Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 155. Viral Lagi


Pagi itu di kediaman Avicenna dikejutkan dengan kedatangan para anggota polisi yang ingin bertemu dengan Boy. Lian dan Roy ikut menemui para polisi itu. Begitu juga Riana yang merasakan suatu firasat buruk telah terjadi.


"Ada apa ini, Pak Polisi? Pagi-pagi sekali sudah bertamu. Putraku semalam tidak pulang ke rumah. Kemungkinan dia menginap di kantornya. Pasti ada pekerjaan penting yang harus dia lakukan," terang Lian.


"Mohon maaf karena kami mengganggu. Ada hal yang harus kami sampaikan. Ini mengenai Nona Natasha Watanabe," jelas seorang petugas polisi.


"Ada apa dengan putriku, Pak?" tanya Riana yang sudah khawatir.


"Nona Natasha ditemukan tewas di sebuah kamar apartemen bersama dengan seorang pria bernama Sean Connan," papar si petugas polisi.


Bagai mendengar suara petir yang menggelegar, tubuh Riana terhuyung hingga seseorang harus segera menopang berat tubuhnya.


"A-apa? Jangan bercanda, Pak Polisi!" Roy tak percaya dengan semua pernyataan si petugas.


"Jika Anda tidak percaya, silakan ikut dengan kami ke rumah sakit. Kami sudah memindahkan jasadnya ke rumah sakit Avicenna."


Tak ingin semuanya menjadi tidak pasti, Roy dan Lian memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Begitu juga dengan Riana yang ikut bersama Nathan.


Tiba di rumah sakit Avicenna, Roy dan Lian melihat putra mereka yang sedang terduduk di bangku depan kamar jenazah.


"Boy!" lirih Lian yang berjalan menghampiri putranya itu.


Raut wajah kesedihan dan juga kecewa tergambar jelas disana. Boy memang sengaja tidak pulang ke rumah setelah ia mengetahui semua fakta tentang Natasha dan Sean.


"Boy!" Lian ingin menenangkan putranya itu namun ditolak olehnya.


"Cukup, Ma. Aku tidak ingin Mama mengasihani aku!"


"Boy..."


"Tenanglah, Nak! Semua tuduhan belum terbukti benar," sahut Roy.


"Semuanya sudah jelas, Pa. Apa yang selama ini Mama katakan semuanya benar. Aku yang salah. Aku yang salah karena aku tidak melihatnya. Aku buta!" sesal Boy.


"Tidak, Nak. Jangan bicara begitu. Kau tidak bersalah. Jika ada yang harus disalahkan itu adalah dia. Dia yang sudah mengkhianatimu," tegas Lian meyakinkan Boy.


Seakan tak lagi mengenal kata persahabatan diantara mereka, Lian mengatakan semua itu tepat saat Riana datang bersama Nathan.


"Ma, jangan mengatakan hal buruk tentang orang yang sudah tiada," lerai Nathan.


Seorang petugas polisi menemui Roy dan berbincang berdua dengannya.


Nathan memohon pada ayahnya agar Riana diperbolehkan melihat jenazah Natasha. Pihak kepolisian memperbolehkan Riana untuk masuk ke kamar jenazah.


Hati Riana hancur saat melihat putri kesayangannya kini terbujur kaku. Air matanya terus mengalir melepas kepergianĀ  sang putri tercinta.


"Natasha!" lirih Riana sambil memandangi wajah putrinya yang sudah pucat.


"Bibi, kuatkan hati bibi." Nathan setia mendampingi Riana. Hatinya ikut teriris melihat kesedihan yang dirasakan Riana.


"Maaf, Bu. Jenazahnya akan di autopsi," ucap seorang perawat rumah sakit.


"Apa ini? Yang benar saja! Aku akan bicara pada papa agar menghentikan proses autopsi," protes Nathan.


"Sudahlah, Nak. Biarkan saja," cegat Riana.


"Tapi, Bibi..."


"Biarkan polisi melakukan apa yang menjadi tugasnya."


Nathan akhirnya pasrah dan mengikuti apa yang Riana katakan.


Roy memutuskan bahwa dirinya sendiri yang akan melakukan proses autopsi pada jasad Natasha dan juga Sean. Polisi mencurigai ada yang tidak beres dengan kematian kedua orang itu.


...***...


Kabar mengenai meninggalnya Natasha dan juga Sean membuat gempar jagad maya dan juga nyata. Para pencari berita berbondong-bondong mendatangi rumah sakit Avicenna untuk bertemu Boy atau juga pihak kepolisian.


Hari ini akan diadakan proses pemakaman Natasha dan Sean yang pastinya mendapat perhatian khusus dari masyarakat, pasalnya mereka adalah publik figur yang mereka idolakan. Drama yang beberapa tahun lalu dibintangi oleh keduanya membuat hati para pemirsa tertambat pada mereka.


