Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 106. Kebahagiaan Julian


Satu tahun telah berlalu sejak kecelakaan yang menimpa Julian. Kondisinya pulih total dengan Kartika yang selalu mendampinginya. Ingatannya mengenai Lian memang tidak kembali. Namun hubungan keduanya menghangat sebagai sebuah keluarga.


Lono telah berhasil menciptakan banyak formula yang ia kembangkan untuk kemajuan para nelayan di desanya yang kini sudah kembali ramai. Desa pesisir pantai itu sudah kembali hidup dengan penduduk yang memang tak bisa lepas dari melaut.


Hari ini Lian sibuk mempersiapkan pesta pernikahan kakak iparnya. Banyak hal yang terjadi selama satu tahun ini dan Lian bahagia karena Julian akhirnya menemukan kebahagiaannya dari seorang Kartika.


Tentu saja pesta pernikahan Julian dan Kartika bukanlah pesta biasa. Kedua mempelai adalah orang berpengaruh dalam dunia bisnis. Sedari pagi Lian berkutat di dalam ballroom hotel untuk memastikan semuanya nampak sempurna dimatanya.


Setelah berjam-jam berada di hotel, Lian kembali ke rumah dengan tubuh lelahnya. Ia disambut oleh Roy yang merentangkan tangannya.


"Kau terlihat sangat lelah. Terima kasih karena sudah mengurus semuanya dengan sangat baik." Roy memeluk istrinya untuk menghilangkan rasa lelah ditubuh Lian.


"Kau ini bicara apa, Mas. Kak Julian adalah keluargaku juga. Sudah sepantasnya aku melakukan ini." Lian mengeratkan pelukannya di tubuh lelaki yang amat ia cintai itu.


Mereka berdua masih berada di luar kamar ketika bibir mereka beradu dan saling saling menyesap. Lian amat merindukan sentuhan suaminya yang selalu sibuk dengan urusan perusahaan juga rumah sakit. Meski lelah, Lian tidak akan menyia-nyiakan momen ini. Lian melingkarkan tangannya ke leher Roy agar ciuman mereka menjadi lebih intens.


"Astaga! Mama! Papa!" Suara Boy membuat Lian dan Roy membuka mata.


Lian dan Roy tersentak dan segera saling melepaskan diri. Kedua putra mereka memandangi mereka dengan aneh.


"Apa begitu cara orang dewasa mengungkap rasa cinta?" tanya si bungsu Nathan dengan polos.


Lian tersenyum canggung. "Sayang, ini sudah malam. Kenapa belum tidur?" Lian merangkum wajah mungil putranya.


"Aku tidak bisa tidur. Aku ingin tidur dengan Papa dan Mama," rengek Nathan.


Roy dan Lian saling pandang.


"Baiklah, ayo!" Lian membawa Nathan masuk kedalam kamar.


Roy mendesah pelan. "Gagal lagi!" gumamnya.


"Sepertinya Papa dan Mama harus berbulan madu." Si sulung Boy seakan mengerti dengan ungkapan hati ayahnya.


"Ish, kau ini! Kau masih terlalu kecil untuk tahu masalah seperti ini," ucap Roy.


"Aku sudah 12 tahun, Pa. Aku sudah cukup tahu soal hubungan pria dan wanita." Boy mengedipkan matanya kearah Roy.


"Papa tenang saja! Setelah pesta pernikahan Paman Julian, aku akan siapkan kejutan untuk kalian berdua. Lagi pula Mama juga butuh liburan, Pa. Kalau begitu, selamat beristirahat, Pa. Aku akan kembali ke kamarku."


"Kapan anak itu berubah menjadi begitu dewasa? Apa aku melewatkan banyak hal tentangnya? Mungkin karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku," gumam Roy saat melihat punggung Boy menjauh.


......***......


Hari pernikahanpun akhirnya tiba. Julian mengucap janji suci untuk mencintai Kartika selama sisa hidupnya, menemaninya dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit.


Semua terharu dengan janji yang diucapkan Julian. Begitu juga dengan Kartika yang tak terasa meneteskan bulir bening di hari pernikahannya. Ini memang bukan pernikahan pertama untuk Kartika, namun kebahagiaan yang ia rasakan seakan menjadi saksi jika Julian adalah cinta pertama dan terakhirnya.


Julian menyeka air mata Kartika. "Jangan menangis, ini adalah hari bahagia untuk kita."


"Aku menangis karena aku terlalu bahagia, Julian. Aku mencintaimu, selalu mencintaimu."


