Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 64. Kesedihan Roy


Lian segera membawa Roy masuk ke dalam kamarnya, kondisi Roy tak memungkinkan untuk terus berdebat dengan Helena di depan tamu tak diundang itu. Tak ingin putranya lebih murka, Helena mengikuti prosedur yang ditetapkan. Ia pun ikut bersama para petugas dari kantor kejaksaan.


Lian meminta Ben untuk menjaga Roy yang masih lemah.


"Katakan pada Mas Roy aku pergi ke suatu tempat. Tidak akan lama." Lian menyambar tas slempangnya dan segera keluar rumah menggunakan taksi. Ia akan menuju tempat dimana semua kejadian hari ini bermula.


*


*


*


Lian tiba di sebuah gedung tinggi yang bertuliskan Ar-Rayyan Grup. Lian memasuki gedung itu dan bertanya dimana ruangan Julian.


Lian bergegas menaiki lift dan menuju ke lantai 8 dimana ruangan Julian berada. Tiba disana, Lian tak diizinkan masuk sebelum Julian mengijinkannya.


"Tuan, Nona Berlian datang ingin bertemu dengan Anda," ucap sekretaris Julian.


"Suruh dia masuk!" titah Julian.


"Baik, Tuan."


Lian masuk kedalam ruangan Julian tanpa basa basi dan langsung berhadapan dengan Julian yang sedang duduk di kursi kebesarannya.


"Kenapa kau lakukan ini?" tanya Lian dengan kilatan amarah di matanya.


"Melakukan apa?" Julian berpura-pura tidak tahu.


"Jadi kau tetap akan melakukan balas dendammu? Apa belum cukup keluargamu mengalami banyak masalah?"


"Aku tidak melakukan apapun. Hukumlah yang bicara. Masih untung dia hanya di jerat dengan kasus 10 tahun lalu, dan bukan 27 tahun lalu."


Lian tak mengerti dengan pola pikir Julian.


"Apa kau puas setelah melakukan semua ini? Kau bilang kau akan melindungi Mas Roy! Tapi apa begini caranya? Bahkan Mommy Helena sudah bersedia untuk memperbaiki diri. Dia menyesali semua perbuatannya. Dan dia akan menebus semuanya seumur hidupnya. Apa itu tidak cukup?"


"Tidak! Tidak akan pernah cukup, Lian." tekan Julian yang mulai terbawa emosi.


Rasanya sia-sia saja bicara dengan Julian untuk saat ini. Lian menghela nafasnya.


"Jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, pergilah! Tidak ada gunanya kau datang kemari." usir Julian.


Dengan langkah gontai Lian keluar dari ruang kerja Julian. Hatinya amat sedih saat mengingat kesakitan yang dialami suaminya tadi. Dan juga emosinya yang tak terkendali.


Lian duduk di bangku panjang yang ada di lobi gedung itu. Bayangan tentang kata-kata yang Roy ucapkan tadi pada Helena kembali mengiang di telinganya.


"Jika aku harus hidup dari cara melenyapkan hak orang lain, maka sebaiknya aku tidak pernah dilahirkan. Aku tidak sudi menjalani kehidupan seperti ini, Mom! Harusnya aku tidak perlu ada jika aku hanya hidup dengan merampas kebahagiaan orang lain!"


"Bagaimana Mommy tega melakukan ini pada Kak Julian? Bukankah dia putra Mommy juga? Meskipun bukan tapi dia adalah keponakan Mommy. Bagaimana bisa Mommy..."


Lian memejamkan mata mengingat semua kejadian tadi.


"Minum?" suara seseorang membuat Lian kembali membuka mata.


"Kenzo? Terima kasih." Lian menerima satu cup kopi pemberian Kenzo.


"Aku tidak menyangka kamu akan datang kemari." ucap Kenzo.


Lian hanya tersenyum tipis. "Aku tidak menyangka jika Patrick akan melakukan hal sebesar ini."


"Tidak ada yang bisa menghalanginya, Lian. Dinding hatinya sudah beku dan sulit untuk mencair."


Lian menyeruput kopi pemberian Kenzo.


"Kapan kamu kembali?" tanya Lian.


"Sekitar sebulan lalu, saat pemakaman ayah mertuamu aku juga datang."


"Boy bilang kamu menyelidiki soal Patrick. Apa sudah menemukan soal..."


"Sudah. Masa lalu Patrick memang pahit. Setelah ibunya meninggal, Patrick lebih sering diasuh oleh keluarga Rayyan yang memang menginginkan seorang cucu laki-laki di keluarganya."


Lian mengangguk paham.


