Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 179. Bentuk Cinta


...Pernahkah kau bertanya...


...Seperti apa bentuk air tanpa wadah...


...Pernahkah kau mengira...


...Seperti apa bentuk cinta?...


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


"Iya, aku mau menikah denganmu," balas Shelo dengan sebuah senyuman.


Rion terkejut dan membulatkan matanya.


"Kau serius?" tanyanya yang masih tak percaya jika Shelo bersedia menikah dengannya.


Shelo mengangguk mantap.


"Di usia 22 tahun?" Tanya Rion yang sedikit ragu.


Shelo tertawa. "Tidak! Bukan selama itu juga. Untuk saat ini aku ingin mengenal kakak lebih banyak. Aku..."


"Terima kasih. Terima kasih, Shelo." Rion memeluk Shelo erat.


Shelo membalas pelukan Rion. "Kakak sudah melakukan semua ini, kenapa kita tidak memakannya?" Shelo melirik kearah meja makan yang sudah tertata rapi.


Makanan mereka belum habis disantap karena tadi terjeda dengan lamaran Rion.


"Tunggu sebentar!" Rion merogoh sakunya dan mengambil sebuah kotak cincin.


"Sini jarimu!"


"Apa ini perlu?" tanya Shelo.


"Tentu saja! Ini sangat perlu karena aku ingin memberitahu dunia jika kau hanya milikku!"


Shelo terkekeh geli.


"Aku tidak suka kau didekati oleh pria lain. Terutama pemuda yang bernama Reval Reval itu!" sungut Rion.


"Ish! Apa kakak sangat posesif?"


Rion menarik pinggang Shelo mendekat padanya.


"Posesif pada calon istri sendiri apa salahnya?"


Shelo tersenyum. Ia melihat sebuah cinta dan ketulusan di mata Rion. Kini ia yakin jika Rion benar-benar memiliki cinta untuknya.


Rion kembali menghapus jarak diantara mereka. Tanpa aba-aba Shelo memejamkan mata karena tahu apa yang dilakukan Rion.


Sebuah ciuman panjang dan berirama kembali tercipta diantara dua insan yang sedang terpanah asmara. Shelo mengalungkan kedua tangannya di leher Rion membuat ciuman mereka semakin intens.


...Ini adalah cinta remaja yang indah. Usia 17 tahun yang selalu dinanti oleh seorang remaja putri sebagai waktu dimana cinta bersemi dan meletup-letup. Mengalir bagai aluna melodi yang indah. ...


...-Shelomita Avicenna-...


...πŸ’Ÿ...


...Tidaklah mudah menemukan cinta. Berbagai kesakitan dan kesedihan harus terlewati untuk mencapai sesuatu yang suci. Tak peduli berapa lama waktu yang kuperlu, hingga kudapat sebuah madu manis yang akan menemani hingga akhir hayat. ...


...-Rion Ibrahim-...


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


Sementara itu di kediaman Dion, ia dan Zetta sedang menebak-nebak apa yang terjadi dengan Rion dan Shelo. Mereka berharap jika Shelo adalah wanita terakhir yang akan menemani Rion di sepanjang hidupnya.


"Aku sudah menyiapkan semuanya sedemikian rupa. Semoga adikmu itu tidak merusak segalanya," harap Zetta.


"Rion bukan orang yang mudah mengutarakan perasaannya. Kita berdoa saja semoga Rion benar-benar bisa mengungkapkan perasaannya pada Shelo," sahut Dion.


Mereka kini sedang berada diatas tempat tidur dan bersandar di tepi ranjang. Dion mengelus lembut perut Zetta yang sudah besar.


"Gadis itu masih terlalu muda. Apa iya dia mau menikah di usianya yang masih belia?"


"Shelo memang masih muda, tapi pemikirannya sangat dewasa. Itu yang kutahu dari Nathan."


"Oh ya, bagaimana dengan pria muda itu? Apa dia benar-benar punya hubungan dengan putri keluarga Dirgantara?" tanya Zetta penasaran.


