
...Sebuah rasa di hati tidak akan bisa dipaksa...
...Kau yang hadir pernah memberiku luka...
...Kini kembali dengan membawa asa...
...Apakah hati ini akan tetap sama?...
...Ataukah berubah seiring jalannya waktu...
......***......
Shelo amat terkejut dengan sikap Rion yang tiba-tiba menciumnya di depan umum. Sungguh ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ini adalah pertama kalinya ia berdekatan dengan seorang pria. Shelo memilih diam dan tak membalas apa pun. Meronta pun tidak akan bisa karena Rion menarik tengkuknya dalam.
Rion memejamkan mata menikmati sentuhan bibir lembut nan suci milik Shelo. Bisa langsung diketahui jika ini adalah kali pertama Shelo mendapatkan sebuah ciuman. Rion tak ingin terburu-buru meski orang-orang disekitarnya begitu heboh dengan apa yang dilakukannya.
Semakin lama Rion semakin intens memagut bibir manis itu. Dan semakin lama pula Shelo akhirnya mulai memejamkan matanya. Ia berpasrah dan tak berusaha menolak. Sesuatu yang bergetar mulai menyentuh hatinya.
Rion menyudahi ciumannya dan menyatukan keningnya dengan kening Shelo. Dilihatnya Shelo masih terpejam setelah apa yang dilakukannya dengan sebuah paksaan.
"Maaf..." Satu kata terucap dari bibir Rion dan membuat Shelo membuka matanya.
Rion merangkum wajah gadis itu dan menatapnya dalam. Shelo membalas tatapan Rion yang terlihat begitu tulus padanya. Diusapnya bibir Shelo yang basah karena ulahnya.
"Kita pulang ya!" ajak Rion.
Shelo hanya menjawab dengan sebuah anggukan sebagai tanda setuju. Rion menggenggam tangan Shelo erat dan membawanya keluar melewati kerumunan orang yang melihat mereka dengan tatapan penuh tanya.
Shelo hanya menunduk malu namun ia sendiri tak bisa protes dengan tindakan Rion. Shelo dengan patuh masuk ke mobil Rion. Padahal sebelumnya ia akan marah dan bersikap ketus pada pria itu.
Rion mulai melajukan mobilnya keluar dari area gedung Royale Hotel. Shelo masih diam dan tak ingin mengatakan apa pun. Rion pun sama.
Setelah tindakan gegabahnya dengan mencium Shelo di depan semua teman-temannya, ia malah tak bisa berkutik untuk sekedar menatap gadis itu. Padahal saat dulu mencuri sebuah ciuman dari Aleya, ia bahkan berani mengungkapkan rasa dihatinya. Kenapa sekarang hanya bisa diam? Apa karena Shelo memang berbeda dengan Aleya?
Rion menghentakkan jari-jarinya pada kemudi untuk mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkan.
"Umm, apa kau sudah makan?" tanya Rion.
Rion mengumpati dirinya dalam hati karena hanya itu yang malah dia katakan.
"Sudah. Apa kakak belum makan?"
"Umm, iya sih. Tapi, jika kau ingin pulang aku akan mengantarmu ke rumah lebih dulu."
"Tidak apa. Aku akan menemani kakak makan."
"Eh?" Rion terkejut karena Shelo tidak marah padanya.
"Aku ... aku minta maaf. Maaf atas sikapku tadi yang..."
"Sudahlah! Semua sudah terjadi. Jangan meminta maaf lagi."
"Baik. Tapi, bisakah kau berjanji satu hal padaku?"
"Ish, pria memang aneh. Dia sudah mengambil keuntungan tapi masih meminta hal lain."
"Hehe." Rion meringis sambil menggaruk tengkuknya.
"Kakak makanlah dulu lalu nanti bicara."
Rion mengangguk kemudian menuju ke sebuah resto.
"Kenapa kemari?" tanya Shelo bingung karena Rion membawanya ke sebuah kafe.
"Kejadian buruk waktu itu tidak ingin kuulang lagi," balas Rion lalu turun dari mobilnya.
Shelo masih diam tidak mengerti apa yang sebenarnya Rion inginkan darinya.
Rion membukakan pintu mobil untuk Shelo. "Silakan turun, Nona!" Rion berkata dengan sangat sopan.
Shelo mengerutkan kening namun tetap mengikuti keinginan Rion. Kembali pria itu menggenggam tangan Shelo dan mengajaknya masuk ke dalam kafe.
Mereka disambut oleh pelayan yang menunjukkan sebuah tempat yang cocok untuk dua sejoli.
"Apa sih maunya? Kenapa malah membawaku kemari?" batin Shelo.
Rion memilih tempat duduk yang cukup romantis untuk mereka berdua.