"Bahkan ketika Patrick pergi dari rumah, Profesor Geraldlah yang membantunya dan juga mengurus perubahan identitas Patrick."


"Meski aku tidak begitu mengenal Mommy Helena, tapi aku yakin jika dia benar-benar menyesali perbuatannya. Meski penyesalan itu tidak bisa membuat ibu kandung Patrick kembali hidup, juga gadis bernama Belinda itu." Lian menerawang jauh.


"Umm, Lian..."


"Ada apa?"


"Kurasa aku ... mulai menemukan titik terang tentang keberadaan kedua orang tuamu."


"Kau tenang saja. Aku akan membantumu."


"Terima kasih, Ken. Kurasa aku harus segera pulang. Aku takut Mas Roy mencariku."


"Baiklah, hati-hati di jalan."


Lian mengangguk kemudian memanggil taksi yang melintas didepan gedung.


Kenzo menatap gedung tinggi yang kini jadi penghalang antara dirinya dan Julian, sahabatnya.


Kenzo melihat pemandangan tak biasa yang tiba-tiba menghampiri netranya.


"Zara? Apa yang dia lakukan disini? Mungkinkah ... Patrick bekerja sama dengan Zara?"


Kenzo menatap Zara yang masuk kedalam mobil yang sudah disiapkan oleh petugas vallet.


"Sebenarnya apa yang mereka rencanakan? Pat, apa kau harus berbuat seperti ini?" Kenzo menghela nafasnya.


*


*


*


Lian tiba di rumah dan tak mendapati Roy ada di kamarnya. Ia mencari ke sekeliling rumah dan kembali bertemu dengan Ben.


"Ben, dimana Mas Roy?" tanya Lian.


"Tuan Roy ada di taman belakang, di taman bunga milik mendiang Nyonya Herlin." jelas Ben.


"Eh?"


Tanpa berlama-lama, Lian menuju ke sebuah taman yang dirinya sendiri belum pernah datangi.


Lian melihat tubuh rapuh Roy sedang duduk termenung di sebuah bangku panjang dan dikelilingi bunga-bunga mawar yang berwarna-warni.


Raut wajah sedih sangat terukir jelas di wajah tampan Roy. Lian mendekat dan duduk di samping Roy.


Hanya diam yang mengisi kebersamaan mereka berdua hingga beberapa saat lamanya.


"Untuk apa kamu menemui Kak Julian?"


"Eh?"


"Bukankah kau pergi untuk menemui Kak Julian?"


Lian terdiam. "Maaf, aku hanya..."


"Tidak apa. Mungkin kamu merasa jika kamu bisa menghentikan dia. Tapi jika aku menjadi dia pun ... aku juga akan melakukan hal yang sama. Semua kesakitan yang dia rasakan, sudah seharusnya ia balaskan..."


Lian menatap iba pada mata suaminya yang sudah memerah.


"Mas..." Lian menggenggam tangan Roy.


Roy membalas genggaman tangan Lian.


"Kita akan menghadapi ini semua bersama-sama, Mas. Jangan pernah merasa sendirian."


Roy tersenyum. "Terima kasih." Roy mendekatkan tubuh Lian pada tubuhnya. Ia mendekap tubuh istrinya yang selalu setia mendampinginya. Lian mengusap punggung Roy yang makin bergetar. Menepuk pelan dan menenangkan jiwa Roy yang sedang terguncang.


Sementara itu di kantor kejaksaan, Helena masih terdiam di hadapan jaksa wilayah yang menangani kasusnya.


"Apa Nyonya akan terus terdiam seperti ini? Semua bukti sudah lengkap. Dan mengenai kasus 27 tahun yang lalu, memang sudah tak bisa kami sidangkan karena sudah kadaluwarsa."


Helena menatap nanar tertunduk. Semua kenangan masa lalunya berputar bak sebuah kaset yang sedang memainkan lagunya. Bedanya, lagu yang sedang mengalun adalah alunan kesedihan dari kekecewaan putranya.


Helena memejamkan mata sejenak, kemudian ia menatap tuan jaksa yang sedari tadi menanyainya.


"Baiklah, akan kukatakan semua yang ingin kalian ketahui. Aku akan ceritakan kejadian sepuluh tahun lalu..."


Pria bernama Jordan Herdian menatap Helena sambil menyilangkan kedua tangannya.


#bersambung...


"Untuk penyergapan Helena dan penyelesaian kasus hanya fiktif belaka sesuai khayalan mak thor. Jangan disamakan dengan penyelesaian kasus hukum dalam dunia hukum nyata 🙏🙏"


Semoga kalian tetap menyukai alur kisah ini.


...Terima kasih...