." Ucap Zara dengan raut nelangsa yang membuat Julian menggelengkan kepalanya.
......***......
Satu minggu kemudian,
Rencana Zara untuk memakai kloning Belinda akhirnya bisa terlaksana hari ini.
Julian nampak memperhatikan dengan seksama manusia yang ada dihadapannya ini. Ia mengagumi hasil karya Noel dan timnya.
"Silakan bicara!" Perintah Julian.
"Hai, namaku Belinda Rawles." Wanita itu mulai menggerakan bibirnya bicara banyak hal.
"Aku sudah tidak sabar melihat reaksi Helena saat melihat Belinda kembali hidup." Julian tersenyum seringai.
Sementata itu, seperti biasa, Helena sedang bersama dengan teman-teman sosialitanya.
Mata Helena membulat sempurna kala sekelebat melihat sosok yang ia kenali melintas di depan kafe. Wajah Helena mendadak pucat. Keringat dingin mulai menjalari tubuhnya.
"Ada apa, Jeng?" tanya Meri, teman sosialita Helena.
"Eh? Ti-tidak ada. Aku ke toilet dulu ya!" pamit Helena yang segera menyusul bayangan yang mirip dengan seseorang.
"Tidak mungkin! Gadis itu sudah mati 10 tahun lalu. Aku sudah memastikannya saat itu." batin Helena dengan masih mengedarkan pandangan mencari keberadaan orang yang dilihatnya tadi.
"Belinda!!!"
Sebuah suara memanggil nama seseorang yang membuat jantung Helena hampir berhenti berdetak.
"Be-Belinda?" gumam Helena.
Helena membalikkan badan ingin memastikan apakah Belinda yang dipanggil adalah Belinda yang ia kenal.
"Hah?!" Helena jatuh tersungkur ketika melihat jika wanita itu memang adalah Belinda.
"Bagaimana bisa??" batin Helena bertanya-tanya.
Memori Helena kembali ke 10 tahun lalu, dimana ia menyeret seorang gadis masuk kedalam hutan.
"Lepaskan!!" ronta gadis itu.
"Lepas katamu?! Jangan mimpi! Gadis ja'lang sepertimu memang pantas mati didalam hutan." teriak Helena dengan menarik rambut Belinda.
"Dasar ja'lang! Berani sekali kau bermain dengan suamiku, huh?! Kau pantas mati!!!" Helena mengantukkan kepala Belinda ke sebuah pohon besar hingga kepala gadis itu berlumuran darah. Tubuh gadis itu tak lagi bergerak. Helena meninggalkan tubuh terkapar Belinda begitu saja didalam hutan.
......***......
...#bersambung......
Adegan kekerasan tadi tidak pantas untuk di tiru ya genks. 🙏🙏