Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 21. Kebohongan Belinda


Roy masih memikirkan semua kata-kata Boy yang mengatakan jika dirinya adalah ayah kandung Boy. Roy ingin percaya, tapi rasanya sulit karena tak ada bukti konkret mengenai pernyataan Boy. Semua bukti yang diperlihatkan Boy hanyalah sebuah penelitian yang dilakukan bocah genius itu tentang kebiasaan-kebiasaan yang sama yang dilakukan Roy dan Boy.


"Ben, aku harus bagaimana?" tanya Roy yang hanya bisa bercerita pada Benjamin.


"Tuan, saya akan menyelidikinya kembali. Sejauh yang sudah saya temukan, gadis bernama Putri Berlian itu sudah menghilang selama tujuh tahun. Dan kedua orang tuanya juga menghilang. Tidak ada petunjuk apapun mengenai hal ini." terang Ben.


"Bahkan kakek juga tidak tahu dimana gadis itu. Satu-satunya petunjuk adalah Profesor Gerald. Tapi dia juga menghilang." Roy nampak berpikir keras.


"Ben, apa kau tidak merasa aneh? Jangan-jangan semua ini telah diatur oleh seseorang." imbuh Roy.


"Eh? Kenapa Tuan merasa begitu?"


"Itu hanya firasatku saja. Semua orang tiba-tiba menghilang dan aku tak bisa menemukan apapun. Bahkan foto gadis itu saja tak bisa kudapatkan. Tapi, kakek pernah bertemu dengannya. Ben, cari pelukis yang bisa menggambar sketsa dengan sempurna. Atau kau bisa minta tolong pihak kepolisian."


"Baik, Tuan." Ben memberi hormat kemudian undur diri dari ruangan Roy.


......***......


Beberapa hari kemudian,


Patrick dan Kenzo sedang berdiskusi tentang pelaku yang membuntuti mobil Patrick. Ia sengaja tidak memberi tahu Belinda agar tidak khawatir dengan kondisi Boy. Belinda memiliki trauma di masa lalunya yang mungkin saja membuat dirinya kembali terpuruk.


"Tapi kita tidak bisa menyembunyikan semua ini selamanya, Pat. Belinda tetap harus tahu apa yang bisa menimpa putranya." ucap Kenzo.


"Kau benar. Kita akan cari cara untuk mengatakannya secara baik-baik."


"Apa kau tahu jika Boy sedang mencari ayah kandungnya?" tanya Kenzo.


"Eh? Ayah kandungnya?"


"Sepertinya dia sudah menemukan sesuatu."


Patrick hanya terdiam. "Apa mungkin dia adalah ayah kandung Boy?" Batin Patrick.


Kenzo mendapat panggilan dari seseorang. Ia segera mengangkat ponselnya.


"Halo, bagaimana?"


"........."


"Benarkah?" Raut wajah Kenzo berubah dan menatap Patrick.


"..........."


"Oke! Terima kasih atas kerja kerasmu." Kenzo mengakhiri panggilan.


"Ada apa?" tanya Patrick cemas.


"Yang sudah membayar orang-orang yang membuntutimu adalah... Nyonya Helena."


"APA?!"


"Pat, sepertinya dia tahu sesuatu tentang Boy. Kenapa dia mengincar Boy?"


Patrick mengepalkan tangannya.


"Pat, apa ada hal yang tidak kau ceritakan padaku?"


Patrick menatap Kenzo. "Maaf, Ken. Ini adalah kisah masa laluku. Aku tidak bisa menceritakannya."


"Eh?"


Patrick segera berlalu dan meninggalkan Kenzo.


"Ada apa dengannya?" tanya Kenzo dengan menggaruk tengkuknya. "Kenapa semua seakan bertambah rumit?"


......***......


Belinda bekerja di butik Jimmy seperti biasa. Namanya mulai melambung sebagai model ternama yang cukup diperhitungkan. Orang-orang makin mengenal nama Belinda sebagai salah satu model terkenal di ibu kota.


Tepuk tangan meriah mewarnai peragaan busana yang diadakan oleh Jimmy Choo. Beberapa orang penting dan selebritis turut hadir disana.


"Bella Belinda... Kau memang luar biasa!" puji Jimmy pada Belinda.


"Terima kasih, Jim. Ini semua berkat kau dan juga agensimu."


"Tidak, ini adalah berkat kemampuan dan bakatmu. Anakmu pasti bangga memiliki ibu sepertimu."


Tiba-tiba asisten Jimmy menginterupsi obrolan mereka berdua. Ia membisikkan sesuatu ke telinga Jimmy. Dan Jimmy menganggukkan kepala sebagai tanda paham.


"Umm, Bella..."


"Ya, Jim."


"Ada yang ingin bertemu denganmu."


"Denganku? Siapa?"


"Ayo ikut denganku!" Jimmy meraih lengan Belinda dan membawanya ke sebuah private room miliknya.


"Masuklah! Orang itu menunggumu di dalam."


Meski tampak ragu, Belinda tetap masuk dan akhirnya dibuat terkejut karena yang ingin menemuinya adalah Roy.


"Ada yang ingin kubicarakan denganmu," ucap Roy.


"Kurasa tidak ada yang perlu kita bicarakan, Dokter Roy." Belinda berbalik badan dan ingin keluar dari ruangan itu.


"Ini tentang putramu!"


DEG


Belinda menghentikan langkahnya. "Apa? Putraku?" Belinda mulai cemas jika ada yang membahas soal putranya.


