Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 29. Cerita tentang Roy


Belinda menerima ajakan Roy untuk berkendara bersama menuju pulang ke apartemen. Selama perjalanan, tak ada percakapan yang tercipta diantara mereka. Belinda hanya sesekali melirik kearah Roy yang tengah sibuk menatap jalanan di depan mereka.


Hati Belinda mulai menghangat ketika Roy sedikit demi sedikit meyakinkannya tentang masa depan untuk mereka. Masa depan? Benarkah akan ada masa depan untuk mereka? Sementara Roy masih terikat hubungan dengan Zara.


Seluruh orang di kota ini tahu jika Roy adalah tunangan Zara. Mereka sudah bersama sejak masih sama-sama duduk di bangku SMA.


Namun banyak hal terjadi seiring berjalannya waktu. Zara memutuskan meninggalkan Roy demi melanjutkan studinya di luar negeri. Saat itu, Roy tidak setuju dengan keinginan Zara. Tapi apa mau dikata, saat itu mereka tidak terikat apapun. Hanya sebatas cinta monyet yang kapan saja bisa berakhir.


Roy mulai berubah setelah Zara meninggalkannya. Ia hanya fokus pada studi dan perusahaan yang nantinya akan diwariskan kepadanya.


Roy menghentikan laju mobil secara tiba-tiba. Belinda terkejut dengan apa yang dilakukan Roy.


"Kenapa berhenti?" tanya Belinda.


"Aku hanya ingin bicara denganmu."


"Eh? Bicara apa?"


"Tentang kita."


Belinda memalingkan wajahnya. "Sejak kapan kita punya cerita?"


"Sejak benih dariku ditanam di rahimmu."


Belinda kembali menoleh kearah Roy.


"Maaf. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan Profesor Gerald memilihmu. Dari yang kutahu, kau terpilih karena kau dianggap sebagai mahasiswi lemah dan tidak bisa melawan. Kau mendapat beasiswa dari universitas. Dan itu akan berakibat buruk dengan beasiswamu jika kau menolak."


Belinda terdiam.


"Karena itukah kau membenciku?" tanya Roy. Kali ini dia serius bertanya.


"Apa aku harus menjawabnya?"


"Secara teknis, iya. Kita terhubung karena kita memiliki Boy. Kau harus tahu, Nona, aku tidak akan membiarkan


orang-orang itu menyakitimu."


"Eh? Kau tahu?"


"Iya, aku mendatangi kampung halamanmu dan bertemu dengan seseorang yang mengenalmu di masa lalu."


Belinda kembali terdiam.


"Jadi benar, kau adalah ... Putri Berlian?"


Belinda mencengkeram erat gaun yang dikenakannya. Ia enggan untuk menjawab.


"Sejak kapan kau mengenal Patrick Hensen?" Tanya Roy lagi.


"Kurasa aku tidak perlu menjawab semua pertanyaan konyolmu itu."


Belinda menyilangkan tangannya.


"Baiklah. Aku tidak memaksa." Jawab Roy pasrah.


"Cepat jalankan mobilnya!" perintah Belinda.


"Apa kau tidak ingin tahu kenapa aku bersedia mengikuti proyek rahasia itu?"


Belinda memejamkan matanya.


"Tidak!" jawab Belinda tegas.


"Baiklah. Kita akan kembali ke apartemen. Asal kau tahu, Nona, semua seakan sudah ditakdirkan. Kita bertemu setelah putra kita beranjak besar dan mencari tahu tentang ayahnya."


"Berhenti mengucap kata putra kita. Boy adalah putraku!" ketus Belinda.


"Maaf. Seandainya saja aku menyadarinya dari awal. Mungkin kau tidak akan semarah ini." Roy kembali menyalakan mesin mobil dan melajukan mobil menuju apartemen.


"Dan seandainya saja kau tahu jika keluargamu hanya memanfaatkanku untuk melahirkan seorang pewaris, kau pasti tidak akan berkata begini. Apakah kau memang berbeda, Roy?" Belinda bermonolog dalam hati.


......***......


"Terima kasih karena sudah memberiku tumpangan," ucap Belinda.


"Jangan sungkan, Nona. Kita tinggal di apartemen yang sama.” Balas Roy.


Belinda menekan kode angka pintu apartemennya. Merasa tidak enak hati dengan Roy, Belinda mengijinkan Roy untuk mampir ke apartemennya.


“Mama!” seru Boy memeluk Belinda.


“Mama datang bersama dokter Roy?” Boy bertanya dengan menatap Roy dan Belinda bergantian.


Patrick yang juga ada disana, menyapa Roy sekenanya. Harapannya agar lebih dekat dengan Belinda rasanya semakin sulit. Patrick undur diri bersama Roy karena tak ingin menganggu waktu istirahat Belinda.


