Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 165. Aku Bukan Jodohnya


"Aleya, bisakah kita melakukan kesalahan itu sekali lagi?"


Aleya terdiam. Ia masih menimang-nimang apa yang akan ia katakan pada Boy.


"Kak, sebaiknya kita bicarakan masalah ini nanti saja. Ini sudah malam. Aku tidak enak jika ada yang melihat kakak ada disini. Aku permisi. Sekali lagi terima kasih." Aleya sedikit membungkukkan badannya sebelum keluar dari mobil Boy.


Boy tidak bisa memaksakan kehendaknya pada Aleya. Ia hanya diam memperhatikan Aleya masuk ke dalam rumah.


Setelah memastikan Aleya masuk ke dalam rumah, Boy melajukan mobilnya kembali ke rumahnya.


Aleya masuk ke dalam rumah Zetta dengan memegangi dadanya. Sungguh ia sebenarnya senang dengan pernyataan Boy. Tapi ia masih ragu dengan hatinya yang takut terluka.


Aleya berjalan menuju kamarnya namun seketika berhenti saat mendengar suara tangisan dari kamar Zetta. Aleya yang panik langsung masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu.


"Kak Zetta!" seru Aleya menghampiri Zetta yang sedang menangis di tempat tidur.


"Aleya! Bagaimana ini?" Zetta memeluk Aleya dan menumpahkan segala kesedihannya.


"Ada apa, Kak?" tanya Aleya sambil mengusap punggung Zetta yang bergetar.


"Dia kembali, Al. Dia kembali... Bagaimana aku bisa menghadapinya?"


"Dia?" Aleya sedikit bingung dengan kata-kata Zetta. Namun akhirnya ia mengerti jika semua ini pasti ada hubungannya dengan Kenji.


"Jadi, kakak bertemu dengannya?" tanya Aleya hati-hati.


"Iya. Aku pikir dia tidak mengenaliku, tapi ternyata..."


Zetta mengurai tangannya yang memeluk Aleya. Tangisnya mulai reda. Aleya menatap kakak sepupunya dengan sedih. Pasti saat ini Zetta mengalami dilema yang cukup berat.


"Sebaiknya kakak istirahat. Kita bicara lagi nanti. Ya?" Aleya menyeka sisa-sisa air mata Zetta di pipinya.


Zetta mengangguk. "Terima kasih, Aleya. Lalu, bagaimana hubunganmu dengan Boy?"


"Sudahlah, Kak. Aku tidak ingin membahasnya dulu."


"Baiklah. Apa pun keputusanmu, kakak akan selalu mendukungmu."


"Terima kasih, Kak. Selamat malam." Aleya beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamar Zetta.


"Selamat malam, Aleya."


......***......


Hari ini Aleya disibukkan dengan kuliahnya yang cukup padat. Aleya sengaja mengambil banyak mata kuliah agar studinya cepat selesai dan segera kembali ke desa. Rasanya ia mulai merindukan kehidupan desa yang jauh dari hiruk pikuk kota yang menyesakkan.


Pukul tiga sore Aleya baru keluar dari kelasnya. Ia memegangi perutnya yang terasa perih. Ia ingat jika tadi melupakan makan siang karena sibuk di perpustakaan.


Aleya meringis kesakitan. Ia mengedarkan pandangan dan hendak menuju ke kantin.


"Kau ini seorang dokter tapi melupakan kondisi tubuhmu sendiri."


"Heh?!" Sebuah suara yang tak asing membuat Aleya mengurungkan niat pergi ke kantin.


"Ayo ikut!" Tanpa menunggu persetujuan Aleya, orang itu segera menarik tangan Aleya dan menggenggamnya.


Sontak pemandangan kedua insan itu menjadi pusat perhatian mahasiswa yang ada di kampus.


"Kak, lepaskan tanganku!" pinta Aleya.


"Tidak akan! Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu lagi," jawab orang itu cuek. Siapa lagi kalau bukan Boy, sang duda tampan, hehe.


"Ish, dasar pemaksa!" gerutu Aleya dengan mengerucutkan bibirnya.


