
Rion menggeleng pelan setelah mengetahui bahwa dunia yang dipijaknya ini hanyalah sebuah lingkaran yang pada akhirnya akan kembali pada satu titik. Melihat kedekatan Andra dan Aurel yang terlihat akrab, membuat hatinya tersentak dan menginginkan sebuah akhir yang tidak akan bisa membuatnya menjadi pemenang.
"Aurel sayang, Paman ingin memeriksa kondisi Andra dulu ya! Aurel bisa bergeser sebentar?" ucap Rion dengan suara lembut.
Aurel mengangguk kemudian menghambur memeluk Boy.
"Papa, apa Papa tahu? Kalung yang Aurel pakai ini banyak sekali yang menyukainya," celoteh bocah cantik itu.
"Oh ya? Siapa saja?" Boy melirik Aleya.
"Mama dan juga Bunda Andra. Bahkan ibu guru bilang kalungku juga sangat bagus. Iya kan, Bunda?" tanya Aurel menyentak lamunan Aleya.
Aleya hanya membalasnya dengan senyuman.
"Papa beli dimana kalung ini? Sepertinya mama menyukainya. Bagaimana kalau Papa belikan juga untuk mama?"
"Eh?" Lagi-lagi Boy melirik Aleya.
Rion yang sedang memeriksa kondisi Andra, tidak bisa berkonsentrasi melihat keakraban yang terjalin dengan ketiga orang itu.
"Kau mengalami alergi, sayang. Tapi kau tenang saja. Paman akan menyembuhkanmu."
Kata-kata Rion membuat Aleya mendekat ke brankar Andra.
"Alergi apa, Kak?" tanya Aleya.
"Kau juga seorang dokter. Kau pasti tahu apa yang terjadi dengan Andra."
"Makanan?" ucap Aleya ragu. Rion mengangguk.
"Bunda, maafkan aku. Ini semua salahku. Aku yang sudah mengajak Andra untuk jajan di luar. Tolong maafkan aku, Bunda."
Aleya mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Aurel.
"Iya, sayang. Lain kali kau harus hati-hati dalam memilih makanan. Bunda juga akan lebih memperhatikan makanan yang dimakan oleh Andra nanti." Aleya mengusap puncak kepala Aurel.
"Aurel, Papa harus kembali bekerja. Ayo kita pulang! Biarkan Andra istirahat agar lekas sembuh," ujar Boy membujuk putrinya.
Aurel cemberut namun ia juga mengerti kondisi Andra yang harus beristirahat. Ia pun akhirnya mengangguk paham. Ia berpamitan pada Aleya.
Boy berpamitan pada Rion dan Aleya. Sepeninggal Boy, Rion berbisik bahwa ada hal yang harus ia bicarakan.
Rion mengajak Aleya ke ruangannya untuk bicara. Imah yang tadi makan siang di kantin sudah kembali.
"Bi, titip Andra ya! Aku akan bicara dengan Kak Rion."
"Baik, Nona."
Tiba di ruangan Rion, Aleya harap-harap cemas menantikan apa yang akan Rion katakan.
"Ada apa, Kak?"
"Begini, Aleya. Ini adalah hasil pemeriksaan alergi yang di derita Andra." Rion memberikan sebuah map pada Aleya.
Aleya menerima dan membaca hasil laboratorium milik Andra.
"Alergi makanan laut?" tanya Aleya.
Rion mengangguk. "Ditemukan beberapa partikel dari makanan laut yang dimakan oleh Andra. Ada kemungkinan faktor genetik yang mempengaruhinya."
"Maksud kakak dari orang tuanya? Setahuku Kak Zetta tidak alergi terhadap makanan laut. Apa mungkin..."
Aleya menatap Rion dengan penuh tanya.
"Ayah kandung Andra? Kakak mau bilang jika Andra mengalami hal yang sama dengan ayah kandungnya?" tebak Aleya.
"Iya, benar."
"Apa kakak masih mencurigai kak Dion sebagai ayah kandung Andra?"
Rion terdiam.
"Kalau begitu kakak harus melakukan tes DNA terhadap mereka berdua! Kita juga harus meminta kak Dion agar segera menikahi kak Zetta. Kasihan Andra, Kak!" tegas Aleya.
Rion menghela napas.
"Tidak, Aleya. Kakakku bukan ayah kandung Andra."
"Eh? Kakak yakin? Kakak sudah melakukan pemeriksaan?"
Rion mengangguk. "Kakakku tidak memiliki alergi terhadap makanan laut."
"Lalu siapa ayah kandung Andra yang kakak curigai?"
"Ada satu orang yang kami kenal dengan baik dan memiliki alergi yang sama dengan Andra."
"Siapa, Kak?"
"Kenji. Dia juga memiliki alergi seperti Andra."
"Hah?! Kak Kenji?" Kepala Aleya mendadak pening. Ia terduduk lemas di sofa.
"Kau benar! Semua kesimpulanmu benar!" Sebuah suara memasuki ruangan Rion.
"Kak Dion?" Aleya menatap Dion tak percaya.
"Maafkan aku, Aleya. Aku tidak mengatakan apapun karena Zeze yang menginginkannya. Kau tahu bagaimana Kenji. Dia adalah petualang wanita. Tapi entah kenapa malam itu ia lupa memakai pengaman. Mungkin ini semua sudah takdir Tuhan. Aku memergoki Zeze yang keluar dari kamar hotel yang ditempati Kenji," jelas Dion.