"Bukankah kakak hanya ingin makan? Kenapa harus memesan tempat seperti ini segala?" tanya Shelo sambil mengedarkan pandangannya.
"Aku hanya ingin bicara dengan nyaman denganmu."
"Kalau begitu bicaralah!" titah Shelo.
Rion nampak menghela napas sebelum mengatakan banyak hal yang sudah ia siapkan sebelumnya.
"Aku ingin minta maaf padamu. Aku tahu aku terlalu mementingkan egoku dengan melarikan diri. Aku memikirkan banyak hal ketika aku pergi. Aku sudah sangat menyakiti hati orang-orang yang menyayangiku. Dan aku menyesalinya..."
Shelo hanya diam dan menatap Rion.
"Aku akan membuktikannya jika kau tidak percaya."
"Untuk apa kakak melakukan semua ini?" tanya Shelo kemudian.
"Aku ingin memperbaiki semua kesalahanku yang kemarin."
"Apa ini karena bibi Marinka? Kudengar beliau sakit karena ulah kakak."
"Ti-tidak! Aku melakukannya untuk diriku sendiri. Aku sadar aku salah. Tolong maafkan aku. Aku ingin melanjutkan perjodohan kita."
Shelo menghela napas. Ia menatap jengah pria didepannya meski ia mulai percaya dengan apa yang dikatakan pria itu.
Malam ini Shelo merenungi semua yang terjadi dalam hidupnya. Ia duduk di tepi tempat tidur setelah Rion mengantarnya pulang ke rumah. Ia memutuskan untuk membersihkan diri dan bersiap pergi ke alam mimpi.
Saat datang tadi, Julian dan Kartika sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada anak gadisnya. Namun Shelo tak menjawab apa pun dan memilih diam. Untuk saat ini ia ingin memikirkan semuanya sendiri. Ayahnya sudah memberikan hak padanya untuk mengambil keputusan sesuai dengan yang hatinya inginkan.
Shelo merebahkan tubuh lelahnya dan menatap langit-langit kamarnya. Shelo memegangi bibirnya yang kini sudah tak lagi suci.
"Calon istri katanya? Yang benar saja! Aku sendiri belum menjawab untuk setuju. Dasar pria aneh!"
Wajah Shelo memerah mengingat apa yang terjadi tadi.
"Ah, ya ampun! Besok pasti teman-teman akan heboh. Lalu Reval? Astaga! Aku bahkan tidak memikirkan bagaimana dia akan bersikap padaku nanti?"
Shelo uring-uringan sepanjang malam dan malah tak bisa memejamkan matanya.
...๐๐๐...
Hari ini Shelo akan mendaftar sebagai calon mahasiswi di universitas Avicenna. Julian memberikan alternatif beberapa jurusan yang memang favorit di kampus itu.
"Kedokteran, itu yang terfavorit. Lalu setelahnya ada hukum, dan science. Kau ingin memilih yang mana?"
"Hah?!" Shelo menghela napasnya.
"Umm, aku ingin mendalami fashion design seperti Mama," ucap Shelo dengan mata berbinar.
Julian dan Kartika saling pandang.
"Mama punya kenalan yang bisa mengajarimu fashion design. Dia juga mengajar kuliah umum di kampus Avicenna."
"Eh? Benarkah, Ma? Siapa?"
"Namanya Shanum Melodia. Dia desainer muda yang sangat berbakat. Dia juga tidak pelit untuk membagi ilmunya."
Mata Shelo langsung berbinar. "Wah, senangnya. Aku mau bertemu dengannya, Ma."
"Iya, nanti Mama kenalkan dengan dia. Sekarang sebaiknya kau pergilah mendaftar dulu di kampus."
Shelo mengangguk mantap. "Iya, Ma."
*
*
*
Shelo telah bersiap dengan kemeja panjang dan celana jeans santai andalannya. Rambut panjangnya sengaja ia gerai agar terlihat feminim.
Ketika turun ke lantai bawah, Shelo mendapati sosok yang tidak asing untuknya.
"Kak Rion?" ucap Shelo kaget.
"Rion sudah menunggumu dari tadi. Sekarang berangkatlah!" ucap Kartika.
Shelo menyapa Rion sekenanya saja. Ingatan mengenai malam itu membuatnya kembali canggung.
"Ayo, Kak!" ajak Shelo.
Rion mengikuti langkah Shelo keluar dari rumahnya. Rion membuka pintu mobil untuk Shelo.
"Terima kasih," ucap Shelo.
Rion pun mulai melajukan mobilnya keluar halaman rumah Shelo.
"Apa kakak tidak sibuk? Kenapa tiba-tiba datang ke rumah?"
