
“Sebenarnya gadis yang bernama Putri Berlian itu memang pernah tinggal disini bersama dengan kedua orang tuanya. Tapi, sudah sekitar tujuh tahun lamanya gadis itu menghilang dan tidak pernah kembali ke desa ini. Bahkan tidak ada yang tahu keberadaan gadis itu. Dia seakan menghilang.”
Roy dan Ben kembali saling pandang.
“Lalu apa yang terjadi dengan desa ini? Kenapa penduduk desanya menghilang?” Tanya Roy menyelidik.
“Saya tidak tahu kemana mereka pergi. Yang saya dengar ada sekelompok orang yang mengancam dan meneror mereka. Itulah alasan kenapa mereka pindah. Saya tidak mengetahui detilnya karen saat itu saya sedang pergi ke luar kota. Saat saya kembali desa ini sudah tak berpenghuni.”
Roy terdiam. “Siapa orang-orang itu, Pak? Apa yang mereka inginkan?”
Hendra menggelengkan kepala. “Saya tidak tahu. Tapi saya pernah dengar jika orang-orang itu adalah suruhan dari Avicenna Group.”
“Hah?! Apa?!” Roy tertegun. Ben melirik kearah Roy yang masih bergeming dan seperti memikirkan sesuatu.
Karena tak mendapatkan informasi apapun mengenai Putri Berlian, Roy dan Ben memutuskan untuk berpamitan dengan Hendra dan pergi dari desa itu.
Roy terus terdiam selama perjalanan menuju kembali ke kota. Ben sesekali melirik kearah Roy yang sedang memijat pelipisnya.
“Tuan, apa Tuan baik-baik saja?”
“Iya, Ben. Aku hanya terkejut mendengar penuturan Pak Hendra.”
“Apa Tuan yakin dia berkata jujur?”
“Iya, aku tahu dia jujur. Gadis itu memang sudah menghilang selama bertahun-tahun.”
“Lalu tentang…”
“Avicenna Group? Aku harus mencari tahu kebenarannya, Ben. Jangan-jangan ada yang mencari keberadaan gadis itu hingga mencarinya kesana. Tapi siapa? Apa ini ada campur tangan Daddy? Atau kakek? Semuanya masih misteri, Ben.”
“Lalu tentang wanita bernama Belinda? Bukankah Tuan yakin jika dia adalah Putri Berlian?”
“Entahlah. Aku akan cari cara agar aku bisa melakukan tes DNA bersama Boy tanpa diketahui Belinda dan Julian. Dan kau! Pastikan semua yang kita lakukan hari ini menjadi rahasia.”
“Baik, Tuan.”
Sementara itu Hendra tersenyum seringai melihat kepergian Roy dan Ben. ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Halo, apa kau sudah mendengarnya sendiri?”
“Iya, Pak. Terima kasih karena bapak sudah merekam percakapan mereka.”
“Jangan sungkan Nak Patrick. Bukankah saya sudah bilang jika saya akan membantu kalian.”
“Baiklah, Pak. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih.”
Hendra mengakhiri panggilannya bersama Patrick.
...…***…...
Sesuai dugaan Patrick, Roy memang benar datang ke kampung halaman Belinda dan mencari tahu tentang asal usulnya. Ia sadar membuka sedikit informasi saja akan berakibat buruk untuk Belinda dan Boy. Namun disini Patrick hanya ingin sedikit bermain dengan Roy.
Kenzo masuk kedalam apartemen dan melihat Patrick sedang tersenyum di balkon.
“Apa yang sedang kau lakukan, Pat?”
“Tidak ada.”
“Oh ya, ini ada paket untukmu.” Kenzo memberikan sebuah amplop pada Patrick.
“Terima kasih.” Patrick menerima dan langsung membukanya.
Wajah Patrick memerah menahan amarah setelah membaca paket yang diberikan Kenzo. Secepat kilat ia menemui Kenzo yang sedang mengambil air di dapur.
“Siapa yang mengirimnya?” Tanya Patrick dengan nada tinggi.
“Astaga, Pat! Ada apa?”
"Paket ini! siapa yang mengirimnya?” ulang Patrick.
“Aku tidak tahu. Sepertinya seorang kurir yang
membawanya.”
Patrick segera berlari menuju keluar kamar apartemen. Ia yakin jika si kurir paket masih ada disekitar sana. Ia mengedarkan pandangan dan berlari sekencang mungkin mencari keberadaan si kurir.
Si kurir yang baru saja mengantar paket segera
menemui seseorang yang membayarnya.
“Bagus. Ini bayaran untukmu. Mungkin lain kali aku akan kembali memakai jasamu.”
“Terima kasih, Nona Zara. Saya permisi!”
Zara tersenyum puas setelah melakukan sedikit demi sedikit rencana yang dibuatnya. Ia masih duduk diam didalam mobilnya kala melihat Patrick ada di luar apartemen dan melihat sekeliling. Nona muda itu tahu jika Patrick pasti mencari keberadaan kurir yang dibayarnya tadi.
“Julian, Julian. Aku tidak menyangka kau akan
kembali ke kota ini. Bukankah kota ini penuh dengan kenangan pahit untukmu?” gumam Zara.
Patrick menoleh ke kanan dan ke kiri mencari orang ia curigai sebagai kurir. Namun ia tidak menemukan orang yang dimaksud.
“Kau tidak akan bisa menemukannya, Julian. Sebaiknya kau dan wanita itu segera bersiap. Karena kejutan yang lain akan datang kepadamu.” Seringai Zara sebelum ia melajukan mobilnya meninggalkan area apartemen Patrick.
Patrick kembali ke apartemen dengan mengatur nafasnya. Ia geram karena tidak menemukan kurir yang ia cari. Dan kini ia makin geram karena Kenzo membaca secarik kertas yang ada di dalam amplop yang diterimanya tadi.
Dengan wajah merah padam, Patrick merebut kertas di tangan Kenzo dengan kasar.
“Jangan melewati batas, Ken! Ini bukan milikmu!”
Patrick segera masuk kedalam kamarnya usai merebut kertas itu dari Kenzo. Sementara Kenzo hanya tertegun melihat sikap Patrick
yang tidak bersahabat.
“Astaga, Pat! Ada apa denganmu? Hanya selembar kertas saja membuatmu semarah ini.” Kenzo menggeleng pelan.
Di dalam kamar, Patrick menatap nanar kertas yang sudah tampak usang itu. itu adalah artikel yang diambil dari sebuah Koran lama. Sudah sekitar 10 tahun usia kertas Koran itu. Hatinya begitu sakit membaca lagi judul berita yang tertulis disana.
...‘Misteri kematian gadis muda yang belum menemukan titik terang. Polisi akhirnya menetapkan sebagai kasus bunuh diri atas meninggalnya wanita muda yang bernama...
...Belinda Rawles.’...
Patrick mengepalkan tangan mengingat kenangan pahit yang sudah berlalu selama sepuluh tahun itu. Tak terasa matanya menghangat dan buliran bening berhasil lolos dari wajah tampannya.
“Maafkan aku, Bels… Maafkan aku. Andai saja aku bisa menolongmu, mungkin saat ini kau masih ada disini. Maafkan aku…” lirih Patrick dengan linangan air mata.
...…***…...
Helena sedang duduk bersantai bersama teman-teman sosialitanya di sebuah resto terkenal. Ponselnya bergetar. Sebuah panggilan masuk disana. Ia segera ijin pamit pada teman-temannya untuk menerima panggilan itu.
Secercah senyum terbit di wajahnya yang masih cantik meski sudah menginjak usia 40 tahun lebih.
“Halo, kuharap kau membawa kabar baik jika
menghubungiku.”
“Maaf, sebenarnya ini bukan kabar baik, Nyonya, tapi juga bukan kabar buruk.”
“Katakan! Jangan bertele-tele.”
“Ada seseorang yang melindungi gadis itu, Nyonya. Kami mendapat perlawanan saat menyerang mereka kemarin. Orang itu juga membawa senjata api. Ada kemungkinan jika dia bukanlah orang sembarangan.”
“Apa kalian tahu siapa orang itu?”
“Salah satu anak buahku berhasil mendapatkan gambarnya. Namun kami tidak berhasil mendapatkan gambar gadis itu. Akan kukirimkan gambarnya pada Nyonya.”
“Baiklah. Terima kasih atas kerja keras kalian. Akan kutransfer bayaran untukmu dan anak buahmu.”
Helena mematikan sambungan telepon. Tak lama ia mendapat satu pesan yang dikirim oleh anak buahnya. Sebuah foto.
Helena sangat terkejut saat membuka foto itu. “Julian?!”
Helena menggertakkan giginya. “Jadi, anak itu sudah kembali kesini? Apa tujuannya melindungi gadis itu? Apa dia ingin melawan keluarga Avicenna? Aku sudah sejauh ini melangkah! Tidak akan kubiarkan dia
menghancurkan semua rencanaku!”
...…***…...
#bersambung…
Terima kasih untuk kaleyan yang masih setia menanti kisah ini UP. 🙏
Semoga tetap bisa menghibur ya
mampir juga ke 👇👇👇