Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 72. Untitled 4


...[ Dengar Hatiku ]...


Roy membuka pintu kamar dengan masih membawa Lian dalam gendongannya.


"Mas, turunkan aku!" pinta Lian karena terlalu malu.


"Diamlah! Dan menurut saja padaku," bisik Roy ke telinga Lian.


Roy membaringkan tubuh Lian ke tempat tidur king size milik mereka. Roy berada tepat diatas Lian. Mata mereka saling beradu dan saling mengungkap rasa.


Roy mulai memajukan wajahnya dan mendaratkan bibirnya di bibir Lian. Sebuah ciuman panjang terjadi dan semakin panas.


"Mas..." Lian mendorong tubuh Roy sedikit menjauh.


"Ada apa?"


"Apa jantung Mas baik-baik saja?" tanya Lian malu.


Roy malah tertawa.


"Jantungku baik-baik saja. Justru karena kau adalah jantung hatiku, makanya aku baik-baik saja."


Lian ikut tertawa mendengar gombalan receh dari Roy.


"Kita lanjutkan ya!" ucap Roy yang diangguki oleh Lian.


Dan malam ini menjadi malam yang indah dan panjang untuk mereka berdua.


*


*


Roy memandangi wajah Lian yang terlihat lelah setelah malam yang hangat dan panas mereka semalam. Roy tersenyum bahagia karena bisa melihat wajah istrinya yang masih terlelap.


Pagi mulai menyapa namun Roy masih betah berlama-lama diatas tempat tidur yang menjadi saksi cinta mereka.


Lian mulai menggeliat. Ia mencoba membuka mata dan mengerjapkannya.


"Mas Roy?" Lian terkejut karena Roy sudah bangun.


"Iya, sayang. Ada apa?"


"Mas sudah bangun? Kenapa tidak membangunkanku?" Lian segera memposisikan dirinya duduk.


"Aku hanya ingin melihatmu tertidur. Rasanya begitu menenangkan setelah banyak hal yang menimpa kita."


Lian tersenyum. Ia merangkum wajah Roy dengan kedua tangannya.


"Sayang, aku ingin tahu tentang sesuatu." ucap Roy.


"Sesuatu apa, Mas?"


Roy memegangi tangan Lian yang membingkai wajahnya.


"Aku ingin tahu seperti apa saat kamu mengandung Boy. Aku merasa ... aku sudah banyak kehilangan banyak waktuku untuk bersama denganmu dan Boy."


Lian melihat ada rasa penyesalan di mata Roy.


"Kau pasti ... sangat menderita. Kau tak memiliki siapapun saat kau hamil besar. Bahkan tak ada yang mendampingimu saat kau melahirkan."


Lian mulai berkaca-kaca saat mengingat perjuangannya mengandung Boy.


"Kenapa kau lari? Kenapa kau tidak mengikuti apa yang Profesor Gerald katakan? Bukankah setelah kau melahirkan, kau akan menjadi orang yang bebas dan tidak terikat olehku dan juga keluargaku." Roy menatap Lian dalam.


Lian pun menatap Roy sama dalamnya.


"Dengar..." Lian berusaha menenangkan hatinya.


"Aku tahu aku sudah melakukan suatu kesalahan. Aku mengikuti proyek itu tanpa sepengetahuan kedua orang tuaku. Aku juga ... menandatangani perjanjian itu sendiri. Aku harus menanggung semuanya sendiri. Karena itu adalah kesalahanku..." Lian melepaskan tangannya dari wajah Roy. Ia menatap lurus ke depan.


"Sampai sekarang aku masih tidak tahu apakah orang-orang yang mengejarku itu adalah suruhan ibumu atau bukan, atau juga anggota keluarga Avicenna lainnya."


Roy merasa bersalah dengan apa yang menimpa Lian.


"Saat itu yang kurasakan adalah ... aku bahagia karena aku memiliki Boy bersamaku. Aku tidak pernah membayangkan seperti apa pria tidak waras yang menanam benih itu dalam rahimku. Karena Boy lah aku bisa bertahan hingga sekarang."


"Maaf..."


"Eh?"


"Maafkan atas waktu yang telah kulewatkan untuk kalian berdua. Aku sungguh minta maaf."


"Sudahlah! Semua sudah berlalu, Mas. Kita akan menjalani kehidupan masa depan, bukan masa lalu. Aku sudah menutup lembaran masa laluku. Dan aku ingin menatap masa depan bersamamu dan juga Boy."


Roy membawa Lian dalam pelukannya.


