Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 180. Sang Penguasa


...Dan diantara sekian juta manusia...


...Entah kenapa hatiku tertambat padamu...


...Wahai sang penguasa hatiku...


...🌹🌹🌹...


Pagi hari di dusun Kabut benar-benar berkabut seperti namanya. Aleya terbangun dan segera membersihkan diri. Semalam ia tidak pulang ke rumah. Ia takut jika ayahnya khawatir dengannya.


Aleya keluar kamar dan mendapati Boy sudah siap dengan setelan kaus casual dan celana jeansnya. Ia sedang menyiapkan sarapan untuknya dan Aleya.


"Kak Boy? Apa yang kakak lakukan?"


"Aku menyiapkan sarapan untukmu. Duduklah!"


"Kakak tidak perlu melakukan ini. Harusnya aku yang membuat sarapan."


"Tidak apa. Makanlah dulu setelah itu kita akan menemui ayahmu."


"Eh?" Aleya terkejut.


"Aku ingin meminta restu pada ayahmu. Dan aku ingin secepatnya meresmikan hubungan kita."


Bibir Aleya mengukir sebuah senyuman. Hatinya mengucap syukur yang terdalam karena akhirnya ia menemukan seseorang yang akan menemani sepanjang usianya.


Usai menyantap sarapan, Boy dan Aleya bersiap untuk menuju ke desa Selimut. Waktu tempuh yang lumayan membuat mereka harus berangkat pagi.


"Kau sudah siap?" tanya Boy.


Aleya mengangguk. Ia mengatur napas sebelum melakukan perjalanan bersama Boy.


*


*


*


Satu jam lebih perjalanan telah mereka tempuh. Kini mobil Boy terparkir di depan rumah Kosih. Boy dan Aleya turun dari mobil secara bersamaan.


Mereka kembali saling pandang sebelum memasuki rumah sederhana itu. Aleya mengetuk pintu dan munculah Kosih dari balik pintu.


"Aleya? Nak Boy?" Mata Kosih berbinar melihat putrinya sudah kembali.


"Ayah! Maaf semalam aku tidak pulang. Terjadi badai di dusun Kabut," jelas Aleya.


"Iya, Nak. Ayah tahu. Nak Boy sudah memberitahu Ayah."


"Eh?" Aleya melirik Boy.


"Ayo masuk! Kalian pasti lelah." Kosih meminta keduanya masuk dan duduk di ruang tamu.


"Aleya, buatkan minum untuk Nak Boy."


"Baik, Ayah." Aleya pergi menuju dapur.


"Maaf ya jika Aleya merepotkan Nak Boy."


"Tidak, Pak. Saya tidak merasa di repotkan sama sekali."


"Saya tidak menyangka jika Aleya akan mendatangi Nak Boy disana," ucap Kosih lirih karena takut Aleya mendengarnya.


"Saya juga tidak menyangkanya, Pak." Boy sedikit terkekeh mengingat ekspresi Aleya saat bertemu dengannya kemarin.


"Akhirnya Aleya berani mengakui hatinya," lanjut Kosih merasa lega.


Tak lama Aleya membawakan dua cangkir teh untuk Boy dan ayahnya.


"Silakan diminum, Kak."


"Terima kasih." Boy menyesap pelan teh buatan Aleya untuk mengusir rasa gugupnya.


"Umm, maaf Pak Kosih. Kedatangan saya kesini selain untuk mengantar Aleya pulang, adalah untuk kembali meminta restu Bapak agar menerima hubungan kami berdua. Saya ingin melamar Aleya secara resmi, Pak," ucap Boy dengan suara yang sedikit bergetar.


Kosih menatap Aleya yang duduk di samping Boy. "Bapak menyerahkan semuanya pada Aleya. Jika memang Aleya bersedia, maka Bapak juga menyetujuinya."


Boy menatap Aleya seraya meminta jawaban. Aleya membalas tatapan pria yang dicintainya itu.


"Iya, Ayah. Aku menerimanya," jawab Aleya.


Boy begitu bahagia hingga ia lupa didepannya ada Kosih yang memperhatikan. Boy memeluk Aleya erat tanpa malu-malu.


"Ehem!" Kosih menginterupsi.


Boy segera melepaskan Aleya. "Maaf, Pak. Saya terlalu senang." Boy menggaruk tengkuknya.


"Tidak apa. Asal jangan kebablasan saja! Kalian harus tetap ingat norma kesopanan."


"Iya, Ayah." Aleya tertunduk malu.


"Secepatnya saya akan memberitahu orang tua saya," imbuh Boy.


Kosih mengangguk. "Niat baik harus disegerakan. Jika tidak, takut adanya fitnah."


Boy mengangguk paham. "Kalau begitu saya permisi dulu. Saya harus kembali ke rumah sakit."


