Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 59. Untitled 2


...[ Tiga Hati Satu Cinta ]...


Dandy berlari mengejar sosok wanita yang ia duga adalah Belinda. Wanita itu berlari dengan kedua kakinya. Itu berarti dia bukanlah hantu. Pikir Dandy.


Wanita yang ia kejar menghilang dan masuk ke dalam lift dan turun ke lantai bawah. Dandy mengatur nafasnya setelah ia mengecek rekaman CCTV. Ia mengusap wajahnya kasar. Ia yakin jika wanita itu adalah Belinda. Gadis cantik yang menarik hatinya hingga hubungan mereka berakhir diatas ranjang dan mengkhianati pernikahannya.


"Bagaimana mungkin? Jadi Belinda masih hidup? Tapi bagaimana bisa?" Dandy terus bergumam.


"Bukankah dia sudah meninggal 10 tahun lalu? Saat itu aku melihat sendiri jasadnya." lirih Dandy.


Ingatannya mengenai gadis yang juga dicintai putranya itu kembali menguar. Bagaimana mungkin ia bisa berakhir dengan gadis yang lebih cocok menjadi putrinya? Semua kenangan tentang Belinda mulai ia putar dalam rekaman memorinya. Kenangan sekitar sepuluh tahun yang lalu mulai ia rinci satu persatu.


Belinda adalah teman sekolah Roy dan Zara. Karena mereka sering berkunjung ke rumah kami, aku jadi mengenalnya. Dia gadis yang baik dan polos.


Siang itu, aku kembali ke rumah dan melihat ada kehebohan di meja makan.


"Dad, kemarilah! Belinda memasak sesuatu yang enak." Julian, putra sulungku memanggilku untuk bergabung.


Gadis bernama Belinda itu terlihat malu-malu saat aku mulai mencicipi makanan yang dimasaknya.


"Ini sangat enak." pujiku pada masakannya. Ia tersenyum simpul mendengar pujianku.


Malam itu, saat aku dalam perjalanan pulang ke rumah, aku melihatnya berjalan sendirian. Aku menghentikan mobilku dan menghampirinya.


"Belinda, apa yang kau lakukan malam-malam begini?"


"Paman Dandy..." Dia menangis. Wajah gadis itu dipenuhi air mata.


Aku merasa iba melihatnya. Aku mengantarnya pulang. Tapi dia bilang dia tak ingin kembali ke rumahnya.


"Paman, bisa pinjami aku uang 10 juta?"


"Eh?" Aku sangat terkejut karena dia ternyata membutuhkan uang. Usianya masih 17 tahun lalu untuk apa dia butuh uang sebanyak itu.


"Paman tidak bawa uang sebanyak itu. Ini ada 5 juta. Ambillah dulu."


"Terima kasih, Paman. Jika begini aku berani untuk kembali ke rumah."


Saat itu aku tidak paham apa yang terjadi dengan dirinya. Hingga akhirnya aku mengikuti dan mengamati apa yang terjadi di rumah itu.


Aku melihat sosok ayah yang tak berperikemanusiaan. Dia memukuli Belinda dan ibunya. Tapi setelah Belinda menunjukkan uang padanya, dia langsung berhenti dan pergi dari rumah itu. Sungguh kehidupan yang miris dari seorang gadis cantik yang sederhana.


Lalu setelah itu, secara diam-diam aku sering menemui Belinda dan memberinya uang agar ayahnya tak menyakiti ibu dan dirinya.


"Paman, apa yang bisa kuberikan padamu? Kau sudah banyak membantu keluargaku. Aku sangat berhutang budi."


Dia gadis yang manis. Dia hangat dan perhatian. Aku memberinya sebuah apartemen agar kami bisa bebas bertemu.


"Paman, aku memasak makanan kesukaan Paman. Makanlah!"


Semua perhatian seorang istri yang hilang, aku dapatkan dari Belinda. Hingga akhirnya aku dan dia terbuai dalam suatu hubungan yang terlarang.


"Aku bersedia memberikannya untuk Paman."


Aku tersenyum saat dia mengatakan hal itu. Aku tak menyangka dia menyerahkan semuanya padaku.


Dan ketika semuanya telah terjadi, aku baru mengetahui jika putra sulungku mencintai Belinda. Saat itu aku sangat menyesal. Aku bersalah pada Julian. Namun semua sudah terlambat.


Hingga suatu hari, Belinda kembali pulang dengan sudah tak bernyawa.


Aku menyesali semuanya. Gadis itu tak bersalah. Aku lah yang sudah memulai semuanya. Aku juga kehilangan putraku karena dia memutuskan pergi dari rumah dan memutus hubungan dengan keluarganya.


