
Helena terduduk lemas dengan memegangi dadanya. Ia masih tak percaya jika wanita yang sudah tiada 10 tahun lalu tiba-tiba hidup kembali seakan bangkit dari kematian.
"Nyonya! Anda baik-baik saja?" seorang pria muda membantu Helena berdiri.
"Nyonya?" pria itu mengulangi panggilannya.
"Heh? Ah iya, aku baik-baik saja." Helena merapikan penampilannya. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari gadis yang tadi dilihatnya.
Namun sejauh matanya memandang, Helena tak menemukan sosok gadis itu.
"Kemana dia? Apa dia sudah pergi?" gumam Helena.
Helena segera pergi ke tempat teman-temannya berkumpul dan melupakan apa yang dilihatnya tadi.
Sementara tanpa diketahui oleh Helena, Julian dan Zara sedang memperhatikan tindak tanduknya sedari tadi.
"Kau lihat itu, Jul? Ibu tirimu itu sangat ketakutan saat melihat hantu Belinda yang dilihatnya. Kurasa untuk hari ini, cukup sampai disini dulu. Setelah ini akan ada kejutan lain untuknya," ucap Zara.
"Apa kau akan memakai Belinda buatan itu untuk membalas Helena?" tanya Julian.
"Tentu saja. Dia harus menerima akibatnya karena dia tidak berhasil membawa Roy kembali padaku." jawab Zara kemudian berlalu.
Julian memandangi Zara yang mulai hilang dari penglihatannya. "Jadi, dia melakukan ini karena Roy?" batin Julian sambil menerawang jauh.
Sementara itu, Boy bersama Kenzo menyelidiki apa yang sedang Julian lakukan. Boy sudah memasang alat sadap di tas jinjing yang selalu di bawa Julian kemanapun dia pergi.
Alasan kenapa Boy mengajak Julian ke taman hiburan adalah agar ia bisa menempelkan alat pelacak dan penyadap di barang milik Julian. Setelah kematian Profesor Gerald dan Julian adalah pewaris selanjutnya Ar-Rayyan Grup, Boy merasa perlu menyelidiki tentang Julian.
Boy dan Kenzo amat terkejut karena ternyata Julian bekerja sama dengan Zara untuk menghancurkan keluarga Avicenna.
"Bagaimana ini, Paman?" tanya Boy.
"Entahlah, Boy. Aku tidak menyangka jika Patrick akan membalaskan dendamnya meski itu adalah keluarganya sendiri."
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Paman Patrick di masa lalu?"
"Aku juga tidak begitu tahu, Boy. Aku memang tinggal dengannya tapi aku tidak sedekat itu mengetahui hal pribadinya."
"Mungkin kita bisa bicara dengan Paman Conrad. Bukankah dia mengenal Paman Patrick lebih dulu? Dan kenapa dia menyembunyikan identitas aslinya di depan semua orang."
"Kau benar, Boy. Keluarga Avicenna adalah keluargamu. Apa yang dilakukan oleh Patrick, aku sama sekali tidak menyetujuinya."
"Jadi, bagaimana Paman?"
"Aku harus kembali ke Amerika untuk bertemu langsung dengan Tuan Webster. Sementara aku tidak ada, aku akan meminta beberapa orangku untuk menjagamu dan juga Berlian."
"Baiklah, Paman. Aku akan menjaga keluargaku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan Papa."
Kenzo mengangguk bangga pada Boy Meski usianya terbilang masih muda, tapi pemikirannya melebihi pemikiran orang dewasa.
......***......
Julian berkendara dengan kloning Belinda. Ia ingin membawa manusia yang seperti boneka ini ke suatu tempat.
"Tuan, sebenarnya kau ingin membawaku kemana?"
"Cih, ternyata kau bisa bicara juga? Kupikir kau hanya akan bicara jika disuruh saja."
"Bagaimanapun aku adalah manusia, Tuan. Meski aku hanya manusia buatan."
"Tapi, kau tidak punya hati, bukan?"
"Hati?" Belinda kebingungan.
"Perasaan. Apa kau memilikinya? Rasa sedih, senang, bahagia, marah, kecewa."
"Hmm, karena aku juga manusia, tentu saja aku memilikinya, Tuan."
"Tapi sebaiknya kau tidak perlu memiliki itu. Kau hanya sebagai alat untuk membalaskan dendamku dan juga Zara. Jadi, jangan berharap lebih padaku. Karena setelah semua ini selesai, aku dan Zara bisa saja kembali melenyapkanmu. Tubuhmu yang asli sudah terkubur didalam tanah selama bertahun-tahun."
