Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 04. The First Meeting


Lian kembali ke kamar hotel dan melihat Boy juga Patrick


sudah selesai membahas tentang misi mereka. Lian ikut duduk bergabung dengan


mereka.


“Apa sudah selesai?” Tanya Lian.


“Sudah, Ma. Paman Patrick ternyata orang yang sangat


menyenangkan.” Ucap Boy.


Lian hanya mengulas senyumnya.


“Mama dari mana saja?”


“Mama hanya berkeliling hotel. Sedang diadakan seminar di ballroom


lantai bawah.”


Lian memperhatikan Patrick yang terlihat canggung dengan


kebersamaan mereka. Lian sudah sering mendengar tentang Patrick, tapi ia belum


pernah bertemu dengan sosok itu.


“Apa tuan sudah lama tinggal di Indonesia?” Tanya Lian untuk


memecah keheningan karena Boy sibuk dengan tablet pintarnya.


“Ya lumayan, sekitar dua tahun.” Jawab Patrick.


“Jadi, tuan adalah warga Negara asing disini?”


“Tolong jangan memanggilku tuan. Panggil saja Patrick atau Pat.”


“Maaf. Aku hanya berusaha bersikap sopan saja.”


“Tidak apa. Sebaiknya kau jangan merasa sungkan. Karena mulai


sekarang, putramu bekerja denganku dan dalam pengawasanku.”


Lian mengangguk paham. “Apa kau sudah menikah?”


Entah kenapa pertanyaan Lian membuat semburat kesedihan di


mata Patrick.


“Maaf, aku tidak bermaksud untuk … “


“Tidak apa. Itu adalah pertanyaan umum. Kau pasti ingin tahu


seperti apa kehidupan seorang agen FBI. Apakah boleh menikah, atau harus terus


melajang. Itu adalah hal normal.”


Lian tertawa kecil. “Ya. Karena aku adalah orang awam dalam


hal seperti ini. Jadi, kupikir aku ingin mengetahui lebih banyak tentang


pekerjaan yang akan dilakukan oleh putraku.”


“Kau tenang saja. Putramu tidak melakukan pekerjaan yang


berbahaya. Kau sendiri tahu jika putramu sangat berbakat sebagai dokter forensic


kecil. Dan itu sungguh mengagumkan.”


“Lalu, apa misinya kali ini? Tuan Conrad Webster tidak


mengatakan lebih detil padaku.”


Satu bulan sebelum pindah, Lian dihubungi oleh pimpinan FBI


di Washington jika putranya menerima sebuah misi rahasia. Conrad ingin bicara


langsung dengan Boy. Dan entah apa yang mereka bicarakan, Lian sama sekali


tidak mengetahuinya.


Tanpa meminta persetujuan darinya, Boy menerima tawaran


Conrad untuk bertugas di Negara asal Lian, Indonesia. Sebenarnya Lian masih


enggan kembali ke Negaranya, mengingat kesakitan yang pernah dialaminya


beberapa tahun lalu. Ditambah ketakutannya akan orang-orang yang dulu pernah


mengejarnya. Ia takut jika hingga sekarang orang-orang itu masih mengejarnya.


“Nona…” panggil Patrick yang melihat Lian melamun.


“Eh?”


“Ini sudah waktunya jam makan malam. Bagaimana kalau aku


mengundang kalian untuk makan malam sebelum kuantar kalian pulang.” Tawar Patrick.


Lian menoleh kearah Boy seraya meminta persetujuan.


“Baik, Paman. Aku dan Mama akan menerima ajakan Paman.”


Patrick tersenyum, kemudian ia membawa Boy dalam


gendongannya. Lian hanya memperhatikan tubuh besar yang menggendong Boy dari


belakang. Tubuh besar dan berotot itu memang sangat cocok sebagai tubuh dari


seorang agen rahasia. Ditambah dengan ketampanan wajahnya yang bernuansa barat


dengan mata birunya. Menambah kesan plus bagi seorang Patrick Hensen.


Wajah Lian berubah sedih melihat kedekatan Boy dengan


Patrick. Sungguh selama ini ia tak pernah memberikan sosok ayah untuk Boy. Di usia


Boy yang hampir tujuh tahun, bahkan ia tak pernah bertanya dimana sosok sang


ayah. Kadang Lian merasa sedih dengan kondisi itu. tapi ia tetap berusaha tegar


untuk Boy.


Tak lama setelah keluar dari lift, mereka menuju sebuah


resto di hotel tersebut. Patrick menyapa seseorang yang di yakini sebagai


manajer restoran. Orang itu menunjuk sebuah meja kosong untuk ditempati


Patrick, Lian dan Boy. Kini mereka tampak seperti keluarga kecil yang bahagia.


Lian duduk dikursi dan memperhatikan sekitar. Lian mengagumi


tempat ini.


“Resto ini dinilai terbaik di kota ini.” ucap Patrick.


