
Roy membawa Belinda ke apartemen miliknya. Ia mencoba menenangkan Belinda. Ia tahu jika saat ini Belinda sedang kecewa padanya.
"Minumlah dulu!" Roy membawakan segelas air untuk Belinda.
Belinda menerimanya namun tak mengatakan sepatah katapun. Ia langsung meneguk segelas air pemberian Roy.
"Aku mohon kamu jujur! katakan yang sebenarnya siapa Patrick? Apa benar dia adalah kakakmu?" tanya Belinda.
Roy tampak terdiam. Ia tahu jika Belinda pasti sudah melihat berita di televisi.
"Katakan yang sebenarnya padaku, dokter Roy!"
"Baiklah. Aku akan mengatakannya."
"Memang benar Patrick adalah kakakku. Kami berbeda ibu."
"Sepuluh tahun lalu dia meninggalkan rumah dan tidak ada yang tahu kemana dia pergi. Aku baru bertemu lagi dengannya setelah mengenalmu."
Belinda menyimak cerita Roy dengan seksama.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian? Kenapa Patrick sampai pergi dari rumah?"
"Itu karena terjadi sesuatu dengan seseorang."
"Apakah itu Belinda?"
"Kau sudah tahu?"
"Kenzo hanya bercerita sedikit. Dia bilang Belinda sudah meninggal."
"Benar. Belinda memang sudah meninggal."
"Siapa dia, dokter Roy?"
"Dia adalah gadis yang dicintai oleh Julian."
"Tidak ada yang tahu penyebab kematian Belinda Rawles. Saat itu aku pikir Julian sangat terpukul atas kematian Belinda. Karena itu dia pergi dari rumah."
"Apa Gadis itu dibunuh?"
"Entahlah. Polisi tidak mendapatkan titik terang. Aku juga terkejut saat tahu kau bernama Belinda."
"Mungkinkah Julian sengaja memberikan nama itu untukmu agar dia tetap bisa mengenang Belinda?"
"Dokter Roy, aku mencurigai sesuatu."
"Sesuatu apa?"
"Aku belum tahu tapi aku rasa ini ada hubungannya dengan Patrick."
"Sudahlah. Jangan berpikir macam-macam. Aku yakin Julian adalah orang yang baik. Dia menjadi pimpinan Ar-Rayyan Group yang baru pasti ada alasannya."
Belinda mengangguk paham.
"Oh ya, Bels. Sebenarnya tadi kamu mau kemana?"
"Aku ingin menemui Patrick. Aku ingin meminta penjelasan darinya."
"Jika memang benar nama Belinda adalah nama gadis yang dia cintai, maka sebaiknya aku melepaskan nama itu. Aku akan kembali menggunakan namaku sendiri."
Roy tersenyum tipis.
"Aku senang kau mau menggunakan namamu sendiri." ucapnya.
Belinda membalas senyuman dari Roy ketika tiba-tiba ponsel Roy berdering. Ada sebuah pesan masuk.
"Bels, maaf. Aku harus pergi. Apa kau ingin tetap disini atau...?"
"Tidak. Sebaiknya aku kembali ke kamarku."
"Baiklah." Roy membelai wajah Belinda kemudian memberikan sebuah ciuman singkat di kening Belinda.
...***...
Malam ini Donald mengundang seluruh anggota keluarganya untuk makan malam di rumah. Donald juga mengundang Julian untuk ikut dalam acara makan malam keluarga Avicenna.
Pukul tujuh malam, Julian tiba di rumah yang sudah hampir 10 tahun lebih tidak ia datangi. Rumah yang penuh kenangan manis sekaligus pahit.
Julian disambut oleh Donald yang terlihat bahagia karena bisa melihat cucunya kembali ke rumah.
"Terima kasih karena sudah bersedia datang, Nak."
"Jangan sungkan, Kek. Bukankah aku masih tetap menyandang nama keluarga Avicenna?" balas Julian.
"Tentu saja. Sampai kapanpun kau tetaplah anggota keluarga ini. Ayo masuk! Aku yakin semua orang sudah menunggu."
Julian masuk kedalam rumah bernuansa Eropa klasik. yang terlihat masih sama seperti saat dirinya meninggalkan rumah itu.
Julian melihat ayah dan adiknya sudah berdiri menyambut kedatangannya.
"Kak Julian!" Sapa Roy.
"Hai, Roy." balas Julian.
"Nak! Daddy merindukanmu..." Dandy merentangkan tangannya dan meminta sebuah pelukan.
"Maafkan aku, Dad. Aku baru datang sekarang."
"Tidak apa, Nak." Dandy mengurai pelukannya.
Julian mengalihkan netranya menuju wanita paruh baya yang sedari tadi tersenyum kaku melihat kedatangan dirinya.
