Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 156. Tertuduh


Usai konferensi pers yang dilakukan pihak kepolisian, banyak pihak bertanya-tanya tentang siapa yang sudah melakukan semua ini pada Natasha dan Sean. Pihak berwajib meminta kepada Roy agar bisa mengusut kasus ini hingga tuntas. Karena sudah terlanjur terekspos oleh publik, pasti masyarakat mengawal kasus ini hingga tersangka sebenarnya tertangkap.


"Silakan saja Pak Polisi. Saya sebagai warga negara yang baik akan mengikuti prosedur yang berlaku," ucap Roy.


Roy adalah orang pertama yang di periksa oleh penyidik. Sementara beberapa petugas lainnya mendatangi rumah keluarga Avicenna untuk menjemput Boy.


Lian sempat menghalangi petugas yang menjemput Boy karena ia bersikukuh jika putranya tidak bersalah.


"Nyonya, kami hanya menjalankan perintah dari atasan. Mohon Nyonya dan keluarga bekerjasama. Besar kemungkinan jika semua orang di keluarga ini akan dimintai keterangan oleh penyidik."


Mendengar ribut-ribut yang terjadi di rumahnya, Boy keluar dari kamar dan menemui para petugas berwenang.


"Saya Boy Avicenna. Ada apa mencari saya?"


"Tidak, Nak. Kau tidak bersalah." Lian masih menghalangi Boy yang akan dibawa.


"Mama tenang saja. Semua pasti baik-baik saja," ucap Boy menenangkan Lian.


Untuk saat ini, posisi Boy memang tidak aman. Ia sudah pasti menjadi tersangka utama dalam kasus kematian Natasha. Ditambah lagi Boy sudah mengetahui hubungan gelap antara Natasha dan Sean.


Lian amat berat melepas kepergian putra sulungnya. Nathan senantiasa menemani ibunya agar tidak terlalu bersedih.


"Riana! Kau percaya padanya, kan? Kau sudah menganggap dia seperti putramu sendiri. Dia tidak mungkin membunuh Natasha!" Lian kini bersimpuh di depan Riana.


Riana hanya diam dan tak ingin mengomentari apa pun.


"Kita tunggu hasil penyelidikan dari pihak berwajib saja," jawab Riana kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Lian beringsut jatuh ke lantai. Tubuhnya benar-benar lemas menghadapi ujian yang kembali datang dalam keluarganya.


"Ma, ayo kita ke kamar," ajak Nathan.


"Dimana papamu, Nak? Kenapa dia belum pulang juga dari kantor polisi?"


"Papa sedang diperiksa juga, Ma."


Lian menggeleng cepat. "Tidak! Ini semua tidak boleh terjadi pada keluarga kita. Wanita itu benar-benar sudah membuat keluarga kita hancur. Bahkan setelah dia mati pun, dia masih saja membuat keluarga kita menderita!" sungut Lian yang kini menyalahkan Natasha.


"Ma, jangan menyalahkan orang yang sudah meninggal. Sudah ya. Mama istirahat saja. Ayo!" Nathan memapah Lian menuju kamarnya. Saat ini ibunya tidak bisa dibiarkan sendiri.


Sementara itu di kantor polisi, Boy duduk berhadapan dengan para penyidik kepolisian yang bersiap mengajukan beberapa pertanyaan pada Boy.


"Tuan Boy Avicenna. Tolong ceritakan pada kami, apa yang sedang Anda lakukan ketika peristiwa nahas yang menimpa istri Anda terjadi?"


Boy menjelaskan dengan detil semua yang ditanyakan oleh penyidik.


"Apa ada saksi yang bisa menguatkan pernyataan Anda?"


"Silakan cek kamera pengawas yang ada di rumah sakit. Rumah sakit kami adalah yang terbaik dalam hal ini," jawab Boy dengan tenang.


Para penyidik menganggukkan kepala dan segera mengecek rekaman pengawas yang ada di rumah sakit.


"Baiklah. Anda tidak berbohong, Tuan Boy. Lalu ... Apakah Anda mengetahui soal hubungan istri Anda dengan saudara Sean Connan? Sejauh mana Anda mengenal pria ini?"


Boy terdiam. Bayangan tentang kebersamaan Natasha dan Sean yang ia dapat dari investigasi Choky kembali menyeruak. Ia tak pernah menyangka jika wanita yang selama ini menjadi sahabat dan istri ternyata telah mengkhianatinya.


