Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 71. Pukulan Berat


Roy, Mike dan Ben tiba di rumah Mike di saat hari telah berganti gelap. Mereka turun dari mobil dan memperhatikan sekitar.


"Apa yang sedang dilakukan Belinda, kenapa belum menyalakan lampu rumah?" gumam Mike.


Roy yang akan mendekati rumah Mike segera di cegah oleh Ben.


"Jangan masuk, Tuan! Sepertinya terjadi sesuatu dengan gadis itu," ucap Ben yang membuat Roy dan Mike saling pandang.


"Ada apa, Ben?" tanya Mike.


"Mike, apa kau tidak merasa ada yang aneh disini?"


Mike mengerutkan dahi.


"Meski gadis itu adalah gadis kloning, tapi aku yakin jika dia pasti tahu saat gelap harusnya ia menyalakan lampu rumah. Bukan membiarkannya gelap gulita begini." jelas Ben.


"Apa yang dikatakan Ben benar juga, Mike." sahut Roy.


"Tuan, tunggulah disini! Aku dan Mike akan memeriksa ke dalam. Ayo, Mike!" ajak Ben.


Ben dan Mike akan membuka pintu namun ternyata terkunci dari dalam.


"Mike, kau punya kunci cadangannya?" tanya Ben.


"Iya, akan kuambil." Mike kembali ke mobil dan mengambil tas kecil miliknya.


Mike membuka pintu dan mulai masuk kedalam rumahnya.


"Belinda!" panggil Mike. Ia mulai menyalakan saklar lampu.


Sunyi. Tak ada jawaban dari arah manapun.


"Belinda!!!" Mike berteriak kala melihat tubuh Belinda tergeletak di lantai.


Ben segera berlari menghampiri Mike. Roy pun ikut penasaran dengan apa yang terjadi. Ia ikut masuk kedalam rumah.


Roy dan Ben tercengang melihat tubuh kaku Belinda dalam pelukan Mike.


"Belinda! Apa yang terjadi denganmu?!" Mike terlihat sangat syok.


"Mike, biar aku periksa dulu!" ucap Roy.


"Tidak perlu, Tuan. Dia sudah meninggal. Mereka sudah membunuhnya." Mike mendekap erat jasad Belinda.


"Mike, kita harus membawa jasadnya ke rumah sakit. Aku akan meminta Maliq untuk menyiapkan semuanya. Aku akan lakukan otopsi pada Belinda. Kita harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengannya." tutur Roy.


Mike mengangguk. Mereka pun membawa jasad Belinda ke rumah sakit Avicenna secara sembunyi-sembunyi.


Roy menghubungi Maliq agar memberikan pengamanan saat ia datang bersama jasad Belinda.


Tiba di rumah sakit, tubuh Belinda di baringkan di ruang otopsi milik Roy. Roy memandangi dengan seksama tubuh kaku Belinda.


"Dia sangat mirip dengan Belinda yang asli." gumam Roy.


Maliq datang dan segera melihat apa yang sedang terjadi.


"Roy!" panggil Maliq yang membuat Roy menoleh.


"Ada apa ini?" tanya Maliq.


"Lihat ini!"


Maliq segera mendekati jasad yang sudah terbujur kaku itu.


"Dia...?"


"Dia adalah manusia kloning yang diciptakan oleh Kak Julian. Dia sengaja membuat Belinda palsu untuk mengelabui Mom dan Daddy. Aku yakin itu!"


Maliq tak percaya dengan apa yang dikatakan Roy. Tapi tubuh itu memang sangat mirip dengan Belinda. Maliq juga mengenal Belinda semasa hidupnya.


"Tapi, kenapa Julian melakukan ini? Kurasa ini tidak masuk akal, Roy."


"Apa kau pikir semua hal yang terjadi adalah hal yang masuk akal? Kau tahu seperti apa Kak Julian sekarang. Dia bukan lagi Kak Julian yang aku kenal. Dia bahkan ingin menghancurkan keluarganya sendiri." Roy mengusap wajahnya.


"Jadi ... gadis ini dibunuh oleh Julian?"


"Ada kemungkinan begitu. Makanya aku akan melakukan otopsi."


"Roy! Ini sudah malam! Kita lakukan besok saja. Lagipula ini akan membuat orang-orang curiga jika kau masih ada di rumah sakit di jam-jam segini."


Roy berpikir sejenak. "Apa yang Maliq katakan ada benarnya juga. Aku juga belum mengabari Lian soal ini. Jika aku belum kembali, Lian pasti khawatir." batin Roy.


Sementara itu di luar kamar otopsi, Mike terduduk dengan memegangi kepalanya. Ia sangat terpukul atas kematian Belinda.


"Mike!" Ben memegangi pundak Mike.