"Harusnya aku yang mengatakan itu." Julian menangkup wajah Kartika dengan tangannya kemudian mendaratkan sebuah kecupan manis untuk istrinya itu dihadapan semua para tamu yang hadir.


Sungguh pasangan yang membuat iri. Bahkan Lian dan Roy ikut terharu bahagia dengan kegembiraan yang terlihat di wajah kakak mereka.


Pesta dansa pun di mulai dengan pasangan masing-masing. Pasangan pengantin berdansa dengan indahnya diikuti dengan para tamu undangan yang hadir.


Roy menatap Lian dalam selama mereka berdansa.


"Aku tidak ingin malam ini cepat berakhir," bisik Roy.


"Hei, harusnya aku yang bicara begitu!"


Lian makin tergelak. "Aku bersyukur karena kita bisa melewati semua ujian ini. Bertahun-tahun kita berjuang, akhirnya kita memetik buah kesabaran kita."


"Iya. Berjanjilah kau akan selalu disisiku, menemaniku hingga maut memisahkan kita."


"Iya, Mas. Aku berjanji."


Setelah mendengar jawaban dari Lian, Roy mulai mengikis jarak diantara mereka. Roy menyentuh bibir Lian dengan bibirnya. Pelan dan berirama. Hingga musik dansa berakhir, mereka masih asyik dengan dunia mereka sendiri. Mereka bahkan tak peduli jika kini semua orang menatap kearah mereka.


Julian dan Kartika saling pandang melihat Roy dan Lian yang sedang memadu kasih. Julian memberi tepuk tangan meriah yang diikuti oleh para tamu undangan yang hadir.


Roy dan Lian terhenyak karena mereka mendengar suara tepuk tangan di seluruh ruangan ballroom.


"Astaga, Mas! Apa kita sudah membuat sebuah pertunjukkan?" Lian menutupi wajahnya karena malu.


Roy malah terkekeh dan menatap kakaknya yang semakin keras memberikan tepuk tangan. Roy membawa Lian dalam dekapan.


"Anggap saja kita adalah mempelai pengantinnya, sayang," bisik Roy.


Lian makin mengeratkan tubuhnya pada tubuh Roy. Rasa malunya tak bisa lagi ia tutupi. Roy pun akhirnya membawa Lian keluar dari lantai dansa.


......***......


Seperti yang sudah dijanjikan oleh Boy, ternyata ia sudah menyiapkan sebuah paket bulan madu untuk ayah dan ibunya ke sebuah destinasi wisata di timur Indonesia. Bahkan Julian dan Kartika memilih tidak berbulan madu karena Kartika lebih suka bercengkerama bersama Nathan dan Boy di rumah.


Julian mengajak kedua keponakannya pergi ke taman hiburan di kota. Nathan amat bersemangat menaiki semua wahana. Namun di usianya yang menginjak 6 tahun tidak memungkinkan dirinya untuk menaiki semua wahana.


Julian yang sudah berumur pun tidak ingin kalah dengan Boy. Ia juga menaiki beberapa wahana ekstrem yang membuat jantung berdetak lebih kencang dari biasanya.


"Paman berani melakukannya?" tanya Boy yang merasa tidak yakin.


"Tentu saja Paman yakin. Apa kau meragukan kemampuan Paman, huh?!"


"Tidak, hanya saja..." Entah kenapa Boy merasa jika ini bukanlah hal yang baik. Firasatnya mengatakan sesuatu.


"Tenang saja! Paman akan baik-baik saja." Julian berjalan maju untuk ikut masuk dalam antrian orang-orang dewasa yang akan menaiki wahana.


Kartika dan Nathan sedang beristirahat di sebuah kedai makanan karena Nathan kelelahan setelah bermain seharian.


Julian berpegangan erat dan mengatur nafasnya sebelum wahana mulai berjalan.


Ketika mesin wahana mulai membawanya naik keatas ketinggian, Julian mulai menutup mata. Jantungnya berdegup kencang kala mesin itu bergerak turun dengan kecepatan yang sungguh cepat.


Mata Julian yang terpejam seakan melihat kepingan-kepingan memori yang telah lama ia lupakan.


Julian membuka matanya dan berteriak,


"BERLIAN!"


......***......


...B E R S A M B U N G...


"Happy Weekend kesayangan mamak...


Sampai ketemu lagi nanti malam, mamak pergi arisan dulu ya, ha ha πŸ˜ƒπŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹"