Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 164. Badai Pasti Berlalu


Zetta masih melamun di ruang kerjanya. Hari ini ia memilih untuk tidak keluar kantor karena banyak hal yang mengganjal di hatinya. Pertemuannya dengan keluarga Dion malam itu membuat hatinya semakin sesak. Apakah ia dan Dion memang di takdirkan bersama atau cinta mereka harus kandas di tengah jalan?


Sebenarnya, Marinka berhati terbuka untuk menerima Zetta dan Andra masuk dalam lingkaran kehidupan keluarga Ibrahim. Namun ayah Dion, Maliq Ibrahim seakan terus mencecar Zetta untuk mengatakan siapa ayah biologis Andra.


Zetta yang sudah menutup lembaran kisah lamanya tak ingin banyak berharap pada pria yang tidak menginginkan dia dan anaknya.


Namun Kata-kata Maliq di malam itu seakan selalu terngiang di telinga Zetta.


Usai makan malam, Marinka mengajak Andra untuk bermain bersama. Wanita paruh baya itu sangat menyukai Andra karena memang ia sudah ingin memiliki cucu. Meski Andra bukan darah daging Dion, tapi entah kenapa Marinka langsung jatuh hati pada bocah lelaki itu.


Ketika Marinka sedang bermain bersama Andra, Maliq mengajak Zetta bicara empat mata.


"Maaf, Zetta. Bukan maksudku ingin merendahkanmu, tapi tolong katakan dengan jujur, siapa ayah kandung Andra? Apakah Dion mengenalnya?"


Pertanyaan Maliq membuat Zetta tidak berkutik. Zetta merasa jika Maliq memang tidak menyetujui hubungannya dengan Dion.


"Tuan Maliq, maaf jika saya sudah melakukan kesalahan di masa lalu saya. Tapi, saya sudah mengubur semua itu. Dan saya ingin melangkah maju untuk masa depan, bukan masa lalu."


"Tapi bagaimanapun juga anak itu akan tetap terikat dengan ayahnya. Katakan siapa ayah Andra?"


Zetta menggeleng. "Saya sangat menghormati Tuan karena keluarga ini adalah salah satu klien saya. Saya tidak pernah mengharapkan cinta dari putra Anda. Justru dialah yang selalu meyakinkan saya jika dia memang menerima saya apa adanya dan tidak mempermasalahkan masa lalu saya."


"Jadi, Dion tahu siapa ayah kandung Andra? Aku tahu mungkin salah jika aku terus menduga-duga, tapi ... Ada satu hal yang tidak bisa kau tutupi. Semua hal tentang Andra mengingatkanku dengan seorang kawan baik Dion."


Zetta terbelalak. Ia tidak menyangka jika Maliq akan membongkar semuanya di depan Zetta. Beruntung Zetta tetap bungkam hingga akhirnya Maliq memahami situasi Zetta dan Dion.


"Nona!" Sebuah panggilan membuat Zetta tersadar dari lamunannya.


"Ah, iya. Ada apa?"


"Ada tamu yang ingin bertemu dengan Nona."


"Baiklah. Suruh masuk saja!"


Tak lama seorang wanita paruh baya yang Zetta kenali masuk ke dalam ruangannya.


"Nyonya Berlian?" sapa Zetta ramah.


"Apa kabarmu, Ze?"


"Saya baik, Nyonya. Silakan duduk!"


Mereka berdua duduk di sofa ruangan Zetta.


"Apa kondisi Tuan Boy sudah pulih?" tanya Zetta berbasa-basi.


"Sudah, Ze. Justru karena itu aku datang kemari. Aku ingin membuat pesta kecil-kecilan untuk Boy. Dan aku ingin kau yang merancangnya seperti biasa," terang Lian.


"Oh, begitu. Tentu saja, Nyonya. Kira-kira kapan acaranya akan digelar?"


"Umm, mungkin sekitar satu minggu lagi."


Zetta mengambil buku catatan dan melihat jadwalnya untuk seminggu ke depan. Masih belum ada reservasi untuk hari yang diinginkan Lian.


"Masih kosong untuk hari itu, Nyonya. Pestanya akan diadakan dimana, Nyonya?"


"Di rumah saja. Hanya kerabat dekat yang diundang. Aku hanya ingin mengucap rasa syukur karena putraku telah kembali."


Zetta mengangguk paham.


......***......


Acara sederhana yang diadakan Lian untuk menyambut kesembuhan Boy pun sudah siap untuk digelar. Zetta mengatur acara yang tidak terlalu mewah namun tetap terkesan elegan. Tentu saja Zetta sangat paham seperti apa konsep yang diinginkan Lian.


Aleya menimang-nimang apakah akan hadir di rumah keluarga itu atau tidak. Ia merasa tak enak hati setelah kepergian Rion. Banyak hal yang terjadi setelah ia tinggal di kota.


Ketika sedang berkutat dengan buku-buku kuliahnya, Imah mengetuk pintu kamarnya.


"Nona, ada tamu," seru Imah dari luar kamar Aleya.


Aleya mengernyitkan dahi namun tetap membuka pintu.


"Siapa, Bi?" tanya Aleya.


"Nona lihat saja sendiri," jawab Imah yang makin membuat Aleya bingung.


Aleya keluar kamar dan menemui tamunya. Ia membulatkan mata melihat siapa yang datang.


"Kak Boy?"


Pria itu hanya tersenyum melihat keterkejutan Aleya.


