
Pagi itu, Roy dan Patrick sudah bersiap dengan pakaian casualnya. Hari ini mereka akan mencari jejak Belinda dari titik lokasi chip yang ditemukan oleh Boy. Rasanya Roy sungguh tidak sabar untuk menemukan jantung hatinya itu.
"Boy, hari ini kau akan ditemani oleh Paman Kenzo dan Bibi Riana. Paman dan Papamu akan mencari keberadaan Mama kamu. Doakan semoga kami bisa menemukan Mama dalam keadaan selamat," ucap Patrick pada bocah enam tahun itu.
"Baik, Paman."
"Setelah pulang sekolah kau harus bersama Paman Kenzo dan Bibi Riana," imbuh Roy.
"Iya, Pa. Jangan khawatir. Aku pasti akan jadi anak yang baik. Oh ya, titik lokasinya masih tidak berubah sejak dari semalam aku menemukannya. Semoga memang benar Mama ada disana." terang Boy dengan raut wajah sedihnya.
Roy memeluk putranya itu. "Jangan bersedih! Papa janji akan menemukan Mama dalam kondisi baik-baik saja."
Boy mengangguk dalam dekapan Roy. Patrick dan Roy berpamitan pada Kenzo dan Riana.
"Aku titip Boy padamu, ya." ucap Roy pada Kenzo.
"Baik, dokter. Kalian tenang saja. Akan kupastikan Boy aman." sahut Kenzo.
Setelah Belinda menghilang, pengamanan terhadap Boy makin di perketat oleh Patrick maupun Roy. Roy sendiri tak ingin terjadi sesuatu pada putranya itu. Cukup hanya Belinda saja yang harus menerima akibat dari keputusan Roy berpisah dari Zara.
......***......
Secara bersamaan, Kenzo dan Riana mendapat panggilan dari rumah sakit Avicenna, tempat mereka bekerja. Karena tak tahu harus menitipkan Boy pada siapa, akhirnya Kenzo meminta pengasuh bernama Holly untuk menjaga Boy. Meski Holly seorang wanita, namun ia ahli dalam beladiri dan menggunakan senjata api. Kenzo sengaja memberi Holly satu pistol untuk ia gunakan sekedar berjaga-jaga bila ada hal yang tak diinginkan.
Kenzo dan Riana pergi bersama menuju ke rumah sakit. Kenzo sudah merasa ada yang tidak beres disini. Pagi tadi ia sudah mengirimkan surat ijin jika hari ini ia tak bisa masuk kerja karena ada urusan pribadi. Namun selang beberapa jam, pihak rumah sakit menghubungi Kenzo dan mengatakan ia harus datang karena keadaan mendesak.
"Ken, apa kau tidak merasakan sesuatu yang aneh?" tanya Riana saat Kenzo sibuk menatap jalanan di depannya.
"Sudahlah, jangan memikirkan hal-hal yang belum terjadi." balas Kenzo. Tentunya ia tak ingin Riana merasa khawatir.
Riana tak menjawab lagi dan memilih diam. Sepertinya Kenzo juga sedang mengalami kegundahan yang sama dengan dirinya.
Tiba di rumah sakit, Kenzo dan Riana disambut oleh Mike, yang adalah asisten Donald Avicenna. Kenzo dan Riana saling pandang namun mereka tetap mengikuti langkah Mike.
Mereka berdua tiba di salah satu ruangan dan disana sudah ada Donald, Dandy dan juga Helena, serta beberapa dokter senior yang duduk berdampingan.
"Silahkan duduk, dokter Kenzo, dokter Riana," ucap Dandy.
Kenzo dan Riana duduk bersebelahan dan berhadapan dengan enam orang yang duduk menghadap mereka.
Jantung Riana berdegup lebih kencanh dari biasanya. Ia tahu jika dirinya pasti akan disidang karena sebuah kesalahan. Tapi kesalahan apa? Ia masih mencari jawaban itu.
Sedangkan Kenzo, ia tampak tenang menghadapi keenam orang yang notabene adalah dokter senior dan juga direksi rumah sakit.
"Terima kasih atas kedatangan kalian berdua. Kalian diundang kemari karena ada laporan tentang kalian berdua yang harus kami tindaklanjuti." buka Dandy.
Riana menelan salivanya.
"Apa benar kalian tinggal bersama?" tanya Helena selaku perwakilan direksi rumah sakit Avicenna.
"Eh?" Riana tercengang.
Kenzo memberi kode pada Riana untuk diam. Biar Kenzo yang akan menjawabnya.
"Benar. Kami tinggal bersama dalam satu apartemen, tapi berbeda unit." Jawab Kenzo datar.
Helena menghela nafasnya. "Lalu, apa kalian terikat dalam ikatan pernikahan?"
"Tidak. Kami sama-sama belum menikah." tegas Kenzo.
Riana hanya bisa mere'mas bajunya dan terus menunduk. Ia merasa jika hal buruk akan menimpa mereka berdua.
"Lalu bagaimana bisa kalian menjadi seorang wali untuk anak bernama Boy?" lanjut Helena.
