
Saat Boy berusia 17 tahun, ia mengumpulkan anak-anak seusianya yang bisa di kategorikan menjadi anak genius dalam bidang masing-masing. Setelah mengumpulkan banyak anak-anak genius, ternyata hanya tersisa beberapa anak saja yang hingga kini menjadi sahabat Boy. Fajri, Rana, si kembar Dion dan Rion, dan juga Kenji.
Diantara kelima sahabat Boy, hanya Kenji saja yang selalu bersikap santai dan terkesan blak-blakan. Mungkin karena dia tidak berdarah Indonesia asli yang terbiasa dengan gaya hidup bebas.
Sudah lama sejak terakhir Boy datang ke klub malam langganan dirinya bersama teman-temannya. Biasanya mereka tak pernah memanggil wanita penghibur untuk menemani mereka. Namun kali ini, kedatangan Boy dan Kenji rasanya sangat berbeda dari biasanya.
Boy masih bergeming saat wanita yang duduk dipangkuannya mulai bergerak lincah dengan menggesek-gesekkan tubuhnya. Tak lupa tangannya bergerilya mengelus dada bidang Boy yang sudah setengah terbuka. Boy memejamkan mata mencoba menikmati cumbuan wanita bayaran ini.
Kenji tak lagi memperhatikan karena ia juga sibuk dengan kedua wanita disampingnya.
"Ah..." Boy mulai bersuara karena wanita itu ternyata memberikan jejak di leher Boy.
Boy mulai melayang namun masih belum merasakan hal lain selain geli-geli sedap dengan sentuhan wanita itu. Setelah beberapa saat wanita itu beraksi, tiba-tiba Boy memintanya berhenti.
"Hentikan! Tolong pergi! Ini bayaran untukmu!" Boy memberikan beberapa lembar uang pada wanita itu.
Kenji pun meminta kedua wanitanya pergi.
"Bagaimana?" tanya Kenji.
Boy menggeleng. "Kita pergi saja! Tak ada gunanya kita ada disini." Boy mengajak Kenji pergi.
Tanpa bisa menolak, Kenji pun mengekori langkah Boy.
"Boy! Tunggu!"
Kenji kesulitan mengikuti langkah Boy.
"Ada apa lagi?" tanya Boy kesal.
"Kau mau kemana?" tanya Kenji balik dengan terengah.
"Aku mau pulang saja! Terima kasih karena sudah berusaha membantuku!" Boy meraih kunci mobilnya, namun baru beberapa langkah ia kembali berbalik.
"Ingat, Ken! Ini hanya diantara kita saja. Aku tidak ingin orang lain mengetahuinya. Kau mengerti?"
"Jangan khawatir! Kau bisa percaya padaku."
Boy mengangguk kemudian meninggalkan area klub. Kenji masih mematung di area parkir. Ia berpikir sejenak.
"Sayang sekali jika harus pergi begitu saja. Sudah lama juga aku tidak datang kemari. Aku akan menyewa satu wanita untuk menemani malamku!" Kenji berbalik dan masuk kembali kedalam klub.
Sementara itu, Natasha membolak-balikkan tubuhnya diatas ranjang empuk berusaha memejamkan matanya. Namun sudah satu jam berlalu, Natasha tak jua menuju ke alam mimpi.
"Akh, menyebalkan! Kenapa aku harus mengalami ini? Kenapa juga Boy sangat egois? Dia selalu memaksakan kehendaknya dan aku harus selalu menurutinya," gumam Natasha berkali-kali.
"Sebaiknya aku memejamkan mata. Mungkin saja besok aku sudah melupakan kekesalanku ini."
Ketika matanya baru saja terpejam, getar ponselnya membuatnya kembali bangun. Ia berharap jika Boy menghubunginya. Dengan semangat membara, Natasha kembali bangun dan meraih ponselnya yang tergeletak diatas nakas.
Ada beberapa pesan masuk disana. Senyum yang tadinya mengembang seketika surut. Pesan yang dikirimkan oleh nomor tak dikenal itu menampilkan beberapa foto dan juga video.
Melihat sekilas saja Natasha sudah tahu jika orang yang ada didalam foto dan video itu adalah kekasihnya yang sedang berada di klub malam. Hatinya yang sedang panas bertambah membara ketika dengan ragu ia membuka video di ponselnya.
Natasha menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tak terasa buliran bening menghiasi wajah cantiknya yang polos tanpa sapuan make up.
"Tega sekali kau, Boy! Kau sedang bertengkar denganku dan kau mencari pelampiasan di luar sana!"
Natasha membanting ponselnya. Kemudian ia menelungkupkan wajahnya diatas bantal dan memeluk guling kesayangannya. Ia menangis dalam diam hingga akhirnya lelah dan tertidur.
......***......
Keesokan paginya, Boy terbangun karena mendapat banyak panggilan video dari Fajri. Tidak biasanya profesor muda ini menghubungi Boy di pagi buta.
Dengan malas, Boy menjawab panggilan video dari Fajri.
"Jawab dengan video!" seru Boy.
