Jantung Hati Sang Dokter Tampan

Jantung Hati Sang Dokter Tampan
Chapter 76. Waktu Cepat Berlalu


Lima tahun kemudian,


Lian sedang berkutat dengan pekerjaannya di sebuah laboratorium milik Ar-Rayyan Grup. Kini ia menjadi salah satu orang berpengaruh disana. Kesehariannya ia sibukkan dengan penelitian dan uji coba dari obat-obatan buatan Ar-Rayyan Grup.


Lian yang sebelumnya menempuh pendidikan di bidang hukum, kini beralih profesi menjadi salah satu ahli di bidang farmasi. Ia melanjutkan studinya dan memilih bidang ini karena sebuah alasan.


Saat ini, Ar-Rayyan Grup sedang mengembangkan produk di bidang kecantikan. Dan proyek ini di pimpin langsung oleh Lian.


Sebuah ketukan di pintu, ternyata tidak membuat Lian berpaling dari kesibukannya meracik beberapa krim yang ia yakini berbahan alami dan herbal. Saat ini masyarakat menggemari produk kecantikan yang berbahan dasar dari alam.


"Kupikir kau terlalu fokus, Lian. Hingga tak mendengarku yang sudah mengetuk pintu berulang kali." Seorang pria masuk ke ruang laborat Lian.


"Maaf. Aku selalu lupa waktu jika sedang bekerja." jawab Lian.


"Kau pasti belum makan siang. Hentikan dulu pekerjaanmu dan makan sianglah denganku!" ajak pria yang adalah bos besar di Ar-Rayyan Grup.


"Tapi, Kak Jul, aku..."


"Sudahlah! Aku tidak akan memecatmu meski kau terlambat untuk presentasi produk sore ini."


Lian hanya tersenyum. "Baiklah. Aku memang tidak bisa menolak ajakanmu."


Lian meninggalkan pekerjaannya dan pergi bersama bosnya yang tak lain adalah Julian.


Bagaimana Lian bisa berakhir di Ar-Rayyan Grup? Banyak hal yang terjadi selama lima tahun ini. Lian banyak berubah. Begitu juga Julian.


"Kita mau makan siang dimana, Kak?" Meski Lian adalah karyawan Julian, tapi Julian tak ingin jika Lian memanggilnya 'tuan' atau 'pak' seperti yang lainnya.


"Hmm, kau ingin makan apa siang ini?" tanya balik Julian.


"Umm, apa ya?" Lian berpikir sejenak.


"Sepertinya masakan Jepang enak juga. Apa kakak setuju?" usul Lian.


"Boleh juga. Oke! Kita kesana sekarang!"


"Apa kakak tidak bersama Leon?"


"Tidak! Aku hanya ingin makan siang denganmu saja. Lagipula aku sudah sering makan bersama dengan Leon. Aku tidak ingin gosip tentangku semakin menyebar. Orang-orang menyebutku penyuka sesama jenis." Julian menepuk keningnya pelan.


Lian pun tertawa. "Kenapa kakak tidak menikah saja? Kurasa banyak sekali gadis yang menyukai kakak."


"Tidak! Aku masih tidak ingin menikah. Aku masih menunggu seseorang."


Lian terdiam. Ia tahu apa maksud ucapan Julian itu.


Tanpa perbincangan lagi, Julian melajukan mobilnya keluar dari area gedung Ar-Rayyan Grup. Selama perjalanan, Lian hanya terdiam memandangi padatnya jalanan ibu kota.


*


*


*


Pukul enam sore, Lian keluar dari laborat dan langsung di sambut oleh tepuk tangan meriah dari Julian. Sore tadi, Lian melakukan presentasi produk dengan sangat baik.


"Apa ini, Kak? Jangan berlebihan! Aku hanya melakukan apa yang semestinya aku lakukan. Produk ini sangat ditunggu oleh masyarakat. Antusias mereka sangat bagus. Jadi itu memotivasiku untuk bekerja lebih baik saat mengerjakan proyek ini."


Julian memberi buket bunga untuk Lian.


"Kau pantas menerima ini." ucapnya.


"Terima kasih, Kak." jawab Lian sambil menerima buket bunga dari Julian.


"Aku akan mengantarmu pulang."


"Eh? Tidak perlu, Kak. Aku bisa pulang sendiri." tolak Lian dengan halus.


"Jangan menolak! Lagipula apa kau tidak membaca pesan dari ibumu? Dia meminta kita datang untuk makan malam bersama."


"Eh?" Lian mengernyitkan dahi. Ia segera memeriksa ponselnya.


"Astaga! Ada banyak panggilan tidak terjawab dari ibu. Aku mematikan ponselku karena tak ingin konsentrasiku terganggu saat bekerja."


Julian tertawa kecil. Tawa renyah yang jarang orang melihatnya. Julian hanya memperlihatkannya pada Lian.