Kenzo menarik sudut bibirnya. "Jadi ini semua tentang Boy? Sudah kuduga. Ini pasti ulah Zara." batin Kenzo.
"Tidak ada aturan yang menyatakan orang yang belum menikah tidak boleh memiliki anak asuh." balas Kenzo.
"Tapi kalian tidak melaporkan hal ini kepada direksi. Kejadian seperti ini bisa merusak citra rumah sakit. Terlebih profesi kalian adalah seorang dokter. Bagaimana bisa kalian tidak mengindahkan kode etik sebagai seorang dokter?" Helena mulai geram karena Kenzo tak gentar sedikitpun.
"Kami tahu resikonya. Untuk itu, kami siap untuk dihukum." ucap Kenzo.
Sontak Riana mendongakkan wajahnya dan menatap Kenzo. "Bagaimana bisa dia bicara enteng begitu? Bagaimana nasib keluargaku jika aku dipecat secara tidak hormat sebagai seorang dokter?" batin Riana mulai bergemuruh.
"Saudara Kenzo Watanabe. Anda juga melakukan malpraktik pada salah satu pasien yang mengakibatkan pasien itu meninggal dunia. Namun karena keluarga pasien tidak menuntut pihak rumah sakit, maka kami tidak akan memperpanjang masalah ini. Tapi, kami harus memberikan sanksi yang cukup berat untuk Anda. Yaitu, dipecat secara tidak terhormat dan mencabut gelar Anda sebagai seorang dokter." jelas Dandy.
"Hah?!" Riana amat terkejut dengan semua fakta yang terkuak tentang Kenzo.
"Baik, saya siap menerima sanksi yang diberikan pihak direksi dan juga ikatan dokter."
Memang benar, Kenzo tidak melakukan malpraktik secara langsung, tapi atas perintah Zara karena Kenzo adalah asistennya. Tentu saja perintah Zara harus ia patuhi. Ia tak menyangka jika semua akan berakhir seperti ini.
......***......
Kenzo membereskan barang-barang yang ada diruangannya. Selama menjadi asisten Zara, Kenzo memang tak banyak membawa barang. Hanya beberapa buku tentang ilmu kedokteran.
Zara tersenyum bahagia menghampiri Kenzo yang sedang beberes.
"Wah, wah, aku tidak menyangka jika akhirnya kau keluar juga dari sini." ucapnya sinis.
"Yeah. Sudah saatnya aku pergi, bukan?" balas Kenzo getir.
"Dengar baik-baik! Jangan pernah main-main denganku atau kau akan tahu akibatnya." ancam Zara.
Kenzo hanya tersenyum tipis. "Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan. Aku ingin tahu sejauh mana kau bisa bertahan."
"Kau!!! Ini adalah peringatan keras untukmu dan juga orang-orang yang kau lindungi. Jangan sampai kau menyesal karena terlalu banyak ikut campur masalahku." setelah itu Zara meninggalkan Kenzo yang masih merapikan barang-barangnya. Kenzo tak menyangka jika kelicikan Zara melebihi yang ia prediksi.
Setelah membereskan barang-barangnya, Kenzo berjalan keluar dari ruang kerjanya. Ia bertemu dengan Donald yang tersenyum padanya.
"Tuan Donald?" Kenzo menyapa Donald.
"Maafkan aku, Nak. Aku tidak bisa menolongmu."
"Tidak apa, Tuan. Aku sudah tahu jika hal ini pasti akan terjadi, cepat atau lambat."
"Akulah yang menempatkanmu dalam posisi ini."
"Ini akan lebih baik bagiku, Tuan."
Donald menepuk pelan bahu Kenzo kemudian berlalu.
Kenzo melanjutkan langkahnya hingga ke tempat parkir. Ia melihat Riana disana. Matanya sudah berkaca-kaca melihat kedatangan Kenzo.
"Maafkan aku..." ucap Riana.
"Sudahlah. Aku baik-baik saja." balas Kenzo.
"Ini semua karena aku." Riana pun menangis terisak.
Kenzo tak tega mendengar tangisan Riana. Ia meraih tubuh Riana dan mendekapnya.
"Ini bukan salahmu. Jangan menyalahkan dirimu."
"Tapi tetap saja. Kau dipecat dari sini."
"Itu lebih baik daripada aku harus terus menyamar."
Riana melepaskan pelukan Kenzo.
"Apa maksudmu? Apa kau bukan dokter asli?"
"Tentu saja bukan. Aku hanya menyamar sebagai seorang dokter."
"Hah?! Bagaimana bisa?"
"Meski menyamar aku juga mendapatkan pelatihan sebagai dokter dalam artian yang sebenarnya. Sudahlah, kita pulang saja." Kenzo menghapus sisa air mata di wajah Riana.
"Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku. Yang terpenting pekerjaanmu sebagai dokter tidak terancam. Tak masalah aku harus kehilangan pekerjaan ini. Aku masih bekerja sebagai agen FBI." Ucap Kenzo sambil mengusap wajah Riana.
......***......
#bersambung
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😘😘
👍LIKE
💋COMMENTS
🌹GIFTS
💯VOTE
...THANK YOU...