Raut wajah Belinda berubah suram. Setelah di ciptakan, entah kenapa saat melihat Julian, ada sesuatu yang ia rasakan dalam hatinya. Namun rasanya ia tak akan bisa merasakan kebahagiaan meski hanya sejenak dicintai.
"Kudengar, wanita bernama Belinda adalah cinta pertamamu. Apa itu benar?"
Julian mencengkeram erat kemudinya. "Kau hanya manusia buatan untuk apa bertanya tentang hal seperti itu?"
"Aku hanya ingin tahu saja."
"Tutup mulutmu dan hatimu. Bukankah di tubuhmu terpasang chip untuk mengendalikanmu? Aku bisa saja melenyapkanmu saat ini juga jika aku menganggap kau tidaklah lagi berguna. Apa kau mengerti?" ancam Julian.
"Maaf, Tuan. Aku tidak akan bertanya lagi."
......***......
Belinda menurut. Ia kini akan mendengarkan semua perintah Julian.
"Sekarang kau masuk dan berjalanlah di lantai 10. Disana ada ruang CEO. Kau berlalu lalanglah disana hingga seorang pria paruh baya bernama Dandy Avicenna menyadari kehadiranmu." jelas Julian.
"Siapa dia, Tuan?"
Julian menarik sudut bibirnya sinis.
"Benar! Kau memang kloning dirinya. Tapi kau tidak memiliki memori Belinda."
Belinda menunggu jawaban dari Julian.
"Dia adalah ... orang yang penting dalam hidupku. Aku tidak akan ada di dunia ini jika dia tidak menginginkannya. Tapi dia..." Ada semburat kekecewaan dalam wajah Julian.
Belinda masih tidak mengerti dengan kata-kata Julian.
"Dia adalah ... pria yang sangat mencintaimu. Dialah yang menghangatkan ranjangmu."
"Hah? Apa? Apa aku bersama dengan pria tua?"
"Iya. Begitulah kehidupanmu, Belinda..."
Belinda menatap bangunan megah itu dengan nanar.
"Cepat turun dan jalankan tugasmu dengan baik." titah Julian tegas.
Dengan berat hati, Belinda turun dari mobil Julian.
"Berhati-hatilah!" ucap Julian sebelum Belinda masuk ke gedung itu.
Julian memandangi Belinda yang mulai memasuki gedung Avicenna Grup.
"Padahal ada seseorang yang dengan tulus mencintaimu. Kenapa kau ... kau harus memilih ayahku sendiri? Kenapa Bels?" Julian menenggelamkan wajahnya diatas kemudi.
Julian mulai meratapi nasibnya yang seakan tak beruntung. Wanita yang ia cintai tidak pernah menganggapnya ada dan malah memilih pria yang sudah beristri.
Di dalam gedung, Belinda mengedarkan pandangan sambil menuju kedalam lift. Ia menekan angka 10. Ia menguatkan hati untuk menjalankan misi dari Julian.
Sungguh Belinda tak menyangka jika kehidupannya sangat kelam sebelum meninggal. Mungkin itulah kenapa ia dilenyapkan dengan cara yang tragis dan tak ditemukan siapa pelakunya.
Belinda tiba di lantai 10 dan melihat sebuah ruangan berkaca bening yang bertuliskan, CEO. Belinda berjalan pelan menuju ruangan itu.
Belinda melihat seorang pria paruh baya sedang membaca berkas yang ada di mejanya.
"Apa dia adalah orangnya?" gumam Belinda.
Belinda membaca papan nama yang tertera di meja.
"Dandy Avicenna. Benar dia orangnya."
Saat mata Belinda masih tertuju pada Dandy, secara tak sengaja Dandy mengakhiri pekerjaannya dan menatap kedepan.
Dandy amat terkejut karena melihat sosok wanita yang telah meninggal 10 tahun lalu.
"Belinda?" gumam Dandy.
Terjadi kontak mata selama beberapa lama diantara mereka. Tak mau terlalu saling menatap, Belinda memutuskan pergi. Namun secara tak terduga, Dandy malah mengejarnya.
"Tunggu!! Siapa kau?!" seru Dandy.
Dengan sekuat tenaga, Belinda kembali turun menggunakan lift. Beruntung Dandy tak berhasil mengejar Belinda.
Keluar dari lift, Belinda segera berjalan cepat ke mobil Julian. Belinda terlihat panik.
"Ada apa?" tanya Julian.
"Pria itu mengejarku!"
"Apa?!" Dengan cepat Julian tancap gas dan segera pergi dari sana.
......***......
#bersambung...
"Terima kasih untuk pembaca setia JHSDT πππ
semoga masih menyukai alur yg kubawa untuk kisah ini ππ"