
Tidak ingin kasus yang menimpa Lian makin meruncing, Julian pun ikut turun tangan membantu Roy untuk menemukan siapa pelaku yang sebenarnya. Julian menggandeng pengacara terkenal Daniel Hazar.
Boy yang selalu mengurung diri sejak ibunya di tangkap, membuat Julian merasa iba pada pria muda itu. Julian menemui Boy di kamarnya.
Boy menghambur memeluk Julian. Ia menumpahkan segala kesedihan hatinya pada Julian.
"Bagaimana ini, Paman? Kenapa semuanya jadi begini?"
"Jangan bersedih, Nak. Kau harus kuat untuk mendukung ibumu. Sudah! Jangan mengurung diri lagi! Paman sudah menyiapkan pengacara yang handal untuk mamamu. Dan juga, kau bisa kan bantu Paman untuk mencari titik terang masalah ini?"
Boy mengangguk. "Iya, Paman."
"Kuatkan hatimu! Bukankah kau selalu bilang akan menjaga mamamu? Sekarang tunjukkan pada dunia."
"Baik, Paman. Maaf karena aku menjadi lemah. Banyak hal terjadi secara berturut-turut."
Roy ikut menghampiri mereka berdua. Ia sangat tahu jika putranya memang dekat dengan Julian. Dan benar saja hanya Julian yang bisa membuat Boy kembali percaya diri.
"Ayo, Nak. Kita temui mamamu!" ajak Roy dengan menepuk pelan bahu Boy.
Mereka bertiga keluar dari kamar Boy dan bertemu dengan Lusi dan Riana. Ya, Riana yang sudah pindah dari rumah itu tiba-tiba berkunjung.
"Mommy!" seru Boy ketika melihat Riana.
"Iya, Nak. Bagaimana kabarmu? Kau terlihat kurus." Riana membelai wajah Boy yang terlihat berbeda.
"Aku baik, Mom. Bagaimana kabar Mommy?"
"Mommy juga baik. Mommy datang kesini untuk mengatakan sesuatu."
Riana menatap Roy, Julian dan Boy bergantian.
"Ini mengenai Lian. Aku tahu jika dia tidak bersalah. Bukan dia yang sudah melenyapkan Natasha dan Sean."
Boy menatap Julian.
"Apa maksudmu, Riana? Katakan dengan jelas!" pinta Julian.
"Aku tahu siapa yang sudah melakukan ini pada kita," ucap Riana.
"Siapa, Mom?" tanya Boy yang ikut antusias.
"Noel. Dialah yang sudah melakukan semua ini," tegas Riana.
"Apa kau yakin? Kau punya buktinya?" tanya Roy.
Riana mengangguk. "Apa ini bisa dijadikan barang bukti? Maaf jika aku terlambat untuk mengatakan ini pada kalian. Aku minta maaf."
Riana menyerahkan map yang berisi surat ancaman yang selalu dikirimkan Noel padanya. Juga beberapa percakapan di ponsel yang selama ini Riana simpan untuknya sendiri.
"Jangan bicara begitu. Aku senang kau bersedia membantu kami," sahut Roy.
Julian memeriksa sekilas semua bukti yang diberikan Riana.
"Baiklah. Ayo kita ke kantor polisi. Sebaiknya kita bergerak secara sembunyi-sembunyi. Aku sangat paham dengan gerak gerik Noel. Kita harus bergerak perlahan." Julian mengingatkan semua orang.
......***......
Di kantor polisi, Julian menjelaskan semuanya pada penyidik dan juga membeberkan bukti-bukti tentang ancaman Noel kepada Riana. Polisi mulai mencari cara untuk bisa menangkap Noel.
Lian keluar dari ruang tahanan khusus dan menemui keluarganya. Lian memeluk Riana dan meminta maaf padanya.
"Maafkan aku, Riana. Aku terlalu buta untuk bisa melihat kebaikanmu. Maaf karena aku sudah menyakitimu. Aku bahkan mengusirmu dari rumah." Lian terisak saat berhadapan dengan Riana.
"Tidak, Lian. Bukankah kita adalah keluarga? Dan keluarga akan saling mengerti dan memaafkan."
"Terima kasih karena sudah menolongku. Terima kasih, Riana."
"Sudahlah! Jangan dibahas lagi. Sekarang kita akan memulai lembaran baru. Kau tetaplah sahabatku!" Riana balas memeluk Lian.
Boy tersenyum lega karena satu masalah telah selesai. Kini hanya tinggal menangkap penjahat yang sebenarnya.
"Ma, ayo kita pulang! Aurel sangat merindukan Mama," ucap Boy.
"Iya, sayang. Mama juga sangat merindukannya." Lian juga memeluk Roy untuk menghilangkan rasa rindu pada suaminya itu.
