Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 30. Kedekatan Roy dan Boy


Pagi ini Roy menjemput Boy di apartemennya. Belinda mulai terbuka dengan sikap Roy yang ingin berdamai dengannya. Meski ia belum sepenuhnya menerima Roy masuk kedalam kehidupannya dan Boy. Tapi kebahagiaan Boy adalah hal utama yang dipikirkan Belinda.


Belinda memberikan senyum terbaiknya pada Roy. Disaat yang sama, Patrick juga datang untuk mengantar Boy ke sekolah. Belinda memberi kode jika Roy lah yang akan mengantar Boy.


Boy berpamitan pada Belinda dan juga Patrick. Ada rasa cemburu di hati Patrick saat melihat kedekatan Boy dan Roy. Hati kecilnya masih tak rela jika ia harus kehilangan Boy dan Belinda.


"Pat, kau sudah makan?" tanya Belinda.


"Eh?"


"Makan? Sarapan?" tanya Belinda lagi dengan kode tangan yang ia arahkan di depan mulut.


"Hmm, boleh. Kurasa akhir-akhir ini aku mudah lapar." Patrick segera masuk di belakang Belinda.


Dari kejauhan, Roy sempat menoleh ke belakang dan melihat Patrick masuk kedalam apartemen Belinda. Ada rasa tak biasa saat melihat kedekatan Belinda dengan Patrick.


Boy tiba di sekolahnya dan disambut oleh guru kelasnya yang menyapa Boy dan Roy ramah. Roy mengusap rambut Boy dengan gemas.


"Belajarlah yang rajin ya! Siang nanti Papa akan mengajakmu belajar menjadi seorang dokter forensik yang baik."


"Baik, Pa. Papa hati-hati menyetir." Boy melambaikan tangan melepas kepergian Roy.


Roy melajukan kembali mobilnya dengan perasaan yang bahagia. Hari ini dan seterusnya, Roy akan tersenyum sepanjang hari karena mendapat karunia yang begitu besar dari Tuhan berupa Boy dan Belinda di sisa waktu hidupnya.


......***......


Sepulang sekolah, Roy membawa Boy bertandang ke rumah sakit Avicenna. Roy akan mengajari Boy teknik-teknik dasar seorang domter forensik. Sebenarnya Boy harus menjalani tahap studi terlebih dahulu untuk mempelajari teori dasarnya. Tapi Roy bisa melihat jika Boy memang memiliki keistimewaan dibanding anak lain seusianya.


Maliq bertandang ke ruang autopsi dan melihat kedekatan Boy dan Roy yang memang seperti ayah dan anak pada umumnya. Maliq merasa lega karena sahabatnya itu kembali tersenyum seperti dulu.


"Apa yang sedang kalian lakukan? Wah, Boy. Kau sedang belajar ilmu kedokteran forensik? Kau memang luar biasa, Nak." puji Maliq.


"Iya, dokter. Aku akan belajar dari awal. Dulu aku hanya belajar secara otodidak saja." jawab Boy.


Sepasang mata tengah memperhatikan kedekatan Boy dan Roy dari luar ruang autopsi. Zara menginterupsi aktifitas Roy dan Boy.


"Roy, bisa kita bicara?" tanya Zara dengan suara lembut yang dibuatnya.


"Hmm, kita ke ruanganku saja."


Dengan manja Zara menggamit lengan kiri Roy dan membawanya pergi dari kebersamaannya dengan Boy.


Boy hanya menatap nanar kepergian ayahnya dan Zara. Sungguh ia merasa sedih saat melihat kenyataan jika ayahnya telah bertunangan dengan Zara.


"Ada apa, Boy?" tanya Maliq yang melihat Boy melamun.


"Tidak ada, Paman. Aku akan belajar lagi." Boy kembali fokus dengan beberapa buku di depannya.


Maliq menatap iba Boy. Ia tahu jika perasaan bocah enam tahun itu sedang dilanda kegelisahan karena melihat ayahnya bersama dengan wanita lain. Bukan salah Boy harus melihat kemesraan Roy dan Zara. Sebelum Boy dan ibunya hadir, Roy sudah bersama dengan Zara.


Tiba di ruangan Roy, Zara langsung berkacak pinggang dan menatap Roy dengan kemarahan.


"Kenapa kau membawa Boy ke rumah sakit ini tanpa ijin dariku?" tanya Zara.


"Kenapa memangnya?" Roy bersedekap.


"Boy adalah pasienku. Sudah sepantasnya kau meminta ijin dulu padaku sebelum membawanya kemari!" sungut Zara.


Roy tersenyum getir. "Apakah ini adalah wajah aslimu, Zara? Kau selalu terobsesi hingga kau tidak tahu apa yang sudah kau lakukan itu adalah salah."


"Apa maksudmu?"


"Kau mengumpulkan anak-anak genius untuk mencari tahu siapa diantara mereka yang merupakan darah dagingku. Benar begitu, bukan?"


"Kau!!!"