"Apa saya perlu menjawab ini?" tanya Boy balik.


"Iya. Kami menemukan ini di ruangan kerja Anda. Jadi, Anda sudah tahu mengenai pengkhianatan istri Anda?"


Boy memejamkan mata.


"Saya baru mengetahuinya. Selama ini saya memang meminta orang kepercayaan saya untuk mengawasi Natasha. Tapi, saya tidak pernah membuka hasil penyelidikan yang mereka lakukan. Saya masih tetap memercayai istri saya."


Petugas penyidik mencatat semua keterangan Boy. Dirasa tidak ada yang mencurigakan dari Boy, maka Boy diperbolehkan pulang dengan catatan akan bersedia dipanggil kembali untuk menjadi saksi.


......***......


Aleya amat terkejut dengan pemberitaan yang sedang hangat akhir-akhir ini. Ia tidak menyangka jika setelah Natasha meluapkan kekesalan padanya, Natasha akan berakhir tragis. Hari-hari Aleya dihabiskan dengan berangkat kuliah dan menyelesaikan studinya. Ia ingin segera lulus dan segera kembali ke desanya.


Hari ini, tepat satu bulan setelah kematian Natasha dan Sean, polisi masih belum bisa mengungkap siapa dalang yang melakukan pelenyapan terhadap mereka. Namun Aleya tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan petugas polisi yang menemuinya di kampus.


"Nona Aleya Sugandi. Silakan ikut kami untuk dimintai keterangan."


Rion yang akan menjemput Aleya di kampus terkejut karena Aleya ikut terseret dalam kasus tewasnya Natasha.


"Tunggu, Pak. Anda tidak bisa membawa Aleya begitu saja," cegat Rion.


"Maaf, Tuan. Kami hanya menjalankan perintah."


"Atas dasar apa kalian membawa Aleya?"


"Nona Aleya pernah terlibat ketegangan dengan mendiang nona Natasha. Untuk lebih jelasnya, silakan ikut kami dulu."


Aleya meyakinkan Rion jika dirinya akan baik-baik saja. Rion pun ikut mengantar Aleya ke kantor polisi.


Aleya duduk berhadapan dengan penyidik yang akan menanyainya. Entah bagaimana ceritanya pihak penyidik mengetahui jika siang itu Natasha mendatangi Aleya dan menamparnya di depan kampus Avicenna.


Aleya tidak tahu apa maksud dan tujuan Natasha menemuinya. Namun yang pasti, mulai tercium jika ada hubungan antara dirinya dan Boy. Dan ini membuat posisi Aleya di mata hukum menjadi terancam.


Ketika Rion masih setia menunggu Aleya selesai diperiksa, dari ruangan berbeda Boy keluar dan mendapati Rion ada disana.


"Rion? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Boy sambil menghampiri Rion.


"Brengsek kau!" Rion yang tak terima Aleya ikut terseret kasus ini menjadi geram terhadap Boy.


Rion menarik kerah kemeja Boy.


"Ada apa lagi ini, Rion?" tanya Boy yang tsk tahu apa masalah sahabatnya ini.


"Jika sampai Aleya terlibat hukum dengan karena kasus ini, maka aku tidak akan tinggal diam!" tegas Rion.


"Aleya ada disini?" Boy membulatkan mata.


"Iya. Dan ini karena dirimu!" geram Rion yang ingin sekali menghajar Boy.


"Kak Rion! Kak Boy!" seru Aleya yang baru keluar dari ruang interogasi.


"Aleya! Kau baik-baik saja?" tanya Rion.


"Iya, aku baik-baik saja," jawab Aleya.


"Aleya, aku minta maaf. Kau jadi ikut terseret dalam masalah ini," sesal Boy.


"Iya, tidak apa. Aku ... Turut berduka atas kehilangan kakak. Bagaimana kabar Aurel? Dia pasti sangat bersedih. Andra bilang Aurel tidak pernah masuk sekolah."


"Kami sengaja tidak mengizinkan Aurel pergi kemanapun dulu hingga kasus ini mereda," jelas Boy.


"Aleya, ayo pergi. Kau pasti lelah setelah ditanyai oleh penyidik tadi." Rion segera merangkul bahu Aleya dan membawa gadis itu pergi.


...B E R S A M B U N G...


*Hmm, masih belum terlihat siapa pelaku sebenarnya...


...Happy Saturday...