Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 100. Secercah Harapan


Julian tiba di sebuah butik yang bertuliskan Kartika Butik. Ia memandangi sejenak area depan butik kemudian memutuskan masuk.


Julian disambut hangat oleh karyawan butik.


"Selamat siang, ada yang bisa dibantu?"


"Saya ingin bertemu dengan Nyonya Kartika."


"Kalau boleh tahu dengan Tuan siapa?"


"Julian Avicenna."


"Baik. Tunggu sebentar, Tuan. Saya akan panggilkan Nyonya Kartika."


Julian mengangguk paham kemudian melihat-lihat isi butik. Tidak semua pakaian yang di jual adalah pakaian wanita saja, tapi ada juga pakaian casual dan formal pria.


Karyawan butik mengetuk pintu ruang tunggu.


"Permisi, Nyonya. Ada yang mencari Nyonya. Namanya Tuan Julian Avicenna," ucap si karyawan sopan.


Kartika sedikit terkejut namun sejurus kemudian ia menatap Lian.


"Apa benar dia yang menghubungimu tadi?" Tanya Kartika.


"Iya, Kak." Jawab Lian.


Kartika dan Lian keluar dari ruang tunggu dan menemui Julian.


"Kak Julian!" Panggil Lian.


"Lian! Kau baik-baik saja?" Julian memeriksa dengan seksama kondisi Lian.


"Aku sudah lebih baik, Kak. Beruntung aku bertemu dengan Kak Tika."


"Tika, terima kasih banyak." Ucap Julian.


"Iya, jangan sungkan, Jul," balas Kartika.


"Kalian sudah saling kenal?" Tanya Lian.


"Iya, Kartika adalah teman kuliahku dulu." Jelas Julian.


Jadi benar jika Julian telah memiliki kekasih dan itu adalah Lian. Batin Kartika.


"Lian, ayo kita pulang! Sebaiknya kau istirahat di rumah. Tika, aku pamit dulu ya. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih."


Kartika mengangguk. Ia tersenyum dengan amat terpaksa.


Lian mencari keberadaan seseorang. Ia ingin berpamitan pada anak Kartika. Tapi sosoknya tidak ia temukan.


"Ada apa, Lian?" Tanya Kartika.


"Tidak ada, Kak. Kalau begitu aku permisi. Terima kasih kakak sudah menolongku."


Julian merangkul bahu Lian dan membawanya keluar butik. Ada rasa tak biasa saat melihat Julian begitu perhatian pada Lian.


"Aku selalu terlambat untuk mendapatkan hatimu, Julian..." Gumam Kartika.


"Mama!!!"


"Eh? Nathan, ada apa, Nak?"


"Kemana Bibi Lian?"


"Dia sudah pulang. Kenapa?"


"Aku ingin memberikan ini untuknya. Aku membuatnya sendiri, Ma." Nathan menunjukkan sebuah bunga kertas yang ia buat untuk Lian.


"Bagus sekali. Tapi, Bibi Lian sudah pulang. Kalau begitu untuk Mama saja, bagaimana?"


"Ini untuk menghibur hati Bibi Lian yang bersedih, Ma. Aku tidak bisa memberikannya pada Mama karena aku takut Mama akan sedih juga seperti Bibi Lian. Dan jika Mama sedih maka aku pun ikut sedih."


"Anak pintar!" Kartika mengacak pelan rambut putranya.


......***......


Tiba di kediaman keluarga Avicenna, Julian meminta Boy agar menjaga ibunya. Boy yang mulai beranjak remaja sangat bisa di andalkan dalam hal ini.


Usai berpamitan dengan Boy, Julian menghubungi Leon dan memintanya agar menyiapkan agenda rapat siang ini.


Kali ini Julian mendapat klien penting dari luar negeri. Tentu saja ia harus mempersiapkan semuanya dengan sangat baik.


Julian tiba di gedung Ar-Rayyan dan disambut oleh Leon.


"Bagaimana persiapannya?"


"Semuanya beres, Tuan. Sekitar 10 menit lagi Tuan Langdon akan segera datang."


"Baguslah. Kita harus berhasil mendapatkan klien ini."


"Benar sekali, Tuan. Tuan Langdon sangat jarang datang ke Indonesia, dan kali ini sepertinya beliau akan lama tinggal disini. Ini kesempatan bagus untuk kita."


"Oh ya? Jadi kau sudah mencari informasi tentangnya?"


"Tentu, Tuan. Tuan Langdon menikah dengan wanita Indonesia."


"Eh? Benarkah? Aku baru mendengarnya."


......***......


Malam harinya, Julian berkunjung ke rumah Keluarga Avicenna dan makan malam bersama. Rumah itu kembali ramai dengan adanya Lusi dan Lono yang akhirnya ikut tinggal disana.


Lian masih mengurung diri di kamar dan belum mau keluar. Boy merasa tidak tega melihat kondisi ibunya. Ia bertanya pada Julian apa yang sebenarnya terjadi saat tadi menemui Noel.