"Aku tahu semuanya, Zara. Bahkan kemungkinan kaulah yang menyembunyikan Profesor Gerald semakin besar saat kau tiba-tiba mencari tahu tentang anak genius."


Zara mendengus kesal namun tak bisa menjawab apapun.


Roy mencengkeram kedua bahu Zara.


"Dimana kau sembunyikan Profesor Gerald?"


Zara tersenyum menyeringai mendengar pertanyaan Roy.


"Aku tidak tahu. Sekalipun aku tahu ... aku tidak akan memberitahukannya padamu."


Roy menurunkan tangannya dari bahu Zara.


Roy tidak menjawab.


PLAK!


Satu tamparan mendarat di pipi Roy.


"Kenapa?! Kenapa kau melakukan ini, Roy?! Kau mengkhianatiku, Roy!!!" Zara menarik kerah kemeja Roy.


"Siapa gadis itu, huh?!"


Roy tetap tidak menjawab.


"Aku bersumpah aku akan temukan gadis itu! Dan kau atau siapapun tidak akan ada yang bisa melindunginya!!!"


Roy menepis tangan Zara kasar.


"Aku bersedia bertunangan denganmu karena permintaan Mommy. Asal kau tahu, aku sudah lama meninggalkanmu dan menghapus namamu dari dalam hatiku sejak kau memutuskan untuk memilih pergi ke luar negeri dibandingkan tinggal disini bersamaku."


"Jangan melampaui batas, Zara. Atau kau akan menerima akibat dari semua perbuatanmu!"


Roy meninggalkan Zara dengan amarah yang tertahan. Sementara Zara, ia mengepalkan tangannya dengan semua kata-kata Roy.


"Apa Roy sudah tahu jika akulah yang menyembunyikan kakek Gerald? Tidak bisa kubiarkan! Aku harus segera mencari tahu identitas ibu kandung Boy." gumam Zara.


"Ah, aku tahu. Julian! Aku yakin ada sesuatu yang aneh dengannya. Jangan-jangan dialah yang sudah melindungi gadis itu? Ini semakin menarik dan menantang. Kita lihat saja, Roy. Aku atau kau yang akan memenangkan permainan ini. Dan kau Julian! Kau akan sangat terkejut dengan apa yang akan terjadi dengan kehidupanmu setelah ini." Seringai Zara dengan menatap kepergian Roy yang tak lagi nampak oleh netranya.


......***......


Malam harinya, Boy pulang bersama Roy bertepatan dengan Belinda yang baru selesai menyiapkan makan malam.


"Kalian sudah pulang?" sapa Belinda.


"Sudah, Ma. Oh ya, Mama tahu, hari ini aku belajar banyak bersama dokter Roy. Dia bilang saat aku dewasa nanti, aku akan menjadi dokter forensik yang hebat melebihi dirinya." Boy bercerita dengan antusias dan senyum lebar di wajahnya.


Belinda menatap Roy dan tesenyum penuh terima kasih terhadap Roy.


"Apa Bibi Riana belum pulang, Ma?" tanya Boy.


"Belum. Sepertinya akhir-akhir ini dia sedikit sibuk." jawab Belinda.


Karena tidak ada orang lagi yang harus mereka tunggu, ketiga orang itu memulai makan malam mereka dengan hangat. Sesekali Boy berceloteh dan membuat Belinda juga Roy tertawa renyah.


Usai makan malam, Roy berpamitan pada Belinda dan Boy. Boy terlihat amat kelelahan dan langsung menuju kamarnya. Boy sengaja membiarkan dua orang dewasa ini untuk saling berbincang dan menjadi dekat.


Namun ternyata Roy memilih untuk berpamitan karena tidak enak jika ada yang melihat kehadiran dirinya di apartemen Belinda. Belinda mengantar Roy hingga ke depan pintu.


"Terima kasih atas makan malamnya," ucap Roy.


"Iya. Terima kasih juga karena sudah menjaga Boy dan mengajarinya belajar."


"Jangan sungkan. Kalau begitu aku permisi."


Roy membalikkan badan dan hendak melangkah. Namun tiba-tiba...


"Aakkhh!!!" Roy memegangi dadanya.


"Ada apa?" tanya Belinda panik.


"Tidak. Aku tidak apa-apa. Mungkin hanya kelelahan biasa. Aku permisi!"


Roy segera pamit karena tak ingin Belinda tahu tentang penyakitnya.


Belinda menatap Roy yang menghilang dari pandangan dengan rasa khawatir.


"Kenapa aku mengkhawatirkan keadaannya? Apa benar dia baik-baik saja?" gumam Belinda.


......***......


#bersambung...


"Terima kasih banyak untuk kalian yg sudah setia menemani cerita ini UP. Mulai hari ini akan diusahakan Up 2 bab perhari. Untuk jamnya tidak pasti. Cuman yg jelas ditunggu mulai dari pagi hingga sore ya genks πŸ˜…πŸ˜… karena malam jadwalnya yg roman-dewasa."


Buat yg ingin mampir silahkan mampir ke πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