"Hah, dasar ibu-ibu, suka sekali menggosip. Nathan masih terlalu muda untuk memikirkan itu. Lagi pula Nathan tidak ingin mendahului Boy."


Zetta menghela napas. "Aku tidak mengerti dengan pemikiran adik sepupuku itu. Sangat jelas jika dia mencintai Boy, tapi masih saja menyangkalnya. Aku kesal jika mengingatnya! Sudah, jangan membahasnya!"


"Ya sudah, sebaiknya kita istirahat saja. Jangan pikirkan yang lain. Aku yakin jika mereka memang berjodoh, pasti Tuhan akan mempertemukan mereka lagi."


Zetta mengangguk kemudian merebahkan tubuhnya. Perutnya yang membesar mengharuskan dia tidur dengan setengah duduk.


"Ambilkan bantal satu lagi!" titah Zetta.


"Iya, sayang. Tidurlah ya! Anak Papa, baik-baik ya disana. Sebentar lagi kau akan melihat dunia." Dion mengecup perut Zetta kemudian mengecup bibir Zetta sekilas.


"Selamat tidur, sayang..." ucap Dion mengusap puncak kepala Zetta.


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


Pagi hari, Kenji bersiap untuk datang ke kampus Avicenna. Setelah kembali, Kenji memutuskan untuk mengajar di universitas Avicenna atas rekomendasi dari Roy.


Kenji berjalan menyusuri jalanan setapak kampus yang memang asri itu. Beberapa mahasiswa yang berpapasan dengannya menyapa ramah pria matang itu.


Pria itu membalas dengan seulas senyum yang tetap menunjukkan wajah dinginnya. Kenji adalah idola baru untuk mahasiswi kampus setelah Nathan lulus dan mengambil alih Avicenna Grup. Wajah ala asianya membuat Kenji yang terkenal dengan pemain wanita digilai para mahasiswi.


Usai mengajar kelas pagi, Kenji yang memang belum menyantap sarapan memutuskan untuk pergi ke kantin kampus. Tiba di kantin, Kenji kembali membuat keributan karena mahasiswi berteriak histeris melihat Kenji disana.


"Ah, astaga! Kapan aku bisa makan dengan tenang?" Kenji memijat pelipisnya pelan.


Seseorang meletakkan piring pesanan Kenji dengan kasar membuat pria itu mendongakkan kepala.


"Ini pesanan Anda, Tuan," ucap seorang gadis bertopi itu.


"Hei, aku disini pembeli. Harusnya kau bersikap lebih sopan denganku!" sungut Kenji tak terima.


"Dengar, Tuan. Kau adalah pelanggan yang merepotkan! Setiap kau datang ke warung kami selalu terjadi kehebohan dan itu membuat pelanggan lain tidak nyaman."


"Bukankah itu adalah hal yang bagus? Jadi banyak orang yang berkunjung ke warungmu ini! Kau harus berterimakasih padaku. Kau benar-benar tidak sopan!"


"Jika mereka membawa keuntungan bagiku itu tidak masalah! Mereka hanya membuat keributan disini tanpa memesan apapun!" seru gadis itu tak mau kalah.


"Itu karena kau bersikap tidak sopan pada pelangganmu! Masih untung aku mau makan disini."


"Kalau begitu pergi saja sana! Jangan makan disini!" Gadis itu mengambil piring makanan Kenji.


"Enak saja! Aku sudah membayarnya!" Kenji merebut kembali piring dari tangan gadis itu.


"Keyra, sudah! Maaf ya Profesor Kenji. Anak saya memang terkadang suka meledak-ledak." Seorang wanita paruh baya menginterupsi perdebatan Kenji dan Keyra.


Wanita itu menarik tangan Keyra dan memintanya pergi meninggalkan Kenji. Gadis itu melepas cengkraman tangan ibunya.


"Ibu! Kenapa ibu membela dia? Jelas-jelas dia sudah membuat keributan di warung kita."


