Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 124. Pesona Gadis Desa


Satu minggu kemudian,


Natasha menatap nanar layar ponselnya yang menghitam. Tak ada apa-apa disana. Sudah satu minggu ia jauh dari tunangannya dan hingga kini tak mendapat kabar apapun darinya.


Setelah panggilan Boy waktu itu yang hanya dijawab oleh managernya, tidak ada lagi telepon masuk dari Boy. Natasha berasumsi jika Boy pasti marah padanya karena saat Boy menelepon ia sama sekali tak bisa bicara karena sedang pengambilan gambar untuk dramanya.


"Bagaimana ini? Apa dia marah? Tidak biasanya dia seperti ini. Kami tidak pernah terpisah jauh dan sekarang kami harus berpisah selama dua bulan. Huft!" Natasha terduduk lemas dengan meletakkan ponselnya.


"Minumlah dulu!" Seseorang menyodorkan secangkir coklat panas untuk Natasha.


"Sean?" Natasha terkejut dengan kedatangan Sean.


"Ini ambilah! Orang bilang coklat bisa menenangkan hati yang sedang gundah dan galau," ucap Sean.


Natasha mengernyit. "Terima kasih," ucapnya kemudian menerima cangkir dari Sean.


"Jika ada hal yang mengganjal dihatimu, kau bisa cerita padaku."


"Eh?"


"Aku adalah temanmu, Tasha. Kau jangan segan padaku," ujar Sean lagi.


"Aku baik-baik saja. Terima kasih atas tawaranmu."


"Baiklah. Habiskan coklat panasmu! Aku akan kembali ke lokasi. Setelah habis, kau juga segera datang ke lokasi. Pak Edwin pasti menunggu." Sean berlalu dari hadapan Natasha.


"Ada apa dengannya? Kenapa dia bicara dengan nada lembut begitu?" Natasha menggeleng pelan kemudian meneguk sedikit demi sedikit coklat hangat pemberian Sean.


"Ah, benar juga katanya. Hatiku menjadi lebih tenang. Aku yakin Boy disana baik-baik saja. Aku sudah mengenalnya seumur hidupku. Dia tidak akan berbuat macam-macam disana. Dia hanya mencintaiku saja. Ya! Dia hanya mencintaiku!" ucap Natasha yakin dan menghabiskan sisa coklat di cangkirnya.


......***......


Proyek pembangunan rumah sakit di Desa Selimut sudah mulai berjalan. Boy dan kawan-kawan mulai sibuk, ditambah mereka juga memiliki misi masing-masing yang harus mereka lakukan.


Sebagai dokter kandungan Boy sigap membantu para ibu hamil dan juga pasangan yang ingin memiliki keturunan. Ia memberikan terapi khusus pasangan yang sudah lama belum memiliki keturunan.


Ketampanan keenam pemuda kota itu mampu menghipnotis penduduk desa yang memang jarang mendapat kunjungan dari luar. Tak kalah dengan penduduk desa, para pemuda kota itu sendiri juga tersihir oleh pesona gadis desa yang masih lugu dan polos itu.


"Wah, mereka benar-benar menggoda iman, kawan!" seru Kenji yang selalu menatap tajam kearah Aleya dan kawan-kawannya yang masih belia. Mereka tergabung dalam pemuda pemudi desa yang menjaga lingkungan.


"Matamu bisa lepas dari tempatnya jika kau terus melotot begitu!" Rion tak suka dengan tatapan Kenji yang seakan menelanjangi Aleya dan teman-temannya.


"Kita disini untuk melaksanakan proyek membangun desa, bukan untuk mencari wanita. Ingat itu, Ken!" lerai Fajri.


"Lagi pula para gadis desa itu tidak sepolos yang kalian pikir. Coba kalian lihat gadis-gadis yang bekerja di klub malam, mereka rata-rata berasal dari desa. Dan apakah mereka polos? Lugu? Wajah mereka semua menipu! Tidak ada bedanya dengan gadis jaalang yang biasa memuaskanmu di ranjang, Ken," ejek Boy seraya melewati Aleya bersama teman-temannya.


Aleya menggeleng pelan dengan kata-kata yang dikatakan Boy. Ingin rasanya Aleya balik memaki Boy, namun ia masih menghormati Fajri dan teman-temannya.


"Maafkan kata-kata Boy, ya." Rion menghampiri Aleya.


Aleya tersenyum kecil. "Tidak apa. Lagi pula teman-temanku tidak mendengar. Hanya aku saja yang mendengarnya. Pasti orang-orang kota selalu berpikir jika orang desa adalah orang munafik yang memasang wajah lugu namun penuh bisa. Tapi kalian harus tahu, desa ini sangat memegang teguh adat istiadat dan tata krama. Tidak semua gadis desa menebar kepalsuan di mata para lelaki," jelas Aleya panjang lebar.


"Aku mengerti. Kau sangat berbeda, Aleya."


"Eh?" Sejenak tatapan Rion dan Aleya bertemu. Aleya senang karena ada pria baik seperti Rion yang berpikiran terbuka.


"Oh ya, apa kau masih sekolah?" tanya Rion yang memang ingin mengenal Aleya lebih dalam.


"Aku sudah lulus sekolah."


"Lalu, apa kau ingin melanjutkan studi?"


Aleya terdiam. Hatinya miris jika harus memikirkan masa depannya.


"Kami ... tidak diijinkan untuk meninggalkan desa ini. Para gadis yang sudah menyelesaikan sekolah, biasanya langsung dinikahkan dengan pemuda desa pilihan orang tuanya. Para gadis juga tak berhak menolak jika ada pria yang datang melamarnya," cerita Aleya dengan wajah sendu.


"Sekarang aku ingin membagi ilmuku dengan mengajari anak-anak di desa ini hingga waktu itu tiba..."


"Waktu itu tiba?" Rion mengernyitkan dahinya.


Aleya hanya membalas dengan senyuman. "Hari sudah mulai sore. Kami harus kembali. Permisi, Dokter Rion." Aleya beranjak dan meninggalkan Rion.


Entah kenapa hatinya sakit saat mendengar sebentar lagi Aleya akan menikah.


"Apa memang tidak ada sedikitpun kesempatan untukku?" gumam Rion yang di dengar oleh kakak kembarnya.


"Kau jatuh cinta di saat yang tidak tepat, adikku! Sebaiknya kau lupakan saja gadis itu dan kubur saja cintamu. Kita hanya dua bulan disini. Setelah itu, kita tidak akan datang kemari lagi." Dion menepuk pelan bahu Rion.


......***......


Tak terasa sudah satu bulan Boy dan kawan-kawannya berada di desa yang amat jauh dari peradaban kota. Ditambah hawa dingin yang selalu menusuk kulit sehingga mengharuskan para warganya memakai pakaian tebal.


Hari itu Aleya mengikuti ayahnya untuk meninjau bangunan rumah sakit yang sudah mulai berdiri.


Aleya tercengang saat melihat bangunan yang berdiri kokoh dan sudah nampak mewah itu.



Rion menghampiri Aleya yang masih berdiri tercengang.


"Kau kenapa?" tanya Rion dengan sedikit terkekeh.


"Tidak, Dokter Rion. Aku hanya..."


"Kami tidak main-main untuk membangun proyek disini. Setelah ini dokter-dokter dari rumah sakit Avicenna akan ditempatkan bergantian disini. Aku berharap aku bisa datang kembali lagi kesini," ucap Rion penuh harap.


Aleya hanya membalas dengan sebuah senyuman manis.


"Berhenti tersenyum begitu. Kau membuat jantungku berdetak tidak menentu," jujur Rion.


Aleya makin terkekeh.


"Rion! Kakakmu memanggilmu!" Boy datang menghampiri Rion dan Aleya yang makin hari semakin dekat saja.


Rion berpamitan pada Aleya dan segera berlalu. Kini tinggalah Boy bersama Aleya.


"Kalau begitu saya juga permisi." Tahu dengan tabiat Boy yang menyebalkan, Aleya segera undur diri namun Boy mencegahnya.


"Dengar ya, gadis desa. Aku tidak mau tahu apa yang kau lakukan di luar sana dengan pria-pria lain. Tapi, aku tidak akan membiarkan kau mendekati temanku dan menjeratnya. Aku yakin jika kau tidak sepolos yang kau perlihatkan di depan orang-orang. Gadis desa sepertimu pasti menyimpan bisa yang mematikan yang bisa menjerat para pria diluar sana."


"Apa maksudmu, Tuan? Kenapa kau selalu membuat masalah denganku? Oh, aku tahu. Kau pasti tidak bisa menghubungi orang terkasihmu makanya kau melampiaskannya padaku yang sudah melaporkanmu? Aku lihat semua teman-temanmu itu sangatlah baik dan ramah. Hanya kau saja yang dingin dan kaku. Jika aku jadi temanmu, aku akan menyesal karena sudah memiliki teman yang tidak punya otak sepertimu!" geram Aleya lalu menatap dingin pada Boy.



Boy tak habis pikir gadis di depannya ini akan berani melawannya. Ia memilih pergi meninggalkan Aleya.


"Dasar menyebalkan!" sungut Aleya lagi setelah kepergian Boy.


...B E R S A M B U N G...


"Hmm, apakah Aleya bakal kepincut sama Rion? Atau ternyata ada sesuatu dalam diri Boy yang membuat Aleya mendekat?


Hayoooo, kalian ngeship Boy sama Natasha atau sama Aleya? Atau terserah makthor aja?๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…"



...atau...