Kosih kembali mengangguk. Aleya mengantar Boy hingga ke depan rumahnya.


"Aku pergi dulu ya! Aku harap kau bersedia menjadi dokter anak di dusun Kabut," pamit Boy.


"Kita akan bicarakan hal ini nanti, Kak."


"Baiklah. Aku pergi!" Boy celingak celinguk mengedarkan pandangannya.


"Ada apa, Kak?"


CUP


Sebuah kecupan mendarat di kening Aleya.


"Bye, sayangku. Besok aku akan kemari lagi."


Wajah Aleya memerah mendapat sebuah kejutan dari Boy. Ia melambaikan tangan ketika mobil Boy mulai menjauh.


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


Keesokan harinya, terjadi kehebohan di desa Selimut. Para warga berbondong-bondong mendatangi rumah Kosih.


"Turunkan kepala desa! Turunkan kepala desa! Ganti dengan yang baru!"


Suara teriakan beberapa orang membuat Aleya segera keluar dan melihat apa yang sedang terjadi. Aleya dan Kosih makin terkejut karena warga sudah berkumpul di depan rumah mereka.


"Ada apa ini, bapak-bapak? Kenapa pagi-pagi sudah membuat keributan?" tanya Kosih.


"Turun kau dari jabatanmu! Kau tidak pantas menjabat sebagai kepala desa disini!" seru salah seorang warga.


"Hei, Pak Kosih. Jangan menutupinya lagi. Kami sudah tahu semuanya!" sahut warga lainnya.


Kosih dan Aleya saling pandang.


"Tolong salah satu dari kalian jelaskan duduk permasalahannya!" titah Kosih.


Salah seorang warga maju ke depan. Aleya tercengang karena ternyata Pandu yang mewakili para warga.


"Pandu? Apa yang sebenarnya dia rencanakan? Aku merasa ada yang tidak beres disini," batin Aleya.


"Nak Pandu, silakan bicara!" perintah Kosih.


"Begini Pak kepala desa yang terhormat. Kami mewakili warga desa Selimut, menginginkan agar bapak mengundurkan diri dari jabatan bapak."


"Hah?!" Kosih dan Aleya tertegun.


"Betul! Sebaiknya bapak mengundurkan diri saja!" sahut warga lainnya.


"Tapi, apa masalahnya?" tanya Kosih bingung.


"Apa bapak tidak sadar jika sudah mengotori desa ini? Lihatlah putri bapak yang terlihat polos dan lugu itu. Apa bapak pura-pura tidak tahu dengan apa yang sudah dilakukan putri bapak?" Pandu kini mencecar Aleya.


"Apa yang sudah dilakukan putri saya?" tanya Kosih kembali.


"Bukankah kemarin malam putri bapak ini tidak pulang ke rumah? Dan dia malah menginap di rumah seorang lelaki yang belum sah menjadi suaminya. Apa bapak tidak malu memiliki putri yang melakukan perbuatan tercela seperti itu?"


Aleya menggeleng pelan mendengar semua tuduhan Pandu.


"Tunggu dulu, Nak Pandu. Kita harus dengar penjelasan Aleya dulu. Kita tidak boleh menghakiminya secara sepihak," bela Kosih berusaha menenangkan para warga.


"Alah, karena dia adalah anak bapak maka bapak membelanya!" sahut seorang warga.


"Pasti dia sudah berbuat hal diluar batas bersama dokter itu! Kakaknya saja sampai hamil di luar nikah, pasti adiknya juga akan mengikuti jejak kakaknya!" sambung warga lainnya.


Aleya menggeleng menatap ayahnya. "Tidak, Ayah! Aku tidak melakukan apa pun dengan kak Boy! Ayah percaya padaku, kan?"


"Sudahlah! Jangan banyak drama! Cepat turun dari jabatanmu! Kau sudah tidak pantas menjadi kepala desa Selimut. Kau bahkan sudah banyak mengubah adat istiadat desa karena pengaruh pemuda-pemuda kota itu!" seru Pandu yang membuat warga makin tersulut emosi.


Aleya berpelukan dengan Kosih. Sungguh Aleya tak menyangka jika semua akan jadi begini.


"Ada apa ini?" Seorang pria paruh baya tiba-tiba datang bersama Alam. Dia adalah Samsir, ayah dari Alam, yakni sesepuh desa yang dipercaya menjadi perantara dalam memilih kepala desa.


"Kalian jangan menghakimi orang sembarangan! Semua hal bisa dibicarakan baik-baik," tutur Samsir.


"Turunkan saja langsung Pak Kosih! Dia sudah tidak pantas menjadi seorang kepala desa!" Lagi-lagi satu warga memprovokasi warga lainnya.


