Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 99. Hubungan Tak Kasat Mata


"Julian!!" Seru seseorang memanggil nama Julian.


Julian menyipitkan matanya menatap sosok yang semakin dekat menghampirinya.


"Tika?" Julian menautkan kedua alisnya.


"Iya, ini aku. Kau masih mengenaliku ternyata," balas seorang wanita cantik yang tak lain adalah Kartika.


"Ah, sebenarnya aku tidak mengenalimu dengan baik karena kau sudah banyak berubah."


Kartika tertawa kecil. "Aku tidak berubah, Julian. Oh ya, apa yang kau lakukan di kafe di jam kantor seperti ini? Apa karena kau seorang Bos makanya kau bisa bolos sesuka hatimu, huh?!"


"Eh? Jangan salah sangka! Aku tidak membolos, aku hanya..."


Kalimat Julian terpotong karena seorang pelayan kafe menghampirinya.


"Tuan, di meja yang Tuan sebutkan tadi tidak ada siapapun disana," cerita si pelayan.


"Apa maksudmu? Saya datang bersama dengannya dan dia duduk di meja nomor 14," jelas Julian.


"Iya, Tuan. Saat saya mengantar pesanan Tuan barusan, tidak ada siapapun disana."


"Apa?! Tika, maaf aku harus segera pergi. Ini uang bill nya, kembaliannya kau ambil untukmu saja." Julian berpamitan sekaligus pada Tika dan si pelayan.


Julian berlari cepat meninggalkan area kafe. Kartika hanya memandanginya dengan raut wajah kecewa.


"Oh ya, apa kau tahu siapa yang datang bersama pria tadi?" Kartika masih penasaran dengan sosok yang bersama Julian. Ia bertanya pada si pelayan.


"Tuan tadi datang bersama seorang wanita, Nyonya," jawab si pelayan.


"Oh, begitu ya. Terima kasih. Kau boleh kembali bekerja."


Kartika mendesah pelan. "Seorang wanita ya? Apa mungkin itu istrinya? Tidak! Yang kudengar Julian belum menikah. Atau mungkin kekasihnya? Dilihat dari kepanikannya tadi, pasti wanita itu sangat spesial di hati Julian. Sepertinya aku tidak akan pernah bisa meraihmu, Julian. Dulu ada Belinda dan sekarang wanita itu..."


Kartika yang masih berkutat dengan pemikirannya sendiri akhirnya memutuskan pergi dari kafe. Suasana hatinya sudah tak memungkinkan untuk bertemu dengan teman-teman sosialitanya. Ia pun menghubungi kawannya dan mengatakan jika ia ada urusan mendadak lalu membatalkan janji temu hari ini.


Julian melajukan mobilnya perlahan sambil menatap satu persatu orang yang berlalu lalang di sepanjang trotoar.


"Astaga, Lian! Kau pergi kemana? Kenapa juga kau tak mengangkat ponselmu?"


Julian berkali-kali mengumpati dirinya sendiri. Jika saja dirinya tidak meninggalkan Lian terlalu lama, pasti Lian tidak akan menghilang seperti ini.


"Apa aku harus menghubungi Roy? Ah, tidak, tidak! Roy sedang ada otopsi penting hari ini. Aku tidak bisa membuyarkan konsentrasinya hanya karena masalah ini. Lagipula ini semua adalah kesalahanku," monolog Julian.


Julian memutuskan menghubungi Leon dan meminta anak buahnya untuk mencari keberadaan Lian.


Di jalanan yang berbeda, Kartika melihat seorang wanita berjalan sempoyongan dan hampir terjatuh karena tak memperhatikan langkahnya. Berkali-kali juga wanita itu hampir tertabrak kendaraan yang melintas.


"Astaga! Apa dia berniat bunuh diri? Kenapa berjalan sempoyongan seperti itu?"


Merasa tidak tega dengan apa yang dilihatnya, Kartika menepikan mobilnya lalu turun dan menghampiri wanita itu.


"Nona, apa yang kau lakukan? Sangat berbahaya jika kau berjalan sempoyongan seperti ini!" Kartika memegangi lengan wanita itu.


"Eh? Berlian?" Kartika terkejut karena wanita itu adalah orang yang dikenalnya.


"Ya Tuhan! Apa yang terjadi denganmu?" Kartika meraih wajah pucat Lian.


"Ayo ikut denganku!" Kartika memapah Lian untuk masuk ke dalam mobilnya.


Kartika memperhatikan tatapan mata Lian yang kosong.


"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu?" Gumam Kartika. Ia pun melajukan kembali mobilnya menuju ke butik miliknya.


......***......


Esther alias Zara sedang memikirkan cara agar bisa pergi dari negara ini. Namun sepertinya semua sia-sia karena anak buah Julian dan Roy sudah memasang foto Esther dimana-mana.


"Sial! Ini semua karena Noel telah tertangkap. Sekarang aku harus bagaimana? Aku harus terus berpindah-pindah tempat setiap hari."


Esther menggigit kuku jarinya seraya berpikir.


"Akh! Sial! Aku tidak bisa begini terus! Aku harus menyusun rencana! Jika aku tidak bisa memiliki Roy, maka ... orang lain juga tidak berhak memilikinya!" Seru Esther dengan berapi-api.