"Semoga setelah ini, kau bisa segera hamil. Aku akan menjagamu dengan baik. Aku akan memperlakukanmu bak permaisuri dalam istana yang indah."


Lian tertawa. "Apa sih Mas?"


Lian mengangguk dalam pelukan Roy.


......***......


...[ Menemui Luthfie ]...


Hari ini Mike ingin mencari tahu tentang sesuatu. Sesuatu yang menuntunnya pada kebenaran masa lalu. Ia melajukan mobilnya menuju ke sebuah tempat yang cukup jauh dari kota.


Mike memang masih bersedih atas kematian Belinda. Baik Belinda di masa lalu ataupun masa sekarang. Ia ingin bisa menuntaskan teka teki yang selama ini ia simpan untuk dirinya sendiri.


Mike tiba di sebuah rumah sederhana yang sama sekali belum pernah ia datangi.


Mike mengetuk pintu rumah yang cukup sederhana hampir mirip dengan rumahnya. Keluarlah seorang wanita paruh baya menyambut Mike.


"Permisi, benar ini adalah rumah saudara Luthfie?" tanya Mike.


"Iya, benar. Maaf Anda siapa?" tanya balik wanita paruh baya itu.


"Saya Michael. Saya ingin bertemu dengan Luthfie."


"Ada apa, Bu? Siapa yang datang?" suara seorang pria yang Mike kenali tiba-tiba datang dengan sosoknya yang sudah mulai berubah lebih tua.


"Luth? Ini aku, Mike!" seru Mike.


"Michael? Apa yang kau lakukan disini?" Pria bernama Luthfie itu cukup bingung dengan kedatangan Mike.


"Bisa kita bicara?" ucap Mike tak berbasa basi.


"Iya, baiklah. Ayo masuk! Bu, tolong buatkan minum untuk Mike."


Istri Luthfie mengangguk paham kemudian pergi ke dapur.


Mike dan Luthfie duduk berhadapan di ruang tamu.


"Sudah lama sekali, Luth..."


"Iya, Mike. Sudah hampir 10 tahun lebih."


Mike menatap Luth yang mulai berwajah senja. Luth memang lebih tua dari Mike namun mereka tetap memanggil nama karena mereka adalah rekan kerja.


"Apa kabar, Luth?"


"Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja."


"Kau menghilang begitu saja 10 tahun lalu, Luth. Sebenarnya apa yang terjadi?"


Luth memalingkan wajahnya. "Sudah 10 tahun berlalu dan kau baru menanyakannya sekarang?"


"Aku mencarimu kemana-mana. Namun aku tidak menemukanmu. Dan setelah aku mendapat informasi dari Ben, aku langsung menuju kemari." jelas Mike.


Luth menghela nafasnya. "Ada urusan apa kau mencariku?"


"Kenapa kau tiba-tiba mengundurkan diri, Luth? Apa yang membuatmu meninggalkan pekerjaanmu sebagai asisten Tuan Dandy? Apa kau tahu, Tuan Dandy sudah meninggal."


"Apa?! Tuan Dandy meninggal?"


Mike mengangguk. "Apa kau mengetahui tentang Nona Belinda? Makanya kau mengundurkan diri?" Cecar Mike.


Luth tidak menjawab. Istrinya datang membawa minum untuk Mike.


"Silakan diminum!" ucap istri Luth.


"Terima kasih."


Luth menunggu hingga istrinya kembali masuk kedalam kamar.


"Aku hanya ingin hidup tenang, Mike. Sudah cukup aku mengabdi pada keluarga Avicenna." ujar Luth.


"Kau pergi setelah kematian Nona Belinda. Apa sebenarnya kau tahu tentang peristiwa itu?"


"Cukup, Mike. Aku sudah hidup tenang sekarang. Apa lagi yang kau inginkan?"


"Sebuah kebenaran! Kau pasti sudah tahu perihal hubungan Tuan Dandy dan Nona Belinda. Benar 'kan?"


Luth nampak gelagapan dengan pertanyaan Mike.


"Katakan, Luth! Apa kau berhubungan dengan kasus kematian Nona Belinda?" Mike tak bisa lagi menahan emosinya.


"Sudah berlalu, Mike! Aku sudah menyesalinya seumur hidupku. Jadi tolong jangan membahasnya lagi!"


Mike menarik nafas dan menghembuskannya kasar. Semua hal di masa lalu kembali terkuak. Dan masa kini yang kelam juga tetap harus ia jalani.


Mike menggertakkan giginya dengan mata memerah.


"Kau pantas mati, Luth!" Mike mendekati Luth yang sedang duduk tertunduk kemudian mencekik leher Luth.


#bersambung...