Boy yang berjalan disamping Aleya hanya bisa tersenyum penuh kemenangan. Ia sengaja mencari tahu jadwal kuliah Aleya agar bisa menemui gadis itu.


"Berhenti mengerucutkan bibirmu atau aku akan membungkammu disini!"


Aleya segera diam dan dan menutup rapat bibirnya.


Mereka tiba di parkiran kampus. Boy membukakan pintu mobil untuk Aleya lalu ia memutar dan masuk ke dalam mobil.


"Kita mau kemana?" tanya Aleya.


"Aku akan menculikmu," jawab Boy santai sambil menginjak pedal gas. Kali ini ia tak membawa mobil otomatisnya. Sekali kali ia ingin berkendara dengan normal.


"Ish, kakak! Jangan bercanda!"


"Kau harus makan, Aleya. Kau sendiri seorang dokter tapi kau tidak menjaga kesehatanmu. Bagaimana pasienmu akan percaya denganmu jika kau sendiri tidak memperhatikan pola makan dan gaya hidupmu?" cerocos Boy panjang lebar menasihati Aleya.


Aleya memegangi perutnya.


"Apa perutmu sakit? Sebentar, aku punya obat untuk lambung." Boy menepikan mobil dan mencari kotak obat.


Aleya tercengang karena Boy punya perlengkapan lengkap untuk pertolongan pertama.


"Ini, minumlah. Setelah ini kita makan dulu sebelum pulang."


Aleya mengangguk. "Terima kasih, Kak."


Usai Aleya meminum obat, Boy kembali melajukan mobilnya. Mereka menuju sebuah resto yang cukup terkenal di kota.


Boy hanya menatap Aleya yang lahap menyantap makanannya. Sesekali ia tersenyum karena bisa melihat gadisnya makan dengan lahap.


"Lain kali jangan sampai terlambat makan. Kau terlalu meremehkan kesehatanmu."


Aleya terdiam mendengar kalimat Boy.


"Jadi, bagaimana? Apa kau sudah punya jawabannya?"


"Eh?" Aleya menatap Boy.


"Kau belum menjawab pertanyaanku."


Aleya menghentikan makannya. Ia meneguk jus alpukat yang dipesankan Boy untuknya.


"Apa aku harus menjawabnya sekarang?" tanya Aleya.


"Tidak! Tunggu sampai musiknya menyala."


"Eh?" Aleya mengernyitkan dahi.


Sebuah alunan musik romantis terdengar di pengeras suara. Boy bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya.


"Bolehkah aku berdansa denganmu?"


"Eh? Tapi ... aku tidak bisa berdansa," jawab Aleya canggung.


Aleya menyambut uluran tangan Boy. Mereka mulai bergerak mengikuti alunan musik. Aleya menginjak kaki Boy beberapa kali. Ia pun meminta maaf.


"Naikkan kakikmu diatas kakiku!"


"Eh?" Aleya lagi-lagi bingung dengan apa yang dikatakan Boy.


Boy menarik pinggang Aleya mendekat dan membuat jarak mereka semakin dekat. Kaki Aleya kini berada diatas kaki Boy. Mereka bergerak bersama.


Aleya tersenyum geli dengan apa yang dilakukan Boy. Ketika Boy makin mengikis jarak diantara mereka, Aleya malah menghindar.


"Maaf, Kak. Aku tidak bisa."


Seketika Boy berhenti dan melepaskan Aleya.


"Maksudmu?" tanya Boy.


"Aku ... masih belum siap untuk memiliki hubungan dengan siapapun. Aku masih ingin fokus dengan studiku." Aleya gugup saat mengatakan isi hatinya.


Sejenak Boy mencerna kata-kata Aleya, hingga akhirnya ia menjawab,


"Baiklah. Aku menghargai keputusanmu. Tapi, aku masih boleh menemuimu, kan?"


Aleya mengangguk.


"Jika aku ingin melakukan lebih apa kau..."


"Kak!" Protes Aleya.


"Baiklah. Aku akan menjaga jarak." Boy mengangkat kedua tangannya.


......***......


Dion mengajak Zetta makan malam romantis di resto Royale Hotel. Dion sengaja menyewa private room untuknya dan Zetta.