"Kenapa kakak bisa ada disini? Bukankah harusnya kakak ada di pesta bersama keluarga kakak?"


"Bagaimana aku bisa menikmati pestanya jika tidak ada kau disana?"


"Eh?"


"Ayo ikut!" Boy meraih tangan Aleya.


"Tapi, Kak..." Aleya memperhatikan penampilannya yang memakai piyama.


"Hmm, baiklah. Ganti bajumu dulu dengan ini!" Boy menyerahkan sebuah paper bag ke tangan Aleya.


Aleya nampak ragu, tapi sepertinya Boy sangat berharap ia bisa hadir. Dengan mengulas senyum akhirnya Aleya kembali ke kamar dan mengganti bajunya dengan sebuah gaun yang di berikan Boy.


"Kemana anak ini? Mana mungkin acara ini digelar tanpa kehadiran Boy?" gerutu Lian.


"Bibi!" seru Kenji yang baru datang.


"Ah, Kenji. Apa kau melihat Boy? Atau mungkin bersama dengannya?" tanya Lian.


"Tidak, Bi. Memangnya Boy kemana?"


"Ah, entahlah. Anak itu selalu membuatku cemas saja!"


"Bibi tenang saja. Aku akan mencarinya," ucap Kenji meyakinkan Lian.


Tak lama akhirnya yang ditunggu datang juga. Boy datang bersama Aleya. Tangan mereka saling bertautan menandakan ada sesuatu diantara mereka.


"Kak, tolong lepaskan tanganku! Mereka semua melihat kearah kita!" bisik Lian ke telinga Boy.


"Biarkan saja! Aku memang sengaja ingin memberitahu dunia tentang kita."


"Tapi, Kak..."


"Kenapa kau terus membantah? Atau kau ingin aku membungkam bibirmu di depan semua orang?"


Aleya membulatkan mata kemudian menunduk. Ia tidak akan bisa menolak permintaan Boy.


Lian tersenyum lega. Ia melihat ada kebahagiaan yang terpancar di wajah putranya saat bersama Aleya.


......***......


Acara pun mulai berjalan, Zetta meminta timnya untuk selalu mengontrol persediaan makanan. Zetta berjalan kesana kemari memastikan semua berjalan dengan sesuai keinginan Lian.


Tampak dari kejauhan sepasang mata memperhatikan Zetta yang sedang mengatur acara. Mata itu membulat sempurna tak percaya jika seseorang yang pernah ditemuinya beberapa tahun lalu kembali dilihatnya.


"Dia kan...? Wanita itu?" gumam pria itu.


Langkah tegap pria itu tidak disadari oleh Zetta hingga akhirnya mereka saling berhadapan ketika pria itu mencekal lengan Zetta.


Zetta membulatkan mata melihat kehadiran seseorang yang pernah menghabiskan malam bersamanya beberapa tahun silam.


"Kau?" ucap Zetta gugup.


"Jadi benar? Kita pernah..." ucap pria yang tak lain adalah Kenji itu terpotong karena Zetta segera mencegatnya.


"Tidak! Semua itu tidak benar!" elak Zetta. "Maaf, aku harus bekerja!" Zetta akan kembali pergi namun Kenji dengan cepat membawa Zetta ke tempat yang sepi.


"Apa maumu? Lepaskan aku!"


Kenji merapatkan tubuh Zetta ke dinding.


"Aku sangat yakin jika itu adalah kau!"


Zetta memalingkan wajahnya. "Kau salah orang!"


Kenji menggeleng. "Aku tidak mungkin salah! Kau pikir aku mabuk saat itu? Tidak! Aku sadar saat melakukannya! Dan aku tahu kau juga sadar saat kita melakukannya."


Zetta tetap memalingkan wajahnya. Kesalahan yang sudah ia tutup selama bertahun-tahun, kini kembali menyeruak. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.


"Aku berusaha mencarimu. Tapi kau menghilang."


Kini Zetta menatap mata yang juga sedang menatapnya.


"Aku mencarimu, Nona..."


Air mata Zetta akhirnya lolos membasahi pipinya.


......***......


Acara mulai berakhir, Aleya meminta ijin pada Boy untuk kembali pulang. Dengan senang hati Boy kembali mengatarkan Aleya ke rumah Zetta.


Tak ada percakapan yang terjadi selama perjalanan. Mereka hanya diam dan menatap lurus ke depan. Terlalu canggung untuk bisa berkata-kata.


Padahal saat Boy tak sadarkan diri, Aleya begitu takut kehilangan pria itu. Namun ketika pria itu telah ada di hadapannya, ia malah terdiam.


"Terima kasih karena sudah mengantarku," ucap Aleya sebelum keluar dari mobil.


"Tunggu, Aleya!" cegah Boy.


Aleya menatap pria itu.


"Aleya, aku tahu semua yang terjadi diantara kita adalah dimulai dengan sebuah kesalahan. Tapi itu adalah kesalahan termanis yang pernah kulakukan. Mengenalmu adalah hal yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya."


Aleya mengernyitkan dahi mendengar penuturan pria itu.


"Jika jatuh cinta denganmu adalah sebuah kesalahan, maka aku rela untuk melakukan kesalahan itu berkali-kali. Bahkan dihukum pun aku tidak peduli."


"Aleya, bisakah kita melakukan kesalahan itu sekali lagi?"


...B E R S A M B U N G...


*Apa jawaban Aleya untuk Boy?


Lalu bagaimana kisah Zetta dan Kenji yang sudah bertemu kembali?