Lian hanya mengangguk. “Aku belum pernah datang kemari.” Ucap


Lian jujur.


“Itu justru sebuah keberuntungan untukku.” Patrick tertawa


renyah, begitu juga dengan Lian.


“Kau lurus saja lalu belok kekiri.” Jelas Patrick.


Lian mengangguk paham. Ia segera beranjak dari kursinya.


Sementara Boy, ia memperhatikan sekumpulan orang-orang yang


agak jauh dari meja mereka. Ada seorang pria yang menyita perhatiannya. Ia merasa


pernah melihat sosok pria itu.


“Paman…” Panggil Boy.


“Iya.”


“Apa paman tahu siapa pria yang ada disana?” Tanya Boy


dengan menunjuk satu pria tampan berwajah bule memakai setelan jas berwarna


navy.


“Hah?” Patrick sedikit terkejut. Namun tak lama wajahnya


kembali datar.


“Ada apa, Boy?”


“Tidak ada. Sepertinya dia pria yang hebat. Buktinya banyak


orang-orang yang menjabat tangannya.”


“Dia adalah Vincent Roy Avicenna. Pewaris Avicenna Group


yang terkenal itu. Kau pernah mendengar tentang Avicenna Group?”


“Iya. Aku pernah mendengarnya. Baru-baru ini anak cabangnya


yang bergerak di bidang IT meluncurkan program software baru. Dan paman tahu, ternyata


aku juga bisa membuatnya.”


“Eh?”


“Jika paman ingin tahu, aku akan menunjukkannya pada paman.”


“Hmm, baiklah. Besok saat membahas soal misimu, Paman ingin


melihat software buatanmu itu.”


Sepuluh menit kemudian, pesanan mereka telah terhidang di


atas meja. Boy makan dengan lahap. Dengan kegiatannya yang banyak menguras


otak, tentu saja ia harus mendapat asupan gizi yang baik. Lian tersenyum


melihat putranya yang makan dengan lahap.


Sayup-sayup terdengar suara tawa menggelegar dari meja samping


mereka. Lian menoleh kearah seorang pria yang sedang tertawa. Lian membulatkan


matanya.


“Dia ‘kan … pria yang tadi kutabrak.” Batin Lian.


Lian memperhatikan dengan seksama pria tampan yang penuh


dengan karisma.


“Astaga! Ternyata dia bisa juga tersenyum. Kupikir dia pria


yang sangat dingin. Bahkan tadi dia sama sekali tidak merespon saat aku


menabraknya.” Batin Lian lagi.


Boy melirik Lian yang masih menatap Roy dengan tatapan penuh


kekaguman. Boy tersenyum penuh arti.


“Ya ampun, Lian! Ingat! Kau sudah punya anak. Jangan berpikir


macam-macam apalagi mengharapkan cinta seorang pria. Kau harus hidup untuk


anakmu. Ingat itu, Lian!” Lagi-lagi Lian bermonolog dalam hati.


Usai makan malam, Patrick menawarkan diri untuk mengantar Boy


dan Lian kembali ke apartemen Riana. Mereka berjalan bertiga menuju lobi hotel.


Namun tiba-tiba Lian berseru jika ia tak menemukan ponselnya di tas.


“Sepertinya tertinggal di meja resto. Mama akan mengambilnya


dulu. Kau dan Paman Patrick tunggu di dalam mobil saja ya.” Lian segera berlari


meninggalkan Boy dan Patrick. Ia berharap semoga saja ponselnya masih ada di


meja.


Lian memasuki area resto dan segera berjalan cepat menuju


mejanya tadi. Lian tidak melihat ada benda tertinggal disana.


“Kenapa tidak ada? Atau mungkin jatuh di bawah meja?” Lian


berjongkok dan menajamkan penglihatannya untuk mencari benda pipih itu, namun


masih belum dia temukan.


“Apa kau mencari ini, Nona?” sebuah suara berat terdengar di


telinga Lian dan membuatnya mendongakkan kepala.


“Hah?!” Liat terkejut karena itu adalah suara dari pria yang


sempat ia kagumi tadi. Pria itu mengulurkan tangannya untuk membantu Lian


berdiri.


Lian memandangi tangan besar pria itu kemudian menerima


uluran tangan itu. Entah kenapa degup jantungnya tak beraturan saat berhadapan


dengan pria tampan seperti ini.


“Te-terima kasih,” ucap Lian gugup. Lian memang tidak pernah


dekat dengan pria manapun sejak kejadian yang pernah menimpanya dulu.


Pria itu memberikan ponsel Lian yang ada ditangannya. “Lain


kali kau harus lebih hati-hati. Jangan ceroboh!” ucap pria itu kemudian berlalu


dari hadapan Lian.


Lian menggeleng pelan dan mengelus dadanya yang sempat


berdebar. “Astaga! Ternyata dia pria yang sangat menyebalkan!”


bersambung