Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 117. Bukti Cinta


Natasha masih mengurung dirinya didalam kamar setelah semalam ia melihat video Boy bersama dengan wanita penghibur. Ditambah pagi tadi, Cicind menghubunginya dan mengabarkan soal video viral yang menampilkan Boy, kekasihnya. Hati Natasha makin hancur berkeping karena sejak semalam Boy tidak menghubunginya.


Natasha hanya bisa menangis tersedu dengan keadaan yang seakan menghancurkan hatinya dalam semalam. Sungguh ia merindukan kekasihnya dan menginginkan penjelasan dari Boy.


Disaat hatinya sedang dilanda kesedihan mendalam, ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari sepupunya, Kenji. Natasha malas menjawab panggilan Kenji.


Natasha mengabaikan panggilan itu. Namun dering ponselnya makin memekakkan telinga.


"Ish, dasar menyebalkan! Jawab tanpa video!" seru Natasha.


"Halo, Sha. Ini aku Kenji!"


"Iya, aku tahu. Ada apa?"


"Tasha, maafkan aku. Aku tahu aku salah. Aku yang sudah mengajak Boy ke klub semalam."


Natasha masih diam.


"Sha! Tasha! Katakan sesuatu!"


"Sudahlah! Lupakan saja!"


"Sha, tolong maafkan Boy. Dia sama sekali tidak bersalah. Akulah yang salah. Percayalah! Kau tahu kan Boy sangat mencintaimu."


Natasha bergelut dengan hatinya. Ia ingin percaya pada Boy. Tapi ramainya pemberitaan membuat hatinya juga ragu.


"Sha, video itu sudah dihapus. Fajri sudah mengurusnya. Kau tenang saja. Kita akan segera menangkap pelakunya."


Natasha memejamkan mata. "Iya. Tidak perlu meminta maaf. Aku baik-baik saja. Aku tutup teleponnya."


Natasha menghembuskan nafas kasar.


"Nona Tasha! Ditunggu Tuan dan Nyonya di bawah." seru seorang asisten rumah tangga Natasha.


Dengan mengumpulkan tenaga dan menyiapkan hati, Natasha bangun dari tempat tidur dan membersihkan diri. Dua puluh menit kemudian Natasha keluar dari kamarnya dan turun menemui ayah dan ibunya.


"Akhirnya turun juga yang ditunggu. Kemarilah, sayang... Mommy dan Daddy sudah menunggumu," ucap Riana.


Dengan malas Natasha menemui Riana dan Kenzo yang sudah duduk di ruang keluarga.


"Daddy tahu kau pasti masih sedih karena berita yang sedang viral itu. Tapi, semua masalah itu sudah selesai, Nak. Video itu sudah dihapus dan pelakunya juga sudah tertangkap," terang Kenzo.


Natasha mengernyitkan dahi mendengar penjelasan ayahnya.


"Iya, Nak. Mommy yakin jika Boy tidak bersalah. Lagi pula Kenji juga sudah menjelaskan semuanya," sahut Riana.


Natasha makin jengah dengan semua pembelaan kedua orang tuanya yang begitu mudahnya memaafkan kesalahan Boy.


"Mom, Dad, semua hal yang terjadi kemarin tidak bisa selesai hanya karena video itu sudah dihapus. Tetap saja apa yang dilakukan Boy dan Kenji itu tidak bisa dibenarkan." Natasha mencoba melawan argumen orang tuanya.


"Sayang, kau mengenal Boy bukan sehari atau dua hari. Sebulan atau dua bulan. Kau mengenalnya seumur hidupmu, Nak. Kau tahu dia seperti apa. Dia tidak akan mengkhianatimu. Mommy percaya padanya, Nak," bela Riana.


Natasha memutar bola matanya malas.


"Sebaiknya kau temui Boy dan selesaikan masalah kalian," usul Kenzo.


"Apa? Menemui Boy?"


"Iya. Dia ada disini, Nak. Temuilah dia! Masalah tidak akan selesai hanya dengan mendiamkannya saja," nasihat Kenzo.


"Ayolah, Nak. Mommy tahu kau juga percaya pada Boy. Kau hanya terlalu gengsi untuk mengakuinya. Turunkanlah egomu, Nak!" Riana berusaha membujuk Natasha.


Kenzo pun ikut membujuk putrinya agar bersedia menemui Boy.


"Iya, iya, baiklah. Aku akan menemuinya," putus Natasha.


Riana dan Kenzo tersenyum lega.


"Biacaralah dengan kepala dingin. Kalian sudah sama-sama dewasa," ucap Kenzo mengakhiri perbincangan mereka.


Natasha menganggukkan kepala kemudian meninggalkan kedua orang tuanya.


......***......


Setiap masalah memang sebaiknya dibicarakan dengan kepala dingin. Namun ada kalanya hanya ego saja yang bicara. Kali ini Natasha tidak ingin mempertahankan ego dalam dirinya. Ia mengenal pria dihadapannya ini bukan hanya sebulan, dua bulan, setahun bahkan dua tahun, tapi seumur hidupnya. Sungguh pesona Boy membuatnya tak bisa membenci bahkan mengabaikannya.