"Tidak. Aku masih belum bekerja kembali di rumah sakit. Jadi, aku masih ada waktu luang untuk menemuimu."
Shelo manggut-manggut tanda mengerti.
"Tapi, kau tenang saja. Kau tidak akan memiliki calon suami yang pengangguran kok. Sebentar lagi aku juga akan kembali bekerja."
Shelo mencibirkan bibirnya. "Calon suami? Dia percaya diri sekali!" gumam Shelo yang masih bisa di dengar oleh Rion.
"Satu-satunya modalku saat ini adalah rasa percaya diriku. Jadi, apalah aku jika aku tidak percaya diri untuk memperjuangkan rasaku."
"Apa sih maksudnya? Tidak jelas!" lirih Shelo lagi.
Tiga puluh menit berlalu dan kini mereka tiba di halaman kampus Avicenna yang megah itu. Shelo berdecak kagum karena baru pertama kali menginjakkan kaki disana.
"Kau ingin mengambil jurusan apa?" tanya Rion.
"Fashion design."
"Eh?"
Entah kenapa Rion agak tak suka dengan keputusan Shelo. Ia teringat akan kawannya yang selalu patah hati karena seorang desainer yang selalu membuat hatinya runtuh hingga akhirnya memutuskan pergi ke luar negeri.
"Shelo!" Sebuah suara membuat Rion dan Shelo menoleh kesana.
"Reval?" Shelo menyapa kawannya itu.
Ada tatapan tak suka yang ditunjukkan Reval pada Rion. Begitu juga sebaliknya. Rion merasa jika pria bernama Reval ini memiliki rasa lebih pada calon istrinya.
"Hai, Shel. Kau sudah memutuskan untuk mengambil jurusan apa?" tanya Reval.
"Iya. Aku akan ingin menjadi desainer seperti mamaku. Kau sendiri? Akan mengambil jurusan apa?"
"Aku ingin mengambil kuliah bisnis. Aku harus melanjutkan bisnis ayahku."
Rion berdecak kesal mendengar jawaban Reval.
"Apa ini? Kenapa aku kesal pada bocah ingusan ini? Lalu mereka ternyata akan kuliah di tempat yang sama. Itu berarti mereka akan sering bertemu. Ah, menyebalkan!" batin Rion menggerutu.
"Kak! Ayo!" Suara Shelo membuat Rion kembali sadar.
"Ah, iya. Ayo! Kita ke ruang administrasi dulu saja."
Dan akhirnya mereka bertiga malah berjalan bersama menuju ruang administrasi.
Setelah berkutat dengan dokumen-dokumen yang harus dipenuhi sebagai persyaratan mahasiswa baru, Shelo dan Reval pun keluar. Rion sedari tadi memasang wajah masam karena melihat interaksi antara Shelo dan Reval.
Tiba di parkiran, Shelo berpamitan dengan Reval. Namun lagi-lagi Reval membuat ulah dengan mengatakan sesuatu yang membuat Rion marah.
"Baiklah. Aku juga akan pergi. Oh ya Kak Rion, kudengar kau adalah salah satu anak jenius yang pernah menuntut ilmu di kampus ini. Lalu, kenapa kau begitu bodoh untuk menunjukkan rasamu? Kau bahkan tidak memahami bagaimana harusnya bersikap dengan seorang wanita."
Rion tersulut emosi dengan kata-kata Reval.
"Apa maksudmu?"
"Aku tidak punya maksud apa pun. Tapi, kau harus ingat. Jika kau menyia-nyiakan lagi hal yang sangat berharga untuk dirimu, maka orang lain bisa saja merebutnya darimu."
"Kau!" Rion yang hampir saja melayangkan tinjunya segera dilerai oleh Shelo.
"Kak, sudah! Ini di kampus. Jangan membuat keributan. Reval, sebaiknya kau pergi."
Tanpa berpamitan Reval segera masuk ke dalam mobil dan menginjak pedal gas dalam-dalam.
"Apa yang kakak lakukan? Kenapa hampir berkelahi dengan Reval?"
"Dia yang mulai lebih dulu!"
"Tapi apa yang dia katakan memang benar." Shelo melengos dan masuk kedalam mobil Rion.
Sejenak Rion mematung kemudian mengikuti Shelo yang sudah lebih dulu masuk kedalam mobil.
Ada apa dengan Rion? Apa dia cemburu dengan Reval? Wah, sepertinya Rion harus kerja extra ya untuk meyakinkan Shelo.
Nantikan kisah mereka selanjutnya yak genks...
*Sepertinya benar jika cinta bisa mengubah orang pintar menjadi bodoh, contohnya kek Rion ini, hehehehe.
Jangan lupa dukungannya ya genks di hari senin ini