Di tempat berbeda, Kartika tiba di butiknya dan membawa Lian masuk. Ia memberikan segelas air untuk Lian. Lian menerimanya meski ia masih bungkam.


"Terima kasih," ucap Lian pada akhirnya.


Kartika tersenyum. "Aku senang bisa bertemu lagi denganmu. Apa kau baik-baik saja?"


"Tidak! Aku tidak baik-baik saja..." Air mata yang sedari tadi Lian tahan akhirnya luruh juga. Kartika segera memeluk Lian.


"Jika kau ingin bercerita, aku bisa mendengarnya," ucap Kartika sambil mengusap lembut punggung Lian.


"Mama!!!" Teriakan seorang bocah membuat pelukan keduanya terurai.


"Hai, sayang. Kau sudah pulang sekolah?" Tanya Kartika pada bocah kecil itu.


Lian memperhatikan interaksi antara ibu dan anak itu. Ada rasa iri dalam hatinya ketika mengingat tentang Rain, putranya yang menghilang.


"Kak Tika..." Panggil Lian.


"Iya, ada apa?"


"Apa aku ... aku ... boleh memeluk putramu?" Tanya Lian ragu.


"Eh?" Kartika menatap putranya.


"Nathan sayang, ini adalah Bibi Lian, teman Mama. Dia sedang bersedih, bisakah Nathan memberinya sebuah pelukan?" Pinta Kartika pada Nathan.


"Tentu, Ma. Bukankah anak baik selalu membantu sesama?"


Nathan dengan lucunya menghampiri Lian kemudian memeluknya. Lian menerima pelukan lelaki kecil itu yang terasa hangat. Hatinya bergemuruh merasakan kerinduan kepada putranya.


Lian menyudahi pelukannya dan menatap lekat wajah lelaki kecil itu. Ia menciumi tiap inci wajah Nathan yang menggemaskan.


"Bibi jangan bersedih." Nathan menghapus air mata yang luruh di pipi Lian.


Entah kenapa Kartika merasa cemburu melihat perhatian putranya pada Lian.


Lian mengangguk dan mencium punggung tangan bocah kecil itu.


"Terima kasih banyak, sayang. Kau adalah anak yang baik."


Lian pamit pergi ke kamar mandi. Ia membasuh mukanya yang terlihat sembab.


Sementara itu, Kartika meminta Nathan untuk bermain bersama pengasuhnya. Ketika akan menyusul Lian ke toilet, sebuah dering ponsel mengalihkan perhatiannya. Itu bukan suara ponselnya melainkan ponsel milik Lian.


Kartika merasa jika itu adalah panggilan penting karena mengingat kondisi Lian yang sedang tak stabil, pastinya membuat keluarganya khawatir.


Kartika masih menunggu Lian keluar dari kamar mandi, namun sepertinya Lian masih lama berada disana.


"Sebaiknya kuangkat saja. Mungkin itu dari keluarganya yang sedang mencari keberadaan Lian."


Kartika mengambil ponsel Lian dari saku tasnya. Ia membulatkan mata melihat nama yang tertera di layar ponsel Lian.


"Kak Julian...?" Lirih Kartika.


Lama ia memandangi ponsel Lian dan juga ke arah toilet.


"Apakah mungkin...?" Kartika tidak berani menduga-duga tentang firasatnya.


Dering ponsel berhenti. Namun tak lama ponsel Lian kembali berdering. Masih dengan pemanggil yang sama.


Dengan ragu, Kartika menjawab panggilan itu.


"Halo..."


"Halo, Lian! Akhirnya kau menjawab teleponku juga! Kau ada dimana? Aku mencarimu sejak dari kafe. Halo, Lian! Kau baik-baik saja, 'kan?"


Kartika mematung mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Matanya menerawang jauh.


"Halo, Lian!"


Suara di seberang sana membuat Kartika kembali ke alam sadarnya.


"Halo, Julian..."


"Eh?"


"Jangan khawatir! Lian baik-baik saja. Dia sekarang ada di tempatku. Kau datang saja ke Kartika Butik."


"Kartika Butik? Jadi, Lian bersama denganmu, Tika? Bagaimana bisa?"


"Ceritanya panjang. Sebaiknya kau cepatlah kemari. Aku takut dia berbuat nekat lagi."


"Baiklah! Aku akan segera kesana!"


Panggilan berakhir.


"Dari siapa, Kak?" Lian muncul di hadapan Kartika.


"Ah, maaf, aku menjawab panggilan teleponmu. Karena sedari tadi berdering terus. Aku pikir mungkin saja itu penting."


"Tidak apa, Kak! Pasti yang menghubungi tadi adalah Kak Julian ya?"


"Eh? Ah, iya. Namanya Julian." Kartika menggaruk tengkuknya. Hatinya bergemuruh menghadapi kenyataan pahit sekali lagi.


...B E R S A M B U N G...


"Terima kasih untuk kalian yang masih setia menanti kisah ini. Entah mau dibawa kemana kisah ini nantinya 😅 aku hanya suka saja dengan pembawaan alurnya yang tenang, hehehe.


Gak kerasa juga udah mau 100 episod aja nih. Kira2 akan di tamatkan sampe berapa episod ya? Untuk masalah itu masih belum tahu. tapi sepertinya bulan ini akan tamat agar mamak bisa segera membuat project selanjutnya, hehehe."