Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 105. Menghapus Jejakmu


Leon masih setia menunggu keputusan pihak berwajib tentang status Esther sebagai tersangka dari percobaan pembunuhan terhadap Julian. Kondisi psikis Esther sedang diperiksa oleh dokter kejiwaan karena sedari tadi ia bergumam tidak jelas seperti orang yang kehilangan kewarasan.


"Bagaimana, Dokter?" tanya Leon ketika seorang ahli kejiwaan dari pihak kepolisian keluar ruangan usai memeriksa Esther.


"Kondisinya stabil dan baik-baik saja. Sepertinya dia sengaja melakukan ini agar terbebas dari jerat hukuman kurungan," jelas dokter itu.


Leon mengangguk paham. "Terima kasih atas keterangannya. Saya harap wanita itu bisa dihukum seberat-beratnya. Dia sudah membuat Tuan saya meregang nyawa," ucap Leon.


"Kita serahkan saja semuanya pada pihak yang berwenang. Mereka pasti akan menghukum yang bersalah dengan setimpal. Kalau begitu saya permisi dulu."


Leon mengangguk ketika dokter itu berlalu. Ia segera menghubungi Ben untuk mengetahui kabar terbaru mengenai kondisi Julian.


Sementara itu di rumah sakit, Roy masih terduduk lesu didampingi Lian yang setia menenangkannya. Dokter masih melakukan operasi pada Julian. Dilihat dari kondisinya jika luka yang diderita Julian cukup parah.


Lian melihat Kartika datang dan sedang berbincang dengan Ben. Namun setelahnya Kartika melangkah pergi.


Lian segera menyusul langkah Kartika.


"Ben, tolong kau temani Mas Roy. Aku ingin menemui Kak Tika," ucap Lian.


"Baik, Nyonya."


Lian mempercepat langkahnya agar biaa mengejar Kartika. Namun ternyata Kartika tengah terduduk di sebuah bangku panjang rumah sakit.


Lian menghampiri Kartika dan duduk disampingnya. Ia melihat raut kesedihan yang dalam dari wajah Kartika.


"Apa kau tahu, aku sudah lama menyukai Julian. Tapi dia tidak pernah melihatku. Dia ... hanya menganggapku sebagai sahabatnya." Kartika bercerita sambil menatap lurus ke depan. Ia bahkan tidak menoleh kearah Lian namun ia tahu jika yang duduk disampingnya adalah Lian.


"Alasan aku berpisah dengan George adalah ... karena aku ingin mengejar cinta masa laluku. Aneh, bukan? Tapi George adalah pria yang baik. Kami bersama karena saling mencintai. Dan kami berpisah juga karena cinta."


Lian mendengarkan dengan seksama semua keluh kesah Kartika.


"Kupikir pertemuan kali ini bisa membuat perubahan pada hubungan kami. Awalnya kupikir begitu. Tapi ... ternyata lagi-lagi aku terlambat."


"Kau tidak terlambat, Kak." Kini Lian angkat bicara.


"Kak Julian selalu memiliki keyakinan jika cinta sejatinya akan datang pada orang yang tepat di waktu yang tepat pula. Kurasa sekarang waktunya sudah tepat," lanjut Lian.


"Apa maksudmu? Sejak awal aku melihat kedekatan kalian berdua, aku yakin jika Julian tidak hanya menganggapmu sebagai adik iparnya saja. Kepanikannya saat mencarimu membuatku sadar jika aku memang tidak akan bisa menyentuh hatinya."


"Kau salah, Kak. Aku dan Kak Julian memang dekat. Aku menghormatinya karena dia adalah kakak Mas Roy dan juga penolong bagiku dan Boy. Sekarang Kak Julian membutuhkan kakak. Jadi, tetaplah disampingnya." Lian memegang tangan Kartika seraya memohon.


Kartika membalas dengan sebuah senyuman. "Iya, aku akan selalu ada disampingnya."


......***......


Tiga hari kemudian,


"Keluarga Julian Avicenna!" Seorang perawat menginterupsi keluarga penunggu pasien. Selama tiga hari ini Julian belum boleh dijenguk oleh siapapun karena masih berada di ruang intensif. Meski begitu, baik Lian maupun Roy selalu datang menunggu kabar baik dari kondisi Julian.


"Iya, Suster. Bagaimana kondisi Kakak saya?" Roy segera bangkit dan menghampiri si perawat.


"Pasien sudah sadarkan diri dan kini sudah di pindah ke kamar perawatan. Silakan jika keluarga ingin menemuinya."


Roy tersenyum bahagia. Ia mengajak Lian, Kartika dan juga Leon untuk melihat kondisi Julian.


Kepala Julian masih dibalit perban namun kondisi fisiknya terlihat baik-baik saja.


"Kakak! Aku sangat mencemaskan kakak! Syukurlah jika kakak telah kembali." Roy memeluk Julian dengan menahan air matanya.