"Tidak apa! Aku sudah membalas pesan dari ibumu."


"Apa yang kakak katakan pada ibu?" Lian penasaran.


"Aku hanya menjawab kalau aku akan membawa putrinya untuk datang makan malam di rumah."


Lian tertawa. "Apaan sih? Kalian selalu bersikap begini." Lian menggeleng pelan.


Lian memutar bola matanya. "Iya, iya, baiklah. Ya sudah, kalau begitu mari kita pulang ke rumah."


.


.


.


Empat puluh lima menit kemudian, Lian dan Julian tiba di rumah orang tua Lian. Sejak bertemu kembali, orang tua Lian memutuskan untuk pindah ke kota dan tinggal bersama Lian. Lian membelikan sebuah rumah yang tidak terlalu besar untuk mereka tinggali.


Lusi menyambut kedatangan putrinya.


"Eh, kalian sudah datang. Ayo, mari kita langsung ke ruang makan saja. Ibu sudah siapkan makanan spesial untuk hari ini."


"Ibu! Memangnya ada apa mengundang Kak Julian untuk makan malam di rumah kita?" tanya Lian sambil mencuci tangannya di wastafel.


"Kau ini! Nak Julian sudah cerita semuanya pada ibu. Dia bilang jika hari ini kau melakukan pekerjaanmu dengan baik."


Lian hanya menganggukkan kepala. Entah kenapa Lian merasa jika ibunya sangat menyukai Julian.


"Ibu, dimana ayah?"


"Ayahmu? Dia pasti masih ada di ruang kerjanya. Nak Julian, silakan duduk."


"Iya, Bu. Terima kasih."


Sementara itu, Lian menemui ayahnya di ruang kerja. Lian mengetuk pintu sebelum masuk.


"Ayah!" panggil Lian.


"Oh, putriku! Kau sudah pulang?"


"Iya. Apa yang sedang ayah lakukan?"


"Lihatlah ini! Ayah berhasil membuat ramuan untuk budidaya ikan yang ada di desa kita."


"Benarkah? Ayah membuatnya lagi? Bukankah dulu juga sudah berhasil?"


"Iya, ayah membuat ramuan yang lebih manjur. Pasti penduduk desa senang jika hasil panennya melimpah."


Lian tersenyum bangga. "Ayah, ibu sudah menunggu di meja makan bersama Kak Julian. Sebaiknya ayah tinggalkan dulu pekerjaan ayah. Aku tidak enak hati jika Kak Julian menunggu lama."


"Oh, iya. Mari, Nak! Kita tidak boleh membuat Nak Julian menunggu lama. Dia sudah begitu baik pada keluarga kita."


Lian tersenyum getir kemudian mengikuti langkah ayahnya.


Tiba di meja makan, berbagai macam makanan sudah disiapkan oleh Lusi. Ia sangat telaten melayani Julian. Lian hanya terdiam melihat ibunya yang sangat menyukai Julian.


Makan malampun telah usai, Julian berpamitan pada orang tua Lian. Sementara Lian hanya melambaikan tangan pada Julian.


Sepeninggal Julian, Lusi menarik tangan Lian dan menyuruhnya duduk di ruang tamu.


"Ada apa, Bu?"


"Jadi, kapan kau akan menikah dengan Nak Julian? Kalian ini sangat cocok. Jangan menundanya lagi. Nanti keburu Nak Julian diambil orang."


"Ibu! Apaan sih? Aku dan Kak Julian tidak ada hubungan apa-apa. Aku adalah karyawannya." tegas Lian.


"Kau ini! Memangnya ibu tidak tahu jika Nak Julian itu menyukaimu. Kau harus menghargainya. Selama ini dia yang sudah menolong ibu dan ayahmu. Apa kau masih memikirkan pria itu?"


"Ibu! Jangan memaksanya. Biarkan putri kita menentukan jalan hidupnya sendiri." sahut Lono, ayah Lian.


"Ayah jangan membelanya! Apa yang ibu katakan itu memang benar. Pria yang terbaik untuk putri kita adalah Nak Julian."


"Sudah, sudah. Ini sudah malam. Lian, sebaiknya kau pergi ke kamarmu saja. Jangan dengarkan ibumu."


Lian mengangguk kemudian masuk ke dalam kamarnya. Lian duduk di tepi tempat tidur sambil menerawang jauh.


Lian menghembuskan nafasnya kasar.


"Aku harus sabar! Aku pasti bisa melewati ini! Sebentar lagi aku pasti bisa menemukan bukti-buktinya." gumam Lian kemudian merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Mimpi yang indah akan segera menjemputnya.


...B E R S A M B U N G...


"Lho lho lho, kok udah 5 tahun aja, mak? Ada apa ini?"


"Tenang, tenang! Semua akan terjawab pada waktunya!"


Semoga kalian tetap suka dengan alurnya yaak,


lope you all ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