Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
BONUS EPISODE


Part ini akan berisi memori perjalanan cinta tokoh utama disini. Hanya sekedar untuk mengenang kisah mereka yang berliku 😬😬


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


...-Roy & Berlian's Love Story-...


Kami tidak pernah saling mengenal sebelumnya. Aku hanya mendengar namanya saja. Karena nama keluarga mereka yang memang terkenal. Aku yang hanya gadis biasa, gadis pesisir pantai, tidak pernah mengharap jika aku akan mendapatkan cinta dari seseorang yang berpengaruh seperti dirinya.


Semua berawal dari keserakahanku. Ketamakanku yang menginginkan sejumlah uang. Kupikir dengan uang itu aku bisa membuat ayah dan ibuku bahagia. Namun ternyata aku salah. Aku terjebak dalam sebuah masalah yang membuat takdirku berubah. Nasibku berubah.


Aku harus mengandung seorang bayi. Ya, bayi. Apa yang kau pikirkan ketika seorang gadis yang tanpa ikatan pernikahan tiba-tiba hamil? Pasti kau berpikir jika aku adalah wanita kotor. Bukan wanita baik-baik.


Tapi aku menerima takdirku. Aku tidak bisa mundur lagi. Maka inilah nasibku. Memilih pergi agar tidak ada orang yang kecewa padaku.


Bertahun-tahun aku pergi, kini saatnya aku kembali. Kembali ke tanah air yang membuatku bertemu denganmu.


Untuk pertama kalinya hatiku merasakan debaran aneh itu. Untuk pertama kalinya ada pria yang menatapku seperti itu.


Mungkin sudah menjadi suratan takdir ketika aku mengetahui jika kau adalah ayah dari anak yang kulahirkan. Kebetulankah? Atau Tuhan memang sudah menggariskan kita untuk bersama?


Aku pikir kau bukanlah pria yang baik. Mana ada pria yang membayar seorang wanita untuk mengandung benihnya? Kau sungguh aneh. Tapi keanehan itu membawaku terus mendekat kepadamu.


"Sayang... Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Roy yang melihat Lian masih terjaga du balkon kamar mereka.


"Tidak ada. Aku hanya ... mengingat masa lalu kita," jawab Lian sambil merangkum wajah Roy yang semakin menua tapi tak meninggalkan kesan gagah dan menawan.


"Apa kau merindukan putra kita?"


"Tentu saja. Tapi mereka kan sedang berbulan madu. Semoga setelah pulang mereka membawa kabar baik."


"Kau ini! Kau ingin menimang cucu lagi ya? Jika begitu kau pasti akan mengabaikanku." Wajah Roy dibuat cemberut.


"Mas, cucuku adalah cucumu juga. Masa iya kau cemburu dengan cucumu sendiri?"


Roy memeluk Lian. "Kau jangan bekerja lagi. Nikmatilah hidupmu sekarang bersama cucu-cucumu nanti."


"Iya, Mas. Jika nanti Aleya sudah hamil, aku akan berhenti dari pekerjaanku di kampus. Sudah saatnya kita menikmati hari tua kita. Benar kan?"


"Iya, sayang. Oh ya, apa kita ... perlu bulan madu juga?"


"Ish, Mas! Kita sudah tidak muda lagi."


"Memangnya kenapa kalau kita tidak muda lagi? Apa orang tua tidak boleh berbulan madu, hmm?"


"Boleh saja."


"Aku ingin mengajakmu keliling dunia."


"Heh?! Jangan bercanda, Mas." Lian terperangah.


"Aku serius. Setelah Boy dan Aleya kembali, aku sudah siapkan tiket perjalanan untuk kita."


"Mas! Kenapa tidak bicarakan ini denganku dulu? Bagaimana dengan Nathan? Kita juga harus memikirkan tentang dia."


"Nathan sudah dewasa. Dia bisa menjaga dirinya sendiri. Jangan khawatir. Jika hingga usianya 25 tahun dia tidak juga memiliki kekasih, maka aku akan menjodohkannya dengan putri rekan bisnisku."


"Mas! Jangan begitu! Biarkan Nathan memilih jalannya sendiri."


"Biar saja! Dia itu seperti tidak memiliki minat pada wanita. Lihat saja, dia hanya bisa membuat wanita kesal saja!"


"Siapa yang dibuat kesal olehnya?"


"Apa kau tidak lihat dia selalu bertengkar dengan Ivanna?"


Dan akhirnya malam ini mereka habiskan dengan berdebat.


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


"Nenek!" Seru Aurel ketika Lian keluar dari kamarnya.


"Eh, cucu Nenek. Ada apa?" tanya Lian sambil menyamakan tinggi tubuhnya dengan Aurel.


"Semalam, Papa dan Mama Aleya meneleponku. Mereka bilang mereka akan segera pulang," celoteh Aurel dengan lucunya.


"Benarkah? Baguslah kalau begitu. Aurel sudah siap berangkat ke sekolah?"


"Iya, Nek. Aku ingin berangkat dengan paman Nathan saja."


"Hei, apa kau bilang? Anak kecil tidak boleh menumpang mobil Paman, kau tahu?" Nathan tiba-tiba datang menghampiri Aurel dan Lian.


"Paman pelit sekali!" Aurel merengut.


"Nathan, kau jangan menggodanya!" lerai Lian.


"Sayang, Paman hanya bercanda. Ayo kita sarapan dulu lalu setelah itu kita berangkat ke sekolah."


"Oke, Paman."


Lian tersenyum melihat tingkah putra bungsu dan cucunya.


