
Dua keluarga sudah sepakat jika dalam seminggu kedepan, Natasha dan Boy akan mengadakan pesta pertunangan yang akan dibuat semeriah dan semewah mungkin. Tentu saja begitu, siapa yang tidak mengenal keluarga Avicenna dengan bisnisnya yang bagai gurita raksasa? Ditambah keluarga Watanabe yang juga tidak bisa di remehkan dalam dunia bisnis.
Natasha mulai sibuk dengan pengambilan gambar untuk drama terbarunya. Meski ia tak menyukai sikap Sean yang suka seenaknya mengubah beberapa adegan, namun para kru dan sutradara menyukai perubahan itu yang dinilai terlalu intim oleh Natasha. Ia sudah berjanji pada Boy akan mengurangi keintiman dengan lawan mainnya.
"Apa kau sengaja melakukan ini, Sean?" tanya Natasha dengan menyilangkan kedua tangannya.
Dengan santainya Sean menyesap rokok ditangannya dan menghembuskan asapnya ke udara.
"Tidak perlu marah begitu. Drama kita mendapat respon yang bagus dari masyarakat. Mereka menyukai chemistry yang terjadi diantara kita."
"Kau sangat menyebalkan!" Ingin rasanya memaki pria didepannya dengan banyak kalimat. Namun Natasha enggan berdebat dengan orang yang dinilainya kurang waras itu.
"Natasha! Karirmu sedang berada di puncak sekarang. Kau harusnya berterimakasih padaku."
Natasha menatap Sean jengah. "Terserah kau saja!" Ia meninggalkan Sean karena tak ingin terus berdebat.
Sean menatap kepergian Natasha dengan senyum seringai. "Aku tahu kau tidak akan rela jika harus meninggalkan dunia hiburan ini. Kau orang yang sangat suka dipuji dan disanjung. Tunggu saja hingga kau benar-benar meninggalkan pria sombongmu itu!" gumam Sean dengan kembali menyesap rokoknya.
......***......
"Boy, berkunjunglah ke makam kakek dan nenekmu sebelum hari pertunanganmu. Ajak juga Natasha kesana. Kau harus mengenalkan calon istrimu pada kakek dan nenek." Lian memberi nasihat pada putra sulungnya itu.
Meski dalam hati Lian masih belum bisa melepas putranya untuk dimiliki wanita lain, namun apalah daya. Cepat atau lambat semua ini pasti akan terjadi.
"Aku akan mengecek jadwalku dan Natasha dulu, Ma. Mama tahu kan jika Nat sekarang sudah kembali bermain drama," balas Boy dengan membuka ponsel pintarnya.
Lian hanya menghela napas. "Baiklah. Mama tidak akan memaksamu." Lian segera meninggalkan Boy yang masih sibuk di depan layar datarnya.
Tanpa permisi Nathan masuk ke kamar Boy.
"Kenapa kakak selalu mematahkan hati Mama?" Nathan marah pada kakaknya itu.
Boy tak suka dengan sikap Nathan yang seolah mengetahui semuanya.
"Kenapa kau selalu mencampuri urusan kakak?"
"Aku tidak akan ikut campur jika kakak tidak menyakiti Mama! Apa susahnya menuruti keinginan Mama?"
"Keluar dari kamarku! Kau masih anak-anak jadi kau tidak tahu kehidupan seperti apa yang dijalani oleh orang dewasa!" bentak Boy.
Nathan hanya menggeleng pelan.
"Apa menjadi dewasa begitu istimewa? Akan kupastikan aku tidak akan hidup seperti kakak ketika aku dewasa nanti." Nathan menutup perdebatan dengan kakaknya dan keluar dari kamar Boy.
......***......
"Sayang, kau sudah siap?" tanya Roy pada Lian.
"Iya, Mas. Aku juga sudah membeli bunga kesukaan Mommy," jawab Lian.
"Hanya kita saja kan yang akan berkunjung ke makam Mommy dan Daddy?" tanya Roy lagi.
Lian menghela napas panjang. "Iya, Mas. Hanya kita saja yang akan pergi. Boy bilang dia harus mengurus pekerjaan penting. Lalu Natasha juga masih di lokasi shooting."
"Sudahlah. Kita harus mengerti jika mereka juga memiliki kesibukan." Roy menepuk pelan bahu Lian.
"Aku jadi memikirkan bagaimana seandainya saat kita sudah meninggal nanti. Apakah anak-anak kita akan sering mengunjungi makam kita atau malah melupakan kita?" tanya Lian sendu.
Roy segera memeluk istrinya itu. "Sebagai orang tua kita sudah melakukan yang terbaik untuk mereka. Semoga anak-anak kita juga melakukan hal yang sama meski kita sudah tidak ada di dunia ini."
Lian mengangguk dalam dekapan Roy.
"Papa! Mama!" seru Nathan.