Boy hanya melihat dari kejauhan saat jenazah Natasha masuk ke dalam tanah. Hatinya masih terasa sakit dengan kepergian Natasha yang tiba-tiba, ditambah dengan pengkhianatan yang dilakukannya.


Tangis pilu hanya terdengar dari bibir Riana yang amat kehilangan putri tercintanya. Lian hanya diam dan tak ingin berkomentar. Pemakaman berjalan tertutup meski di luar area banyak sekali wartawan yang menunggu.


Usai pemakaman, semua orang kembali ke rumah. Lusi yang tidak ikut ke pemakaman karena harus menjaga Aurel, hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Natasha. Bukankah tidak ada lagi yang bisa kita lakukan pada orang yang telah tiada selain mengirimkan doa?


"Kalian pasti lelah. Sebaiknya kalian beristirahat," ucap Lusi.


"Apa Aurel baik-baik saja, Bu?" tanya Lian yang khawatir pada cucunya.


"Iya, dia baik-baik saja. Dis sudah tidur," balas Lusi.


"Syukurlah. Dia masih terlalu kecil dan belum saatnya dia tahu tentang apa yang sudah dilakukan oleh ibunya itu," sindir Lian.


"Sudahlah, jangan berdebat. Ayo kita ke kamar!" Roy menengahi perdebatan yang akan terjadi.


Sepeninggal Roy dan Lian, Riana masih mematung seakan tak percaya jika dirinya baru saja mengantar putrinya ke peristirahatan terakhirnya. Air matanya kembali lolos.


"Bibi! Bibi sebaiknya istirahat saja di kamar. Mari aku antar!" Nathan tak hentinya menemani Riana.


"Terima kasih, Nathan. Kau tidak perlu melakukan ini."


"Tidak apa. Ayo!" Nathan memapah tubuh Riana yang sedang rapuh itu.


......***......


Viralnya berita kematian Natasha dan Sean membuat pihak kepolisin harus ekstra hati-hati saat memberikan pernyataan di depan awak media. Hasil autopsi yang dilakukan Roy masih belum di publikasikan hingga semua barang bukti dinyatakan lengkap.


Boy masih terus diam menyendiri di kamarnya. Berkali-kali Lian membujuknya namun tak membuahkan hasil.


"Ini semua karena ulah putrimu itu!" tuduh Lian pada Riana.


"Putrimu yang melakukan kesalahan tapi kenapa putraku yang harus menanggung akibatnya?!"


"Mama! Jangan bicara kasar pada Bibi Riana. Dia juga sedang bersedih, sama seperti kak Boy!" bela Nathan.


"Apa kau juga membela wanita itu?" sungut Lian.


Suasana yang semakin memanas segera dihentikan oleh Lusi.


"Sudah, sudah! Keluarga ini sedang berduka. Kenapa kalian malah terus berdebat?" Lusi masuk dalam perdebatan itu.


"Apa kalian tidak malu dengan Aurel? Dia masih kecil dan masih perlu perhatian kita semua," lanjut Lusi.


Lian mulai menyadari kecerobohannya.


"Dan kau, Lian! Bujuklah putramu agar lebih memperhatikan Aurel," tutup Lusi kemudian berlalu.


......***......


Dua minggu setelah kematian Natasha, hari ini pihak berwenang akan mengumumkan hasil penyelidikannya terkait penyebab kematian Natasha dan Sean.


Seluruh anggota keluarga menyiapkan hati mereka untuk mendengar pernyataan dari pihak kepolisian yang di dampingi oleh Roy selaku dokter forensik yang melakukan autopsi terhadap kedua jenazah.


"Pada hari ini, kami disini untuk mengumumkan penyebab kematian saudari Natasha Watanabe dan saudara Sean Connan yang terjadi di apartemen XX beberapa waktu lalu. Penyebab kematian mereka adalah keracunan gas karbon monoksida yang dialirkan melalui alat pendingin ruangan yang ada di kamar," papar seorang humas dari kepolisian.


"Dan berdasarkan penyelidikan oleh tim kami, bahwa ditemukan ada kesengajaan dalam kasus ini. Yang artinya bahwa mereka memang sengaja dilenyapkan," lanjut petugas humas.


Anggota keluarga Avicenna yang menonton tayangan konferensi pers melalui siaran televisi hanya bisa tercengang dengan pernyataan pihak kepolisian.


"Ada apa ini? Kenapa semua jadi begini?" Lusi memegangi dadanya. Ia merasa cobaan untuk keluarganya tidak ada habisnya.


...B E R S A M B U N G...


*Waduh waduh, apa lagi yg akan menimpa keluarga Avicenna? Siapakah dibalik semua peristiwa ini?