"Ini masih pagi dan kau sudah berisik. Ada apa?"
"Kau lihat sendiri video yang sedang viral saat ini!" Fajri memperlihatkan video semalam saat Boy dan Kenji berada di klub malam bersama para wanita penghibur.
"Oh, sial! Bagaimana bisa ada video itu?" tanya Boy yang kini matanya terbuka lebar.
"Mana aku tahu! Harusnya aku yang bertanya, sejak kapan kau datang ke klub dan memanggil wanita bayaran?" Fajri melampiaskan emosi pada sahabatnya itu.
"Akh! Sudahlah! Jangan bicara lagi! Minta kenalanmu untuk menghapus video itu dari situs manapun. Jika Mama dan Papa sampai tahu, maka..."
"Tuan Boy! Tuan sudah bangun? Tuan ditunggu Tuan besar dan Nyonya di bawah!" seru seorang pelayan memanggil Boy melalui intercom.
"Aku tidak akan ikut campur masalahmu dengan Paman Roy dan Bibi Lian. Tapi aku akan tetap membantumu sebisa mungkin. Aku yakin kau pasti dijebak oleh seseorang. Sebaiknya jelaskan baik-baik pada orang tuamu." Fajri memutus panggilan.
Boy mengacak rambutnya. "Dijebak? Ini bukan sebuah jebakan! Aku sendirilah yang menyetujui semua ide gila Kenji," gumam Boy dengan rasa sesal yang mulai menggelayuti hatinya.
Segera Boy bangun dari tempat tidur kemudian membersihkan diri. Ia mengatur napas sebelum turun menemui ayah dan ibunya.
Tatapan tajam Lian dan Roy makin menusuk hati Boy. Namun tak terjadi saat ia menatap nenek dan adiknya yang santai memakan sarapannya.
"Duduklah dan makan sarapanmu!" ucap Lusi dengan lembut.
"Terima kasih, Nek," balas Boy lalu duduk bergabung dengan anggota keluarga lainnya.
"Ibu! Jangan terus memanjakannya!" Lian terlihat amat marah.
Roy masih diam dan tak ingin memarahi putranya. Ia harus bersikap bijak meski amarah juga memenuhi hatinya.
"Selesaikan masalahmu dengan Natasha. Papa tahu kau tidak mungkin melakukan hal memalukan itu. Papa sudah mendengarnya dari Kenzo. Kau dan Natasha bertengkar lalu kau melampiaskannya dengan pergi ke klub," ucap Roy menyelesaikan permasalahan yang terjadi di keluarganya.
"Maafkan aku, Pa, Ma. Aku sudah membuat kalian malu," sesal Boy.
"Papa sudah meminta Kak Julian untuk menyelesaikan masalah video viral itu. Sebaiknya kau yakinkan Natasha jika kau memang mencintainya."
"Baik, Pa. Terima kasih banyak. Temanku Fajri juga akan menyelesaikannya."
"Jika kakak terus dibantu seperti ini, kapan kakak belajar dewasa? Mintanya menikah muda, tapi kelakuan masih seperti bocah taman kanak-kanak," celoteh Nathan yang mendapat tatapan tak suka dari Boy.
"Diam kau! Kau masih kecil tapi selalu ikut campur urusan orang dewasa! Sekolah dulu yang benar!" Boy tak ingin kalah dengan adiknya.
"Kakak yang seperti anak-anak! Bisanya hanya merepotkan saja!"
"Apa kau bilang?"
"Sudah, sudah! Kenapa kalian malah bertengkar? Nathan! Selesaikan sarapanmu lalu berangkat ke sekolah!" lerai Lian.
"Baik, Ma." Nathan menurut dan melanjutkan sarapannya.
Di tempat berbeda, seorang pria yang hampir berusia setengah abad tersenyum puas setelah menyebarkan video Boy yang kini menjadi trending topic. Pria itu sengaja membuat imej Boy di mata publik menjadi buruk terlebih di depan kekasihnya, Natasha.
Saat sedang menikmati kemenangannya, ponsel pria itu berdering. Sebuah panggilan dari anak buahnya yang ia minta untuk menyebar video itu.
"APA!" Pria itu memekik kesal setelah mendapat laporan jika video itu telah dihapus.
Ia mengumpat kesal dan membanting ponselnya.
"Sialan! Ternyata tidak semudah itu menaklukkan seorang Boy Avicenna. Kita lihat saja! Sampai dimana kekuatanmu itu? Akan kubuat keluarga itu kembali hancur seperti dulu."
"Tenang saja, Paman Noel. Kita akan lakukan dengan perlahan. Jangan terburu-buru. Sebentar lagi aku akan mendapat celah untuk mendekati Natasha, jadi hal pertama yang akan kita lakukan adalah ... menyerang hati Boy Avicenna," seringai pria muda yang tak lain adalah Sean Connan.
...B E R S A M B U N G...
"Weleeeeeh, musuh bebuyutan is back! He he. Akan seperti apa rencana Noel dan Sean ya? Apakah berhasil menghancurkan Boy dan keluarganya?"