Tanpa ada yang ditutupi, Julian menceritakan semuanya.


"Paman, Papa, kalian tenang saja. Aku pasti akan membantu untuk menemukan adikku yang hilang." Ucap Boy yakin.


Boy mengambil notebook miliknya lalu memainkan jari-jari lentiknya disana.


"Paman, lihat ini!"


Julian dan Roy saling pandang.


"Jadi kau berhasil meretas akun rekening milik Noel?" Tanya Julian.


Boy menggaruk tengkuknya. "Aku tidak sengaja, Paman."


"Tapi berkat kelihaian Boy, sepertinya kita memiliki harapan, Kak." Roy menunjuk satu nama.


"George Langdon?" Julian mengerutkan dahi.


"Tiga tahun lalu, Paman Noel mendapat kiriman uang dari luar negeri, tepatnya dari orang yang bernama George Langdon." Jelas Boy.


Julian mulai berpikir.


"Ada apa, Kak? Apa kakak mengenalnya?" Tanya Roy.


"Iya. Dia adalah klien baru di perusahaanku. Leon bilang dia menikahi orang Indonesia."


"Nak, apa kau bisa mencari tahu siapa yang dinikahi oleh George Langdon ini?"


"Tentu, Pa. Kecanggihan teknologi membuat kita bisa mengetahui apapun yang kita inginkan." Boy kembali memainkan jari-jarinya.


Tak lama kemudian, muncul sebuah data informasi yang menampilkan foto pernikahan George Langdon dengan seorang wanita.


"Hah?! Dia 'kan..." Julian membulatkan mata.


"Dia adalah Kartika Wijaya. Lian pernah bertanya tentangnya padaku." Ucap Roy.


"Iya, dia adalah Kartika pemilik Kartika Butik. Jadi, dia menikah dengan George Langdon?" Julian bertanya pada dirinya sendiri.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Suara Lian membuat ketiga pria itu menoleh kearahnya.


"Sayang? Kau sudah baikan?" Roy menghampiri Lian.


Namun Lian malah mendekat dan ingin tahu apa yang dilakukan ketiga pria itu di kamar Boy.


"Apa ini? Foto pernikahan siapa ini?" Lian menelisik dengan seksama.


"Dia adalah Kak Tika! Benar 'kan, Kak? Dia teman kuliah Kak Julian." Lian menatap Julian penuh tanya.


"Ma, tenanglah dulu!" Boy ikut bicara layaknya orang dewasa.


"Apa ini? Apa dia ada hubungannya dengan anak kita, Mas?" Lian menatap Roy dengan penuh ketegasan.


"Sayang... Kita masih belum tahu apakah..."


"Itu benar, Mas! Anak yang bersama Kak Tika adalah anak kita. Begitu 'kan? Aku sudah merasa memiliki ikatan batin sejak pertama kali bertemu dengannya. Dia mengingatkanku pada diriku. Dia mirip denganku, Mas!"


Lian makin histeris setelah mendapati kenyataan tentang putranya. Baik Roy maupun Julian tidak bisa membuat Lian tenang. Hingga akhirnya, Roy terpaksa menyuntik Lian dengan obat penenang.


"Maafkan aku, sayang..." Roy mengecup puncak kepala Lian yang kini tengah terlelap akibat pengaruh obat bius.


"Aku akan mencari informasi lebih lanjut mengenai hal ini, Roy. Tolong kau jaga Lian hingga kita menemukan bukti yang pasti jika anak yang bersama Kartika adalah benar anak kalian."


"Iya, Kak. Sekali lagi terima kasih."


Julian mengangguk kemudian menepuk pelan bahu Roy.


Keesokan harinya, Lian terbangun setelah semalam ia histeris dan membuat semua orang panik. Ia segera bersiap dan ingin menemui putranya yang sudah lima tahun amat ia rindukan.


Tanpa ada yang mengetahui, Lian mengendap-endap keluar dari rumah besar itu. Ia menyetop taksi kemudian menuju ke sekolah Nathan, anak Kartika.


Roy yang mendapat kabar jika Lian pergi dari rumah dengan sembunyi-sembunyi, segera menghubungi Julian dan meminta tolong padanya.


Julian mengecek posisi Lian di ponselnya.


"Sekolah Taman Kanak-kanak?" Gumam Julian yang masih tak paham kenapa Lian ada di sekolah.


"Astaga! Lian pasti nekat mendatangi sekolah anak itu. Aku harus segera pergi kesana!"


Julian segera menunda semua rapat dan bergegas menuju ke sekolah Nathan.


...B E R S A M B U N G...


"Mak Lian mau ngapaen ya?"


Yeay, finally sudah 100 episod... Senangnyaa bisa menghibur kalian hingga sepanjang ini, hehehe.


Harapanku adalah semoga aku tetap bisa berkarya menghibur kalian semua di aplikasi tercinta ini.


Terima kasih atas dukungan kalian pada Anak Mamak JHSDT ini ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