Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 12. Pertemuan Kembali


Boy menyembunyikan kejadian kemarin dari Belinda. Ia tak mau Belinda tahu jika


diam-diam dirinya sering berkunjung ke rumah sakit Avicenna untuk bertemu


dengan Roy. Sebenarnya ia memang ingin bertanya lebih pada ibunya, tapi melihat


kondisi Belinda yang sudah melupakan masa lalu, membuatnya enggan bertanya


lebih lanjut. Belinda pernah berkata jika jangan pernah membahas soal ayah Boy


meski Boy sangat penasaran dengan itu. Tentu saja seorang anak ingin tahu


seperti apa rupa orang tua kandungnya. Terlebih saat Boy merasa iri dengan


teman-teman sebayanya yang memiliki ayah. Apakah Belinda tidak berpikir hingga


kesana? Tentu saja pernah. Namun rasa sakit yang pernah ia rasakan di masa lalu


membuat dirinya memilih bungkam dan melangkah maju menatap masa depan.


Hari ini Boy kembali meminta tolong pada Kenzo, sementara Belinda sedang sibuk


dengan pekerjaannya. Boy kini lebih berani mendekati Roy yang terlihat risih


terhadap anak-anak. Ya, Roy memang kurang suka dengan anak kecil karena


menurutnya anak kecil hanya bisa membuat keributan.


Karena deduksi mereka yang tepat saat menemukan tersangka pembunuhan, pihak kepolisian


kini mendapuk Roy dan Boy untuk memecahkan kasus yang sama. Roy memang mengakui


keunggulan Boy, namun ia masih menyembunyikan perasaannya.


Dengan didampingi oleh Riana dan Kenzo, Boy kembali melakukan autopsy tanpa


sepengetahuan Patrick dan Belinda. Roy hanya memperhatikan bocah enam tahun itu


saat bekerja.


"Dari mana bocah ini mendapat kemampuan yang mirip denganku ini? Ah, semakin memikirkannyamembuatku sesak saja." batin Roy.


Roy memutuskan untuk keluar dari ruang autopsy tanpa diketahui oleh Boy. Roy menuju


ke ruangannya. Ia memijat pelipisnya pelan. Ia segera meraih obat di laci


mejanya kemudian meminumnya.


…***…


Usai melakukan autopsy, Boy menemui pihak kepolisian didampingi Kenzo. Kali ini ia


tidak menemui Zara karena dokter cantik itu sedang tidak ada di tempat. Boy kembali


mencari keberadaan Roy yang tiba-tiba hilang.


“Paman, di mana Dokter Roy? Kenapa aku tidak melihatnya sejak tadi?” Tanya Boy.


“Hmm, entahlah. Untuk apa kau mencarinya?”


“Tidak ada, Paman. Tapi aku ingin bicara sesuatu dengannya. Paman bisa tunjukkan


dimana ruang kerja Dokter Roy?”


Kenzo memutar bola matanya malas. “Baiklah, ayo ikut denganku!” Kenzo menggandeng


tangan mungil Boy.


Riana hanya memperhatikan gerak gerik Boy dari jauh. Begitu tiba di depan ruang kerja


Roy, mereka bertemu dengan sekretaris Roy yang tidak mengijinkan mereka masuk.


“Maaf, Dokter Roy sedang tidak ingin diganggu. Silahkan membuat janji terlebih dahulu.”


Ucap Lorna, sekretaris Roy.


Kenzo menarik tangan Boy agar menjauh dari sana.


“Dengar, Nak. Apa yang sebenarnya kau rencanakan?” Tanya Kenzo penuh selidik. Begitu juga


dengan Riana yang amat penasaran dengan maksud Boy.


Boy memutar bola matanya malas. “Kalian tidak perlu tahu sekarang. Oh ya, Paman. Cepat


hubungi Mamaku dan katakan untuk menjemputku di rumah sakit ini.”


“Kenapa Paman harus menurutimu?” Kenzo berkacak pinggang.


“Jika ingin kuberitahu sebaiknya Paman dan Bibi menuruti perintahku.” Boy menaik


turunkan alisnya.


