Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 123. Boy vs Aleya


Malam harinya, Boy kembali menaiki bukit untuk menghubungi Natasha. Sebelum mendengar suara Natasha, Boy tidak akan bisa tidur dengan tenang. Hatinya bergemuruh karena berjauhan dengan kekasih tercinta.


"Apa yang sebenarnya dia lakukan hingga selalu sibuk saat aku meneleponnya? Menyebalkan sekali aku harus terus mendengar suara pria gemulai itu!" Boy berucap dengan berapi-api dan menendang apa saja yang ada di depannya.


Setelah menuruni bukit, Boy ingat jika ia harus menemui kepala desa bersama Fajri. Boy melirik jam tangannya. Fajri adalah orang yang disiplin, saat ini kawan Boy itu pasti sudah berada di rumah sang kepala desa.


Boy berjalan sambil memandangi ponselnya. Ia amat merindukan kekasih hatinya meski belum 24 jam mereka berpisah. Entah kenapa setelah bertunangan, Boy malah semakin takut jika hubungannya akan goyah. Apalagi mereka harus terpisah selama dua bulan.


Kini Boy merutuki keputusannya menerima tawaran Fajri mengenai proyek Desa Selimut ini.


"Anda yang bernama Tuan Boy, bukan?" Sebuah suara membuat Boy menoleh dan menghentikan langkahnya.


"Iya, ada apa?" jawab Boy dingin.


Aleya menatap Boy intens dengan tatapan tak suka. Pria di depan Aleya ini sangatlah dingin dan terkesan sombong.


"Apa Anda baru saja menaiki bukit untuk menghubungi seseorang dengan ponsel Anda?" tanya Aleya.


"Kalau iya, kenapa? Bukan urusanmu juga kan? Jangan karena kau adalah anak kepala desa kau jadi bersikap seenaknya kepada tamu. Bukankah harusnya tamu itu disambut dengan baik? Kenapa kau malah seakan mencecarku?"


Aleya mengepalkan tangannya.


"Karena Anda sudah melanggar peraturan di desa ini. Bukankah ayah saya sudah bilang jika di desa ini dilarang menggunakan alat telekomunikasi apapun? Tapi Anda malah sengaja mencari sinyal sampai naik keatas bukit! Desa ini sangat menghormati tradisi dan adat, jadi sebaiknya Anda jangan merusaknya!"


"Merusak katamu?!" Boy tak mau kalah dengan seorang gadis kecil yang menurutnya sok tahu.


"Ada apa ini, Boy?" Fajri yang sedang berbincang dengan Kosih segera keluar rumah karena mendengar keributan dari seorang wanita dan laki-laki.


Boy terdiam. Ia mengacak rambutnya.


"Aleya, ada apa ini, Nak? Apa kau bertengkar dengan Tuan Boy?" tanya Kosih pada putrinya.


"Tidak, Ayah. Aku hanya tidak suka jika ada orang yang ingin merusak tradisi desa kita. Itu saja!" jawab Aleya lantang dengan menatap Boy.


Boy memelototkan mata tak percaya jika gadis kecil itu akan mengadu pada ayahnya.


"Saya mohon maaf, Nona. Saya akan menasihati teman saya agar lebih berhati-hati." Fajri berusaha mendinginkan suasana.


"Pak Kosih, kalau begitu saya permisi dulu. Besok kita langsung tinjau saja lokasi yang sudah kita sepakati bersama. Saya permisi!" Fajri segera menarik lengan Boy agar menjauh dari sana.


"Lepaskan aku, Ji!" Boy menepis tangan Fajri.


"Kau ini! Sudah kubilang kau jangan berbuat sesuka hatimu! Desa ini sangatlah misterius, dan kau tidak tahu apa yang bisa terjadi pada kita jika kita melanggar aturan disini."


"Aku hanya menelepon, Ji. Apa aku salah? Sejak aku datang kesini Natasha sama sekali tidak bisa dihubungi. Dia sangat sibuk dan hanya managernya yang menjawab."


Fajri menggeleng pelan. "Natasha pasti baik-baik saja, Boy. Kau sendiri tahu jika dia memang sibuk bekerja. Lagi pula kau sudah meminta Choky untuk mengawasi Natasha kan? Kau percayakan saja semuanya pada Choky. Besok kita akan memulai proyek ini. Sebaiknya kau bersiap! Kita harus bersikap profesional dan kesampingkan masalah pribadimu dulu." Fajri masuk ke dalam rumah dan menemui teman-temannya yang lain.


"Hai, Ji. Bagaimana hasil pertemuanmu dengan kepala desa?" tanya Rion.


"Baik. Kalian sedang melakukan apa?"


"Aku sedang melihat hasil rancangan bangunan rumah sakit yang dibuat Rana. Apa kau ingin mengeceknya?"


"Tidak perlu. Bukankah kita sudah sepakat akan melakukan tugas kita masing-masing. Jadi, bertanggungjawablah untuk job desk kita sendiri." Fajri memasuki kamarnya.


Dion menepuk pelan bahu Boy. Sepertinya ia tahu jika Boy dan Fajri sedang bersitegang.


