
Boy kembali ke apartemen bersama Patrick mengendarai mobilnya. Selama di perjalanan Boy hanya terdiam mengingat tentang kondisi Roy yang tiba-tiba mengeluh sakit saat bekerja bersama Boy.
"Ada apa, Boy? Kenapa kau diam? Biasanya kau sangat bersemangat menceritakan pengalamanmu dalam melakukan tugas."
"Yeah. Tentu saja aku sangat bersemangat, Paman. Aku menyelesaikan tugasku dengan baik."
Patrick mengacak rambut Boy pelan. Saat melihat ke kaca spion, Patrick merasa sedang dibuntuti oleh seseorang.
"Boy, sepertinya ada yang mengikuti mobil kita."
Boy menoleh ke belakang dan melihat mobil berwarna hitam itu memang terlihat mencurigakan.
"Sepertinya iya, Paman. Lalu kita harus bagaimana?"
"Kau tenang saja. Pakai sabuk pengamanmu dengan benar. Kita akan mengecoh mereka."
Dengan menginjak pedal gas lebih dalam dan meliuk-liukkan mobil melewati beberapa mobil di jalanan ibu kota.
"Wow!!! Ternyata Paman hebat juga!"
"Yeah. Kau jangan meremehkanku. Aku juga tidak kalah dengan mendiang Paul Walker dalam film Fast and Furious." ucap Patrick bangga.
"Hmm?" Boy hanya mengernyit tak paham. Pasalnya Belinda memang tidak mengijinkan Boy untuk menonton film yang tidak sesuai dengan usianya.
Boy berpegangan dengan erat karena Patrick makin melajukan mobil dengan kencang.
"Sebenarnya siapa orang-orang ini? Apa dia ingin mencelakaiku atau Paman Patrick?" batin Boy.
Mobil Patrick dan mobil hitam tak dikenali itu melakukan adegan kejar-kejaran seperti dalam adegan sebuah film. Patrick terus berusaha menghindar agar tidak terkejar oleh mereka.
Setelah berkendara cukup lama untuk tiba di apartemen, akhirnya Patrick berhasil meloloskan diri dari kejaran orang-orang tak dikenal itu. Patrick meminta Boy agar segera naik ke kamarnya. Patrick menghubungi Kenzo.
"Halo, Pat. Ada apa?"
"Ken, aku dan Boy diikuti."
"What? Siapa yang membuntutimu? Lalu, apa kau selamat?"
"Iya, aku berhasil lolos. Tolong kau hubungi Tuan Conrad untuk mencari tahu siapa yang melakukan ini. Dan juga sepertinya aku harus mengganti mobilku."
"Baiklah, kau tenang saja. Apa Boy baik-baik saja?"
"Iya, dia baik-baik saja. Mungkin hanya sedikit syok karena aku mengebut di jalanan."
Patrick mengakhiri panggilan dan menghampiri Boy yang sedang menunggu di depan pintu lift. Ketika pintu lift terbuka, Patrick dan Boy segera masuk dan menuju lantai 17.
......***......
Boy tidak bisa berhenti memikirkan Roy yang mengalami kesakitan. Ekspresi wajahnya menandakan jika Roy telah lama mengalami sakit.
"Papa... Apa yang terjadi denganmu?" gumam Boy dengan menscroll notebooknya dan mencari info tentang penyakit yang di derita oleh Roy. Artikel tentang penyakit jantung sangatlah banyak. Boy bingung untuk menentukan mana yang diderita oleh Roy.
"Hmm, apa sebaiknya aku bertanya pada dokter itu? Siapa namanya ya?" Boy melakukan pencarian tentang profil dokter yang bekerja di rumah sakit Avicenna. Boy berhasil membobol pertahanan sistem di rumah sakit itu.
"Ketemu! Dokter Maliq Ibrahim. Dia adalah dokter spesialis jantung. Sepertinya dia tahu banyak tentang penyakit Papa. Aku harus bisa membujuknya agar mengatakan semuanya. Aku akan membantu Papa agar penyakitnya bisa sembuh."
Suara ketukan di pintu membuat Boy segera menoleh dan melihat Belinda berdiri di ambang pintu.
"Kau belum tidur, Nak?"
"Belum, Ma."
"Apa yang sedang kau kerjakan?"
"Hmm, tidak ada. Hanya artikel soal... Dokter Roy."
"Eh? Kenapa kau selalu membahas soal dia?" Belinda menyilangkan tangannya.
"Ma, aku tahu ini aneh. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Besar kemungkinan jika Dokter Roy adalah Papaku."
"Hah?!"
"Tolong katakan yang sebenarnya, Ma. Jika Mama tidak mengatakannya maka aku akan mencari tahu sendiri soal ayah kandungku."