......***......


...[ Roy Kritis ]...


Roy bekerja seperti biasa setelah insiden ketegangan antara dirinya dan Lian. Hidupnya kini akan lebih ia hargai karena Lian terus meyakinkannya.


Sudah berjam-jam Roy berada di ruang otopsi. Sambil merekam suara yang ia jadikan deduksi dari penyelidikannya.


Otaknya terus bekerja seakan tak kenal lelah. Namun tubuhnya tak bisa berkompromi lagi. Hingga akhirnya...


Tubuh Roy ambruk. Seorang perawat yang akan memasuki ruang otopsi dibuat terkejut dengan tubuh Roy yang sudah tergeletak di lantai.


Perawat itu segera membawa Roy ke ruang pemeriksaan.


"Cepat panggilkan dokter Maliq!!!" teriak perawat itu.


Secepat kilat Maliq memeriksa kondisi Roy. Wajahnya panik.


"Apa yang terjadi denganmu, Roy?" gumam Maliq.


Dengan perasaan gusar, Ben memberitahu Maliq jika beberapa hari lalu Roy sempat menenggak minuman keras hingga mabuk.


Maliq amat marah. "Bukankah kau tahu jika Roy tidak boleh meminum minuman seperti itu! Kenapa kau tidak mencegahnya?!" teriak Maliq pada Ben.


"Maafkan aku, Tuan Maliq. Maafkan aku!" semburat penyesalan sangat terlihat di wajah Ben.


"Tolong selamatkan dia!!!" Ben berlutut dan meminta Maliq untuk menolong Roy.


"Hubungi keluarganya! Dan suruh mereka kemari. Sudah saatnya mereka tahu kondisi Roy. Mungkin saja ini kesempatan terakhir mereka untuk bertemu dengan Roy." Maliq segera bergegas pergi meninggalkan Ben yang masih bersimpuh di lantai.


"Maafkan aku, Tuan Roy! Maafkan aku!" Ben yang berpenampilan garang, ternyata bisa juga menangis.


Berlian datang lebih dulu ke rumah sakit. Ia setia mendampingi Roy di kamar rawatnya. Hatinya sakit melihat Roy dalam keadaan koma.


"Mas, bertahanlah! Kumohon!" Lian tak kuasa menahan air matanya.


"Mas... Bangunlah! Ini aku. Aku akan selalu disisimu, percayalah!"


Donald telah tiba dan menunggu diluar ruangan bersama Ben. Donald menguatkan Ben yang sedari tadi menangis.


"Maafkan saya, Tuan." Ben kembali meminta maaf pada Donald.


"Sudahlah. Mungkin ini memang sudah menjadi takdir Roy." Donald menepuk pelan bahu Ben.


Helena datang dengan tergesa-gesa dan wajah yang cemas. Ia melihat kearah Lian yang baru keluar dari kamar rawat Roy.


"Kau!"


PLAAKK!!!


Lagi-lagi satu tamparan Helena layangkan pada Lian.


"Apa yang kau lakukan pada putraku? Kenapa dia bisa sampai sakit begini?"


Donald merasa geram dengan tingkah Helena yang selalu menyalahkan Lian.


"Hentikan, Helena! Ini bukan salah Lian. Roy memang sudah sakit sejak dulu. Kau saja yang tidak pernah mengetahuinya. Kau dan suamimu itu sama saja. Kalian tidak pernah peduli dengan anak-anak kalian!"


Donald memegangi dadanya yang terasa sakit. Lian segera memegangi tubuh Donald dan membawanya duduk di bangku depan kamar Roy.


"Kenapa Ayah tidak memberitahuku? Kenapa Roy tidak memberitahuku?" tanya Helena yang mulai menitikkan air matanya.


Donald menghela nafasnya. "Apa dosaku? Kenapa aku harus menanggung semua ini? Mungkin karena aku tidak becus menjadi ayah yang baik untuk putraku. Dan aku juga tidak bisa menjadi ayah mertua yang baik untukmu dan Herlin. Kini Roy yang harus menanggung dosa kita, Helena. Apa yang harus kita lakukan sekarang? Bagaimana caranya menebus semua dosa-dosa kita?"


Helena jatuh tersungkur di lantai. Semua kepingan dosa-dosanya mulai memutar di otaknya.


"Tidak! Roy tidak boleh pergi dengan cara seperti ini! Tidak!"


Helena memegangi kepala dengan kedua tangannya.


Berlian menatap miris pada kedua orang yang sedang meratapi dosa-dosa mereka.


......***......


#bersambung


"mewek lagi mewek lagi 😫😫😫"