
Roy menghubungi Boy dan meminta bertemu secara sembunyi-sembunyi dengan bocah genius itu. Ia tak ingin lagi menunda untuk mengetahui kebenarannya. Sudah cukup ia menunggu selama 7 tahun.
Roy meminta Maliq menyiapkan semuanya tanpa diketahui oleh siapapun.
"Kau yakin akan melakukan ini, Roy? Anak itu adalah anakmu? Apa kau yakin?" tanya Maliq.
"Aku yakin. Aku hanya bisa meminta tolong padamu. Dan ingat! Jangan sampai Zara mengetahui hal ini. Ataupun salah seorang anggota keluargaku."
"Baik, Roy. Bagaimana kondisimu? Kau nampak lebih baik sekarang?"
"Yeah. Berkat anak itu aku memiliki semangat untuk bertahan hidup, Maliq."
Maliq menatap iba pada sahabatnya itu. "Kuharap kau bisa kembali bersatu dengan keluarga kecilmu, Roy." batin Maliq.
Sementara itu, Boy mencari cara agar bisa keluar rumah tanpa di curigai oleh Belinda dan juga Riana. Ia meminta Roy menjemputnya di sekolah sebelum Patrick menjemputnya.
Tiba jam pulang sekolah, Roy sudah menunggu Boy di depan kelasnya. Guru kelas Boy sudah mengenal Roy sebagai ayah Boy. Tentu saja tanpa curiga sedikitpun, ibu guru mempersilahkan Roy untuk membawa Boy.
Roy membawa ke sebuah laboratorium milik Maliq yang tidak banyak di ketahui oleh banyak orang. Mereka harus cepat karena Patrick atau Belinda pasti akan menyadari jika Boy menghilang. Dan sasaran utama yang akan menjadi tersangka adalah Roy.
Roy menatap Boy dengan tatapan sendu.
"Kau percaya jika aku adalah ayahmu?" tanya Roy.
"Iya, dokter. Aku yakin kau adalah ayahku. Kita memang akan mengkhianati Mama dan Paman Patrick, tapi..." Boy menundukkan kepala.
"Ada apa, Nak?"
"Aku ingin berkumpul bersama Mama dan Papaku. Seperti anak-anak yang lain."
Roy melihat kesedihan di raut wajah Boy. Ia merasa bersalah selama ini tak pernah menjadi ayah yang baik untuk Boy. Roy membawa Boy dalam dekapannya.
"Setelah tes ini, maka Papa akan menjadi ayah yang baik untukmu."
Maliq terharu melihat kedekatan ayah dan anak ini. Meski terpisah bertahun-tahun, tapi ikatan batin diantara mereka ternyata amat kuat.
"Semuanya sudah siap. Kalian bisa memulai tesnya." ucap Maliq.
Roy menggandeng tangan mungil Boy lalu mengangkat tubuh Boy dan membaringkannya diatas brankar.
"Tahan sedikit ya, Nak. Ini mungkin akan sakit." ucap Maliq yang kini akan memasangkan jarum infus di tangan Boy.
"Iya, Paman. Aku bisa menahannya." jawab Boy.
Roy ikut berbaring di brankar samping Boy. Ia melihat jika putranya itu memiliki keberanian yang luar biasa.
Proses pindai pun di mulai. Sampel darah Boy dan sampel darah Roy di satukan dalam sebuah alat ciptaan Roy. Dengan alat ini hasil tes DNA bisa didapatkan kurang dari 1 jam. Namun prosesnya cukup menyakitkan bagi yang menjalaninya.
Boy meringis merasakan sakit kala alat-alat itu mulai memindai darahnya.
"Bertahanlah, Nak." ucap Roy menyemangati Boy.
Roy sendiri juga merasa kesakitan. Berkali-kali Maliq bertanya apakah Roy baik-baik saja. Maliq takut jika proses ini mempengaruhi kinerja jantung Roy.
......***......
Belinda tiba di sekolah Boy sedikit terlambat dan tak mendapati putranya ada disana. Guru kelasnya menjelaskan jika Boy sudah dijemput pulang oleh ayahnya. Belinda menggeram kesal.
"Ini pasti ulah dokter Roy!" Belinda menghubungi Patrick dan memintanya untuk mengantar Belinda ke rumah sakit. Ia yakin jika Roy membawa Boy ke rumah sakit.
Patrick segera menjemput Belinda dan menuju ke rumah sakit Avicenna. Selama perjalanan, perasaan Belinda dengan spekulasi buruk tentang apa yang akan dilakukan Roy pada Boy.
"Cepatlah, Pat!" ucap Belinda agar Patrick melajukan mobil dengan lebih cepat.
"Sabarlah, Bels. Jalanan cukup padat di siang ini. Aku yakin Roy tidak akan berbuat nekat pada Boy."
