
Tubuh Boy yang sudah tak sadarkan diri di bawa masuk oleh beberapa penjaga ke dalam rumah besar itu. Lian yang melihat putranya di papah segera menghampiri.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi dengan Boy?"
"Maaf, Nyonya. Sepertinya Tuan Boy mabuk," jelas seorang penjaga.
"Astaga! Cepat bawa ke kamarnya!" titah Lian.
Tiba di kamar, tubuh Boy di rentangkan keatas tempat tidur. Dua penjaga yang membawa Boy pamit undur diri pada Lian.
"Tunggu sebentar! Apa dia pulang sendiri?" tanya Lian.
"Tidak, Nyonya. Seorang gadis membawanya kemari."
"Seorang gadis? Siapa?"
"Maaf, saya tidak tahu. Kalau begitu kami permisi, Nyonya."
"Iya, iya. Terima kasih, Pak."
Lian kembali memandangi putra sulungnya yang sudah terlelap.
"Apa yang terjadi denganmu, Nak? Kenapa kau jadi begini?" Lian melepas sepatu dan jas yang melilit tubuh Boy.
"Kenapa lagi dia?" Roy tiba-tiba masuk ke dalam kamar Boy.
"Mas, aku merasa sudah gagal menjadi seorang ibu. Lihat anak kita, Mas! Anak kebanggaan kita hancur karena seorang wanita. Aku tidak rela, Mas!" Lian menggeleng cepat.
"Sudahlah! Boy sudah dewasa. Dia berhak menentukan masa depannya sendiri. Dia yang memilih jalan ini. Kita hanya bisa mendoakannya saja." Roy mengusap punggung Lian yang bergetar.
"Papa dan Mama masih punya aku!" Nathan ikut datang ke kamar Boy.
"Nathan?" Lian membulatkan mata.
"Bukankah kalian memiliki satu anak lagi selain Kak Boy? Kenapa kalian selalu bersedih hanya karena memikirkan satu anak yang selalu membuat ulah?"
"Sayang, bukan seperti itu, Nak. Tentu Mama juga sangat menyayangimu." Lian menghampiri Nathan.
"Mama tenang saja. Aku tidak akan membuat Papa dan Mama kecewa."
Roy tersenyum bangga pada Nathan. "Bukankah kau akan magang di Avicenna Grup? Papa akan siapkan semuanya untukmu."
"Iya, Pa. Tapi aku belum membuat proposalnya. Mungkin sekitar dua minggu lagi."
"Katakan saja jika kau butuh sesuatu, Nak!" Roy menepuk pelan bahu Nathan.
"Iya, Pa. Oh ya, ini sudah malam. Sebaiknya Papa dan Mama istirahat saja. Kurasa besok Kak Boy akan kembali seperti semula. Aku permisi. Selamat malam." Nathan berlalu dari kamar Boy.
Lian dan Roy menatap kepergian Nathan.
"Kita bersalah padanya, Mas. Selama ini kita hanya memikirkan tentang Boy saja. Kita mengabaikan jika kita juga memiliki satu permata lagi. Ini adalah tamparan untukku, Mas." Lian tak sanggup lagi menahan air matanya.
"Jangan menyalahkan dirimu. Tidak ada gunanya kita menyesali yang sudah terjadi. Kita harus memperbaikinya. Yakinlah jika semuanya bisa diperbaiki." Roy membawa Lian dalam pelukannya.
"Iya, Mas."
......***......
Keesokan harinya, Aleya merapikan buku-bukunya yang akan ia bawa ke kampus. Hatinya masih tak tenang setelah semalam Rion datang dan pergi dengan tatapan yang berbeda.
Aleya memutuskan untuk menghubungi nomor ponsel Rion namun ternyata tidak aktif. Aleya mulai diliputi kecemasan. Tapi sebisa mungkin ia berpikir positif.
"Mungkin Kak Rion sedang menangani pasien. Ya sudahlah, sebaiknya aku hubungi lagi saja nanti."
Aleya keluar kamar kemudian memanggil taksi online. Tak lama sebuah mobil datang dan mengkonfirmasi jika benar Aleya yang memesan taksi.
.
.
.
Tiga jam berlalu dengan sangat cepat. Aleya keluar kelas dan meraih ponselnya untuk menghubungi Rion. Entah kenapa sejak semalam tak ada satu pesan pun yang Rion kirimkan padanya.
Aleya mulai cemas. Ingin rasanya menghubungi Dion untuk tahu apa yang terjadi dengan Rion dan Boy kemarin. Aleya merasa ada sesuatu yang terjadi diantara mereka.
Aleya panik karena lagi-lagi ponsel Rion tidak aktif. Ia memutuskan untuk menemui Rion di rumah sakit.
Aleya berjalan cepat menuju gerbang kampus. Sambil berjalan ia mengotak-atik ponselnya memesan taksi online. Aleya berdiri di depan gerbang kampus sambil menunggu taksi yang dipesannya datang.
Tanpa Aleya duga sama sekali, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depannya. Seorang wanita cantik tinggi semampai turun dari dalam mobil dan menghampiri Aleya.
"Kau yang bernama Aleya?" tanya wanita cantik itu pada Aleya.
"Iya. Ada apa?"
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Aleya.
"Dasar jaalang! Kau masih bisa hidup tenang setelah menghancurkan semuanya, huh!" teriak wanita cantik itu yang tak lain adalah Natasha.
"Kak Tasha!" Nathan melihat adegan kekerasan itu dan segera menghampiri Aleya.
"Apa yang kakak lakukan? Ini tempat umum! Jangan membuat keributan disini!"
"Bagus sekali! Jadi, gadis jaalang ini juga menjeratmu, Nathan! Apa tidak cukup dia merebut Boy dariku, huh?!"
"Hentikan, Kak! Kakak sendirilah yang sudah membuat kak Boy menjauh. Jangan menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kakak lakukan!" Nathan tidak mau kalah.
"Kau!" Natasha hampir saja melukai Nathan namun segera dicegah oleh Sean.
"Ayo kita pergi, Tasha! Jangan membuat keirbutan disini!" Sean menarik lengan Natasha dan membawanya pergi dari sana.
Nathan memeriksa keadaan Aleya yang mematung dengan menahan tangis.
"Kau baik-baik saja? Sebaiknya ikut denganku! Tidak enak jika harus menjadi tontonan orang-orang disini. Ayo!" Nathan memapah tubuh Aleya masuk ke dalam mobilnya.
......***......
Nathan membawa Aleya ke sebuah kafe. Ia merasa kasihan melihat Aleya. Harga diri Aleya pasti terasa terinjak-injak setelah apa yang dilakukan Natasha padanya.
"Kau baik-baik saja? Katakan sesuatu!" ucap Nathan.
Aleya hanya mengangguk.
"Aku obati lukamu ya!" tawar Nathan.
"Tidak perlu. Ini hanya luka kecil," balas Aleya.
Tak lama seorang pelayan membawakan pesanan Nathan.
"Minumlah! Ini adalah coklat hangat. Semoga hatimu lekas membaik."
Tanpa menjawab Aleya segera menyesap sedikit demi sedikit secangkir coklat hangat ditangannya.
"Apa kau menunggu kak Rion?"
Aleya menggeleng. "Dia tidak bisa dihubungi."
"Eh? Apa terjadi sesuatu dengan kalian?"
Aleya menggeleng. "Justru kurasa telah terjadi sesuatu dengan dirinya dan kakakmu."
"Karena itukah kak Tasha melakukan ini padamu?"
Aleya memalingkan wajahnya. "Aku tidak tahu apa kesalahanku. Mungkin aku terlalu egois dengan tidak mementingkan perasaan orang lain."
"Apa kau mencintai kak Rion?" tanya Nathan.
Aleya terdiam.
"Apa kau mencintai kakakku?" tanya Nathan lagi.
"Eh?" Aleya menunjukkan reaksi yang berbeda. Nathan tahu ada sesuatu antara Aleya dan kakaknya. Tapi rasa yang mereka miliki terhalang oleh pernikahan Boy dan Natasha.
"Tidak perlu dijawab. Aku tidak memaksamu. Apa pun yang terjadi denganmu dan kakakku, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik. Maafkan sikap kak Tasha yang tadi kasar padamu."
Aleya tersenyum. Ia tidak menyangka jika Nathan sangat dewasa dalam menyikapi permasalahan.
Ponsel Aleya berdering. Ia sangat senang karena ia pikir Rion lah yang menelepon.
"Kak Dion?" gumam Aleya kemudian menjawab panggilan itu.
"Halo, kak..."
"Aleya, maaf mengganggu. Apa Rion sedang bersamamu?"
"Eh? Tidak, Kak. Aku tidak bersama dengannya. Memangnya ada apa?"
"Sejak semalam dia tidak pulang ke rumah. Dia juga tidak ada di apartemennya. Aku pikir dia pasti menemuimu."
"Tidak, kak. Aku juga dari tadi menghubungi ponselnya tapi tidak aktif."
"Baiklah. Jika kau berhasil menghubungi dia, tolong segera kabari aku."
"Iya, baik. Kak Dion, sebenarnya ada apa ini? Apa yang terjadi dengan kak Rion dan kak Boy?"
Dion nampak menghela napas.
"Kemarin mereka berkelahi. Tapi setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka karena aku meminta Rion untuk pergi."
Aleya menutup mulutnya tak percaya. Kini rasa bersalah menggelayuti hati dan pikirannya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" gumam Aleya dengan memejamkan mata.
...B E R S A M B U N G...
*Aku juga bingung Aleya, apa yg harus kulakukan denganmu, he he he
...Good night, All.....