"Ikut denganku! Kita akan bicara di luar!"


Belinda tertegun sejenak. Namun akhirnya ia mengikuti kemana langkah Roy. Belinda dan Roy tiba di parkiran mobil.


"Masuklah!" perintah Roy.


Belinda mengangguk lalu masuk kedalam mobil. Mobil Roy pun mulai melaju membelah jalanan ibu kota yang mulai padat di sore hari.


Roy menuju ke Royale Hotel. Ia telah memesan private room di restoran hotel.


"Silahkan duduk!"


Belinda mengangguk kemudian duduk berhadapan dengan Roy. Rasanya sangat canggung saat ini dirinya hanya berdua dengan Roy.


"Cepat katakan! Apa yang ingin Anda bicarakan?" Tutur Belinda karena tak mau membuang waktunya.


"Apa kau tahu jika putramu mengatakan padaku kalau aku adalah ayah kandungnya." ucap Roy datar.


"Hah?! Apa maksud Anda?"


Roy menyodorkan berkas-berkas temuan Boy pada Belinda.


"Bacalah! Putra geniusmu itu melakukan penelitian tentang diriku dan juga dirinya yang memiliki banyak kesamaan."


"Ini tidak mungkin!"


"Tentu saja tidak mungkin! Karena aku baru pertama kali bertemu denganmu adalah saat kau menabrakku di hotel ini. Lalu setelahnya saat kau kehilangan ponselmu. Aku tidak mungkin ayah kandung Boy, bukan?"


Belinda memandangi deretan lembaran kertas itu dengan hati yang bergemuruh.


"Lagipula kita tidak pernah melakukan hubungan suami istri, bagaimana bisa putramu menyimpulkan jika aku adalah ayahnya. Memangnya kau seorang dewi yang bisa hamil tanpa memiliki suami?" Roy makin meruncingkan kata-katanya.


"Kecuali jika ada eksperimen buatan yang bisa membuat seorang wanita hamil tanpa harus berhubungan badan," lanjut Roy.


"Hah?!" Belinda sangat terkejut dengan penuturan Roy.


"Apa kau mengenal Profesor Gerald?" tanya Roy menatap tajam Belinda.


"Eh?" Belinda membulatkan mata. "Tidak!" Belinda menjawab kemudian memalingkan wajahnya.


"Kau yakin tidak mengenalnya?" Roy makin mencecar Belinda.


"I-iya! Aku yakin!" jawab Belinda terbata.


"Tujuh tahun lalu, aku mengikuti proyek eksperimen yang dilakukan oleh Profesor Gerald yang diberi nama Genius Project. Aku memberikan benihku untuk ditanam ke rahim seorang gadis yang terpilih. Tapi setelah eksperimen itu dinyatakan berhasil, gadis itu malah pergi dan menghilang entah kemana. Aku meminta kakekku agar menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan eksperimen itu setelah aku bertemu dengan Boy dan mencurigainya sebagai anak dari benih yang dulu di kandung gadis itu. Kakekku tidak memberikan jawaban yang pasti. Dia hanya bilang jika gadis itu bernama, Putri Berlian," jelas Roy.


Tubuh Belinda mendadak kaku, tangannya bergetar dan berkeringat. Ia mere'mas dress yang dipakainya. Berkali-kali Belinda menelan salivanya agar tidak merasa gugup didepan Roy.


"Tidak! Kau bukanlah ayah kandung Boy." tegas Belinda.


"Kita akan buktikan dengan tes DNA." ucap Roy santai.


"Hah?! Apa?"


"Hanya itu satu-satunya cara agar kita mengetahui siapa ayah kandung Boy. Jika terbukti aku bukan ayah kandung Boy, maka aku tidak akan mengganggumu lagi."


Belinda berpikir keras untuk menentukan apa yang harus ia lakukan. "Bagaimana ini? Bagaimana dia bisa tahu tentang proyek rahasia itu? Apa memang benar dia adalah pria yang menanamkan benihnya padaku?"


"Satu hal yang bisa kusimpulkan saat ini adalah... Jawaban kenapa aku tidak pernah bisa menemukan jejak gadis itu... Karena gadis itu telah mengganti namanya," ucap Roy.


Bagaikan tersengat listrik ribuan volt, Belinda membulatkan mata sempurna dan mematung.


"Tidak! Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus mengakui semuanya?"


Ingatan tentang kata-kata Hendra saat Belinda kembali ke kampung halamannya kembali menguar. Ia sangat ingat jika berpindahnya penduduk desa adalah karena ulah Avicenna Group. Dan kemungkinan menghilangnya kedua orang tua Belinda juga karena adanya campur tangan dari anggota keluarga Avicenna.


"Maaf! Sekali lagi kutegaskan jika Boy bukanlah putramu!" Tegas Belinda kemudian beranjak dari kursinya.


"Dan satu lagi, Dokter Roy. Aku tidak akan menyetujui apapun yang berkaitan dengan tes DNA. Boy adalah putraku! Permisi!" Belinda pergi meninggalkan Roy yang masih termangu tak percaya dengan semua kata-kata Belinda.


......***......


#bersambung...


*Huft! mamak deg2an genks ngetiknya πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜† berasa aku yg jadi Belinda, wkwkwkwkwk.


Kalo kalian gimana? Apa ngerasa jadi Belinda juga? πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


*Jangan lupa tinggalkan jejak ya kesayangan 🌟🌟🌟