Mike menggeleng. "Tidak, Ben. Aku akan kembali ke rumahku."


"Baiklah, jika itu maumu. Tapi, kau harus berhati-hati."


"Mereka tidak akan datang lagi, Ben. Mereka pasti sudah yakin jika Belinda telah meninggal. Ini semua salahku! Jika saja aku lebih cepat memberitahu kalian tentangnya, mungkin sekarang dia masih hidup. Dia sudah kuanggap seperti putriku sendiri. Aku lah yang bersalah, Ben!" Mike mengusap wajahnya yang sudah memerah. Kesedihan sangat terlihat jelas di wajahnya.


Roy dan Maliq ikut merasa iba dengan kehilangan yang di alami Mike. Mereka saling pandang dengan tatapan penuh arti seolah mereka sedang berbincang.


*


*


*


Tiba di rumahnya, Mike duduk di meja dengan kesunyian seperti yang ia jalani sebelum Belinda datang. Gadis itu memang hanya beberapa hari tinggal bersama Mike. Namun kehadirannya mampu membuat kesepian Mike yang sudah bertahun-tahun perlahan sirna.


Belinda membawa warna baru dalam hidup Mike. Ia bahkan banyak bercerita tentang masa lalu pada Belinda.


"Dengar, jangan memanggilku Tuan Michael. Itu sangat aneh. Nona Belinda biasa memanggilku dengan sebutan 'Paman Mike'. Jadi, kau panggilah seperti dia."


"Tidak, Tuan Michael. Aku bukanlah Belinda yang asli. Aku hanya Belinda buatan."


"Jadi, setelah kau melalui semua ini, kau bersedia tinggal disini? Bersamaku?"


"Tentu saja." jawab Belinda dengan tersenyum.


"Dulu aku dan mendiang istriku sangat menginginkan anak perempuan. Entahlah, kami merasa anak perempuan adalah yang terbaik." Mike terdiam dan tidak melanjutkan ceritanya.


"Lalu...?" Belinda menunggu dengan antusias.


"Lalu ... istriku akhirnya hamil. Dan dokter bilang itu adalah bayi perempuan. Aku sangat bahagia saat itu. Tapi ... sebuah kecelakaan merenggut mereka berdua." Mike menundukkan kepala.


"Tuan Michael..." Belinda mengusap punggung Mike.


"Sudahlah! Itu semua sudah berlalu. Dan aku tidak ingin mengingatnya lagi."


"Apa kau memberi nama putrimu itu? Meski belum lahir ke dunia, dia berhak mendapat sebuah nama."


"Iya. Aku dan istriku sepakat memberinya nama ... Thania."


"Thania? Nama yang indah. Bagaimana jika aku menjadi Thania saja? Apa kau keberatan?"


Mike menatap Belinda. "Tidak! Aku tidak keberatan. Kau tidak memiliki identitas. Jadi, kurasa kau perlu mendapat sebuah nama. Thania Theodore. Kau memiliki nama belakangku."


Belinda tersenyum. "Iya, aku mau. Aku mau menjadi putrimu, Tuan Michael..."


Dan tak pernah Mike sangka, jika senyum itu adalah senyum terakhir Belinda yang akan ia lihat.


*


*


*


Di kediaman keluarga Avicenna, Roy masih berkutat dengan pekerjaannya di ruang kerjanya. Lian menghampiri Roy bermaksud memintanya untuk beristirahat.


"Mas, ini sudah malam. Sebaiknya lanjutkan pekerjaanmu besok saja," ucap Lian dengan mengusap lengan Roy.


"Aku masih tidak habis pikir jika Kak Julian akan..."


"Sudahlah! Jangan memikirkannya. Dia memilih jalan hidupnya sendiri. Dan kita juga akan memilih jalan hidup kita sendiri."


Roy menatap Lian penuh damba. "Kau benar. Hari ini adalah hari yang cukup mengejutkan untukku. Apa kau ... bersedia menghiburku?" Kerling Roy memberi kode pada Lian.


"Menghiburmu?" Lian mengerutkan dahi.


Roy segera menarik tangan Lian hingga Lian mendarat di pangkuan Roy. Roy memeluk pinggang Lian posesif. Ia menopangkan dagunya di bahu Lian.


"Sayang... Bukankah sudah saatnya Boy memiliki seorang adik?"


"Hmm? Maksud Mas?"


"Kita berikan adik untuk Boy. Bagaimana?"


Lian menunduk malu. Sungguh ia masih canggung berdekatan dengan Roy.


"Karena kau diam maka kuanggap kau setuju! Ayo!"


Roy menggendong Lian ala bridal menuju kamar mereka.


#bersambung...


"Sekali-kali endingnya jangan tegang mulu yak, hehehehe. Mau dibikin panjang gak nih malam kebersamaan Roy sama Lian? ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…"