Tiba disana, Zetta merasa tidak ada keanehan sama sekali dengan sikap Dion. Namun ketika memasuki sebuah ruang pribadi yang cukup mewah itu, Zetta memelototkan matanya.


"Kau!" ucap Zetta menunjuk seseorang yang sudah ada didalam ruang itu.


Zetta menoleh kearah Dion.


"Kalian harus bicara," ucap Dion.


Zetta mengerutkan keningnya tidak mengerti apa maksud Dion mempertemukannya dengan Kenji.


"Duduklah dulu, Zetta," ucap Kenji.


"Aku akan memberikan waktu untuk kalian berdua. Selesaikan masalah kalian." Dion berlalu dari ruang itu dengan hati yang sesak. Meski begitu ia ingin tahu apakah Zetta akan tetap memilihnya atau memilih bersama ayah kandung Andra.


Zetta duduk berhadapan dengan Kenji.


"Untuk apa kau meminta Dion melakukan ini?" tanya Zetta sinis.


"Ini bukan keinginanku. Dionlah yang mengundangku kemari," sahut Kenji.


Zetta menghela napasnya.


"Ada hal yang harus kita perjelas disini," ucap Kenji lagi.


BRAK!


Zetta menggebrak meja. "Tidak ada yang perlu kita bicarakan!"


"Tolong tenanglah dulu. Aku minta maaf atas apa yang pernah kulakukan empat tahun lalu. Aku tidak menyangka jika kita ... sampai melakukan hal itu. Saat itu kita sama-sama dalam pengaruh alkohol. Tapi, aku sadar jika saat itu kau juga menginginkannya."


Zetta memejamkan mata mendengar semua cerita Kenji.


"Cukup! Jangan katakan lagi!" Zetta mulai berkaca-kaca.


"Aku tidak ingin mengingat semua itu! Bagiku semua itu hanyalah masa lalu. Dan kau? Bukankah kau memang biasa melakukan hubungan satu malam? Jadi untuk apa kau meminta maaf padaku?"


"Karena kau berbeda..."


Zetta menatap mata Kenji mencoba mencari kebenaran dari sorot matanya.


"Saat itu entah kenapa aku merasakan getaran yang berbeda. Kau gadis yang berbeda dengan semua gadis yang pernah..."


"Hentikan! Aku tidak butuh semua alasanmu! Kita sudahi saja sampai disini. Aku dan Dion saling mencintai. Dan kau adalah sahabatnya. Jadi aku mohon ... jangan ganggu hidupku lagi!" pinta Zetta dengan mata penuh genangan air mata.


"Bagaimana dengan anakku?"


"Hah?!" Zetta membulatkan matanya.


"Kau melahirkan seorang anak, dan itu adalah anakku. Benar, kan?"


Zetta mengepalkan tangan. "Bukan! Anak itu bukan anakmu! Andra adalah anakku! Hanya anakku!" tegas Zetta.


"Baiklah. Aku mengerti. Tapi, bisakah izinkan aku bertemu dengannya sekali saja?"


Zetta mengatur napasnya yang memburu. Ia tak ingin Kenji mengenal Andra begitupun sebaliknya.


Namun lagi-lagi Zetta dibuat terkejut dengan kedatangan Andra bersama Dion.


Sontak Kenji langsung beranjak dan menghampiri Andra. Pria itu mensejajarkan tubuhnya dengan Andra.


"Halo, Nak. Siapa namamu?" tanya Kenji.


"Namaku Andra, Paman. Paman ini siapa?" tanya Andra polos.


Tanpa menjawab pertanyaan Andra, Kenji segera memeluk bocah itu dan mendekapnya erat.


"Anakku! Anakku!" seru Kenji dengan isakan tangis.


Zetta ikut terharu dengan pemandangan yang dilihatnya. Sebuah kerinduan seorang ayah pada anaknya jelas terlihat disana. Ia pun tak kuasa menahan tangisnya.


Di ruangan itu kini hanya terdengar suara tangisan yang saling bersahutan.


...B E R S A M B U N G...


*aduh, ikutan sedih euy di part akhirnya. Hiks hiks hiks.


Rekomendasi Novel hari ini,