"Bibi Helena! Apa kabar?" sapa Julian.
"Baik, Nak. Mari kita langsung ke meja makan. Bibi sudah siapkan makanan kesukaanmu, Julian." ucap Helena diiringi senyuman manis yang terlihat tulus.
Dalam hatinya, Helena sangat kesal saat ayah mertuanya memintanya untuk menyiapkan pesta makan malam untuk Julian. Ia merasa jika ayah mertuanya juga penuh tipu muslihat sama seperti dirinya.
"Sudahlah, Ma. Turuti saja keinginan Ayah. Kau tahu Ayah tidak suka dibantah!" ucap Dandy saat Helena bercerita tentang kegundahan hatinya.
"Tapi, Pa. Selama ini kita sudah hidup tenang tanpa kehadiran anak itu. Kenapa tiba-tiba saat dia sudah berada diatas dia baru mau menemui kita? Apa maksud dan tujuan anakmu itu, huh?! Dia pasti ingin menunjukkan kekuasaannya didepan keluarga kita."
"Sudah cukup! Kau terlalu berlebihan! Julian tidak akan melakukan hal seperti itu."
Helena merasa kalah jika harus berdebat dengan suaminya. Ia memilih mengalah dan menyiapkan makan malam sesuai dengan keinginan ayah mertuanya.
Suasana makan malam pun terasa mencekam karena adanya Julian di tengah mereka. Semua orang terlihat menikmati makan malam mereka kecuali Helena. Pikirannya benar-benar kacau sekarang.
Usai makan malam, mereka berbincang sebentar di ruang keluarga. Sesekali canda tawa tercipta diantara mereka. Julian nampak santai bertemu kembali dengan keluarganya. Entah apa yang ia rasakan saat ini.
Julian berpamitan pulang ketika waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Julian kembali ke rumah keluarga Rayyan yang kini menjadi miliknya.
Julian terkejut karena mendapati seseorang tengah menunggunya di depan pintu gerbang rumahnya.
"Hentikan mobilnya!" perintah Julian pada supirnya. Kemudian ia turun dari mobil dan menghampiri orang itu.
"Bels! Apa yang kau lakukan disini?" tanya Julian yang melihat Belinda mengusap lengannya karena kedinginan.
"Aku menunggumu, Pat." balas Belinda.
Julian segera membuka jasnya dan memakaikannya ke tubuh Belinda.
"Ayo masuk denganku!" Julian membawa Belinda masuk kedalam rumahnya.
Julian memerintahkan pelayan untuk membawakan segelas teh jahe untuk Belinda.
"Tidak perlu repot-repot, Pat." ucap Belinda.
"Sudah berapa lama kau menunggu disana? Kenapa tidak katakan pada penjaga agar mengijinkanmu masuk?"
"Tidak perlu. Kurasa mereka tidak akan mengijinkan aku masuk."
Julian menatap Belinda dengan sendu.
"Maaf karena aku sudah membuatmu menunggu." ucapnya.
"Tidak apa. Lagipula aku kemari hanya untuk ... menanyakan sesuatu padamu."
"Soal apa?"
"Siapa Belinda?"
"Eh?"
"Aku tahu nama yang kupakai sekarang bukanlah nama mendiang ibumu. Benar 'kan?"
Julian terdiam.
"Katakan, Pat! Berapa banyak kebohongan yang kau sembunyikan dariku?!" suara Belinda mulai meninggi.
"Kita bicara di ruang kerjaku saja. Mari!" Julian segera berlalu pergi meninggalkan Belinda.
Tanpa disuruh pun Belinda segera bangkit dan mengikuti langkah Julian.
Tiba di ruang kerja Julian, Belinda tak ingin menunggu lagi.
"Cepat katakan!" tegas Belinda.
"Benar. Belinda bukanlah nama ibuku. Ibu kandungku bernama Herlin. Maaf karena sudah membohongimu, Bels."
Belinda mengerjapkan matanya tak percaya.
"Apa lagi yang kau sembunyikan dariku?"
"Tidak ada!"
"Jangan bohong! Aku sangat percaya padamu, Pat. Aku menggantungkan hidupku dan anakku padamu. Bagaimana bisa kau...?"
Air mata Belinda kembali luruh. Namun dengan cepat ia menyekanya.
"Katakan yang sejujurnya padaku atau aku akan membencimu seumur hidupku!"
Julian mengepalkan tangannya. Ia tak mau Belinda kecewa padanya. Namun disisi lain, ia tak mau semua hal tentangnya terbongkar begitu cepat.
......***......
#bersambung
"Haduh haduh haduh 😵😵😵aku tak tahu harus bicara apa?