"Boy!!!" Mata Belinda berkaca-kaca. Sungguh ia sendiri tidak tahu siapa ayah kandung Boy.
Boy menyerahkan berkas-berkas temuannya pada Belinda. Belinda menerimanya dan membaca dengan seksama semua berkas itu.
Belinda menutup mulutnya tak percaya. "Bagaimana mungkin?" Belinda menggeleng pelan.
"Itulah kenyataannya, Ma. Sekarang Mama jujurlah padaku! Jangan menutupinya lagi."
Belinda menggeleng pelan. Memori menyakitkan masa lalunya kembali menyeruak.
"Tidak!!!" pekik Belinda kemudian keluar dari kamar Boy.
"Mama!!!" Boy ingin mengejar Belinda tapi kemudian ia urung. Ia memikirkan jika ibunya pasti syok karena Boy telah mengetahui semuanya.
"Bagaimana ini? Apa aku harus bicara dengan Paman Patrick?" Boy menimang-nimang untuk memberitahu Patrick.
......***......
Keesokan harinya, Boy tidak lagi membahas soal Roy pada ibunya ataupun pada Patrick. Ia akan mencari tahu kebenarannya sendiri dengan mendatangi Roy di kantornya. Namun sebelumnya, Boy meminta tolong pada Kenzo agar membawanya menemui Maliq. Kenzo sedikit bingung dengan pemikiran anak kecil ini, tapi ia tak bisa membantah.
Boy beralasan jika ia sedang mencari titik ternag keberadaan ayahnya. Kenzo merasa iba karena Belinda sendiri tak pernah mengatakan apapun soal ayah kandung Boy.
Boy tiba di ruangan Maliq. Boy menyapa Maliq hangat. Boy mengutarakan maksud dan tujuannya datang menemui Maliq.
"Dokter, aku akan menbantu untuk menyembuhkan dokter Roy. Percayalah! Aku akan lakukan penelitian dan menemukan obatnya." tegas Boy.
"Percuma, Nak. Pernyakit yang di derita Roy bukanlah penyakit biasa. Aku sudah bertahun-tahun mengadakan penelitian tentang ini. Aku hanya bisa membuat obat yang bisa membuat Roy bertahan lebih lama."
"Bagaimana dengan transplantasi?" usul Boy.
"Kau tahu, Roy bahkan tidak memberitahukan soal penyakitnya pada keluarganya."
"Tapi, kenapa?"
"Karena dia tidak ingin menjadi beban."
"Bukankah keluarga adalah tempat mencurahkan kasih sayang?"
"Kau masih terlalu kecil untuk mengerti, Nak."
"Kalau begitu kita lakukan penelitian bersama. Aku yakin jika kita bersama-sama, kita pasti bisa menemukan jalan keluarnya." Maliq melihat tekad yang besar dari dalam diri Boy.
"Kenapa kau melakukan ini, Nak? Kau bahkan tak memiliki hubungan apapun dengan Roy."
"Tidak, dokter. Aku memiliki hubungan yang lebih dari yang dokter tahu dengan dokter Roy."
Maliq menghela nafas. "Apa maksudmu?"
"Aku adalah putra dari dokter Roy." jawab Boy lantang.
"APA?!" seseorang yang berdiri di ambang pintu begitu terkejut dengan pengakuan Boy.
"Roy?" Maliq mengernyitkan dahi.
Pria yang terkejut itu adalah Roy. Ia mulai masuk ke ruangan Maliq.
"Katakan sekali lagi apa yang kau ucapkan tadi!" pinta Roy dengan memegangi bahu Boy.
Boy merasa terintimidasi dengan sikap Roy.
"Katakan, Nak!!!" Pinta Roy sekali lagi.
"Aku... aku... Aku adalah putramu, Papa..." ucap Boy ragu.
Roy tersenyum getir. "Benarkah? Bagaimana bisa?"
Boy menunjukkan hasil temuannya. Memang semua itu tak bisa dijadikan bukti. Tapi paling tidak, berkas-berkas itu menyatakan jika banyaknya kemiripan antara Roy dan Boy.
Roy ingat jika saat itu Zara pernah berkata tentang Boy yang sangat mirip dengannya. Dan juga perasaannya yang mengatakan jika Boy adalah putranya. Namun terselip satu ganjalan di hati Roy.
"Tapi nama gadis yang mengandung benihku adalah Putri Berlian. Sedangkan ibu kandung Boy bernama Belinda. Jadi, mana yang benar?" batin Roy bertanya-tanya dengan menatap Boy yang memang memiliki ciri fisik mirip dengannya.
#bersambung....
*waooow, Boy hampir menemukan titik terang ya genks...
Tunggu lanjutan kisahnya yak.
Terima kasih yg masih menunggu kisah ini UP 🙏🙏 jangan lupa dukungannya genks...