Roy meminta Patrick untuk mampir ke kamar apartemennya dan Patrick menyetujuinya.


Roy mempersilahkan Patrick untuk duduk di sofa ruang tamu.


“Silahkan duduk! Kau ingin minum apa?” Tanya Roy.


“Apa saja. Apartemenmu lumayan juga, Roy. kau berhasil membeli tempat ini dengan uangmu sendiri atau…”


Roy berdecih. “Kau selalu berpikir jika aku tidak bisa melakukan sesuatu dengan kemampuan diriku sendiri? Kau tidak berubah, Julian. Apa karena itu kau pergi dari rumah?”


Patrick lebih memilih diam. “Katakan saja ada perlu apa kau mengundangku kemari? Jangan membahas tentang masa lalu.”


“Bukankah kau kembali karena ada hal di masa lalu yang belum usai?”


“Begitukah menurutmu?” Patrick tersenyum getir.


“Akan kuambilkan air es untuk mendinginkan hatimu.” Roy menuju ke dapur dan membuka lemari es lalu mengambil satu botol air es.


Patrick menggeleng dan berdecih. Hubungan yang telah lama mendingin, akankah menjadi hangat kembali?


“Minumlah!” Roy menuangkan segelas air es untuk Patrick.


“Terima kasih.” Patrick meneguk segelas air es hingga tandas.


“Wah, tampaknya kau sedang panas, huh?”


“Apa kau sengaja menemui Belinda?” Tanya Patrick.


“Hmm, begitulah. Ada hal yang harus kuselesaikan dengannya.”


“Kau sudah memberitahunya tentang hasil tes DNA itu?”


“Ya begitulah.”


“Apa yang Belinda katakan?”


“Entahlah. Dia tidak menjawabnya. Tapi … apa kau tahu? Sudah sejak lama aku berusaha mencari jejaknya. Aku sempat menyerah karena kakek dan Profesor Gerald memintaku menyerah. Aku tidak tahu apa yang menyebabkannya pergi dan menjalani kehidupannya sendiri.”


“Kenapa kau tidak bertanya padanya?”


“Dia tidak suka membahas tentang masa lalu.”


“Dia sudah banyak mengalami banyak hal, Roy. Dia kehilangan kedua orang tuanya yang diyakininya jika mereka masih hidup.”


“Jadi, apakah kita akan bekerja sama untuk memecahkan masalah ini?”


“Tidak perlu. Aku yang akan mencari tahu tentang masalah Belinda. Kau tidak akan mampu melakukannya, Roy.”


“Cih, kau meragukan kemampuanku, huh! Kau memang tidak berubah. Pergilah! Kurasa tidak ada lagi yang harus kita bicarakan. Tapi kuharap, kau mau bekerja sama denganku untuk menemukan keberadaan Profesor Gerald.”


“Kau bukan polisi, Roy! serahkan tugas ini pada yang berwajib. Dan sebaiknya, kau selidiki dulu orang-orang terdekatmu. Mungkin saja kau akan mendapat jawabannya.” Usai sedikit berbincang dengan Roy, Patrick pun pamit undur diri apartemen Roy.


Roy tertegun mendengar kalimat terakhir Patrick.


“Apa maksud ucapannya itu? Apa memang ada anggota keluarga Avicenna yang ingin melenyapkan Belinda dan Boy? Tapi kenapa?” Roy memegangi dadanya yang mulai sesak.


Roy mencari obatnya yang ada di lemari. Ia mengambil satu pil dan meminumnya. Tatapannya menerawang jauh. Ia memikirkan masa depan dua orang yang terikat dengannya.


Roy masuk kedalam kamarnya, ia menyiapkan kamera dan merapikan penampilannya agar terlihat baik di depan kamera.


“Ehem!” Roy berdeham agar tidak terlihat gugup.


“Jika kalian melihat rekaman ini, maka mungkin saja…” Roy menjeda kalimatnya. Matanya menghangat dan mulai berembun.


“Belinda … atau Putri Berlian. Aku tahu mungkin kita tidak sempat saling mengenal dengan baik, berkenalan dan mungkin saja berkencan. Tapi, kita bisa bersatu karena ada kehadiran Boy dalam hidup kita…”


Roy menguatkan hatinya. “Maafkan aku jika aku sudah membuatmu terluka. Membuatmu hidup menderita karena harus mengandung benih dariku. Kau adalah wanita yang kuat. Kau pasti bisa menjaga anak kita dengan baik, meski aku tak lagi ada di sampingmu…”


Roy mematikan kamera. Ia tak tahan membendung air matanya. Entah kenapa ia menjadi lemah jika mengingat tentang hidupnya yang mungkin tidak akan bertahan lama.


...…***…...


#bersambung…


*nyesek euy bikin part ini, hiks hiks hiks…


Jangan lupa dukungannya selalu ya kesayangan


...Thank You...