"Ada apa? Kenapa pagi-pagi sudah berisik saja?" tanya Roy yang baru keluar dari kamar.


"Putramu seperti biasa selalu menggoda Aurel. Dia masih saja bersikap seperti anak kecil."


"Sudahlah, biarkan saja. Itu adalah tanda jika Nathan sangat menyayangi Aurel."


Mereka menuruni tangga bersama. "Kau masih kuat berjalan menaiki tangga?" tanya Roy.


"Mas! Kau selalu menggodaku!""


Kemudian mereka berdua tertawa bersama.


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


Aku tidak pernah tahu jika keputusanku untuk memiliki seorang penerus akan membawaku kepadamu. Kau gadis sederhana dengan wajah teduh yang menenangkan.


Aku jatuh cinta saat pertama kali melihatmu. Entah ada firasat apa saat kita bertabrakan untuk pertama kalinya. Seakan ada sengatan listrik yang mengaliri tubuhku.


Aku pernah merasakan jatuh cinta. Tapi tidak seperti ini. Aku pernah merasakan tak ingin kehilangan, tapi tidak seperti denganmu. Kau berbeda, Berlian.


Ketika begitu sulit bagiku untuk bisa menggapaimu, aku melakukan segala cara untuk tetap bisa dekat denganmu. Meski aku merasa jika itu adalah cara yang bodoh.


Kau adalah Berlianku, permata hatiku. Aku tidak akan melepaskanmu lagi. Mari habiskan sisa waktu kita untuk selalu bersama. Saling berbagi, hingga maut memisahkan kita.


"Kau sudah siap, sayang?" tanya Roy ketika Lian sedang mengemas barang-barangnya.


"Iya, Mas. Memangnya kita akan pergi berapa hari? Kenapa kau memintaku mengemas banyak pakaian?"


"Kita akan berkeliling dunia. Bukankah aku sudah pernah mengatakannya?"


Lian tersenyum. "Baiklah. Kita berpamitan pada anak-anak dan juga Aurel."


Roy mengangguk. Kemudian mereka berdua keluar dari kamar dan disambut oleh keluarga mereka.


"Kau sudah bawa obat-obatan juga? Tidak ada salahnya berjaga-jaga meskipun suamimu ini seorang dokter," nasihat Lusi.


"Iya, Bu. Mas Roy membawa beberapa obat," jawab Lian.


"Papa dan Mama bersenang-senanglah. Sudah lama kan Mama tidak liburan?" ucap Boy.


"Iya, sayang. Kau jaga istrimu ya! Dia sedang hamil muda. Pasti dia sedang mengalami sindrom ibu hamil."


"Iya, Ma. Aleya sedang tidak enak badan. Makanya aku memintanya untuk beristirahat."


"Mama, Papa!" Suara Aleya membuat semua menoleh.


"Sayang, kenapa bangun? Kau istirahat saja!" ucap Lian.


"Aku juga ingin bertemu kalian sebelum kalian pergi," balas Aleya.


Lian tersenyum simpul. "Jaga dirimu baik-baik ya! Aurel, kau jaga mamamu dengan baik, oke?"


"Siap, Nenek!" Aurel menjawab dengan sigap membuat para orang tua tertawa.


"Dan kau, Nathan!" Lian beralih menatap putra bungsunya. "Carilah jodoh agar mamamu ini tenang!"


"Ish, Mama. Aku masih terlalu muda untuk memikirkan itu," jawab Nathan dengan menunjukkan sedikit kesombongannya.


"Dengar, Nak. Jika kau belum mendapat kekasih ketika Papa dan Mamamu kembali. Maka, bersiaplah untuk kami jodohkan!" tegas Roy.


"Ish, Papa!" sungut Nathan tak terima.


Kemudian semua orang tertawa melihat kekesalan Nathan.


"Ayo, sayang. Pesawat kita sudah menunggu." Roy menggenggam tangan Lian mesra.


"Iya, Mas. Semuanya kami pamit ya! Jaga diri kalian baik-baik!"


Mereka melepas kepergian Lian yang akan pergi berbulan madu bersama Roy. Ternyata kedua orang tua ini tidak ingin kalah dengan pasangan muda yang kemarin melakukan bulan madu.


Sepeninggal Lian dan Roy, Aleya menggenggam tangan Boy.


"Kak..." panggilnya.


"Ada apa?"


"Aku ... ingin juga seperti Mama dan Papa. Mereka masih tetap mesra meski sudah menikah selama puluhan tahun," ucap Aleya.


"Tentu saja, Sayang. Kita akan seperti mereka. Selalu menjaga dan mencintai."


"Aku mencintaimu, Kak..."


"Aku juga mencintaimu, Istriku..."


Baru saja akan melakukan adegan romansa di depan rumah, Nathan sudah menginterupsi.


"Stop! Stop! Stop! Kalian jangan melakukan adegan ciuman di depanku ya! Kalian hanya membuat jiwa kesendirianku ini tertampar!" kesal Nathan.


Boy dan Aleya malah terkekeh. "Makanya cepat sana cari jodoh! Biar bisa mesra-mesraan juga seperti kita!"


Tanpa mempedulikan kekesalan Nathan, Boy tetap mencium bibir Aleya dengan lembut dan pelan.


"Oh, astaga! Kalian menodai mataku!" Sungut Nathan kemudian berlalu.


...S E L E S A I...


😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍


Terima kasih untuk kalian yg setia menemani kisah ini hingga usai 😘😘😘kecup sayang selalu dari makthor πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