"Sudah, Nak. Jangan membantah! Ibu bisa berjualan disini karena kemurahan hati dokter Boy. Profesor Kenji adalah salah satu sahabat dokter Boy. Jadi, ibu mohon jangan cari masalah dengan dia. Ya?"


Keyra memutar bola matanya malas. "Iya, iya baiklah, Ibu." Keyra berlalu dari hadapan ibunya.


Diam-diam Kenji memperhatikan interaksi antara ibu dan anak itu. Ia menarik sudut bibirnya melihat sifat Keyra yang keras kepala.


"Gadis yang menarik," gumamnya kemudian menyuapkan lagi makanannya kedalam mulut.


Setelah sarapannya tandas, Kenji mengedarkan pandangan mencari keberadaan Keyra.


Dilihatnya gadis itu sedang mencuci piring di bagian belakang warung.


"Hai..." sapa Kenji sok akrab.


Keyra tak menimpali sapaan Kenji.


"Maaf atas sikapku tadi. Namaku Kenji." Pria itu mengulurkan tangannya.


"Pergilah! Jangan menganggu pekerjaanku!" usir Keyra.


"Kulihat-lihat seharusnya kau seumuran dengan mahasiswa disini."


Keyra menatap tajam Kenji. "Usiaku 25 tahun. Sudah tidak pantas di sebut mahasiswa. Pergilah! Aku tidak ingin berdebat denganmu!"


Keyra menata piring yang sudah dicucinya kedalam lemari.


Kenji tersenyum mendapat penolakan dari Keyra. Baru kali ini ada gadis yang menolak pesona seorang Kenji.


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


Kenji menemui Dion di sebuah kafe tempat biasa mereka nongkrong. Setelah menikah, Dion tidak pernah lagi datang ke klub malam, begitu juga dengan Kenji yang mengikuti nasihat Zetta.


Kenji merebahkan tubuhnya di sofa ruangan pribadi itu.


"Kenapa? Apa sangat melelahkan mengajar di kampus?" tanya Dion.


"Tidak juga."


"Kurasa kau bahkan menjadi idola baru untuk mahasiswi disana. Iya kan?"


Kenji terbangun. "Dari mana kau bisa tahu?"


Dion tertawa. "Pesona seorang cassanova memang tiada duanya. Beruntung Zetta tidak jatuh cinta padamu."


"Ish, kau! Aku yang jatuh cinta padanya!"


Dion melotot kearah Kenji.


"Haha, bercanda kawan. Jangan dimasukkan ke hati."


"Iya, iya. Aku tahu kau pria baik, Ken. Makanya aku dan Zetta berharap kau bisa mendapat wanita yang bisa mengubah duniamu."


Tiba-tiba bayangan Keyra terlintas di otak Kenji. Gadis pemarah dan meledak-ledak yang sama sekali tidak tertarik padanya.


"Woi, malah melamun!" Dion menepuk bahu Kenji.


"Sepertinya aku sudah menemukannya, Dion."


"Oh ya? Secepat ini?"


"Kau tahu, Bi Minah penjual nasi padang di kantin kampus."


"Iya, tahu. Kenapa memangnya?"


"Dia memiliki seorang putri yang cukup bar-bar. Entah kenapa ada hal yang menarik tentangnya." Kenji bercerita tentang Keyra dengan bibir yang terus mengembangkan senyum.


"Wah, wah. Aku baru tahu jika seorang Kenji tertarik dengan gadis biasa seperti itu."


"Mungkin karena hanya dia saja yang menolakku. Makanya aku ... tertarik padanya."


"Kalau begitu mantapkan hatimu dan segeralah menikah. Jangan terus bermain-main."


Kenji mengangguk mantap. "Iya, sudah saatnya aku mencintai seseorang hingga akhir hayatku. Aku yakin dia adalah jodohku."


Dion tersenyum bangga melihat perubahan sahabatnya.


😍😍😍😍*Aih aih, si Kenji udah mulai berubah nih. Semua akan mendapatkan kebahagiaan masing-masing ya...