"Kau jangan khawatir. Aku yakin Tasha pasti baik-baik saja disana," ucap Dion yang ternyata mendengar perdebatan Boy dan Fajri.


Boy mengangguk. "Sial! Ini semua gara-gara gadis sok tahu itu! Aku dan Fajri jadi bertengkar begini," batin Boy.


......***......


Keesokan harinya, Boy dan kawan-kawan meninjau lokasi yang akan dibangun sebuah rumah sakit untuk Desa Selimut. Selama ini desa ini hanya memiliki klinik kecil untuk mengurus masalah kesehatan warga desa.


Rana mengeluarkan cetak birunya dan disesuaikan dengan luas tanah disana. Ia berdiskusi dengan para pekerja yang akan mengerjakan bangunan.


Sementara Dion dan Rion memutuskan untuk membuka praktek gratis pemeriksaan kesehatan untuk warga desa. Tentu saja niat baik mereka disambut baik oleh warga disana. Mereka membuat sebuah tenda yang digunakan sebagai bilik periksa.


Banyak warga antusias berdatangan ingin memeriksakan diri pada dokter Rion dan Dion. Dion memeriksa antrian para pasien lansia, sedang Rion memeriksa pasien anak-anak.




(Meski wajahnya terkesan dingin, Dokter Dion itu hangat dan ramah lho! Gak hanya ciwi2 yg mendekat, para emak2 juga pasti mau mendekat 😋😋)


Aleya senang karena warga desanya antusias dengan kedatangan tamu dari kota itu. Namun senyumnya memudar kala melihat satu sosok pria yang sedari tadi hanya diam dan bersedekap meski dirinya tahu jika kedua temannya sedang sibuk memeriksa kondisi para pasien yang membludak.


"Bukankah Anda adalah seorang dokter juga? Kenapa Anda tidak bergabung dengan teman-teman Anda? Mereka bahkan kewalahan karena banyaknya warga yang datang," sindir Aleya dengan ketus.



Boy menatap tajam kearah Aleya yang sekali lagi berani mengusiknya.


"Kau hanya anak kecil yang bisanya hanya bicara saja!"


Tak mau kalah Aleya berkacak pinggang berhadapan dengan Boy.



"Astaga! Kau ini memang sangat menyebalkan! Aku memang masih 18 tahun dan tidak tahu apapun soal pekerjaanmu! Tapi jika kau punya hati nurani harusnya kau bisa memahami jika teman-temanmu juga membutuhkanmu."


"Dengar ya gadis kecil, aku adalah dokter kandungan. Kita sudah memiliki tugas dan tanggung jawab sendiri-sendiri. Jadi, kau jangan ikut campur urusanku!" Boy berlalu meninggalkan Aleya yang mengerucutkan bibirnya.



"Dasar sombong! Pasti tidak ada gadis yang mau dengan pria seperti dia!" sungut Aleya.


"Maafkan temanku, ya." Sebuah suara menginterupsi Aleya.


"Eh? Tuan?"


"Fajri. Panggil saja Aji." Fajri mengulurkan tangannya.


"Aleya." Gadis manis itu menyambut uluran tangan Fajri.


Dari kejauhan ada sepasang mata yang memperhatikan interaksi antara Fajri dan Aleya. Sejak datang ke desa ini, pesona Aleya memang mengaduk-aduk hatinya yang selama ini sepi.


"Woi, Rion! Jangan melamun! Itu pasienmu menunggu!" teriak Dion, saudara kembar Rion.


"Ah, iya, Kak. Maaf! Halo anak manis, apa yang sakit?" Rion kembali fokus pada pasien kecilnya yang mengeluh sakit perut. Pria berkaca mata ini tertawa karena melihat tingkah lucu pasiennya yang rata-rata hanya berpura-pura sakit saja.


"Maaf ya, Dokter. Anak-anak disini hanya ingin berkenalan dengan dokter saja," goda Aleya yang tiba-tiba ada di depan Rion.


Seketika Rion gugup karena gadis manis itu tiba-tiba datang.


"Ah tidak apa. Namanya juga anak-anak. Lalu, apa kakak sendiri tidak ingin mengenal dokter adik-adiknya?" Kini giliran Rion yang menggoda Aleya.


Senyum yang manis mengembang di wajah cantik Aleya.


"Namaku Aleya," ucap Aleya dengan mengulurkan tangannya.


"Rion!" Pemuda itu menyambut uluran tangan Aleya.


Seakan tersengat listrik, Rion tersihir oleh pesona Aleya yang ceria dan ramah.


...B E R S A M B U N G ...


"Wah, Rion kayaknya lope lope nih sama Aleya. Trus Aleya sendiri terpikat sama siapa ya? Ada enam cowok tampan lho! wkwkwkwk."


Jangan lupa dukungannya selalu untuk karya remukan mamak inih. Karna kalian adalaaah semangatkuuuuuhhh😍😍


...HAPPY WEDNESDAY...


Rabu.... menggebu gebuuuuuu


Mampir juga yuk ke 👇👇👇👇



Buat yg suka dengan bacaan yg rada mikir mari mampir ke Rakhania. Terinspirasi dari kisah Detective Conan, yang penuh teka teki, he he