"Nathan, ada apa?" tanya Roy.
"Aku ingin ikut dengan kalian ke makam kakek dan nenek," jawab Nathan.
Lian mengembangkan senyumnya. "Baiklah, ayo!"
Akhirnya mereka bertiga yang berkunjung ke makam Donald, Dandy dan Helena. Roy masih ingat dengan jelas bagaimana ibunya saat meregang nyawa. Kekerasan yang dilakukan Zara saat di rumah tahanan ternyata membuat Helena mengalami luka dalam hingga akhirnya bertambah parah dan tak tertolong.
"Mommy sudah menebus semua kesalahannya. Aku yakin dia sudah tenang disana," ucap Lian saat Roy meletakkan sebuket bunga di atas makam Helena.
Lian mengusap punggung suaminya.
"Mom, apa Mom tahu, putra sulungku akan segera bertunangan. Dia sudah menemukan jantung hatinya. Doakan dia dari atas sana, Mom," cerita Roy sambil bersimpuh di makam Helena.
"Nenek, ini aku, Nathan. Maaf karena aku jarang mengunjungi nenek. Tapi tenang saja, mulai sekarang aku akan sering berkunjung kemari. Dan kau tahu, Nek. Aku tidak akan menikah muda seperti yang dilakukan oleh kakakku. Aku akan menjaga Mama dan Papa dulu baru aku akan menikah." Nathan bercerita dengan antusias.
Roy dan Lian tertawa kecil melihat putra bungsu mereka yang hangat dan perhatian.
"Hari sudah mulai sore. Ayo kita pulang!" ajak Nathan yang melihat Lian dan Roy masih betah berada di tanah sunyi itu.
"Iya, Nak. Ayo!" Roy merangkul bahu Lian. Mereka bertiga berjalan beriringan keluar dari area pemakaman.
......***......
"Natasha!" seru Cicind saat masuk ke ruang istirahat milik selebritis cantik itu.
"Astaga, Cicind! Kenapa berteriak?" Natasha yang sedang menghapus make up nya segera menoleh pada manager gemulainya itu.
"Lihat ini!" Cicind menunjukkan layar ponselnya.
"Drama yang kau bintangi bersama Sean mendapat ranking tertinggi bulan ini."
"Benarkah?" Mata Natasha berbinar senang.
"Iya. Aku bahkan menerima banyak telepon yang memintamu untuk menjadi bintang iklan bersama Sean."
"Eh?" Natasha tertegun.
"Ada apa? Apa kau tidak senang? Bukankah ini impianmu? Selama jenjang karirmu, drama inilah yang berhasil membuatmu menjadi bintang besar."
Natasha masih bergeming. "Tentu saja aku sangat senang, Cind. Ini adalah hasil kerja kerasku. Benar kan?"
"Iya. Kau harus bersiap karena kontrak kerja untuk iklan akan segera mereka kirimkan padaku." Cicind masih bersemangat berceloteh di depan Natasha yang malah terlihat bingung.
"Tasha, kau kenapa?" Cicind merasa jika ada yang aneh dengan wanita cantik ini.
"Kapan kontraknya dimulai? Bisakah menunggu setelah pertunanganku dan Boy?"
Cicind mendesah pelan. "Kau yakin akan mengumumkan hubungan kalian di depan publik?"
Pertanyaan Cicind terasa menohok relung hati Natasha. Usianya baru 22 tahun dan ia akan segera menikah? Benarkah? Karirnya baru saja dimulai dan kesuksesan sudah menanti dirinya.
"Tasha!" Cicind menggoyang tubuh Natasha pelan karena tak ada jawaban darinya.
Natasha berusaha mengulas senyumnya.
"Aku mencintai pekerjaanku, Cind. Tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Boy. Aku juga sangat mencintainya. Aku tidak bisa menolak permintaannya untuk mengumumkan hubungan kami."
Raut wajah Natasha terlihat sendu.
"Lakukanlah apa yang menurutmu benar. Tapi jangan pernah menyesalinya," nasihat Cicind. Pria gemulai ini nampaknya sangat tahu jika Natasha sedang mengalami dilemma.
"Pertunanganku tinggal tiga hari lagi. Aku pasti akan bahagia. Iya kan?" tanya Natasha dengan suara bergetar.
Cicind mengangguk pelan kemudian membawa Natasha dalam dekapannya. "Kau akan bahagia. Itu pasti!"
Natasha memejamkan mata berusaha mempercayai semua kata-kata Cicind.
...B E R S A M B U N G...
"Wah udah mau tunangan nih, adakah yg patah hati? hehehehe.
di visual sebelumnya, ada cast bernama Aleya, kira2 siapa ya Aleya? Kita tunggu kemunculannya ya 😁
Pleas leave Likes, Comments or Gifts. Thank You.
...HAPPY WEEKEND...
...HAPPY SUNDAY...