Natasha menghampiri Boy yang sudah sedari tadi menunggunya. Boy merentangkan tangan menyambut pelukan Natasha.


Meski ragu, tapi Natasha tetap mendekat dan menyambut pelukan hangat Boy.


"Maafkan aku, sayang... Aku bersalah! Tidak seharusnya aku pergi ke tempat seperti itu. Aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi," ucap Boy dengan membelai surai panjang Natasha.


"Aku tidak butuh janjimu, Boy. Tapi aku butuh bukti," balas Natasha.


"Bukti?" Boy merenggangkan pelukannya lalu menatap kekasihnya dengan penuh cinta.


"Iya, aku butuh bukti!" tegas Natasha.


"Baiklah. Sekarang ikuti aku!" Boy meraih tangan Natasha dan menggenggamnya.


"Kita mau kemana?" tanya Natasha yang sudah duduk disamping Boy.


"Kau ikut saja!" Boy mulai melajukan mobilnya menuju suatu tempat.


Satu jam berkendara tibalah mereka di suatu tempat yang tidak pernah Natasha duga.


"Pencatatan sipil?" Kening Natasha berkerut.


"Iya, kau bilang kau butuh bukti. Aku akan membuktikannya sekarang."


"Aku akan menikahimu, sayang."


"Apa?! Jangan bercanda!"


"Aku tidak bercanda. Dengan menikah kita sudah sah untuk tinggal bersama. Dengan begitu tidak akan ada lagi keraguan diantara kita. Kau bisa memantau semua kegiatanku."


Natasha memukul lengan Boy.


"Kenapa harus secepat ini? Aku tidak mau!"


"Sayang! Aku serius ingin menikah denganmu."


Natasha mencari sebuah kebohongan di mata Boy namun tidak ia temukan. Boy memang serius dengan kata-katanya.


"Aku juga ingin menikah denganmu, tapi ... tidak sekarang," balas Natasha.


"Aku melakukan ini karena ingin kau mempercayaiku lagi."


"Aku percaya padamu," sahut Natasha dengan merangkum wajah kekasihnya.


"Dengar, aku hanya mencintaimu, selamanya hanya mencintaimu. Tidak ada wanita lain selain dirimu yang ada dihatiku. Kau adalah sahabatku, kekasihku, belahan jiwaku, segalanya bagiku..." ucap Boy yang membuat wajah Natasha memerah.


"Iya, aku percaya. Aku juga sangat mencintaimu, Boy. Aku sangat takut kau meninggalkanku karena aku tak sempurna seperti gadis-gadis diluar sana." Natasha memeluk pria yang amat dicintainya.


Justru akulah yang takut kau akan meninggalkanku karena akulah yang tidak sempurna. Maaf karena aku belum bisa membaginya denganmu. Kau sudah cukup kecewa dengan ulahku kemarin. Aku tidak ingin kau bertambah kecewa padaku. Maafkan aku, Natasha.


Boy mengurai pelukannya.


"Aku ingin kita mengadakan pesta pertunangan sebelum aku berangkat mengurus proyek di Desa Selimut," ujar Boy.


Natasha mengangguk. "Iya, aku mau. Kita adakan pesta sederhana saja. Kita undang teman-teman dekat dan saudara saja."


"Kenapa? Kau masih tidak ingin publik mengetahui hubungan kita?"


"Eh? Bu-bukan begitu, Boy. Aku hanya..."


"Aku mengerti." Boy menyudahi perdebatan kecil yang lagi-lagi terjadi diantara mereka. Ia segera tancap gas kembali karena mereka tidak jadi menikah.


Lagi pula Boy sebenarnya hanya ingin mengetes Natasha saja apakah ia bersedia menikahi Boy atau tidak.


Perjalanan keduanya pun berlanjut. Boy menatap datar kearah jalanan didepannya. Sementara Natasha melirik Boy yang sepertinya marah karena permintaannya ditolak oleh Natasha.


"Baiklah. Kita akan adakan pesta besar untuk pertunangan kita," ucap Natasha memecah keheningan.


Boy segera menepikan mobil. "Kau serius?"


Natasha mengangguk. "Iya. Aku siap untuk mengumumkan hubungan kita didepan publik."


"Kau tidak menyesalinya?"


Natasha menggeleng. "Tidak."


"Terima kasih, sayang. Aku ingin seluruh dunia tahu jika kau hanya milikku!" Senyum Boy mengembang lebar.


......***......


...B E R S A M B U N G...


"Huft! Selesai juga satu masalah. Semoga tidak ada masalah lain muncul,"


Kali ini MakThor akan kasih sedikit visual Boy dan teman2nya. Entah sesuai atau tidak dengan harapan kalian, tp yg jelas kalo pas nulis sih, aku bayanginnya yg ganteng2 aja sih visualnya, ha ha ha


1. Boy Putra Avicenna



2. Natasha Watanabe



3. Aleya



4. Rion Ibrahim



5. Dion Ibrahim



6. Fajri Hanindyo Dirgantara



7. Kenji Watanabe



8. Nathaniel Putra Avicenna



9. Sean Connan