"Apa kak Kenji tahu jika ia memiliki anak dari kak Zetta?"
Dion menggeleng. "Tidak! Dia bahkan tidak tahu siapa wanita yang tidur bersamanya malam itu. Tapi Zeze tahu jika ia tidur bersama Kenji."
"Tapi aku mencintai Zeze. Aku berjanji akan bertanggung jawab sebagai ayah Andra."
"Hah?!" Aleya dan Rion kaget bersamaan.
"Apa maksud kakak? Kakak akan menikahi Zetta?" tanya Rion.
"Aku mencintainya, Rion. Aku menerima Zeze apa adanya," tegas Dion.
Rion memijat pelipisnya pelan. Ia sengaja mengundang Dion untuk menjelaskan semuanya pada Aleya. Namun ternyata ada fakta yang tersembunyi dibalik semua rahasia yang tersimpan.
...***...
Malam ini, Aleya bergantian jaga dengan Imah. Besok pagi Aleya ada kelas kuliah, ia tak bisa meninggalkannya begitu saja. Rion dengan senang hati mengantarkan Aleya pulang ke rumah.
Aleya merasa senang karena meski ia sedang dilanda musibah, Rion selalu setia bersama dan mendampinginya. Hati Aleya mulai tergugah dengan segala perhatian Rion padanya.
Rion adalah pria yang hangat. Sejak Aleya pertama kali mengenalnya hingga saat ini.
"Mungkin sudah saatnya aku membuka hatiku untuk kak Rion. Dia sangat baik padaku dan Andra. Aku harus bicara dengannya malam ini juga," batin Aleya dengan memantapkan hati.
Wajah Rion terlihat lelah setelah seharian berkutat dengan pekerjaannya.
"Kakak pasti lelah. Seharusnya kakak membiarkan aku naik taksi saja."
"Tidak apa! Siapa bilang aku lelah? Aku justru sangat senang karena bisa berdua saja denganmu."
Aleya tersipu malu. Ia kembali menatap jalanan di depannya.
Tiba di depan rumah, Aleya dan Rion masih membisu di dalam mobil. Aleya menimang-nimang bagaimana cara mengungkapkan isi hatinya pada Rion.
"Aleya!"
"Eh?"
"Sudah sampai."
"Oh, iya ya!" Aleya salah tingkah.
"Apa ada yang ingin kau katakan?" tanya Rion.
"Umm, begini. Aku ... Aku ... Ingin berterimakasih pada kakak. Kakak sudah membantuku dan menolong Andra."
"Itu sudah menjadi tugasku sebagai seorang dokter. Aleya, apa ada yang mengganggu pikiranmu?"
"Aku menerimamu, Kak," ucap Aleya dengan cepat.
"Eh? Apa kau bilang?"
"Aku menerima kakak!" Aleya memberanikan diri menatap Rion.
"Kau serius?"
Aleya mengangguk mantap.
Rion tersenyum dan membawa Aleya dalam pelukannya. "Terima kasih, Aleya. Terima kasih."
Rion melepas pelukannya. "Aku sangat bahagia. Semua rasa lelahku telah hilang."
Aleya tersenyum.
"Aku sangat mencintaimu, Aleya. Selalu mencintaimu."
Tanpa menunggu lagi, Rion tak memberi jarak diantara mereka. Rion segera meraih benda kenyal yang selalu menggodanya, menyesapnya dengan lembut dan berirama.
Aleya memejamkan mata merasakan sebuah ciuman yang begitu lembut dan tak memaksa. Aleya terbuai dengan permainan Rion.
Rion makin memperdalam ciumannya membuat sebuah hasrat mulai membara.
"Kak..." Aleya mendorong tubuh Rion pelan.
Rion mengusap bibir Aleya. "Maaf, ya. Aku terlalu senang. Ini sudah malam, sebaiknya kau masuk. Jika kau tidak segera masuk, aku bisa berbuat lebih."
Aleya menunduk malu dan mengangguk.
"Besok aku akan menjemputmu! Mulai sekarang akulah yang akan mengantarmu kemanapun kau pergi."
"Ish, kakak! Aku bisa pergi sendiri ke kampus."
"Kau adalah kekasihku. Jadi, aku akan menjagamu." Rion menutup perpisahan mereka dengan sebuah kecupan singkat berkali-kali di bibir Aleya.
"Kak!" protes Aleya.
"Oke, baiklah. Pastikan kau menutup pintu dengan benar."
"Iya, Kak." Aleya turun dari mobil Rion. Ia melambaikan tangan ketika mobil Rion mulai melaju.
Aleya memegangi dadanya. "Semoga ini adalah awal yang baik untukku dan juga kak Rion. Semoga saja!" gumam Aleya kemudian masuk ke dalam rumah.
...B E R S A M B U N G...
*CIYEEEEE, ada yg baru jadian nih. Semoga langgeng ya!
Nah sudah tahu kan siapa ayah kandung Andra. Apakah akan ada yg memberitahu Kenji kalau dia memiliki seorang anak dari Zetta?
Tunggu lanjutannya ya genks ๐๐๐
...terima kasih...