Tiba di rumah sakit Avicenna, Belinda berlarian menuju ruang kerja Roy. Ia mendesak sekretaris Roy agar memberitahu keberadaan Roy.
Dengan kesal Belinda menggebrak meja si sekretaris dan hampir membuat keributan, namun disaat bersamaan Roy datang bersama Boy dan melerai Belinda.
"Ada apa ini?" tanya Roy.
"Kau! Berani sekali kau membawa putraku tanpa seijin dariku!!" Belinda menunjuk Roy dengan nada marah.
"Maaf, Nona. Tapi guru kelas Boy juga tahu jika aku adalah ayahnya."
"Jangan melewati batas!"
"Bels!!" Patrick datang dan melerai perdebatan Roy dan Belinda.
"Boy, ayo kita pulang!" Belinda menggamit tangan kecil Boy dan segera membawanya pergi dari rumah sakit Avicenna.
Tiba di apartemen, Belinda menghukum Boy dengan mengurungnya di gudang. Ia sungguh marah karena Boy tak lagi mendengarkan perintahnya.
"Bels, jangan terlalu keras padanya. Boy masih anak-anak." ucap Patrick menenangkan Belinda.
"Jangan membelanya, Pat! Jelas-jelas dia salah! Dia tidak menghargaiku sebagai ibunya. Aku sudah memintanya untuk tidak berhubungan lagi dengan Roy. Tapi dia malah..." Belinda tak mampu melanjutkan kata-katanya. Dadanya sesak dan matanya menghangat.
"Bels..." Patrick memeluk Belinda.
"Menangislah, Bels. Mungkin dengan begitu kau akan lebih tenang."
Patrick meminta Belinda untuk beristirahat di kamarnya. Belinda mengangguk.
"Mungkin memang kita tidak bisa meneruskan sandiwara ini, Bels." cicit Patrick.
"Apa maksudmu?"
"Dari awal Boy sudah tahu jika Roy adalah ayah kandungnya. Meski kau memintaku berbohong, ikatan ayah dan anak tetaplah kuat. Sebaiknya kau pikirkan masalah ini, Bels. Pikirkan juga bagaimana perasaan Boy." Patrick pamit undur diri setelah mengatakan apa yang perlu ia katakan pada Belinda.
Patrick keluar dari apartemen Belinda dan ingin menuju kamarnya. Namun secara kebetulan ia bertemu dengan Roy.
"Julian!" panggil Roy.
"Kau ada disini?"
"Yeah. Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi dengan Boy. Belinda sangat marah tadi."
"Belinda mengurung Boy di gudang. Hukuman seorang ibu."
"Kita harus menyelamatkannya, Jul."
"Aku sudah membuka kuncinya. Kita biarkan mereka menyelesaikan masalah ibu dan anak."
"Jul... Terima kasih..."
"Eh?"
"Aku tahu ini aneh, tapi... Kau sudah menolong Belinda dan Boy. Aku sangat berterimakasih."
"Lupakanlah, Roy! Kurasa aku tidak akan bisa masuk dalam lingkaran kalian."
"Maksudmu?"
"Tadinya kupikir aku bisa menjauhkanmu dari Boy dan Belinda. Tapi ternyata ikatan kalian cukup kuat."
"Kau menyerah?"
"Untuk Boy, iya. Tapi untuk Belinda, tidak. Dia berhak memilih siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya, Roy. Bertahun-tahun dia hidup menderita."
"Jadi, kau mengakui jika Belinda adalah Putri Berlian?"
Patrick tertawa. "Kau harus tetap merahasiakannya sampai semuanya terbongkar."
"Jadi kau hanya ingin melindunginya?"
"Iya, begitulah."
"Tentang keluarga kita ... siapa orang yang kau curigai, Julian?"
Patrick menatap Roy. "Entahlah. Apa kini kau berbalik ingin melawan keluargamu sendiri, Roy?"
"Mungkin saja. Jika ternyata salah satu orang di keluarga kita adalah penyebab dari kemalangan Belinda, maka aku tidak akan tinggal diam."
"Baguslah jika akhirnya kau sadar, Roy."
"Jadi, apa yang membuatmu kembali ke kota ini dan mengganti namamu?" tanya Roy menyelidik.
Patrick tersenyum. "Aku akan menjawabnya jika aku sudah mengetahui apakah kau adalah temanku atau musuhku."
Patrick berlalu dari hadapan Roy setelah mengatakan apa yang perlu dia katakan.
Sedang Roy, ia hanya menatap punggung Patrick yang semakin menjauh dari pandangan.
"Maafkan aku, Kak... Aku belum bisa mengakui semuanya. Semua kesedihanmu ... aku pasti akan menebusnya." gumam Roy dalam hati.
......***......
#bersambung...
*Terima kasih yg masih setia menunggu kisah ini UP ๐๐๐