"Dimana Nathan?" tanya Lian.
Di tempat persembunyiannya, Noel berdecak kesal saat mendengar jika Lian telah di bebaskan. Noel memiliki banyak akses untuk mengetahui apa yang terjadi di kantor polisi itu.
"Brengsek! Julian dan Riana! Kalian sudah menghancurkan semua rencanaku!" Noel menggeram kesal dan membanting barang-barang.
Setelah menumpahkan segala kekesalannya, Noel mulai berpikir jernih kembali. Ia harus mencari cara lain untuk tetap melanjutkan rencananya.
Tiba-tiba Noel tersenyum seringai. "Aku tahu sebuah cara baru yang akan mengguncang mereka. Bersiaplah kalian!"
Noel tertawa keras kemudian langsung menyusun rencana.
......***......
Aleya keluar dari kampus dan menunggu taksi online yang sudah di pesannya. Tak lama taksi yang di tunggunya datang. Aleya masuk ke dalam mobil dan melaju menuju ke rumah Zetta.
Tiga puluh menit berlalu namun Aleya merasa ada keanehan. Jalan yang di laluinya bukanlah jalan menuju ke rumah Zetta. Aleya pun menginterupsi si supir taksi.
"Maaf, Pak. Sepertinya ini bukan jalan ke tempat tujuan saya. Tolong hentikan mobilnya, Pak!" pinta Aleya.
Aleya sudah merasa ada hal ganjil sejak ia mulai menaiki mobil.
"Sudahlah, Nona. Tenang saja! Saya akan mengantar Nona ke tempat tujuan Nona."
Tiba-tiba parfum pengharum mobil menyemprotkan cairan yang langsung tercium oleh hidung Aleya.
"Tolong hentikan mobilnya!" bentak Aleya yang mulai merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya.
Mobil pun berhenti. Aleya akan keluar dari mobil namun kesadarannya mulai hilang. Kepalanya berdenyut kencang dan pandangannya mulai kabur. Tubuh Aleya mulai melemah dan tak lama ia pun tak sadarkan diri.
Mobil kembali melaju dengan senyum merekah yang ditampakkan oleh si supir taksi yang tak lain adalah Noel.
Noel membawa Aleya ke sebuah gudang terbengkalai di dekat pelabuhan. Aleya masih tak sadarkan diri saat Noel mulai mengambil video dirinya.
Video berdurasi 30 detik itu ia kirimkan pada Boy. Boy yang menerima video itu pun menjadi kalap.
"Brengsek! Dia menangkap Aleya!" seru Boy saat semua anggota keluarga sedang berkumpul.
"Siapa Aleya?" tanya Lian.
"Ada apa, Kak?" Nathan ikut panik ketika Boy mengumpati pesan yang baru saja diterimanya.
"Paman Noel menangkap Aleya!" ucap Boy.
"APA?!" Semua orang terkejut.
"Dia pasti sengaja melakukan ini," lirih Boy.
"Siapa Aleya?" Lian masih bertanya-tanya tentang siapa Aleya.
Nathan memberi kode pada Lian untuk jangan bertanya apapun dulu.
Lian dan Riana saling pandang. Lian mulai mengingat kejadian empat tahun lalu ketika Boy berniat membatalkan pertunangannya dengan Natasha.
"Apa dia adalah gadis itu? Gadis yang membuat putraku goyah," batin Lian.
"Boy, jangan bertindak gegabah! Paman akan membantumu!" ucap Julian yang tidak ingin keponakannya itu berbuat nekat.
"Iya, Nak. Kita bisa mencari cara yang aman agar kau dan gadis itu juga selamat," sahut Roy.
"Kita lacak dulu keberadaan Noel dari pesan yang dikirimkannya padamu," lanjut Julian.
"Iya, Paman." Boy segera menuju kamarnya dan mengambil tablet pintarnya. Ia mengutak atik benda itu dengan jari-jari lincahnya.
Sudah lama sejak ia menjadi agen FBI cilik. Sudah lama juga ia tidak menggeluti pekerjaan ini karena ia lebih memilih menjadi seorang dokter.
"Ketemu! Paman Noel ada di sebuah gudang di dekat pelabuhan. Aku akan segera kesana!" Boy sehera beranjak.
"Tunggu, Nak!" cegah Julian.
"Noel adalah orang yang licik. Kau tidak bisa melakukan semuanya sendiri. Kita akan memikirkan caranya. Tenanglah, Nak! Jika kita gegabah bisa saja Noel berbuat nekat pada gadis itu," lanjut Julian.
Boy terdiam. Apa yang dikatakan Julian memang benar adanya. Harus digunakan cara yang cerdas untuk menangkap orang yang licik.
...B E R S A M B U N G ...
...*Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 😘😘...