"Tenang!" Seru Samsir. "Kalian tidak bisa memecat Kosih begitu saja! Karena dia dipilih oleh leluhur kita. Dan semua perintah leluhur, tidak akan bisa diganggu gugat. Jika kalian masih bersikeras ingin menurunkan Kosih dari jabatannya, maka bersiaplah menerima karma dari ara leluhur." Samsir berucap dengan menggebu-gebu hingga membuat para warga bungkam.


"Lebih baik sekarang kalian bubar! Jangan pernah lagi membahas soal ini! Lalu soal Aleya, biar kami para sesepuh yang akan memutuskan apakah dia bersalah atau tidak," tegas Samsir.


Satu persatu warga mulai pergi dari halaman rumah Kosih. Aleya berterimakasih pada Samsir. Aleya memapah tubuh Kosih yang gemetar masuk ke dalam rumah.


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


Kabar mengenai penggerebekan terhadap Aleya dan ayahnya sampai juga ke telinga Boy. Ia amat geram dengan Pandu yang sepertinya sengaja melakukan ini pada Aleya karena dulu gadis itu pernah menolak lamarannya.


Dengan cara sopannya, Boy menghubungi seseorang. Ia tidak akan membiarkan orang-orang yang dicintainya terluka.


"Kau lihat saja, Pandu. Kau akan tahu akibatnya karena kau sudah berani bermain denganku!" ucap Boy dengan mengepalkan tangannya.


Keesokan harinya, Boy mendatangi Aleya di rumahnya. Aleya cukup kaget dengan kedatangan Boy yang tiba-tiba.


"Kak Boy? Kakak datang?"


"Iya. Maaf ya kemarin aku tidak bisa datang. Aku sangat sibuk di rumah sakit."


"Tidak apa. Ayo masuk, Kak!"


"Sayang..." Boy memegangi tangan Aleya. "Maaf ya. Kemarin kau pasti sangat syok."


Aleya mengulas senyumnya. "Aku dan ayah baik-baik saja. Kakak jangan khawatir."


Boy mendapat sebuah panggilan dari seseorang. Aleya tercengang karena ponsel Boy bisa digunakan di desa ini.


"Sejak kapan di desa ini ada jaringan, Kak?" tanya Aleya penasaran.


"Tanyakan saja pada ayahmu! Oh ya, aku pergi dulu ya. Jangan memikirkan apa pun." Boy mengusap wajah Aleya.


"Iya, Kak. Kakak mau kemana?"


"Ada hal yang harus kuurus. Hingga situasinya kondusif, kau tetap tinggal di rumah saja."


Aleya mengangguk. Boy mendaratkan sebuah kecupan di puncak kepala Aleya.


*


*


*


Tiba di sebuah rumah yang paling mewah di desa Selimut, Boy turun dari mobilnya dan meminta untuk bertemu dengan seseorang bernama juragan Sugih, ia adalah orang terkaya di desa.


"Wah, lihatlah Ayah! Dia berani sekali datang kemari." Pandu tiba-tiba datang dan berhadapan dengan Boy.


Juragan Sugih hanya diam melihat kedatangan Boy. Pasalnya dia baru saja mendapat kabar dari anak buahnya jika bisnisnya yang ada di kota sudah bangkrut.Β  Semua cabang bisnisnya sudah di kuasai oleh Avicenna Grup.


"Ayah! Kenapa ayah diam saja? Cepat usir dia dari sini! Dia hanya sok berkuasa karena dia tampan dan seorang dokter!" sungut Pandu.


Boy hanya tersenyum mengejek melihat tingkah Pandu yang bisa berdiri di bawah ketiak ayahnya.


"Dengar ya! Aku hanya akan mengatakan ini satu kali saja maka dengarkan baik-baik!" ucap Boy.


"Jangan pernah mengganggu Aleya dan juga keluarganya! Jika kau masih tidak mengindahkan peringatan dariku ini, maka semua aset keluargamu akan benar-benar habis. Kau mengerti?" Boy segera pergi setelah mengatakan semua maksudnya.


Pandu tertegun setelah mendapat peringatan keras dari Boy.


"Ayah! Apa yang dia bicarakan tadi? Aset kita?" tanya Pandu pada ayahnya.


"Kita sudah bangkrut, Nak!"


"APA?!" Pandu berteriak kaget.


"Pihak Avicenna Grup sudah membeli semua aset kita di kota, Nak," tutur Sugih.


Tiba-tiba tubuh Pandu melemah. Ia pun terduduk lesu. "Ayah tidak bercanda, kan?"


"Tentu saja tidak! Dokter Boy sudah membeli semuanya."


😡😡😡😡


Sultan dilawan! Hahaha makanya jangan maen-maen!