"Sudahlah! Jangan berlebihan! Aku baik-baik saja," ucap Julian sambil menepuk pelan punggung Roy.


"Kakak yakin sudah baik-baik saja?"


"Iya!" Julian menatap Lian.


"Siapa dia?" tunjuk Julian kearah Lian.


"Eh?" Semua yang ada disana tercengang dengan pertanyaan Julian.


"Kakak tidak tahu siapa aku?" tanya Lian sambil menunjuk dirinya sendiri.


Julian menggelengkan kepala. "Memangnya siapa kau? Kenapa kau ada disini? Apa aku mengenalmu?"


Roy meminta Lian untuk tidak menjawab lagi.


"Istri? Jadi kau sudah menikah?"


"I-iya, Kak. Kami bahkan sudah memiliki dua orang putra."


"Wah! Kenapa aku tidak tahu?"


"Apa yang terjadi pada Kakak? Apa kakak mengingatku?"


"Tentu saja aku ingat! Kau adalah adikku, Roy. Lalu dia? Dia adalah Leon, asistenku. Dan dia ... adalah Kartika. Dia sahabatku. Lalu dia? Siapa namanya tadi? Berlian? Istrimu? Aku tidak ingat pernah mengenalnya. Apa kau menyembunyikan pernikahanmu dariku, huh?!"


Semua orang terdiam, terlebih Lian. Roy meraih tangan Lian kemudian membawanya keluar dari kamar Julian. Mereka menemui dokter yang merawat Julian.


Dokter menjelaskan jika yang dialami Julian adalah amnesia sebagian. Ada beberapa memori yang tidak dapat diingatnya. Ada kemungkinan ingatan itu bisa kembali, mungkin juga tidak. Dan keluarga dilarang untuk memaksanya untuk mengingat apa yang sudah dilupakan oleh Julian.


"Jika dia tidak bisa mengingatku, itu berarti dia memang ingin melupakanku, Mas. Aku pasti sudah membuat kenangan yang buruk untuknya. Hingga dia tidak ingin mengingatku lagi," ucap Lian dengan nada sedih.


"Jangan bicara begitu. Kakak pasti bisa mengingatmu lagi. Percayalah!" Roy membawa Lian dalam pelukannya.


.


.


.


Sudah satu minggu Julian dirawat di rumah sakit. Kini Julian merengek meminta keluar dari kamar rawatnya. Dengan berat hati Kartika menemani Julian berkeliling rumah sakit menggunakan kursi roda.


"Kau ini keras kepala sekali! Kondisimu belum pulih benar tapi sudah ingin berkeliling," sungut Kartika sambil mendorong kursi roda Julian.


"Entahlah! Aku hanya ingin menghirup udara segar. Rumah sakit ini adalah milik keluargaku, tapi entah kenapa rasanya aku merasa asing disini. Hawa sejuknya sangat berbeda dari biasanya."


"Itu karena kau kini menjelma menjadi orang baru," gumam Kartika.


"Apa katamu barusan?"


"Tidak! Aku tidak mengatakan apapun."


"Eh, lihat itu! Bukankah itu Roy dan istrinya?" tunjuk Julian kearah Roy dan Lian yang juga sedang menghampirinya.


"Kakak? Kenapa sudah keluar kamar? Kondisi kakak belum stabil," lerai Roy.


"Aku bosan, Roy. Aku hanya ingin menghirup udara segar."


Lian hanya diam dan menunduk.


"Apa kabar, adik ipar?" tanya Julian.


"Eh?" Lian terhenyak dan menatap Julian.


"A-aku baik, Kak."


"Kurasa kita memang berjodoh ya. Namaku adalah Julian, sedangkan kau Berlian. Nama belakang kita sama. Julian, Berlian. Bukankah itu sangat lucu, Roy?" Julian tertawa.


Baru kali ini Roy melihat kakaknya tertawa lepas seperti itu. Begitu juga dengan Lian yang ikut bahagia dengan kondisi Julian sekarang.


"Apa itu yang kau bawa?" tanya Julian saat melihat bingkisan yang dibawa Lian.


"Ah, ini adalah makanan yang kubuat sendiri. Siapa tahu kakak menyukainya." Lian menyerahkan bingkisan kotak makan itu pada Julian.


"Aku buka ya!" Julian membuka kotak makan tersebut.


"Wah! Ini adalah makanan kesukaanku. Bagaimana kau tahu soal ini?"


Lian hanya tersenyum.


"Roy, kau memiliki istri yang luar biasa. Jangan sampai kau menyakitinya, mengerti? Tika, ayo kembali ke kamar. Aku ingin makan makanan buatan adik iparku."


Kartika berpamitan dengan Roy dan Lian kemudian mendorong kursi roda Julian menuju kembali ke kamar.


...B E R S A M B U N G...


"Still enjoy it? I hope so ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜"