
Persidangan Helena sudah mulai digelar secara tertutup. Kasus yang banyak menyita perhatian publik ini membuat masyarakat banyak yang berkomentar dengan keinginan mereka sendiri tanpa memperhatikan fakta yang ada.
Miris. Satu keluarga harus dihakimi karena kesalahan satu dari anggota keluarganya. Beruntung Roy mendapat dukungan dari orang-orang di sekitarnya, terutama Lian, sang istri yang tak kenal lelah untuk menyemangati Roy di tenagh masalah yang terus bergulir.
Roy dan Lian menemui Helena sebelum persidangan dimulai. Helena tetap kukuh tidak menginginkan didampingi oleh pengacara yang akan disewa Roy. Helena ingin menebus kesalahan dengan caranya sendiri.
"Biarkan Mommy menanggung semuanya, Nak. Mommy akan berusaha menjalaninya dengan ikhlas. Kalian baik-baik saja, bukan? Bagaimana kabar Kakek Donald dan Boy? Apa mereka baik-baik saja?"
Roy iba melihat kondisi ibunya yang cukup memprihatinkan. Meski kemarin-kemarin ia sempat marah pada ibunya itu, namun kini semua berubah setelah melihat kesungguhan Helena yang ingin menebus dosa-dosanya.
"Mommy tidak perlu khawatir. Kakek dan Boy baik-baik saja. Mom, doakan ya! Aku dan Lian akan segera memiliki momongan."
"Benarkah? Istrimu sedang hamil?"
"Iya, Mom. Masih kehamilan awal. Aku harus extra menjaga Lian."
"Selamat ya. Maaf Mommy tidak bisa menjadi nenek yang baik untuk cucu-cucu Mommy."
"Tidak apa, Mom. Mommy doakan saja semoga kehamilanku kali ini berjalan lancar." sahut Lian.
"Jaga istri dan anakmu dengan baik," tutup Helena sebelum petugas lapas membawanya pergi untuk di sidangkan.
Lian memeluk lengan suaminya itu. Lian tahu jika Roy sedih dengan kondisi keluarganya.
"Kita pergi saja, Mas." ucap Lian.
"Apa kita tidak ingin menyaksikan putusan hakim?"
"Apa Mas yakin ingin mendengarnya?"
"Lebih baik aku mendengarnya langsung dari pada harus mendengarnya dari berita di televisi."
"Baiklah. Aku akan temani Mas. Kita jangan terlalu terlihat."
"Iya, kita lihat dari kejauhan saja."
*
*
Waktu terus berjalan dan sidang pun terus berjalan. Semua tuduhan terhadap Helena sudah di sertai dengan bukti yang kuat.
Setelah jaksa penuntut membacakan tuntutannya, kini giliran para hakim yang memutuskan untuk menjatuhi hukuman Helena. Roy ikut harap-harap cemas menantikan lama hukuman yang diterima ibunya. Lian senantiasa menggenggam tangan Roy dan menguatkannya.
"Helena Gunawan, terbukti bersalah dalam kasus pembunuhan saudari Belinda Rawles. Maka dengan ini kami menyatakan, Helena Gunawan dihukum kurungan selama 20 tahun penjara."
Bunyi ketuk palu dari hakim ketua membuat semua orang terdiam, begitu juga dengan Roy dan Lian.
Helena pun turut diam dan menerima semua keputusan dari majelis hakim. Beruntung dirinya tidak diberi hukuman mati.
Awak media yang sedari tadi menunggu keluarnya sosok Helena dari ruang sidang. Helena kini akan dipindahkan ke rumah tahanan khusus wanita.
Beberapa sorot kamera mengarah padanya yang dibawa oleh beberapa petugas menuju sebuah mobil khusus. Roy hanya memandangi sosok ibunya yang kian menjauh dari pandangan.
Ternyata banyak waktu yang terbuang diantara anak dan ibu ini. Mereka tak sempat saling bercengkerama dan bercerita ringan tentang keseharian mereka.
Mereka hanya disibukkan dengan dunia mereka masing-masing. Hingga akhirnya mereka menyadari jika waktu takkan bisa terulang. Waktu yang telah terbuang, tidak akan bisa berputar kembali.
......***......
Satu minggu kemudian,
"Boy, apa kau sudah siap?" tanya Lian yang sedang memasukkan barang-barang kedalam mobil.
"Biar saya saja, Nona." ucap Ben membantu Lian.
"Baiklah. Kau angkat saja yang berat itu ya." tunjuk Lian pada sebuah kardus yang cukup besar.
"Siap, Nona!" jawab Ben bersemangat.
"Iya, Ma. Aku sudah siap. Apa Papa tidak akan ikut dengan kita, Ma?"
"Tidak, Nak. Papamu sedang sibuk di rumah sakit."
"Semuanya sudah dibawa, Nona." seru Ben.
Hari ini rencananya, Lian dan Boy akan mengunjungi panti rehabilitasi tempat tinggal Amira. Lian membawa banyak barang sebagai hadiah untuk anak-anak panti disana.
Tiba di panti, Boy sangat antusias dengan membagi mainan dan barang-barang berguna lainnya untuk anak-anak panti. Amira sendiri sangat suka melukis. Lian membeli beberapa kanvas dan juga cat minyak untuk digunakan Amira melukis.
"Terima kasih kalian bersedia datang kemari. Terima kasih, Lian." ucap Amira dengan senyum manisnya.
"Terima kasih kembali. Aku senang bisa ikut membantu." jawab Lian.
"Amira, apa kau tahu, Nona Lian ini adalah ... istri Tuan Roy." jelas Ben.
Raut wajah Amira seketika berubah saat mendengar pernyataan Ben.
"Benarkah? Jadi, Roy sudah menikah?"
Lian menatap Amira dan menggenggan tangannya.
"Maafkan atas apa yang dilakukan oleh Mommy Helena. Kini dia sudah mendapat hukumannya. Dan ... untuk kecelakaan yang menimpa dirimu, kami akan mencarikan donor mata agar kau bisa kembali melihat seperti dulu." ucap Lian.
"Terima kasih. Aku jadi penasaran seperti apa wanita yang dinikahi oleh Roy." Amira menyentuh wajah Lian.
"Kau cantik, Lian." imbuhnya.
"Terima kasih, Amira..." Lian memberikan pelukan hangat untuk Amira.
......***......
Di ruang kerjanya, Julian masih nampak mondar mandir tak tenang. Ia sedang menunggu kabar dari anak buahnya yang mencari keberadaan Zara.
Sudah hampir dua minggu berlalu dan Julian masih belum mendapat kabar.
"Bagaimana, Leon?" tanya Julian yang melihat Leon masuk ke ruangannya.
"Maaf, Tuan. Belum ada kabar dari anak buahku yang mencari di lapangan." jawab Leon dengan menunduk.
"Dasar bodoh kalian semua! Mengurus satu wanita saja tidak bisa!" Sungut Julian.
"Maafkan kami, Tuan. Kami akan bekerja lebih keras lagi."
"Jika kalian tidak bisa menemukan Zara dalam waktu 24 jam, maka kalian semua akan aku hukum! Mengerti?!"
"Kami mengerti, Tuan!"
Leon segera menghubungi anak buahnya yang sedang mencari Zara.
Di suatu tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota, Zara masih berjalan mencari perlindungan. Hingga hari ini, ia hanya mengikuti langkahnya agar bisa menjauh dari Julian.
Merasa sudah aman dari anak buah Julian, Zara bisa bernafas lega. Namun ternyat firasatnya salah.
Tiba-tiba saja sebuah mobil mendekati dirinya yang sedang berjalan tertatih.
"Cepat bawa wanita itu masuk!!" suara seorang pria dari dalam mobil membuat Zara mempercepat langkahnya.
Tubuh lemahnya tak bisa melawan ketika dua pria bertubuh besar membawanya masuk ke dalam mobil.
"Tidak! Lepaskan aku!" Zara berusaha berontak namun tenaganya kalah telak dengan pria-pria di dalam mobil.
Zara akhirnya diam dan pasrah dengan apa yang akan terjadi dengannya. Ia memperhatikan tiga pria yang ada didalam mobil. Dua orang duduk di sampingnya, dan satu pria mengemudi.
Tiba-tiba Zara memiliki ide yang bagus. Ia tersenyum seringai dan memantapkan hatinya.
Zara melompat dan maju ke depan kemudi, hingga si sopir kewalahan menyeimbangkan kendali mobil.
"Hentikan! Dasar wanita gila! Kalian berdua! Cepat hentikan wanita gila ini!" teriak si sopir yang berebut kemudia dengan Zara.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Zara mengombang-ambingkan kemudi mobil hingga akhirnya...
"Tidak!!!" teriak mereka bersama-sama.
Dan setelahnya terdengar bunyi dentuman keras berulang kali. Mobil yang mereka tumpangi masuk ke dalam jurang.
#bersambung. . .