Kenzo dan Riana saling pandang.


“Anak ini! Andai kau bukan partner kerjaku, aku tidak akan sudi menerima perintahmu!”


kesal Kenzo.


“Akui saja, Paman. Bahkan jika membandingkan IQ kita, milik Paman pasti lebih kecil


daripada milikku.” Sombong Boy.


“Astaga, Kenzo! Mulut anak ini memang pedas seperti cabai.” Riana tertawa senang melihat


Kenzo menderita.


…***…


“Tidak bisa, Boy. Mama sedang banyak pekerjaan. Untuk apa Mama datang menjemputmu? Bukankah


kau pergi bersama Paman Kenzo? Minta dia untuk mengantarmu pulang!” tolak


Belinda saat Boy menghubunginya.


Boy sudah tahu jika Belinda akan menolak. Kini Boy harus memakai cara lain yaitu


dengan memanfaatkan Kenzo dan Riana. Dengan berat hati, Kenzo dan Riana


membohongi Belinda dengan mengatakan jika Boy terluka.


Secepat kilat Belinda meminta ijin untuk menunda pemotretan pada Jimmy. Belinda memanggil


taksi dan segera bergegas menuju rumah sakit. Tiba disana Belinda bertemu


dengan Riana yang siap bersandiwara jika Boy terluka.


Belinda panik. Ia segera menuju ke tempat Boy berada. Riana mengantarkan Belinda ke sebuah


ruangan yang terlihat kosong.


“Ri, dimana Boy?” Tanya Belinda cemas karena tidak melihat Boy ada di ruangan itu.


Riana


memutar bola matanya malas. Ia benar-benar tak enak hati karena membohongi


Belinda.


“Maaf, Bels. Aku tak bermaksud untuk…” Riana tak ingin berbohong lagi.


Tiba-tiba Boy masuk kedalam ruangan itu bersama Roy dan Kenzo. Belinda menatap tajam


kearah Roy. Sejenak ia lupa jika dirinya mencari keberadaan Boy.


“Pria ini lagi?” gumam Belinda.


Kenzo memberi kode pada Riana untuk keluar dari ruangan itu bersamanya dan


meninggalkan mereka bertiga.


“Boy!” kini Belinda mulai sadar dan memeluk putranya itu. “Kau baik-baik saja, Nak?”


Boy mengangguk. “Aku baik, Ma. Tadi aku melakukan autopsy bersama Dokter Roy, benar


‘kan Dokter?”


Ternyata sedari tadi Roy sibuk memperhatikan Belinda. Ia malah tidak focus dengan


pertanyaan Boy.


“Umm, jadi … kau adalah ibu dari anak ini?” Tanya Roy gugup.


“Iya. Maaf jika putra saya merepotkan Anda, Dokter.” Jawab Belinda dengan gugup juga.


Kini suasana terasa canggung. Boy memperhatikan interaksi dua orang dewasa yang ada


dihadapannya.


“Aneh! Kenapa mereka seperti tidak saling mengenal?” batin Boy.


“Ma, Dokter Roy adalah dokter yang hebat. Jika aku besar nanti, aku ingin menjadi


seperti dokter Roy,” ucap Boy untuk membuka interaksi diantara kedua orang


tuanya.


Namun semua masih sia-sia. Belinda memilih diam dan tak menjawab Boy. Ia bertanya-tanya


apa maksud Boy membohongi dirinya. Sebenarnya ia ingin marah pada Boy, namun ia


urungkan karena ada Roy disana.


“Boy, sebaiknya kita pulang!” ajak Belinda.


Boy hanya menurut. Roy masih mematung dan mempertanyakan banyak hal. Ketika Belinda


tiba diambang pintu, Roy menghentikannya.


“Tunggu!”


Belinda berbalik.


“Siapa namamu, Nona?”


“Eh?”


“Namamu?”


“Namaku Belinda. Permisi!”


Kemudian Boy dan Belinda keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi.


#bersambung…


*haduh,


pertemuannya masih canggung. Oke, kita nantikan pertemuan mereka selanjutnya ya


shay, heheheh